
"Jemba, aku tau kau sudah lama menarik diri. Tapi, dunia kependekaran benar-benar sudah berubah."
Sejak fajar, mereka memutuskan untuk langsung pergi menuju benteng yang dimaksud.
Salendra yang mengetahui letaknya, melesat lebih dahulu di depan bersama Rangkupala. Saat ini, keduanya berdebat saling memberi penjelasan.
"Salendra, aku tau semua sudah berubah. Tapi, orang-orang yang di belakang itu, benar-benar kuat. Percayalah padaku."
Saat Luna dan tiga gadis lainnya tiba, Rangkupala mengatakan bahwa itulah pasukan yang dia maksud.
Tentu saja itu langsung membuat Salendra terkejut. Berfikir bahwa sahabat lamanya itu bercanda, akhirnya Salendra menyimpulkan bahwa Jemba si Kebojalang benar-benar sudah gila.
Pasalnya, sang Kebojalang mengatakan bahwa di antara mereka, Aryalah yang terkuat. Salendra benar-benar ternganga kehabisan kata-kata. Bagaimana tidak, sahabatnya itu batu saja mengatakan seorang pemuda tanpa tenaga dalam, telah mengalahkan sang legenda hanya dengan satu pukulan.
"Jemba, tentu kau tau bahwa aku bahkan rela mati untukmu. Itu menandakan aku percaya padamu, tapi lihatlah ... Kita akan menyerang benteng dengan 4 gadis dan satu pemuda yang ... Ah, entahlah."
Anehnya, meski tidak yakin dengan kata-kata Rangkupala, Salendra tetap menunjukkan jalan dan membawa mereka ke benteng itu.
"Kau lihat, saat keluar dari Balaikota, apa kau tak melihat manusia-manusia itu sudah menjadi bubur, dan saat itu, aku muntah-muntah"
"Aku rasa ada yang salah dengan mu, aku tau betul di halaman itu, adalah bekas pertarungan ... "
Mata Rangkupala melebar, saat itu dia teringat Salendra yang tiba-tiba sudah kesal dengan Genta, langsung berderap keluar tanpa memperhatikan langkahnya.
Mungkin saja saat itu, dia tak menyadari apa yang sudah berserakan di lantai. Lagi pula, Rangkupala yang melewati itu, menatap ke atas dan sedikit memicingkan mata. Bahkan, saat ini masih ada perasaan mual di rasakannya saat mengingat kembali pemandangan itu.
Berdebat tidak akan menjelaskan apapun Rangkupala menyadarinya. Dia lebih memilih mengalah dan menyudahinya.
"Baiklah, lagi pula sekarang kita sudah berdua. Apa kau takut berhadapan dengan Prajurit-prajurit asing itu?"
"Hahahaha! Kau menantangku?"
"Tidak, apa kau merasa tertantang?"
Sebuah seringai muncul di wajah Salendra. "Kapan terakhir kau menang bersaing denganku?"
"Teman, aku tak ingat kau pernah menang sekalipun dariku." Ejek Rangkupala.
"Huh, Kau selalu menipuku, karena sebelumnya, aku belum bisa berhitung!"
Rangkupala menggeleng, dan tersenyum meremehkan. "Tentu kau tau orang-orang menyebutku apa. Itu sudah membuktikan segalanya. Hahahaha."
"Hahahaha, tentu saja. Kau Jemba si Kebojalang sangat lihai merayu wanita. Bahkan, pendekar sehebat dan secantik Lindu Ara jatuh cinta kepadamu. Dalam hal itu, aku akui, aku tidak akan pernah bisa mengalahkanmu."
Rangkupala kembali ternganga. "Salendra, mereka memanggilku Legenda, apa kau tak tau itu?"
"Tentu saja, legenda penakluk wanita, jemba si Kebojalang. Hahahahaha."
Rangkupala benar-benar kehabisan kata-kata. Saat ini, dia kembali lupa satu hal, meski dialah yang mengajarkan sahabatnya ini berhitung dan membaca, tapi Salendra sangat pintar berbicara.
Kesal, Rangkupala memacu langkahnya semakin cepat untuk meninggalkan Salendra di belakang.
"Hei, Jemba. Apa yang kau lakukan?"
"Mari kita bertaruh, siapa yang lebih dahulu sampai ke benteng itu ... " Jawab Rangkupala sambil terus mempercepat langkahnya.
Salendra menggelengkan kepala serasa tak percaya. "Aku rasa memang ada yang salah denganmu. Lama menghilang membuatmu semakin bodoh saja. Tentu saja pasti aku yang menang."
"Hahahahaha, kita tidak akan tau sebelum sampai di sana."
Sejak tadi, empat gadis yang ada di belakang mereka, merasa heran dengan perdebatan kedua orang tua itu.
"Ciel, sepertinya kedua orang itu bukan bersahabat. Tapi lebih mirip musuh bebuyutan."
