
"Arrggh ... !" "Arrggh ... !" "Arrggh ... !"
"Arrggh ... !" "Arrggh ... !" "Arrggh ... !"
"Arrggh ... !" "Arrggh ... !" "Arrggh ... !"
"Arrggh ... !" "Arrggh ... !" "Arrggh ... !"
Kekuatan tenaga dalam yang dilepas oleh Marendra sangat kuat. Dalam satu kali serangan itu, tidak kurang dari sepuluh orang mati dan satu jelas hancur. Sisanya langsung mendapatkan luka yang cukup parah.
Tak lama kemudian, ketua-ketua aliansi sekte aliran putih juga langsung melancarkan serangan mereka. Hal tersebut sangat mengejutkan.
Karena biasanya, para ketua akan bertempur di belakang. Sekarang, ini terlihat bahwa mereka semua berniat memang ingin bertempur habis-habisan sejak awal.
Jumlah mereka hanya tujuh puluh ribu, tapi serangan demi serangan yang lepaskan aliansi aliran putih, seolah langsung mendominasi pertempuran.
Tak memberi kesempatan untuk terkejut, mereka terus menghabis pendekar-pendekar di hadapan mereka secepat yang mereka bisa.
Hal itu, tidak di antisipasi oleh Sapujagad dan dua ketua sekte lainnya yang di tunjuk Daga sebagai pemimpin serangan pertama.
Sadar telah salah perhitungan, Sapujagad dan yang lainnya langsung berlari menerobos ke depan. Jika, di biarkan lebih lama lagi maka ketua-ketua sekte itu akan dengan cepat mengurangi jumlah kekuatan mereka.
"Menyingkir! ... Dia bukan lawan kalian!"
Saat berlari kedepan, Sapujagad langsung mengingatkan pasukannya. Meski masih muda, nama Marendra bukanlah nama baru di dunia kependekaran Daratan Timur.
Melebihi ayahnya, pemuda yang kini ada di depannya ini bisa dikatakan telah menguasai jurus tinju pamungkas milik sekte Bulan Sabit.
Sapujagad sendiri, sudah menghadapi jurus yang sama beberapa kali saat bertarung dengan ayah Marendra. Tinju Guntur benar-benar jurus berbahaya.
"Cih. Tidak kusangka. Kau bertempur entah dengan siapa di Tanah leluhurmu sendiri. Tua Bangka!"
Kata-kata Marendra langsung menyulut emosi Sapujagad. "Diam, kau tidak mengerti bagaimana kejamnya dunia persilatan. Kau bisa bertanya pada ayahmu, jika kau masih punya keberuntungan untuk tetap hidup setelah pertarungan ini selesai."
"Hahahhaa! Kata-kata mu seolah mengisyaratkan bahwa kau tidak mampu membunuhku." Balas Marendra, mencibir.
"Sial! Maju kau, Bangsat!"
Saoujagad yangbsudah tersulut emosi langsung mengeluarkan jurus andalannya. Tidak ada alasan menghadapi pemuda di depannya ini dengan setengah-setengah.
"Pembelah Bumi ... "
Marendra langsung melomoat kesamping untuk menghindar secepat yang dia bisa. Sapujagad terkenal dengan hempasan pedangnya yang mamou memberi daya kejut yang kuat.
"Arrggh ... !" "Arrggh ... !" "Arrggh ... !"
"Arrggh ... !" "Arrggh ... !" "Arrggh ... !"
Meski sempat mengelak, ternyata efek dari pedang Sapujagad,tidak sempat di hindari oleh beberapa pendekar Bulan sabit di belakang Marendra. Mereka pun terpental jauh kebelakang dan langsung memuntahkan setuguk darah.
'Sial, Sapujagad memang bukan hanya sekadar gelar belaka. Dia memang mampu menyapu segalanya.' Batin Marendra saat melihat anggotanya terluka.
Akan tetapi, saat Marendra membatin tadi, dia tidak hanya diam saja. Secepat dia menghindar, secepat itu pula dia memberi serangan balik dan mencabut pedang yang tersampir di pinggangnya.
Akhirnya, keduanya saling serang dan menghindar. Sapujagad dan Marendra bertarung bertukar jurus dengan cepat.
Tenaga dalam yang mereka gunakan dalam pertarungan itu cukup besar sehingga pendekar-pendekar dari dua kubu yang berada di sekitar mereka terpaksa harus menyingkir. Jika, tidak mereka bisa saja terluka bahkan mati tanpa di sengaja.
"Arrggh ... !" "Arrggh ... !" "Arrggh ... !"
"Arrggh ... !" "Arrggh ... !" "Arrggh ... !"
"Arrggh ... !" "Arrggh ... !" "Arrggh ... !"
"Arrggh ... !" "Arrggh ... !" "Arrggh ... !"
Serabang dengan senjata pedangnya bergerak sangat cepat dan menebas banyak pendekar ahli yang mencoba menghalangi langkahnya.
