ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Di Mana Darya


Meski Rewanda dan Krama sudah berwujud kera dan anjing biasa, itu tidak menyebabkan para sesepuh yang kini berada di dalam vila yang ditawarkan Tarim Saka untuk Arya beristirahat selama di sana, merasakan lega.


Rasa takut mereka pada Arya semakin menjadi-jadi. Mereka kini benar-benar kebingungan dengan identitas yang di miliki Arya sesungguhnya.


Mereka tidak tau bahwa ada makhluk yang menyeramkan selain siluman. Pantas saja tidak ada satupun dari mereka merasakan keberadaan Rewanda dan Krama sebelumnya.


Sekali lagi mereka berfikir. Jika Arya berniat menghancurkan Sekte Awan Senja, pemuda tersebut tidak perlu mengeluarkan tenaga sedikitpun. Cukup satu kata dari mulutnya. Kedua makhluk tersebut diyakini mereka mampu meratakan Sekte itu dengan tanah.


" Begini, Nak pendekar tuan Arya " Tarim Saka begitu gugupnya. Rasa penasarannya lah yang membuat dirinya sampai memaksa Arya ke sini. Kini dengan bulir keringat di wajahnya Tarim Saka sangat sulit menyusun kalimatnya " Kami minta maaf karena telah lancang tiba-tiba masuk kemari "


Darya mendengar ucapan Kakeknya yang terasa ganjil tersebut, mengernyit keheranan. ' Bukankah vila ini miliknya? ' batin Darya sambil terus bermain dengan Krama dan Rewanda tidak jauh dari keberadaan mereka.


Arya juga sedikit heran dengan kata-kata Tarim Saka. " Oh, soal itu tidak apa-apa. Sekarang kalian sudah melihatnya. " katanya mencoba menenangkan wajah para sesepuh yang kini terlihat memutih tersebut.


Di belakang mereka, Sugal berdiri dengan kaki yang gemetaran. Sesekali. Matanya melirik.ke arah Rewanda dan Krama yang asik bermain dengan Darya. Membayangkan kedua makhluk itu menjelma ke bentuk yang baru saja dia lihat dan langsung menerkamnya, membuat organ yang ada di dalam perut Sugal terasa terpelintir.


Sesepuh lain merasakan hal yang tak jauh berbeda. Mereka tidak mau duduk membelakangi Rewanda dan Krama. Mereka akan bereaksi saat kedua makhluk itu melompat atau hanya bergerak sedikit berlebihan. Adegan pembantaian berenang-renang di kepala mereka.


Di antara mereka, Hanya Tarim Saka yang masih memiliki keberanian untuk bicara. " Sukurlah kalau begitu! Senang mendengarnya! "


Arya mencoba mengalihkan pembicaraan agar mereka semua bisa sedikit merasa tenang. " Baiklah. Jadi ... Apa yang membawa kalian semua kesini!? "


Tarim Saka menyikut Handar yang duduk di sebelahnya. Namun, sang wakil ketua hanya diam seribu bahasa. Dia yakin begitu dia bersuara, suara gemelutuk gigi nya akan terdengar sangat nyaring. Jadi menurutnya, mengunci rapat mulutnya adalah pilihan yang paling bijak saat ini. Toh, di sini masih ada ketua, jadi wakil bisa di anggap tidak diperlukan.


" Masalah itu, Hmm ... " Tarim Saka melirik pada Sugal dan menajamkan matanya, seperti sedang memberi perintah, Namun Sugal sama sekali tidak terlihat mengerti maksudnya dan hanya memberi tatapan kosong.


" Sudahlah Kek, jangan sungkan. Aku akan mendengarkannya "


Tarim Saka menarik nafas dalam lalu melepaskannya. Jika terus seperti ini,  masalah ini tidak akan pernah selesai. Sebagai seorang pendekar merangkap ketua sebuah sekte, Dia lebih memilih mati diterkam makhluk yang ada di depan mereka daripada mati perlahan karena ketakutan. harga dirinya menolak untuk seperti itu. " Begini, ... Nak Arya. Aku rasa Sugal sebagai salah satu pendekar dari sekte Awan Senja, telah melakukan kesalahan pada dirimu. "


Setelah mengatakan itu, Tarim Saka melirik Handar dengan tatapan kesal ' Rubah tidak berguna ' batinnya. Lalu kembali menatap Arya.


" Guk! Guk! Guk! "


Suara Krama yang sedang bermain bersama Darya, sukses membuat semua pria tua itu terloncat. Darya kesulitan menahan tawa saat melihat itu semua. Dia tidak menyangka bahwa orang-orang terkuat di sekte Awan Senja, sebegitu takutnya dengan makluk lucu yang kini bermain dengannya.


" Oh! Aku juga memikirkan hal itu sejak tadi malam. Hampir saja aku melupakannya. Terimakasih, Kakek telah mengingatkan! "


Setelah mengatakan itu, Arya langsung menatap pada Sugal dengan tersenyum canggung.


Senyuman itu lebih terlihat seperti seringai bagi mereka, terlebih lagi bagi Sugal. ' jadi ini memang di anggapnya sebuah masalah? Tamat sudah riwayatku ' batin Sugal.


Sugal terkejut saat seseorang tiba-tiba menepuk bahunya. " Sugal, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu. "


Handar tidak kembali duduk saat terloncat ketika mendengar suara Krama tadi. Melainkan tetap berdiri dan kini berada di sebelah Sugal. Tidak ada yang menyadari itu sebelumnya. "  Bersikaplah seperti pendekar sejati " Handar menasehati Sugal dengan nada bijak.


