ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Normal Untuk Yang Tidak Normal


"Tuan Rangkupala, aku percaya kata-katamu. Tapi, apa benar Citra Ayu bisa sekuat itu?"


Sudah dua jam berlalu sejak Arya dan yang lainnya masuk ke dalam salah satu bangunan, di mana mereka akan menyembuhkan Citra Ayu.


"Ini, terdengar tak nyata. Tapi itulah yang kami lihat."


"Benar apa yang dikatakannya. Aku juga melihatnya. Mata kami tak mungkin salah. Putrimu, memiliki kemampuan yang bisa menghancurkan kutukan. Hanya saja ... "


Karpatandanu, mendengar penjelasan keduanya. Karena Arya tidak sempat menjelaskan rincian apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuh Citra Ayu, saat mereka membahas guna bahan-bahan yang di perlukan Arya untuk mengatasi masalah ditubuh anaknya itu.


Dari apa yang mereka dengar, Menurut Arya, tubuh Citra Ayu memang memiliki pusat energi yang mengandung elemen logam. Bahkan, pusat energi itu lebih kuat dari pusat elemen tanah miliknya.


Hanya saja, sejak kecil Citra Ayu tidak pernah melatihnya. Bahkan, dia sendiri tidak tau bahwa dia memiliki pusat elemen tersebut.


Arya menyadari hal itu saat membuka paksa segel yang ditanam dalam tubuhnya. Hal itu Arya lakukan, karena saat itu keadaan sangat mendesak. Hal yang sudah di ceritakan Rangkupala sebelumnya.


Mengenai penyebab memanasnya otak Citra Ayu dan mengerasnya seluruh bagian tubuhnya, itu karena pikiran dan tubuh Citra Ayu tidak bisa mengontrol kekuatannya. Sehingga, elemen itu bergerak secara acak di tubuhnya dalam kecepatan tinggi.


Saat ini, di dalam tubuh Citra Ayu, setiap elemen logam sudah bersarang tidak hanya di titik-titik cakranya saja, tapi juga sudah sampai pada pembuluh darahnya.


Itulah kenapa tubuhnya menjadi keras seperti batang kayu. Dan otaknya yang memanas itu, karena Citra Ayu mencoba mengendalikannya.


Menurut Arya, Citra Ayu memang sangat kuat. Seharusnya, otaknya sudah menggelegak hanya beberapa menit setelah dia kehilangan kendali. Tapi, gadis itu bisa bertahan setengah hari, sebelum Arya benar-benar mengerti apa yang terjadi.


Berkenaan dengan Bayam Tiga Jari, seharusnya dengan itu, Arya sudah bisa menyelematkan Citra Ayu.


Saat mereka bertanya, apa dampak ramuan itu pada Citra Ayu, Arya mengatakan bahwa dengan itu, otak Citra Ayu akan bisa menahan dan mengendalikan elemennya.


Itu kenapa Arya menjadikan itu sebagai jalan keluar pertama. Namun, sekarang masalahnya adalah, mereka hanya memiliki selembar daun saja. Sedangkan Arya sendiri, belum pernah melebur daun itu sama sekali.


Jika gagal, maka hilanglah kesempatan Citra Ayu untuk mengendalikan elemennya. Namun, beruntung Arya berhasil menemukan Kerang Batu Darah.


Melewati bagaimana proses saat mendapatkan hal itu yang terjadi dengan secara luar biasa, Salendra menjelaskan bahwa Arya menceritakan di perjalanan pulang, bahwa apa yang dia dapatkan dari Siluman Kerang Darah Batu itu, sebenarnya tidak langsung menjurus untuk mengendalikan elemennya.


Akan tetapi, itu akan membuat tubuh Citra Ayu mampu melawan kekuatan elemen logamnya sendiri. Hanya saja, dia tidak akan bisa mengendalikan elemen logam jika tidak langsung menyentuhnya.


Penjelasan keduanya, sangat bisa dimengerti oleh Karpatandanu. Memang jika dilihat dari keadaan sekarang dibandingakan sebelum Arya kembali, ini jauh lebih baik.


"Tuan Rangkupala, karena kau bangsawan istana, apa kau pernah bertemu seseorang yang memiliki ilmu seperti pemuda ini?"


