ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pertemuan Yang Tak Terduga


"Bajingan...!"


Daga berteriak histeris. Pesan yang di sampaikan Darmuraji itu seolah meremehkannya. Namun, ini mengingatkannya lada berita soal hilangnya Kelang dan sekte Tanah Hitam.


Sang utusan sempat terkejut. Karena sejak awal dia memang sudah takut untuk mengatakan ini. Sekte aliran hitam, tentu saja tidak berniat untuk mematuhi aturan untuk tidak membunuh seorang utusan di dalam perang.


Sekarang, melihat bagaimana marahnya Pendekar yang ia yakini sebagai pemimpin kelompok sekte aliran hitam ini, dia yakin nyawanya sedang berada di ujung tanduk.


Daga menghela nafas panjang lalu melepaskannya kasar. Dia melakukan itu beberapa kali berusaha menenangkan dirinya.


Darmuraji tidak akan bertindak bodoh dan mengirim pesan dengan ancaman kosong. Itulah yang Daga pikirkan saat ini.


Jika semua berita yang terkait tentang hilangnya Kelang ini benar, Daga Sangat yakin Darmuraji-lah yang memberi perintah. Bagaimanapun, saat ini Darmuraji menginginkan sesuatu yang di miliki oleh pemuda tersebut.


Prihal dengan berubahnya sebuah lemanh menjadi danau, kini lebihbterdengar masuk akal. Bisa saja Darmurajibtelah berhasil menyelamatkan pemuda yang di bawa Kelang, dan mendapatkan senjata pusaka yang dia inginkan.


Dan entah bagaimana caranya, dengan kekuatan senjata itu, Darmuraji bisa menenggelamkan Lembah Tonda. Daga langsung bersikap hati-hati.


"Baiklah. Katakan pada Raja mu. Aku akan berunding dengannya. Tempatnya, jika dia memang tidak keberatan. Di sini saja."


Mata utusan itu melebar. Diantidak menyangka Daga akan tenang dan menyetujui permintaan Darmuraji, Rajanya begitu saja.


Takut Daga berubah fikiran dan akhirnya benar-benar membunuhnya, sangbutusan langsung membungkuk dalam.


"Baiklah, aku mengerti. Jika begitu, aku kan kembali dan memberitahukan pesan darimu."


Tidak menunggu jawaban, utusan itu langsung berbalik dan sedikit berjalan mencicit keluar dari tenda yang berisikan orang-orang yang mengerikan tersebut.


Pasalnya, dia mengetahui setiap ketua-ketua sekte aliran hitam dan petinggi Oldenbar di sana. Dan mereka semua dia dapati sedang dalam posisi berlutut di depan Daga.


Menurutnya, jika saja Darmuraji melihat apa yang tadi dia lihat, Rajanya itu juga pasti akan terkejut. Bahkan seratus pendekar suci yang kini bersama pasukannya itu, belum tentu bisa menghadapi sekte aliran hitam saat ini.


Seseorang baru saja melakukan hal yang tak bisa di lakukan pendekar manapun sebelumnya. Dia membuat seluruh ketua sekte aliran hitam bahkan petinggi Oldenbar berlutut di hadapannya.Utusan itu sangat yakin, Daga selama ini menutup jati diri dan kekuatannya.


Sementara itu, pada sore hari, dimana aliansi sudah selesai dengan kemah mereka. Seperti halnya sekte aliran hitam, mereka juga memiliki sebuah tenda besar yang diperuntukkan bagi ketua-ketua sekte yang tergabung di sana.


"Aku masih tidak percaya bahwa Sekte Tanah Hitam bisa tenggelam. Hahahaha!"


"Ya Ki Serabang. kau benar. sampai-sampai, tilik sandi yang kita utus untuk selalu memata-matai tempat tersebut juga kesulitan menjelaskan apa yang sudah dia lihat. Hahahaha!"


"Jika pihak kerajaan mengutus petualang untuk menyelamatkan korban-korban mereka, sudah dipastikan bahwa merekalah yang melakukannya. Aku rasa, Raja sudah menyesali kerja samanya dengan Kelang."


"Ya. Pastikan saat ini kita memberikan kontribusi yang banyak. Hingga ke depan, pihak kerajaan melirik sekte aliran putih untuk mengambil alih semua pekerjaan yang dulu di kuasai Sekte Singa Emas dan terakhir Sekte Tanah Hitam."


