
Luna sangat terkejut dengan kejadian itu, apalagi setelah Votus tumbang, di belakangnya berdiri sosok yang tidak akan dia sangka sanggup melakukan itu.
" Arya? "
Sebelum itu terjadi, saat Arya menghabisi seluruh pendekar dari serikat dagang dan pekerja, Arya mendengar suara tawa Votus. Saat itu Arya melihat Luna sudah terpojok. Tanpa pikir panjang Arya langsung menghampiri dan memukul Votus dari belakang.
Itu adalah salah satu jurus pukulan yang ada di Kitab Pernafasan Beruang Tanah, yang sudah dilatih Arya saat malam hari beberapa waktu belakangan.
Tanpa Arya sadari, Arya bisa melatih jurus-jurus itu dengan sangat cepat karena setiap bagian dari tubuhnya seperti sudah mengerti bahwa gerakan yang dilatih oleh Arya itu akan bermanfaat dalam upaya Arya mempertahankan hidupnya.
Ini disebabkan karena selama berlatih di hutan Obskura, Tubuh Arya yang sudah terbiasa mengalami keadaan di ambang kematian. Sehingga apapun yang Arya lakukan, tubuhnya seperti memiliki kesadaran sendiri untuk menerima atau menolak hal yang bermanfaat atau membahayakannya.
Leluhur keluarga Tarim yang menciptakan jurus ini sekalipun akan muntah darah saat mengetahui jurus yang masih tergolong sebagai pukulan Dasar dari Pernafasan Beruang Tanah itu, bisa menjadi sesadis saat Arya menggunakannya.
Tentu saja dia tidak akan bisa melakukan seperti yang Arya lakukan. Apalagi Arya melakukannya tanpa menggunakan tenaga dalam sama sekali. Secara tidak langsung, Arya telah menyempurnakan jurus itu secara tidak sadar.
Arya mendekati Luna yang masih terkejut. Tetapi, Arya tidak melihatnya seperti itu. Arya berpikir itu karena Luna sedang terluka sehingga membuatnya sulit bergerak untuk saat ini.
Arya langsung mengetahui kaki Luna sedang mengalami cedera yang cukup parah " Aku akan mengobatimu "
" Tidak! Nanti saja. " Luna mendapatkan kesadarannya, dan melihat semua pendekar dari serikat dan prajurit kota sudah bertumbangan di tanah " Kita harus segera pergi dari tempat ini, sekarang! "
Sekar dan para pendekar lainnya yang masih di sana, benar-benar membeku setelah melihat kekuatan dan ilmu beladiri Arya.
Mereka seperti sedang melihat pembunuh berdarah dingin yang dengan mudahnya mencabut jantung pendekar level ahli tingkat dua. Setelah melakukan itu, bahkan Arya bersikap seperti tidak melakukan apapun sebelumnya.
Votus adalah salah satu pendekar dari serikat dagang yang mereka awasi setiap pergerakannya. Karena, menurut mereka Votus akan menjadi lawan yang akan sangat menyulitkan jika memang pembrontakan terjadi.
" Tuan Arya! Bawa gadis itu dan ikut bersama kami " Sekar yang lebih dulu mendapatkan kesadarannya segera berteriak pada Arya.
Teriakan Sekar juga berhasil menyadarkan pendekar lainnya atas keterkejutan mereka. Setelah itu mereka langsung berlari meninggalkan area bekas pertempuran kecil itu menuju markas mereka di sebalik bukit tidak jauh dari Kota Arsa.
Luna menggeleng " Tidak! Arya aku masih bisa bergerak. Pergilah lebih dahulu. Aku dan Ciel harus membawa Jaka dan Ratih bersama kami. "
" Kalian pergilah lebih dahulu, nanti kami akan segera menyusul! " jawab Arya pada Sekar.
Sekar mengangguk mengerti dan segera berlari menyusul pendekar-pendekar lainnya. Bagaimanapun, menurut Sekar tidak ada yang harus dia cemaskan pada Arya saat ini. Dengan kekuatan seperti itu, Sekar Yakin Nurmageda tidak akan sembarangan untuk menyerang Arya saat ini.
Arya memutuskan untuk tetap tinggal di sana bersama Luna. Dia tidak mungkin meninggalkan Luna dalam keadaan seperti ini. Lagipula, saat ini Arya sama sekali tidak merasa harus melarikan diri.
" Kakak! Bagaimana keadaanmu?! " Ciel yang baru saja muncul entah darimana langsung menghampiri kakaknya, cemas.
" Aku tidak apa-apa. Aku masih sanggup berjalan. " Luna mencoba berdiri tapi dia kembali jatuh berlutut. " Sial! "
Arya langsung mengangkat Luna dan menatap Ciel yang tengah memegang busur panah. " Ciel! Kita ke toko kalian "
Ciel sedikit terkesiap saat Arya memanggil namanya. Ciel adalah orang yang pertama kali melihat bagaimana cara Arya menghabisi pendekar-pendekar dari serikat itu.
Luna dan Ciel menjalani kehidupan yang keras. Bertemu dengan banyak pendekar juga penjahat yang kejam. Tapi baginya, Arya benar-benar berada di level berbeda.