Seperti tidak mau kalah dari Marendra, Serabang berusaha mengalahkan musuh jauh lebih banyak di banding pemuda itu.
Kata-kata Marendra memang sangat membekas di hatinya. Jika dia bisa jujur, Serabang benar-benar malu saat Marendra mengatakan bahwa dia dan yang lainnya pengecut.
Tentu saja mereka tidak sepantasnya marah. Karena apa yang mereka lakukan saat Darsapati dan Sekte Singa Emas terdesak, memang sebuah sikap yang sangat pengecut.
Sekarang, demi menebus kesalahan dan mengurangi rasa sesalnya. Meski tidak bergambar, anggota sekte nya dan seluruh sekte yang lain juga mengikat kepala mereka.
Di hati mereka, sekarangbsesang berjuang melindungi Daratan Timur ini, seperti apa yang di lakukan Sekte Singa Emas sebelumnya.
Itulah kenapa sejak awal mereka semua memilih untuk menyerang dengan kekuatan penuh. Untuk menunjukkan bahwa semangat Sekte Terkuat itu belum mati. Dan tetap hidup di hati mereka dan membawanya pada pertempuran ini.
Takdir, mungkin itulah kata yang tepat saat ini. Siapa sangka Rantoba yang kini di belakang menyaksikan pertempuran itu, dengan Guru, Daga, seluruh pendekar suci yang dibawanya yang kebetulan semua berasal sektenya.
Ironisnya, tidak ada satupun dari mereka yang berasal dari Daratan Timur ini. Akan tetapi, merekalah pemimpin seratus ribu pasukan Kelompok Sekte Aliran Hitam dan yang paling mengejutkan juga memimpin serikat Oldenbar di pertempuran Terbesar ini.
Meski begitu, dia sedikit cemas. Meski menang jumlah, ternyata itu sama sekali tidak menunjukkan perbedaan saat ini. Aliansi sekte aliran putih, sekilas tamoak mendominasi.
Serangan kejutan dari Marendra, sukses memukul mental juang pasukannya. Sisanya, saat serangan dengan kekuatan penuh ketua-ketua sekte di belakangnya menambah dampak yang lebih buruk pada pasukannya.
"Rantoba. Mungkin kau sekarang cemas karena posisi kita terlihat kurang di untungkan. Tapi, ada satu yang mereka lupakan saat ini!"
Daga yang melihat Rantoba cemas, berusaha meyakinnya.
"Paman Guru, apakah kita akan langsung bergabung?"
Rantoba berfikir bahwa jika mereka semua bergabung saat ini, maka keadaan akan segera berbalik, dan mungkin akan jauh lebih baik lagi. Tapi, dia langsung mengernyit karena pertanyaannya, di tanggapi dengan gelengan oleh Daga.
"Belum saatnya kita turun. Musuh sebenarnya belum muncul."
Daga sendiri yakin bahwa yang mereka hadapi sekarang bukan musuh sesungguhnya. Meski serangan pertama musuh sangat mengejutkan, tapi itu tidak cukup untuk meyakinkannya bahwa merekalah yang mengalahkan Kelang dan perwakilan-perwakilan sekte aliran hitam, serta sepuluh ribu anggota Sekte Tanah Hitam di lembah Tonda.
Daga memang tidak tau siapa dan berapa jumlah musuh itu. Tapi, memiliki kekuatan untuk menenggelamkan sebuah lembah masih menjadi tanda tanya besar buatnya. Bisa saja itu di lakukan oleh sekelompok besar pendekar pengendali elemen air.
Akan tetapi, itu tetap terasa mustahil kecuali jumlah mereka puluhan bahkan sampai seratus ribu. Hanya saja, Daratan Timur tidak akan mungkin memiliki pengendali air sebanyak itu. Yang jelas, hal tersebutlah yang membuat Daga hingga saat ini sangat berhati-hati.
"Jadi, apa yang mereka lupakan?" Tanya Rantoba penasaran.
"Sesuatu yang tidak bisa mereka antisipasi."
Jawab Daga, sambil menunjuk pada sekelompok pasukan yang kini di pimpin Kenneth dan mulai maju ke medan tempur.
Saat Rantoba menoleh, dia mendapati bahwa sepuluh ribu pasukan itu, kini tengah memegang senjata.
Tentu saja itu bukan senjata biasa, melainkan senjata yang mampu menembakan energi dengan kekuatan yang mampu membunuh pendekar ahli dan memberi luka berat pada pendekar raja, dan menyulitkan pergerakan pendekar suci.
Sepuluh ribu Pasukan Oldenbar di bawah pimpinan Kenneth, mengarahkan Senjata sihir yang mereka pegang ke arah pasukan musuh.
Mereka kini diam membidik, Seolah sedang menunggu aba-aba. Beberapa saat kemudian, Kenneth pun berteriak.
"Tembak ... !"