Aliansi sekte aliran putih, menduga Darmuraji yang mengalahkan Sekte Tanah Hitam. Itu Akibat mereka terlalu menghilang dan menutup diri dari dunia luar. Dan hanya mendapat informasi sebagian-sebagian dan tidak lengkap.


Bermula dari tumbangnya Sekte Singa Emas yang merupakan sekte terkuat di Daratan Timur ini oleh kerajaan dan serikat Oldenbar , mereka takut hal yang serupa menimpa mereka.


Sekte aliran putih bahkan percaya bahwa Sekte Singa Emas lah yang membunuh putra mahkota kerajaan ini beserta seluruh keluarganya. Hingga saat Sekte Singa Emas terpojok, Mereka tidak mau membantu karena takut di anggap ikut mengkhianati kerajaan.


Namun, saat Sekte Singa Emas benar-benar hancur, mereka di kejutkan karena Darmuraji sama sekali tidak melirik dan meminta utusan mereka untuk mengamankan Basaka dan Daratan Timur. Melainkan Sekte Tanah Hitam yang diketuai oleh Kelang.


Saat itu mereka berfikir, karena mereka tidak membantu kerajaan sama sekali, hingga kerajaan memutuskan untuk tidak melibatkan mereka dalam hal apapun.


Awalnya itu tidak terlalu mereka masalahkan. Namun, seiiring berjalannya waktu, sekte-sekte aliran hitam semakin kuat karena mendapat sumber daya yang banyak dari kerajaan dan serikat Oldenbar.


Sedikit demi sedikit kekuatan sekte-sekte aliran putih yang dulu menguasai Daratan ini, mulai di lampaui. Hal buruk lainnya bahkan banyak dari mereka yang berubah haluan. Saat ini, sangat sulit di bedakan jarak kekuatan sesungguhnya dua kubu tersebut.


Sampailah di mana mereka mendapat kabar bahwa Kerajaan akan di serang kelompok Sekte-sekte aliran hitam. Jadi, mereka memutuskan untuk membantu kerajaan saat itu juga dan bersiap ke lembah ini.


Seiring dengan itu, saat melewati wilayah lembah Tonda, mereka mendapati bahwa lembah itu telah tenggelam dan  utusan mereka memeriksa lalu menemukan beberapa mayat yang mati secara menggenaskan. Mayat-mayat itu bisa mereka pastikan adalah tetua-tetua dari sekte-sekte aliran hitam yang kini berkemah di depan mereka.


"Sekarang, kita bisa memusnahkan seluruh sekte aliran hitam bersama pihak kerajaan. Pastikan kalian semua menunjukkan kekuatan sesungguhnya sekte aliran putih Daratan Timur ini." Ucap Ki Serabang mengingatkan.


Mereka pun mengangguk mengerti. Seolah kemenangan besar, sudah pasti mereka dapatkan saat pertempuran benar-benar terjadi.


Malam harinya, sesuai dengan pesan yang di sampaikan utusan tersebut. Darmuraji dan beberapa pendekar suci benar-benar datang ke perkemahan kelompok sekte aliran hitam.


Hal ini, membuat Daga dan seluruh orang di sana sedikit waspada. Perundingan biasanya di lakukan di tempat netral. Sementara, saat ini musuh menyetujui untuk di adakan di tempat mereka. Itu sangat tidak wajar.


Darmuraji masuk ke dalam tenda penuh percaya diri. Di belakangnya, ia dikawal hanya dengan sekitar dua puluh pendekar suci saja. Namun, semua orang di sana sadar bahwa tidak ada pendekar suci tingkat pertama di antara pendekar-pendekar suci itu.


"Raja, kau datang juga. Hahahaha!"


Sapa Sapujagad berbasa basi. Sementara Daga hanya berdiri di belakang semua ketua sekte aliran hitam, berjaga-jaga.


Saat itu, pandangan matanya mengedar mengawasi seluruh pendekar suci yang menutupi wajah mereka tersebut. Daga memperhatikan dan mencoba mengukur tingkat kekuatan mereka, Sampai akhirnya dia bertatapan dengan sepasang mata yang menatapnya, tajam.


Perundingan ini tentu saja tidak akan di hiasi dengan canda tawa, Darmuraji terlihat tidak menerima basa basi musuhnya dan bertele-tele lagi.


"Yah, karena kau tidak menghargai keramahanku, aku rasa tidak ada alasan bagiku untuk menghormatimu lagi." Sapujagad menanggapi dengan tak kalah sinisnya.


Darmuraji menggeleng tak peduli. "Langsung saja. Kami datang untuk meminta kalian agar menyerahkan pemuda itu, dan kami hanya akan menghukum Kelang. Jika tidak, maka kalian semua akan mati!"


