
Semua orang benar-benar terpana dengan cara berfikir Arya. Di Daratan Barat ini, pemuda seperti Arya sudah ada yang memiliki dua istri.
Luna dan Ciel juga tak kalah herannya. Bahkan, saat mereka masih sangat muda, mereka telah mendengar banyak cerita tentang percintaan.
Sepanjang perjalanan mereka di berbagai negara, lelaki seumuran Arya sudah bisa di pastikan tidak hanya mengenal cinta saja, tapi juga sudah bercinta.
Bai Hua juga tidak jauh berbeda. Di negaranya, seorang raja memiliki banyak wanita. Bahkan, akan sangat tidak wajar atau sedikit memalukan jika seorang kaisar atau raja hanya memiliki sedikit wanita.
Ketiganya tau bahwa saat ini Arya benar-benar seorang Raja. Ini terlihat sangat menyedihkan. Bagaimana orang sejenius ini tidak mengerti apa itu cinta
Tak berbeda dengan empat pendekar bumi lainnya. Mereka tidak menyangka bahwa Arya tidak mengerti hal itu.
Bahkan, Karpatandanu sempat berfikir untuk menjodohkan Citra Ayu dengannya jika Arya mau. Akan sangat hebat jika memiliki menantu yang begitu kuat ini.
Akan tetapi, pemuda ini baru saja merusak suasana. Momen yang begitu mengharukan dari cerita cinta dua legenda yang sarat pilu itu, langsung hambar saat Arya bertanya.
Jika tidak sekuat apa yang mereka telah saksikan. Mungkin saja saat ini semua orang sudah memberikan Arya satu pukulan untuk menyadarkannya.
Siapa yang menyangka bahwa Arya tidak mengerti apapun tentang cerita Rangkupala.
Melihat semua orang menatapnya aneh, bahkan ketiga gadis yang selalu mengikutinya itu mendekat dan memandang wajahnya lekat, Arya langsung mengerti bahwa disini, hanya dirinyalah yang tidak mengerti, apa itu cinta.
"Baiklah, aku rasa kita lewati saja bagian itu" Ucap Arya tanpa rasa bersalah.
"Ya. Ya. Baiklah, sebaiknya begitu." Kata Rangkupala cepat.
Mereka lanjut membahas tentang kekuatan serta pengaruh dua organisasi asing yang ada di Daratan Barat.
Mereka juga membahas lima negeri lainnya, yang ternyata masing-masing memang memiliki hukum dan kebiasaan sendiri-sendiri.
Terakhir, mereka membahas tentang tujuan Adiaksa dan Banjanang yang sebenarnya.
Kematian Aditya tidak menjadikannya putra mahkota. Itu adalah pertanda bahwa hubungannya dengan Maharaja Kerajaan Swarna, tidak baik.
Mengenai inti tanah, pasti mereka berfikir sama dengan Arya. Menurut Arya, Malka pasti tau bahwa itu bukan pusaka seperti yang selama ini dipercayai oleh orang-orang Daratan Barat.
"Tuan Rangkupala, Tuan Harupanrama dan Tuan Karpatandanu. Aku mencoba menyadarkan kalian bahwa kita di daratan ini bersaudara. Jika tidak terpecah tiga, maka seharusnya, Kerajaan ini, bernama SwarnaDwipa. Sebuah kerajaan terkuat di dunia."
Arya menceritakan sejarah pada keempatnya yang membuat mereka terperangah. Di catatan buku sejarah apapun yang pernah mereka baca, cerita Arya tidak pernah ada.
Lagipula, jika memang benar, maka sejarah yang Arya katakan itu sudah berumur tiga ribu tahun. Sekarang, dunia sudah sangat berubah.
"Aku tau apa yang ada di kepala kalian saat ini. Sudah banyak kerajaan hilang dan munculnya kerajaan-kerjaan baru. Sejarah mungkin benar, tapi itu tidak berarti apa-apa bukan?"
Keempatnya mengangguk setuju. Karena, Memang itulah yang mereka pikirkan saat ini.
Sudah banyak kudeta yang menumbangkan sebuah rezim bahkan dinasti. Setelah itu semuanya berganti dengan rezim dan dinasti baru lainnya
Bahkan, di belahan dunia lainnya, beberapa negara menginvasi negara lain untuk meluaskan wilayah mereka namun ada pula wilayah yang sudah luas, kemudian terpecah belah dan muncul kerajaan-kerajaan kecil yang baru.
