
" Uhuk! Uhuk! "
Arya tersedak, saat Tarim Saka menunjukknya. Mulutnya yang sedang penuh itu, langsung menyemburkan makanan. Sebagian makanan tersebut mengenai wajah Handar dan sebagian besar bajunya.
" Minumlah! " Tarim Saka menyuguhkan Arya gelas yang terisi penuh padanya. Arya langsung menyambar gelas tersebut dan meneguk habis isinya.
" Ahh...! Terimakasih, Kek! " kata Arya setelah sisa makanan berhasil terdorong kelambungnya. Saat dia menoleh pada Handar, wajahnya berubah " Hmm... Maafkan aku! Aku tidak sengaja " kata Arya gugup saat Handar menatapnya kesal.
Handar tidak memperdulikan perkataan Arya, dan mengusap wajahnya kasar untuk membersihkan bekas makanan itu, lalu kembali menatap Tarim Saka " Pemuda ini?! "
" Begitulah laporan yang kuterima dari mereka semua! " Tarim saka menunjuk pada beberapa pendekar Sekte Awan Senja yang ikut makan di beberapa meja lainnya di sana. mereka adalah murid yang di tugaskan di luar untuk menyelesaikan misi oleh Sekte Awan Senja.
Para sesepuh menatap mereka semua seperti meminta penjelasan. Para pendekar tersebut hanya menunduk mengiyakan dengan canggung.
Bahkan bagi mereka, sampai sekarangpun sangat sulit untuk mempercayainya. Hanya saja, kejadian tersebut berlangsung tepat di depan mata mereka semua. Gandala dengan Jurus Terkuat Sekte Awan Senja, mati secara konyol di hadapan pemuda yang sekarang malah berubah menjadi terlihat sangat kaya itu.
Pandangan para sepuh kembali pada Arya. Mereka sekarang memplototi tubuh Arya. Cara apapun yang mereka gunakan, tidak berhasil menemukan setitikpun tenaga dalam di tubuh pemuda tersebut.
" Jadi, Tuan Muda! Tolong jelaskan pada kami, trik seperti apa yang tuan muda gunakan untuk mengalahkan si pengkhianat itu? " Tanya sepuh yang tua tadi dengan bijak.
Semuanya mengangguk sependapat dengan sepuh itu. Tentu saja perlu trik khusus untuk mengalahkan Gandala. Sangat tidak mungkin bagi seseorang mengalahkan Gandala tanpa tenaga dalam sama sekali.
Arya melihat semua mata kini tertuju padanya seperti menunggu jawaban. Tidak ada cara lain selain jujur saja. Karena menurut Arya, hal ini terlihat sangat penting bagi kakek-kakek tua yang ada di meja itu. Arya memilih untuk menghargainya.
" Aku membenci perampok dan Kelabang Hitam. Jadi karena kebetulan Kakek itu adalah Ketua kelompok perampok dan nama kelompok perampok itu Kelabang Hitam, Aku menampar wajahnya saat dia meninju dadaku " Jawab Arya sambil menatap satu-satu mata sesepuh di sana saat mengatakannya.
Jawaban Arya yang datar tersebut membuat ruangan itu menjadi hening. Tidak ada satupun manusia di sana yang menyangka jawaban dari Arya akan seperti itu.
Melihat semuanya terdiam, Arya berfikir sejenak, lalu menambahkan. " Oh, iya! Saat itu, aku pikir tangannya yang berwarna ungu tersebut akan mengotori bajuku. Tapi ternyata tidak. Aku salah menduganya. " Wajah Arya sedikit berbah canggung, lalu melanjutkan " Aku tidak suka jika seseorang mengotori bajuku, apalagi baju yang saat itu aku kenakan. Itu baju pemberian guruku yang paling aku sukai " tambah Arya panjang lebar, berharap penjelasannya kali ini bisa memuaskan semua orang. Dan ternyata masih gagal.
Para sesepuh Sekte Awan Senja benar-benar kehabisan kata-kata. Mereka kebingungan harus menanggapi seluruh jawaban dari pemuda itu.
Begitu juga dengan Tarim Saka, Dia juga tidak mengira Arya akan menjawab seperti itu. Sekarang dia merasa harus menjelaskan hal yang juga membuat dirinya bingung tersebut, pada seluruh sepuh yang kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Berbeda dengan Sugal dan para pendekar yang ikut makan di sana, Mereka bersumpah tidak akan pernah berani mengotori baju Arya. Mereka mengingat kembali bagaimana proses kematian Baya, salah satu petinggi Organisasi Kelabang Hitam. ingatan tersebut membuat mereka bergidik ngeri serentak. Makanan di meja mereka seketika itu langsung terlihat tidak menggugah selera lagi.
Sugal yang menyadari kecanggungan tersebut, berusaha menengahi. " Maaf Ketua, dan para sesepuh sekalian. Biarkan aku menjelaskan kejadiannya seperti apa. " Sugal takut Tarim Saka dan para sesepuh ini melakukan kebodohan yang sama dengan dirinya saat itu " Hmm ... Aku rasa, aku bisa menjelaskan ini semua "
Tarim Saka merasa beban di pundaknya kini terangkat " Ya! Sugal, tolong kau perjelas. Aku rasa, Nak Arya tidak ingin menyombongkan dirinya, bukankah begitu? "
" Nah! Semua jadi masuk akal sekarang. Hahahahaha! " Tarim Saka langsung menyimpulkan bahwa penjelasan Sugal sangat bisa diterima.