Mata semua ketua sekte aliran hitam membesar, namun kening mereka berkerut heran. Bukan karena takut atas ancaman Darmuraji itu,  tapi apa yang Darmuraji sampaikan seperti tidak masuk akal bagi mereka.


Di belakang mereka, kini sedang berdiri Daga. Pendekar yang meraka yakini bisa menghadapi seluruh pendekar yang di bawa Darmuraji dengan mudah. Jadi, tidak ada alasan untuk takut.


"Darmuraji ... !" Seru Ki Sapujagad. "Apa kau mencoba mempermainkan kami, hah?"


Di lihat dari bagaimana reaksi Ki Sapunjagad, pria itu tampak menjadi kesal. Namun, Darmuraji tidak bergeming.


"Aku tidak main-main. Aku katakan sekali lagi, serahkan pemuda itu, maka aku akan mempertimbangkan untuk mengampuni nyawa kalian semua"


Nyai anjaran yang lebih dahulu kehabisan kesabarannya langsung berdiri dan menunjuk Darmuraji. "Lancang sekali kau Darmuraji ... " Teriak Nyai Anjaran penuh amarah. "Kalian sudah mendapatkan apa yang kalian mau dan datang ke sini hanya untuk mengatakan hal itu? Kami sama sekali tidak takut dengan ancamanmu!" Tambahnya.


Kali ini, Darmuraji yang melebarkan matanya. "Oh, Nyai Anjaran. Ku akui keberanianmu. Tapi, sepertinya kau tudak mengerti keadaan kalian saat ini."


Daga langsung menyadari ada yang salah dengan situasi saat ini. Sepertinya, Darmuraji tidak mengetahui berita tentang Kelang dan Sekte Tanah Hitam.


"Darmuraji ... Kini, aku yang bertanya."


Seiring dengan perkataannya, Daga melepas aura pembunuh yang sangat pekat. "Apa kau tau sesuatu tentang menghilangnya Kelang dan perwakilan sekte-sekte kami?"


Tepat seperti dugaan Daga. Reaksi Darmuraji menunjukkan bahwa dia tidak mengetahui hal tersebut. Ini menandakan, ada pihak lain yang melakukannya. Dan kecurigaan itu kembali menjurus pada aliansi Sekte aliran putih.


Saat Daga masih tampak berfikir, tiba-tiba suara tawa memecah suasana di sana.


"Hahahahahahhaah...!"


Tawa itu terasa sangat lepas. Dan itu menyadarkan bahwa orang itubsama sekali tidak terpengaruh dengan aura pembunuh yang di lepas Daga.


Belum sempat Daga dan ketua-ketua sekte aliran hitam bereaksi, tiba-tiba orang yang tertawa itu berbicara.


"Setelah sekian lama, siapa yang menyangka aku akan bertemu denganmu di sini. Hahahahahaha!"


Daga langsung siaga. Karena orang itu adalah pendekar yang tadi sempat beradu tatapan dengannya. Karena tidak terpengaruh dengan kekuatannya, pendekar itu pasti sangat kuat. Pantas saja Darmuraji begitu berani, batinnya.


Pendekar yang tadi berdiri paling belakang itu, kini berjalan mendekat. Membuat Daga semakin siaga.


"Siapa kau?!"


Pendekar itu menggeleng, namun bersamaan dengan itu, dia membuka penutup wajahnya.


"Aku adalah orang yang mengajarkanmu, bagaimana cara berjalan. Lancang sekali kau mencoba mengintimidasiku dengan sesuatu yang aku ajarkan padamu itu."


Saat wajahnya sepenuhnya terbuka, mata Daga langsung melebar dan mulutnya ternganga.


"Kakak?! ... "


"Hahahahaaha ... !" pendekar itu kembali tertawa. "Dasar adikku bodoh!"


"HAAAAHHHH ... !!"


Seluruh pendekar di sana terkejut, terperangah.


***


Hello, MOONMARVEL di sini.


Maaf karena telat Up hari ini ya.


Tapi, seperti biasanya hari ini up 3 bab.


Terima kasih atas semua dukungannya selama ini, ya.!


Baik itu berupa Like, Vote, Rate, ataupun Hadiah. itu sangat berarti buatku yang hanya penulis amatir ini.


Ya. Arya Mahesa akan memasuki chapter pertempuran terakhir di Arch ini. jadi, tungguin Update selanjutnya ya.


Sekali lagi, TerimaKasih.


M.M