
"Tuan Darius, sebaiknya kita tunggu yang lain dan memperhatikan sebentar."
Darius mengangguk menyetujui. "Maafkan aku. Aku terlalu bersemangat. seperti katamu, sebaiknya, Kita lihat dulu kubu mana yang akan kita bela."
Bersamaan dengan itu, petualang-petualang lain juga tiba di tempat mereka.
Namun saat itu juga, terdengar suara dari salah satu petualang meneriakkan sesuatu.
"Itu bendera Sekte Singa Emas ... !"
Darius langsung menoleh ke arah yang ditunjuk petualang itu. Dan dia juga baru menyadari bahwa itu memang benar bendera Sekte Singa Emas.
"Nick, kita sudah tau kubu mana yang akan kita bela!"
"Ya. Aku mengerti."
Pihak yang mengibarkan Panji Sekte Singa Emas, tampak memiliki ikat di kepala seluruh pasukannya begitu juga pasukan lain yang bertempur bersama mereka. Para petualang bisa langsung membedakan kedua kubu saat itu juga.
Saat ini, Darius tidak langsung berlari untuk ikut bergabung dalam pertempuran tersebut. Namun, dia berjalan dan berdiri di depan semua petualang.
"Kalian ... ! Tolong dengarkan aku!" Teriak Darius.
Saat itu para petualang langsung mengalihkan perhatian mereka pada Darius.
"Saat ini, terjadi pertempuran yang akan menentukan nasib Daratan ini." Seru Darius memulainya. "Tidak ada satupun dari kalian yang berkewajiban untuk ikut bertempur di sini."
Mereka mengangguk. Apa yang di katakan Darius memang benar. Mereka sebenarnya tidak harus ikut. Karena hampir seluruh dari mereka adalah pendatang.
"Tapi, di sinilah kalian mencari kehidupan. Tanah inilah yang memberi kalian makan. Masa depan Daratan ini, akan ditentukan hari ini dan kalian bisa memilih untuk ikut bertempur atau diam di sini menunggu hasil. Tidak akan ada yang menyalahkan kalian, apapun hasilnya.hanya saja ... "
Kali ini, diantara suara pertempuran yang tengah berlangsung, mereka menjadi hening. Kata-kata Darius membuat mereka berfikir kembali. Namun, itu tidak lama. Karena, Darius kembali berbicara.
"Jika kalian adalah petualang sesungguhnya, Tentu kalian tau bahwa ini tidak bisa di biarkan. Bagaimana jika ini terjadi di kampung halaman kalian? Bagaimana jika tanah yang akan di ambil ini, adalah tanah keluarga dan nenek moyang kalian? Apa yang akan kalian lakukan?"
Kali ini, kata-kata Darius mulai membuat darah para petualang di hadapannya memanas.
"Aku tidak meminta kalian ikut. Aku hanya ingin bilang. Jika kalian masih ingin hidup di Daratan ini, maka bantu aku dan kita berjuang bersama mereka. Jika tidak, kemasi barang kalian dan pergilah dari Daratan ini, karena itu lebih baik."
Tidak ada kata-kata lagi setelah itu, Darius berbalik dan mulai melangkah. Tak lama Nick langsung menyusulnya.
Satu, dua, tiga, sepuluh, dua puluh, lima puluh. Akhirnya seluruh petualang mengikuti langkah mereka.
Saat Darius memacu langkah, merekapun langsung mengikutinya. Ini bukan pertempuran orang-orang Daratan ini saja. Ini adalah pertempuran seluruh manusia yang ingin hidup di daratan ini.
"Bela Daratan ini ... !"
"Ya ... Untuk Daratan Ini ... !
Entah siapa yang pertama memulainya, Teriakan dari petualang langsung bersahutan. Mereka sudah tau siapa dan apa yang akan mereka bela.
Para petualang Langsung mengeluarkan senjata andalan mereka masing-masing, Pasukan dari petualang berlari mendekat.
"Buat Formasi Tempur ... "
Sementara itu, di medan pertempuran para ketua sekte masih bertarung dengan lawan mereka. Marendra memang bisa mengimbangi Sapujagad, begitu juga yang lainnya.
Akan tetapi para pendekar suci yang membantu kelompok sekte aliran hitam, benar-benar mengubah keseimbangan itu.
Saat ini, jumlah mereka benar-benar merugikan kubu aliansi sekte aliran putih. Saat semangat mereka mulai terkikis, dari sisi kiri medan pertempuran, tiba-tiba muncul seruan dan teriakan.
Hanya seratus orang saja, tapi terlihat sangat kuat. Hanya saja kedua kubu tidak tau pendekar-pendekar yang baru saja datang ini, akan berpihak pada siapa.