Hal ini sudah menjadi siklus dan hukum dunia dan dianggap sudah sangat wajar. Jadi, apapun yang Arya katakan, saat ini memang tidak berarti apapun.
"Bagaimana jika aku mengatakan bahwa ada kekuatan yang ingin mengambil alih tanah kalian ini?" Tanya Arya pada dua Sultan.
"Tuan muda, tentu saja aku akan melawan."
Arya mengangguk lagi. "Bagaimana jika kekuatan itu tidak hanya ingin negeri kalian tapi seluruh Daratan ini?"
Keduanya termenung sebentar, lalu Karpatandanu berseru.
"Tentu saja kami akan bersatu untuk mengalahkannya."
"Tepat, itu maksudku. Sekarang, Serikat Oldenbar atau Pasukan tempur Kekaisaran Nippokure, menginginkan seluruh Kerajaan ini."
Sekarang keduanya terdiam dan mulai mengerti apa yang dimaksud Arya.
"Apakah kalian hanya akan duduk diam dan menunggu dan berlagak seperti pendekar hebat, hingga mereka menjadi sangat kuat disini. Lalu, saat mereka mulai menyisir rata negeri kalian, barulah saat itu kalian melawan, begitu? Bukankah itu sudah sangat terlambat sekali?"
Dua Sultan saling berhadapan. Sedangkan Rentangjala dan Rangkupala menatap Arya dengan perasaan tidak percaya.
Baru saja, mereka merasa Arya adalah anak muda tidak tau apa itu Cinta, kini pemuda ini kembali menunjukkan pandangannya tentang kerajaan ini.
"Aku berniat ke kota Barus meminta pertanggung jawaban Maharaja. Jika mereka tidak mengusir kekuatan asing dari kerajaan ini, maka lebih baik kerajaan ini tidak ada saja. Aku lebih suka menghancurkan sendiri kerajaan ini, dan membiarkan Rakyatnya menentukan nasib mereka sendiri ke depan. Daripada melihat dan membiarkan orang-orang asing itu, menyebabkan penderitaan pada tiga Daratan kerajaan ini, di masa yang akan datang."
Saat itu juga mata semua orang benar-benar terbuka. Hanya karena serikat Oldenbar dan Pasukan kekaisaran Nippokure tidak ada di negeri mereka, bukan berarti negeri mereka aman.
Hanya tinggal menunggu waktu dan kesempatan saja. Saat mereka datang dan mengambil semuanya.
Rangkupala, langsung mengerti. Daratan Timur bukan datang untuk mengibarkan bendera perang, tapi mereka bersiap jika itu diperlukan.
Masalah sebenarnya adalah Daratan Barat ini. Jika perang terjadi, tentu mereka tidak siap. Karena pada kenyataannya mereka hanya sibuk dengan negeri masing-masing.
"Tuan Muda, kami mengerti. Sepertinya kami memang harus bersiap."
"Harupanrama benar, perang kami tak gentar. Kami telah melihat, mana yang benar."
Arya menggeleng. "Kalian mengerti tapi tak paham, untuk apa begitu geram? Lima negeri sedang diredam, kalian duduk, berpangku diam?"
Lagi-lagi kedua sultan merasa bodoh. Tentu saja saat ini sudah terlambat untuk itu, perang sudah lama di mulai hanya saja mereka tidak menyadarinya.
Dua kekuatan asing sudah menguasai lima negeri lainnya. Dengan semua kejadian yang ada, pasti akan menyulitkan jika mereka masih terpecah.
"Harupanrama! Karpatandanu! Sudah saatnya kita membantu lima negeri lainnya. Di Malka bukanlah Raja, kita tak mendaulat Banjanang. Kita tak pernah dan tak akan pernah mengakuinya."
Seru Rangkupala pada keduanya. Dan kedua Sultan langsung mengangguk.
Mereka mengerti bahwa beberapa tahun ini, mereka tidak memperdulikan lima negeri lainnya.
Di bawah tekanan Malka dan Barus, ke limanya tidak bisa berbuat apa-apa. Negeri Ambang dan Pasir Putih sedikit beruntung karena disini ada Rangkupala alias jemba si Kebojalang.
Jika tidak, maka mereka akan bernasib sama. Saat itu terjadi, mungkin tidak ada yang akan menolong negeri mereka.
"Tuan Muda. Apa langkah pertama?" Tanya Rangkupala pada Arya.
Tanpa Ragu Arya menjawab.
"Serang!"