" Ya, kau akan kami kenang sebagai Pahlawan sekte. ... Seharusnya kau bangga bisa mati di tangan pendekar yang sangat hebat " Timpal Ki Jurung sambil mengusap jenggot putihnya, tak kalah bijaknya.


Sugal menatap dua orang sepuh tersebut dengan tatapan terkesima. Bagaimana bisa dua orang tua ini begitu tega padanya. ' Jika ini membuatmu bangga, maka gantikan aku '


" Ehm ... Begini Nak Arya. Bisakah kau melupakan ini saja. Walaupun kadang sering bertingkah bodoh, tapi aku yakin Sugal adalah orang yang baik. Aku sudah menganggap Sugal seperti keluargaku sendiri "


Tidak tahan dengan kelakuan dua sepuh lainnya, Akhirnya Tarim Saka angkat bicara. Setidaknya sebagai ketua, Tarim Saka ingin memberikan pembelaan terhadap Sugal.


Handar mendorong tubuh Sugal yang gemetar mendekat pada Arya. Sugal mencoba mengangkat tangannya yang kini menggigil hebat itu pada Arya.


Sugal memejamkan mata. Berharap jika Arya mau berbaik hati untuk hanya akan menghancurkan tangan itu dan membiarkannya hidup.


Sugal merasakan Arya menggengam tangannya yang masih terasa sakit itu, Tidak berapa lama, tiba-tiba dia sudah tidak lagi merasakan sakit.


"  Selamat tinggal Jurus Tinju Peremuk Sukma " Gumam Sugal, pilu.


Sugal merasa entah bagaimana Arya sudah menghilangkan genggaman tangannya itu.


Akan tetapi, apa yang barusaja dilakukan Arya itu, sukses membuat semua orang yang ada di sana benar-benar terkesima. Tangan Sugal yang terluka parah kini terlihat sangat normal setelah Arya menempelkan telapak tangan kanannya di sana.


" Nah, sudah selesai! " kata Arya puas dan kembali duduk di bangkunya.


" Hiks ... Aku sudah tidak bisa menjadi pendekar lagi " Sugal menutup wajah dengan tangan kirinya yang kini berurai air mata.


" Apa maksudmu? " tanya Handar yang masih berdiri di sebelahnya.


Sugal yang di landa kesedihan karena barusaja merasa berpisah dengan jurus tinju terkuatnya, kesal. Ia berbalik menatap Handar geram dan mengangkat tangannya tepat di wajah Handar " Aku tidak mau orang-orang memanggil ku Sugal si pendekar Bun ... " kata-katanya tergantung di udara. Ternyata telapak tangannya masih utuh dan kini terlihat sangat, normal?.


Sugal berbalik menatap Arya dan menatap tangannya dan Arya lagi bergantian setidaknya lima kali " Bagaimana ... Bisa? " Tanya sugal sambil menyapu pandangannya pada semua orang yang ada di sana. Namun, Tak ada satupun dari mereka yang menjawabnya.


" Aku minta maaf karena telah membuat tanganmu terluka. Jadi, aku rasa sekarang semua sudah baik-baik saja.  " kata Arya.


Sugal langsung berlutut pada Arya. Jika arya tidak cepat menangkapnya, Sugar sudah bisa dipastikan akan bersujud padanya. " Terimakasih Tuan pendekar, Aku ... aku ... Hiks "


Sugal meneteskan air matanya. Tidak hanya nyawanya yang selamat. Namun, tangannya yang terluka kini juga sudah sehat. Tidak ada kata yang bisa disampaikannya untuk mengungkapkan perasaannya saat ini. Pria tua itu hanya menangis dengan posisi tertunduk di depan Arya. Sugal Si Tinju Peremuk Sukma masih ada.


Seumur hidup mereka yang sudah malang melintang menjadi pendekar di dunia persilatan Daratan Timur kerajaan Swarna, Tidak ada satupun dari seseouh Sekte Awan Senja yang berada disana pernah menyaksikan apa yang dilakukan Arya pada tangan Sugal. mendengar orang lain menceritakanpun tidak pernah.


Bahkan tabib terhebat Sekte Awan Senja hanya bisa memperbaiki kerusakan ringan pada tulang yang pecah dan itu juga perlu waktu serta meninggalkan bekas. Tapi, tangan Sugal sekarang seperti belum pernah terluka sebelumnya. Ini terlalu luar biasa bagi mereka.


Tarim Saka. Ketua Sekta Awan Senja yang ikut terkejut dengan keajaiban yang dilakukan Arya sudah lebih dulu mendapatkan kesadarannya. Bukan, ini karna dia langsung menyadari sesuatu.


Tarim Saka langsung berlutut di depan Arya. " Nak Arya, dengan kekuatanmu. Tolong sembuhkan Darya, cucuku! " tak ubahnya Sugal, Tarim Saka juga berniat bersujud agar Arya mau memenuhi permohonannya itu.


" Tenang, Kek! Aku juga sudah memikirkannya. Sepertinya memang ada sesuatu yang aneh di tubuh Darya! " Arya langsung menjawab.


Tarim Saka manatap Arya heran. " Sesuatu yang aneh? "


" Ya, ada sesuatu yang asing di tubuh Darya. Aku rasa itulah yang menyebabkan kondisinya jadi seperti itu "


Meski tidak terlalu mengerti apa yang di maksud oleh Arya. Tapi, Tarim Saka yakin apapun itu, Arya mampu mengobati cucunya.


" Sebentar! ... Dimana Darya! "


Handar yang pertama kali menyadari bahwa Darya sudah tidak ada lagi di sana.


" Sepertinya Makhluk itu berhasil! " Suara Amia di kepala Arya.