Sempat mengambil perhatian sejenak, Saat mereka melihat dua orang asing ikut menyerbu, semua yang ada di sana bersiaga. Bersiap jika keduanya akan menyerang mereka.
"Kami, datang untuk membantu Daratan ini ... !"
Saat Keduanya berteriak seperti itu, mereka langsung memutar arah. Tujuan mereka adalah kelompok sekte aliran hitam.
Meski kelompok itu sudah berjaga, Darius dan Nick bukanlah pendekar biasa. Ketua serikat petualang dan wakilnya itu, memiliki kekuatan setara dengan ketua sekte besar.
Di susul dengan petualang lainnya di belakang. Dalam sekejap mata, pasukan Sekte aliran hitam bertumbangan.
Meski banyak teriakan, tapi kedua pihak yang melihat itu sempat terpana. Petualang-petualang itu, bukan penduduk asli daratan ini, bahkan bukan penduduk kerajaan Swarna. Tapi, mereka ikut bertempur.
Tentu saja dari pihak aliansi, tidak ada yang menyangka bahwa bantuan akan datang dari pihak yang tidak di duga. Begitu juga bagi pihak sekte aliran hitam, mereka sama tak menduganya, tapi merasakan dampak sebaliknya.
"Apa yang kalian lakukan? ... Jangan diam saja, hadang mereka ... !"
Rantoba pertama kali menyadari bahwa itu Darius dan Nick. Dia tidak menyangka bahwa mereka akan berpihak pada musuhnya.
Pasukan sekte aliran hitam tersentak. Namun, saat itu pedang Darius dan Nick sudah melintas di leher mereka. Di susul para petualang lainnya.
Para tetua aliansi sekte aliran putih juga menyadari kehadiran ratusan petualang itu untuk membantu mereka. Tak lengah langsung memberi perintah pasukannya.
"Kalian, ikuti mereka ... ! Tembus pertahanan musuh.!
Siapa yang menyangkan bahwa seratus petualang itu tidak berniat bertempur di depan. Dengan sebuah formasi membentuk anak panah, Darius dan Nick langsung menerobos hingga jauh kedalam pertahanan sekte aliran hitam.
Pengalaman para petualang dalam pertempuran, memang luar biasa. Formasi beberbentuk anak panah itu seketika membesar karena pendekar-pendekar dari aliansi segera bergabung.
Rantoba berfikir bahwa keduanya akan terusĀ menghabisi pasukannya, menjadi panik. Dia tidak tau harus berbuat apa.
Rantoba mundur dan mendekat pada Daga dan Moro yang terlihat sama terkejutnya. Mereka tidak menyangka seratus orang akan memberi perbedaan yang sangat besar. Padahal, menurut perhitungan mereka, hanya ada beberapa pendekar suci di sana.
Saat ini, keduanya mulai berfikir ulang. Mungkin tekad sangat berbahaya. Akan tetapi, Pengalaman ternyata juga tak kalah berbahayanya.
Darius dan Nick benar-benar sudah sampai pada tengah pasukan mereka. Dan jumlahnya semakin banyak saja.
Saat mereka terus melihat pergerakan itu. Daga Dan Moro menggeretakkan gigi mereka. Saat ini, keduanya ingin langsung terlibat dan menghentikan formasi itu.
"Guru, Paman Guru. Apa yang harus kita lakukan?!"
Daga tersentak saat Rantoba datang. Sempat sedikit panik, kini adik Moro itu, berusaha berfikir cepat dan sedapat mungkin tidak ceroboh dalam memutuskan.
"Rantoba. Perintahkan seluruh pendekar suci untuk menghancurkan formasi itu. Jika perlu, kau turun dan bantu mereka.!"
Moro yang berada di sebelahnya ikut mengangguk. "Daga, sebaiknya kau atau aku saja yang melakukannya.!"
Daga menggeleng. "Tidak, aku juga sudah merasakan kedatangan kelompok lain."
Rantoba dan Moro mengernyit. Namun, setelahnya Moro juga merasakan hal yang sama.
"Ya. Aku juga merasakannya. Dan mereka sangat kuat!" Seru Moro cepat
Daga kembali memerintahkan Rantoba. "Hancurkan formasi itu, dan paksa mereka mundur. Musuh yang kuat akan segera datang!"
Rantoba langsung mengangguk dan berbalik lalu segera berlari. Tak berapa lama, dia dan seluruh pendekar suci dari sekte nya segera memacu langkah guna menghadang formasi yang di buat Darius untuk mengacak-acak pasukan mereka.
Daga berdiri, begitu juga Moro.
"Sepertinya. Sekarang, sudah giliran kita."
Moro mengangguk. Saat itu, tangannya sudah berada di gagang pedangnya. Dia merasakan tenaga dalam yang kuat sedang menuju ke Lembah Haru.
"Ya. Mereka, memang Kuat!"