
Detik berikutnya, mata Ciel terbuka. Tiba-tiba saja udara memenuhi paru-parunya. Namun, saat itu dia juga merasakan hal lainnya.
Bibir Arya sedang bertaut erat dengan bibirnya. Dari mulut pemuda itu, Ciel merasakan udara yang terus di salurkan kedalam dirinya.
Seolah saat itu, Ciel merasa Arya sedang menariknya kembali dari kematiannya.
Wajah Ciel tiba-tiba memanas. Namun, segera dia kembali memeluk leher Arya kencang.
Saat itu, dia merasakan mereka sedang berputar-putar menuju kepermukaan. Begitu sampai di atas, Arya melepas bibir mereka yang sedang bertaut, dan langsung berteriak.
"MATRA ... !"
"TIRTAAAA ... NETRAAAA ... !"
"BYUUUUSSSS ... "
Saat itu, tiba-tiba saja, Pusaran air yang sangat besar menyeruak dari dalam laut dan membawa makhluk tersebut berputar-putar tinggi ke udara.
Pusaran itu benar-benar tinggi hingga Ciel melihat Siluman yang sangat besar itu, kini terlihat kecil, saat pusaran itu meninggalkannya melayang di udara.
Arya tidak bisa melihat karena langit saat itu juga sangat gelap. Namun, dia merasa beruntung. Karena di sisinya saat ini, ada seorang gadis yang bisa menutupi kekurangannya itu.
"Ciel ... Tunjukkan di mana dia ... !"
Ciel langsung menunjuk ke arah di mana Siluman itu berada dan saat itu juga Arya mengangguk mengerti.
"OMI ... OBBBIIIIiiiiii......... !!"
"Byuuussssstttt ... !"
Kali ini, tembakan air yang besar dan sangat cepat dari permukaan laut melesat langsung pada tubuh Siluman Paus itu.
"BOOOOOOOMMMM ... !"
Hantaman dari tembakan air itu, benar-benar membuat ledakan besar yang menggelegar di udara.
Hal itu membuat Siluman Paus tersebut, terpental sangat tinggi. Saat itu, Ciel bisa melihat energi Siluman itu berkurang dengan sangat cepat dan saat ini menunggu kejatuhannya.
Dan tak lama setelahnya, Tubuh Siluman Paus itu jatuh menukik dengan sangat cepat kebawah, sebelum satu lagi dentuman terdengar.
"Boooooom ... !"
Jauh di sana, Arya dan Ciel mendengar hempasan tubuh Siluman itu.
Saat itu juga, Ciel bisa melihat, energi siluman itu benar-benar sudah terkuras habis.
"Baiklah, Ayo kita ke sana."
Kali ini, Ciel berpindah ke punggung Arya saat pemuda itu berenang ketempat di mana Siluman Paus yang sangat besar itu mendarat.
Namun, beberapa saat kemudian, kening Ciel berkerut.
"Arya, apa kau sengaja melemparkannya agar terjatuh ke atas pulau itu?"
"Tidak, aku tidak mengetahui di sana ada pulau."
"Jika begitu ... Ini sangat kebetulan sekali. Baiklah, ayo kita periksa dan ambil batu energi makhluk jelek itu."
Teriak gadis itu di punggung Arya dengan semangat, seolah melupakan bahwa beberapa saat yang lalu, dirinya baru saja selamat dari kematian.
Saat sampai di pulau tersebut. Hari sudah mulai terang. Arya sendiri cukup terkejut. Pasalnya, dia juga tidak menyangka bahwa makhluk yang dia lawan sebelumnya ini, memiliki ukuran yang memang sangat besar.
Saat mereka mendekat, Ciel baru menyadari bahwa Tubuh Siluman itu ambruk di atas hutan berbatu di atas pulau itu.
Mata gadis itu langsung menajam untuk segera mencari di bagian mana batu energi Siluman Paus itu terletak. Beberapa saat kemudian, matanya melebar dan dia melompat-lompat senang.
Akan tetapi, beberapa saat kemudian, Gadis itu terdiam dan tampak berfikir. Kening sedikit berkerut dan kepalanya beberapa kali menggeleng.
"Ada apa? kenapa kau menggelengkan kepala?"
"Hmm ... Aku menemukan di batu energinya dan batu itu cukup besar. Tapi, bagaimana cara kita membelahnya?"
Arya hanya tersenyum sebelum akhirnya menghilang dari tempatnya berdiri.
"Langkah Seribu Bintang.!"
Arya langsung melesat berlari memutari tubuh Siluman Paus tersebut. Dua detik kemudian, dia kembali berdiri di depan Ciel. Namun, Tubuh makhluk yang sangat besar itu, telah masuk kedalam lingkar ruangnya.
"Kita Pikirkan itu nanti. Sekarang, kita harus menemukan Kerang Darah Batu terlebih dahulu."
"Ya, kita bisa memikirkan itu ... Nanti." Ucapnya tanpa sadar.
Saat itu, Ciel langsung mengikuti Arya berjalan. Dari arahnya, terlihat saat ini Arya menuruni pulau yang di penuhi bebatuan itu, menuju laut di sebalik pulau tersebut.
"Ciel, kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau tidak bisa berenang?"
"Kau tidak menanyakan, maka aku tidak katakan. Lagipula, jika kau memiliki teknik seperti itu, kenapa kau mengeluarkannya lama sekali?"