Ciel mengangguk. "Ya, aku rasa juga begitu."
"Seseorang tentu saja bisa bertambah kuat dengan berlatih sendirian. Tapi, saat orang itu memiliki saingan, maka perkembangannya akan semakin cepat."
Tiga gadis lainnya mengangguk menyetujui kata-kata Luna itu, memang saat ini Rangkupala dan Salendra terlihat hampir sama kuatnya.
"Tapi, Seharusnya, mereka tau sekarang bukan waktunya bersaing. Lihat, apa yang mereka lakukan."
"Arya, apa kau memiliki rencana lainnya?" Tanya Luna pada Arya yang berada paling belakang.
"Tidak, rencananya hanya saat sampai di sana, kita langsung menyerang. Itu saja."
Mendengar itu, Luna mengernyit heran. "Lalu, kenapa tuan Rangku memilih jalan lain?"
Mendengar itu, Arya melompat dan melewati keempatnya. Dia melaju dan mensejajari Salendra.
"Tuan Salendra, Apa kalian memiliki rencana?"
Salendra langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, kita akan langsung ke benteng itu dan memikirkan cara menembusnya, saat sudah berada di sana."
Arya langsung mengangguk, mengerti. "Baiklah, silahkan teruskan. Kami mengikuti di belakang."
Saat itu Arya sedikit memperlambat langkah hingga sejajar dengan empat gadis lainnya.
"Tidak, mereka tidak ada rencana lain. Kita akan menyerang begitu sampai di sana."
Mereka semua mengangguk, mengerti dan kembali mengikuti Salendra dari belakang.
Rangkupala benar-benar mempercepat lompatannya hingga meninggalkan Salendra dan yang lainnya di belakang.
Setelah sedikit lama, dia tak lagi merasakan Salendra dan yang lainnya mampu mengikutinya.
"Hahahahaha ... Ternyata, setelah Menyerap energi siluman itu kecepatanku sedikit bertambah." Ucap Rangkupala puas.
Namun beberapa saat kemudian, keningnya berkerut. Tampak memikirkan sesuatu. Saat itu, Rangkupala merasa ada yang salah.
"Ah sial ... Aku bahkan tidak tau jalannya."
Rangkupala langsung memutar arah dan kembali mengejar mereka semua. Saat ini, sang legenda benar-benar menggunakan seluruh tenaga dalamnya.
"Keparat kau Salendra !! ... Kau mengerjaiku ... !!" teriaknya sekuat tenaga.
Satu jam kemudian, Arya dan yang lainnya kembali melihat Rangkupala di depan bersama Salendra.
Saat itu, mereka juga kembali melihat keduanya bertengkar. Tampak Rangkupala dengan wajah kesal di tambah lagi, Salendra terus mentertawainya sepanjang jalan.
"Dua orang tua yang sangat, konyol" Gerutu Ciel.
Tiga gadis lainnya, ikut tersenyum menggapinya.
Saat lewat tengah hari, Salendra memperlambat langkah. Rangkupala juga mengikutinya.
"Jemba, itu bentengnya!"
Mereka berhenti saat sampai di tepi hutan. Sekitar seratus meter dari sana, terlihat sebuah benteng berukuran sedang seluas kota kecil.
Namun, begitu seluruh benteng di kelilingi tembok setinggi lima meter yang dari batu alam yang tersusun rapi. Pertahanan Benteng pasukan kekaisaran Nippokure itu, terlihat sangat kuat.
Salendra dan Rangkupala Hanya melihat ada satu pintu untuk memasuki benteng tersebut. Di atas tembok, mereka juga melihat banyak prajurit sedang berjaga-jaga.
Salendra melihat kebelakang sebentar, lalu menoleh pada Rangkupala. "Jemba, sambil menunggu mereka. Sebaiknya kita memikirkan rencana. Akan terlalu berbahaya bagi mereka, kalau kita menyerang langsung bersama."
Rangkupala mengernyit heran. "Apa maksudmu?"
Salendra menarik nafas panjang lalu melepasnya kasar. Saat itu, dia mencoba menjelaskan rencanannya pada Rangkupala, sahabatnya itu.
"Dengar, setidaknya biarkan mereka beristirahat terlebih dahulu. Kita terbiasa berjuang bersama. Tapi mereka masih terlalu muda. Sebaiknya, kita berusaha masuk dan memberi tanda agar mereka mengikuti setelahnya."
"Istirahat apa nya, lihat. Mereka sudah ada di sana."
Salendra menoleh dan melihat arah yang ditunjuk oleh Rangkupala. Saat itu juga matanya langsung terbelalak.
Bagaimana tidak, saat itu dia menyaksikan Arya dan yang lainnya, sudah berdiri di depan gerbang.
"Sejak kapan mereka ada di sana, dan ... Kenapa pemuda itu membawa seekor anjing dan juga ... kera?" Seru Salendra, Histeris.