Para sesepuh langsung mengangguk setuju. Ini adalah kemungkinan yang paling masuk akal bagi mereka. Tentu saja, pendekar tingkat tinggi punya kebiasaan untuk menyembunyikan tenaga dalam mereka.
Saat ini mereka menyimpulkan bahwa Arya mempunyai trik sendiri yang tidak mereka ketahui bagaimana Arya bisa menyembunyikan tenaga dalamnya hingga mereka tidak bisa merasakannya sama sekali.
" Tapi saat itu, Pendekar Arya sama sekali tidak membutuhkan tenaga dalam untuk mengalahkan Gandala. dan Ya, Gandala mati hanya dengan satu pukulan saja. persis seperti yang Tuan Arya katakan. " kata Sugal dengan bangga.
Kali ini para sesepuh tersebut benar-benar nyaris memuntahkan jantung mereka. Tidak terkecuali Tarim Saka. Mereka kini menjadi sangat gugup.
Jika apa yang dikatakan Sugal ini benar. Maka, setidaknya pemuda yang ada bersama mereka ini adalah pendekar level ahli. Mungkin saja sudah sampai pada tingkat Akhir level itu.
Melihat dari pakaian Arya, mereka memikirkan ulang penilaian mereka. Pendekar dengan kemampuan seperti itu tentu saja sangat kaya. Bahkan di sekte besar sekalipun pendekar yang sudah berada di level Ahli pasti punya jabatan yang sangat tinggi.
Mengingat Arya begitu muda, sudah pasti Arya merupakan salah satu atau bahkan yang terjenius dari seluruh pemuda yang berada di kerjaan Swarna. Jenius seperti Arya, di Daratan Timur ini, jika beruntung hanya bisa di temui di Sekte terbesar di dekat kota Basaka. Sekte Singa Emas.
Tarim Saka langsung berdiri. Di ikuti semua sepuh yang ada di sana. Sugal dan yang lainnya juga mengikuti perubahan sikap yang mendadak dari para petinggi Sekte Awan Senja tersebut.
Tarim Saka menyatukan kedua telapak tangan dan merapatkannya ke dada, kepalanya sedikit menunduk " Maafkan kelancangan kami sebelumnya, Nak Arya! Ilmu kami yang tidak seberapa ini tidak mampu mengukur diri. Sampai-sampai kami bisa melupakan kemungkinan seperti ini "
Semua orang yang ada di sana mengikuti apa yang dilakukan Tarim Saka. Jelas pemuda di depan mereka ini bukan pemuda sembarangan. Mereka yakin, dengan menyinggung perasaan pemuda ini, mereka akan memiliki masalah yang sangat besar dengan salah satu Sekte Terbesar yang ada di Kerajaan Swarna. tidak perlu sampai sejauh itu, tanpa tenaga dalam saja pemuda ini bisa membunuh Gandala dengan satu tamparan. Jadi jika mereka dengan secara tidak sengaja telah menyinggung perasaan pemuda ini, Bukan tidak mungkin dengan tenaga dalamnya, bisa dipastikan Sekte Awan senja akan punah sebelum matahari terbit, esok pagi.
Arya terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Tarim Saka dan yang lainnya. Dia pun sontak ikut berdiri. Arya tidak mengerti dengan situasi seperti ini dan tidak tau cara menghadapinya. Dia hanya melihat raut sesal dan ketakutan di wajah beberapa orang di sana. Itu membuatnya jadi tidak nyaman.
" Apa yang kakek Lakukan? " Arya menatap kesekeliling dengan kebingungan. " Aku bukan menyembunyikan tenaga dalam. Aku memang tidak memiliki nya. "
Arya berfikir persoalan tenaga dalam inilah yang membuat mereka jadi salah faham. Dengan mengatakan yang sebenarnya, maka semua ini bisa di luruskan. setidaknya begitulah yang Arya pikirkan detik itu.
Tarim Saka dan yang lainnya makin salah mengerti. Pemuda ini benar-benar rendah hati. Bahkan sampai saat terakhirpun dia masih mencoba untuk tidak terlihat sombong sedikitpun. Ini menimbulkan rasa yang tadi kagum berubah menjadi rasa hormat yang sangat tinggi.
Mereka memutuskan untuk menghormati prinsip pemuda itu dan mengangguk puas. Selama mereka hidup, baru kali ini mereka melihat seorang pendekar yang hebat dan sangat berbudi luhur. Terlebih pendekar tersebut masih sangat muda sekali.
Mereka kembali duduk di kursi masing-masing melanjutkan jamuan tersebut. Namun, belum sempat semuanya kembali pada posisi mereka, pintu ruangan itu terbuka mendadak.
Dari balik pintu tersebut, kini terlihat seorang pelayan wanita yang terlihat sangat cemas. " Maaf kelancangan saya! " Mata wanita itu langsung tertuju pada Tarim Saka " Ketua! ... Nona Darya ... "