ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Satu Nyawa, Satu Dunia


Perang benar-benar berakhir, saat itu juga. Tidak perlu di tanya bagaimana nasib pasukan-pasukan Nippokure yang tersisa. Benteng itu adalah saksi bisu kebejatan mereka.


Akan tetapi, semua belum berakhir untuk Arya. Ciel, Bai Hua dan Citra Ayu, belum menyelesaikan proses pergantian unsur darah mereka.


Sedangkan saat ini begitu banyak pendekar yang terluka. Jika itu luka Luar, sebelumnya Bai Hua sudah membuat banyak Pil untuk mengantisipasinya.


Ada sekitar seribu pendekar yang terkena racun senjata rahasia pasukan Nippokure. Malah, sebagian dari mereka sudah dalam kondisi sekarat, saat perang itu usai. Belum lagi yang terluka cukup parah.


Ini kenapa, Arya tidak menyukai pertempuran dan ingin menghabisi musuh langsung dengan tangannya.


Seperti bagaimana dunia ini bekerja. Membunuh seribu orang tidak akan sesulit untuk menyembuhkan satu saja.


"Tuan Karpa, bisakah kita bicara?"


Tengah malam, saat semua pendekar-pendekar sudah berada di dalam benteng, jauh diluar sana, empat api besar tengah menyala.


"Tuan Muda, bicaralah."


Arya tampak berfikir sejenak, dia tidak tau cara menyampaikannya. Namun, itu tidak lama.


"Jujur saja, aku menganggap semua manusia sama. Citra Ayu dan pendekar-pendekar yang sedang sekarat ini, sama-sama membutuhkan pertolongan."


Rangkupala dan Salendra, langsung mengerti kemana arah pembicaraan Arya. Namun, Mereka tetap diam karena di sini, Karpatandanu yang di minta bicara.


Sultan Pasir Putih langsung menganggukkan kepala dan tersenyum pada Arya. "Tuan Muda ... Aku mengerti. Lagipula, Citra Ayu tidak akan senang jika dia hidup sementara yang lainnya tak selamat."


Mendengar kata-kata Karpatandanu, Arya juga merasa lega. "Aku berjanji, akan menyelamatkan mereka semua."


Sama halnya dengan Arya, Salendra dan Rangkupala merasa senang dengan jawaban Sultan Pasir Putih itu.


Memang sebagai Ayah, pasti Karpatandanu berharap putrinya di dahulukan. Namun, seperti kata Arya, semua manusia sama tak penting siapa dan dari mana asal usulnya dan Karpatandanu juga berpendapat sama.


Di mulai dari Umbara yang sudah tak sadarkan diri kehabisan darah, setelah itu Arya mengobati pendekar-pendekar yang terluka sangat parah lainnya.


Dengan berkah Air, barulah Arya mencoba menetralkan seluruh Racun pada pendekar-pendekar itu.


Beruntung saat itu, Bayam Tiga Jari sudah menjadi Serbuk. Karena Proses itu memakan waktu dua hari lamanya.


Selama itu terjadi, mereka melihat bagaimana Arya menggunakan energi asing yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya, dalam jumlah yang sangat besar untuk menyembuhkan semua orang, dalam waktu bersamaan.


Saat Proses selesai, para pendekar itu selamat dan racun benar-benar menghilang dari tubuh mereka. Namun, saat itu, Tubuh Arya sudah menjadi sangat pucat.


Arya telah menggunakan kekuatannya, berhari-hari lamanya. Sejak berhadapan dengan Kerang Darah Batu, hingga hari ini.


Arya tidak bisa membiarkan dirinya tak sadarkan diri karena ada tiga gadis lagi, yang masih memerlukan kekuatannya, untuk menyelesaikan proses pergantian unsur darah mereka.


Sehari setelahnya, Ciel sadar. Satu lagi kekuatan yang harus dikendalikan Arya.


Pusat energi Ciel yang sudah sejak lama diketahui Arya mengandung elemen udara itu, berpotensi menghancurkan bangunan di mana dia berada. Itu karena adik Luna tersebut sudah terlanjur memiliki Prana yang sangat besar.


Apalagi, sejak awal Ciel tidak pernah belajar mengendalikan bahkan dia tidak mengetahui dia memiliki elemen udara, sebelum hari ini.


Arya terpaksa harus langsung menyegel seluruh pusat Prananya saat itu juga. Meski tidak menggunakan banyak energi, tapi itu sangat berpengaruh karena kekuatan Arya tak banyak lagi tersisa.