"Aku bisa saja, tapi bukankah kau tau saat itu aku membutuhkan kekuatanmu, untuk menghabisinya?"
Saat itu Ciel langsung terdiam. Dia kembali mengingat bagaimana perasaannya saat itu. Dan hal itu benar-benar kejadian paling menakutkan baginya.
"Saat itu, aku panik ... Tapi ... Sukurlah, kau menci ... "
Ciel tidak bisa meneruskan kata-katanya. Tiba-tiba saja wajahnya memerah.
"Aku kenapa? ... Tapi sukurlah, aku sempat mengetahui kau kehabisan nafas. Jika tidak, kau mungkin benar-benar mati."
"Ya, kau benar. Kau tepat waktu ... Ya, sepertinya, memang begitu ... "
Saat itu, tiba-tiba saja, Arya berhenti dan menatapnya tajam. Padahal, Wajah pemuda itu cukup jauh tapi Ciel merasa Arya begitu dekat, saat Tangan pemuda itu terlihat ingin menyentuhnya, Segera Ciel mundur menjauh.
"Kenapa? ... Ada apa?!"
Saat Ciel bertanya, tangan Arya sudah menangkup di pipinya.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku rasa kau baik-baik saja. Tapi, wajahmu begitu merahnya ... Itu sedikit aneh."
Ciel menjadi gugup, saat itu dia tidak tau harus bereaksi bagaimana. Meski saat itu keadaan sangat berbahaya dan dirinya benar-benar sedang terancam, itu tidak mengubah fakta bahwa keduanya sudah berciuman. Setidaknya, itu lah yang gadis itu pikirkan saat ini.
Apalagi, itu adalah pertama kalinya, bibir orang asing menyentuh bibirnya. Memikirkannya saja, wajah Ciel semakin memerah.
"Aku tidak tau, hampir mati karena kehabisan nafas, bisa membuat kulit seseorang menjadi merah. Dari yang aku pelajari, seharusnya kulitmu, menjadi pucat."
Arya mengatakan itu sambil berjalan, sedang kan Ciel berjalan di belakangnya dengan pikiran yang kacau. Entah kenapa memandang punggung Arya saat ini, membuat dia semakin gugup.
Memilih untuk diam, Ciel sengaja membuang pandangannya memperhatikan jalan yang kini mereka lalui.
Saat itu, mereka melewati jalan bebatuan yang memiliki kontur yang aneh. Ciel bisa melihat bahwa saat ini bentuk daratan itu juga sangat aneh.
Sepanjang matanya melihat, saat ini mereka seperti lewat di atas parit-parit besar yang menjurus kelautan. Namun, saat dia lebih memperhatikan batu-batu di mana mereka melangkah, tiba-tiba dia mengingat sesuatu.
"Arya, batu-batuan di daratan ini mirip sekali dengan batu-batuan yang bisa menyembunyikan energi di reruntuhan Kuno, dimana kau pertama kali membangunkan Bahuraksa untuk bertemu Arangga."
Saat Ciel mengatakan itu, Arya menghentikan langkah dan mencoba memeriksanya. "Benarkah?"
"Ya, aku yakin. Batu itu memiliki perbedaan susunan dari batu-batu yang pernah aku lihat sebelumnya. Dan yang ada di sini, terlihat sama persis dengan yang ada di sana."
Saat itu, keduanya langsung bertatapan. Namun, kepala mereka langsung berfikir cepat.
Akan tetapi, begitu mereka berhasil menyimpulkan, daratan yang mereka injak, mulai terasa bergetar.
"Arya, apakah kau juga berfikir sama dengan ku?"
"Ya, aku juga memikirkan itu."
Daratan itu bergetar semakin hebat terasa seperti gempa. Namun, detik berikutnya, keduanya merasa bahwa daratan itu mulai terangkat dan terasa datar lalu mirin ke arah sebaliknya.
Arya dan Ciel juga merasakan bahwa saat ini, daratan itu juga semakin rendah, karena keduanya melihat Air laut semakin mendekat.
"Arya, pulau ini ... Adalah, Kerang Darah Batu, itu ... !"
Saat Ciel meneriakkan hal tersebut, namun itu sudah terlambat. Dan memang benar, saat itu mereka berada di atas Siluman Yang mereka cari.
Malangnya, kerang itu sekarang membawa mereka kembali masuk ke dalam lautan.
Ciel kembali melompat memeluk Arya. Saat hempasan Ombak besar langsung membawa mereka masuk ke kedalaman lautan.
Tidak sampai di sana, baru saja Ciel membuka mata, dari atas, dia bisa langsung melihat dari atas bentuk pulau tersebut. Dan itu benar-benar mirip dengan seekor kerang. Namun, ukurannya jutaan lebih besar.
Akan tetapi, matanya segera terbelalak saat kerang itu mengeluarkan tentakel Raksasa yang langsung menghisap air laut dengan kecepatan tinggi.
Bahkan, saat Arya berusaha melawan arus itu, hal tersebut sudah terlambat. Karena jarak mereka yang begitu dekat dan daya serap tentakel itu benar-benar sangat kuat.
Arya dan Ciel di masuk bersamaan dengan air laut langsung menuju perut Siluman Kerang Darah Batu, itu.