Ciel tak pernah menyangka akan pernah melihat, Bagaimana seorang yang tidak memiliki tenaga dalam bisa membantai puluhan pendekar mahir dan empat pendekar Ahli dengan mudah. ditambah lagi dengan cara yang sangat sadis pula.
Tidak ada satupun korban Arya yang berakhir dengan baik. Tubuh mayat-mayat itu mengalami pecah kepala, leher yang hancur, terakhir Votus mati dengan jantung di cabut hidup-hidup saat dalam keadaan tenaga dalamnya sedang berada di puncak.
Dan satu hal lagi yang mebuat Ciel menjadi ngeri pada Arya adalah, Semua orang-orang itu mati hanya dengan satu serangan darinya.
" B-Baik! " jawab Cie.
****
" Apa kau bilang?! "
Hattala terkejut mendengar laporan dari seorang prajurit kota di balaikota.
" Ya, Tuan Muda. Luna dan Ciel mengganggu proses eksekusi para pengangkut itu. Lalu setelah itu kekacauan terjadi. Beberapa pendekar hebat ikut membantu mereka dan Sepertinya mereka memang sudah merencanakan semuanya. " jelas prajurit itu sedikit gugup.
" Jadi, Votus dan tiga bawahannya juga sudah tewas? " Hattala memastikan.
" Ya! Kami baru saja memastikannya "
" Bajingan! "
Hattala terkejut dan terlihat prustasi setelah mendengar kabar itu. Barusaja pagi ini Nurmageda pergi dan mempercayakan Kota padanya, tapi saat sore hari kota sudah menjadi sangat kacau.
" Bagaiamana dengan orang itu? " Hattala menanyakan keberadaan Arya.
Prajurit itu sedikit ragu untuk menjawab. " Soal itu ... "
" Apa?! " Hattala menjadi kesal melihat parajurit itu tidak langsung menjawabnya " Jangan bilang Pemuda itu bernasib sial dan ikut mati terbunuh di sana! "
Prajurit itu langsung menggelengkan kepalanya " Tidak! Bukan ... Bukan begitu" jawabnya cepat.
" Ah! Lalu apa? "
" Beberapa orang yang kami tanya, setelah kejadian, Tuan Muda itu pergi bersama kedua kakak adik itu ke toko mereka "
" Sial! " Hattala menjambak rambut di kepalanya sendiri semakin prustasi " Jadi begitu! Dua gadis itu menawannya "
" Bukan— "
Prajurit itu hendak menjelaskan kejadian sebenarnya namun terpotong oleh perintah Hattala.
" Pergi katakan pada Serikat. Suruh mereka mengumpulkan seluruh pendekar mereka. Kita akan menghancurkan kedua gadis itu dan semua pendekar yang membantu mereka hari ini juga "
Prajurit itu mengurungkan niatnya untuk menjelaskan semua pada Hattala dan langsung pergi dari hadapannya.
" Tuan Muda, ... Kau berniat menghancurkan dua gadis dengan seluruh kekuatan kota ini? Bukannya itu berlebihan? " Bajra yang dari tadi diam, akhirnya ikut bicara.
" Bajra! Jika kau tidak selalu menahanku, kita sudah mendapatkan seluruh harta yang di bawa pemuda itu " Hattala kesal.
Bajra tersenyum licik " Bukankah kau sendiri yang memang ingin menunggu sampai Nurmageda pergi dan menggunakan kekuatan kota ini untuk mendatangi Sekte Awan Senja?"
Hattala tidak bisa menyangkal Bajra. Dia memang ingin menguasai harta yang di bawa Arya. Dia menunda sampai hari ini karena berniat akan menggunakan kekuatan pendekar-pendekar kota Arsa dan di bantu Votus pendekar dari serikat dagang yang dia kenal untuk merampok Sekte Awan senja setelahnya.
Menurut Hattala dan Bajra, jika Arya bisa membawa kekayaan sebanyak itu ke Kota Arsa, berarti sekte Awan Senja memiliki kekayaan yang melimpah. Karena sekte itu terkenal sangat lemah, keduanya berniat menjarahnya.
" Saat aku mendengar pemuda itu mengatakan asal Sektenya, itu saat kedua gadis itu mengacungkan pedang padanya. Sekarang aku mengerti. Mereka lebih dahulu merencanakan ini daripada kita! " Simpul Hattala.
Semuanya menjadi sangat kacau. Sekarang Arya yang mereka pikir akan berguna untuk rencana mereka terhadap Sekte Awan Senja, sudah lebih dahulu dijadikan sandera oleh Kedua gadis itu.
Bajra yang baru mengetahui hal itu, langsung berdiri " Jika begitu, kita tidak bisa menunda lagi. Bisa saja mereka sudah bergerak sekarang " katanya berapi-api.
Hattala mengangguk. " Ya! Aku juga memiliki dendam pada salah satunya " Hattala langsung berbalik. " dengan semua kekuatan, Kita akan mengancurlan mereka sekarang juga " Hattala berjalan keluar dari balai kota.