Namun, yang menjadi pertimbangan Arya yang sesungguhnya adalah Bai Hua. Saat ini, Arya berharap berkah air segera menyelesaikan proses pergantian unsur darah pada gadis itu, sebelum energinya benar-benar habis.


Elemen petir yang dimiliki gadis itu benar-benar belum ada yang bisa mengendalikannya, bahkan pemilik elemen itu sendiri.


Apa yang ditakutkan Arya benar-benar terjadi. Empat hari setelah sadarnya Ciel, Bai Hua menunjukkan tanda-tanda akan terbangun.


"Arya, kau tak akan bisa bertahan lagi ... Biarkan gadis itu, aku yang tangani."


Kulkan terbangun karena Tubuh Arya semakin lemah. Tentu saja hal itu membuatnya sangat cemas.


"Zolka, kau bisa menghancurkan seluruh benteng ini dan membunuh semua orang ... Saat ini, aku tidak mampu mengendalikan energi mu."


Lama di tubuh Arya, membuat Kulkan mengerti. bukan energinya lah yang tidak bisa dikendalikan Arya. Bahkan dia sudah tau Bahwa Arya bisa memanipulasi banyak energi termasuk miliknya.


Yang sebenarnya tidak bisa di kendalikan Arya saat ini adalah alam bawah sadarnya.


Namun, beberapa saat setelah dipindahkan, Bai Hua benar-benar terbangun. Bukan, saat itu hanya kekuatannya saja yang terbangun tapi tidak dengan kesadarannya.


"Arya, kau akan mati jika mendekat sekarang ... Kau ... !"


"Zolka, dia adalah Bai Hua ... Keluargaku ... !"


Saat itu juga, Arya memaksa mendekat untuk menyegel Prana Bai Hua. Baru beberapa langkah saja. Akhirnya, seluruh kekuatan Bai Hua benar-benar terjaga.


Ratusan petir langsung menghantam Arya saat itu juga.


"Aaaaaaaarrrrrrrrrrrgghhhhhhhhhhhhhh...."


"Aaaaaaaarrrrrrrrrrrgghhhhhhhhhhhhhh...."


"Aaaaaaaarrrrrrrrrrrgghhhhhhhhhhhhhh...."


"Aaaaaaaarrrrrrrrrrrgghhhhhhhhhhhhhh...."


Teriakan Arya menggelegar ke seluruh benteng tersebut. Semua yang mendengarnya, tidak bisa membayangkan apa yang di rasakan Arya saat itu.


Rangkupala, Salendra dan Karpatandanu yang sudah mengetahui bagaimana kuatnya Arya, benar-benar tidak sanggup bernafas saat mendengar teriakan tersebut.


Mereka tidak menyangka akan ada kekuatan yang mampu membuat pemuda itu, begitu merasa sakitnya.


Sedangkan Luna, langsung jatuh terduduk saat mendengar pekikan itu. Jika ada yang paling mengetahui kekuatan Arya di sana, tentu saja gadis itu. Dia hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangannya di tepi tempat tidur dimana Ciel masih terbaring lemah.


Saat itu, Kulkan yang melihat bahkan merasakan bagaimana Arya membahayakan dirinya untuk gadis itu, terdiam.


Arya berjalan tertatih berusaha hanya untuk sampai pada ruangan di mana Citra Ayu berada. Tubuhnya benar-benar sudah lemah.


Kulkan terus terdiam bahkan saat Arya berhasil menutup Prana Bai Hua saat ratusan petir dari tubuh gadis itu terus menerus menyambar.


Tubuh Arya benar-benar sudah sampai pada batasnya.


Arya masuk kedalam dan mendapati Berkah air yang menyelubungi tubuh Citra Ayu sudah menipis. Mata nya yang sudah nanar, merasa tubuh gadis itu begitu jauhnya.


Lama makhluk yang berbagi kesadaran dengan Arya itu terdiam. Namun, kemudian dia kembali bersuara.


"Arya, kau telah memiliki segalanya ... Sebenarnya, seberapa berharga nyawa-nyawa manusia ini, bagimu? ... "


Arya seolah tak punya energi lagi untuk menjawab Kulkan, bahkan saat ini dia tidak punya kekuatan untuk membuat Citra Ayu terus melayang di udara.


Arya menarik dan memeluk tubuh Citra Ayu lalu melepas semua energi berkah Air yang tersisa di tubuhnya, pada gadis itu.


Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Arya tersenyum dan bergumam pada Kulkan.


"Zolka ... Satu nyawa mereka ... Seharga ... Satu Dunia ... "