Penjelasan keduanya, tentu saja membuat Karpatandanu menyadari bahwa Putrinya sedang di tangani oleh seseorang yang benar-benar mengerti ilmu pengobatan yang sangat tunggi.


Jika harus bertanya, tentu saja saat ini orang yang paling tepat adalah Rangkupala. Karena, dia pangeran ketiga dari maharaja sebelumnya.


Rangkupala menggelengkan kepala. "Aku yakin bahwa saat ini apapun Ilmu yang dikuasai tuan Muda itu, hanya dia yang menguasainya di kerajaan ini. Atau mungkin, bisa saja di seluruh dunia ini."


"Benarkah? ... Jadi, tabib Istana Barus bahkan tidak sehebat dirinya?" Kali ini, Salendra yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


Lagi-lagi Rangkupala menggelengkan kepala. Dan mengingatkan Salendra.


"Temanku, jika kau melupakannya, pernahkah kau melihat seseorang bertarung dengan ilmu pengobatan, sebelumnya? ... Atau, kita sebut apa seseorang yang bisa bertarung hingga membuat lawannya memohon untuk dibunuh karena saking tersiksanya?"


Saat itu, Salendra kembali mengingat apa yang terjadi saat pertarungan pembebasan benteng ini. Hasilnya, dia bergidik sendiri.


"Tidak, aku tidak tau menyebut orang itu sebagai apa."


Rangkupala mengangguk, lalu menunjuk ke dalam bangunan di mana Arya kini berada.


"Di dalam sana, saat ini sedang hidup seorang pemuda, yang di dalam dirinya terdapat sebuah ilmu yang lebih berharga dari ilmu pendekar manapun, karena dengan ilmu itu, dia bisa menjadi apapun yang dia mau."


"Tuan Rangku, Ilmu apa gerangan yang di dalami Tuan Muda itu?"


"Ilmu itu, di sebut sebagai Ilmu pengetahuan. Ilmu yang bisa membuat seseorang menjadi penyelamat yang membawa keajaiban sekaligus menjadikannya sebagai musuh yang paling mengerikan."


Akan tetapi menurut mereka, Arya berfikir dengan cara berbeda, menilai sesuatu dengan cara berbeda pula. Bahkan, bertarung dan mengobati juga dengan cara tak biasa.


Pemuda itu, benar-benar mau bertaruh nyawa hanya untuk menyelamatkan satu nyawa. Tidak ada yang meragukan hal itu karena dia bertindak langsung, tanpa banyak bicara.


Hanya saja dihatinya, Karpatandanu, berharap Arya mau menerima Citra Ayu dan melakukan cara yang ketiga.


Tapi, dia juga baru mengingat bahkan Arya tidak mengerti apa itu Cinta, jadi tentu saja Arya belum tentu bisa melakukannya, seperti apa yang Bai Hua jelaskan sebelumnya.


"Sebaiknya, kita tunggu saja."


Karpatandanu langsung mengangguk setuju. "Ya, aku mempercayakan semuanya pada pemuda itu."


"Ya, kita bisa melanjutkan persiapan."


Saat mereka mulai berjalan, tiba-tiba mata Karpatandanu melebar. "Cahaya apa itu?"


Salendra dan Rangkupala melirik pada bangunan tempat Arya berada, keduanya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Itu cahaya tanda mereka sudah memulainya." Jawab Rangkupala.


Sementara itu, beberapa saat yang lalu, di dalam ruangan di mana mereka semua kini berada, Arya baru saja menjelaskan apa yang akan di Lakukannya dan hal tersebut, langsung membuat tiga gadis lainnya terkejut.


"Arya, bukankah kau tetap bisa menyembuhkan kami bahkan jika tangan kami terputus?"


Arya mengangguk menjawab pertanyaan Luna itu, "Ya, tentu saja. Akan tetapi, bagaimana jika itu terjadi saat di dalam pertempuran, atau kita bertarung di tempat terpisah?"


Saat itu, Luna langsung terdiam. Apa yang di katakan Arya memang benar. Selama ini, mereka tak mengenal takut, karena ada Arya bersama mereka. Tapi, jika tidak, maka mereka akan dalam keadaan berbahaya.


"Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan kalian bagaimanapun kalian terluka. Akan tetapi, jika saat itu kalian sudah mati, maka aku belum menemukan satupun ilmu yang bisa menghidupkan seseorang dari kematiannya."


Saat Arya mengatakan hal itu, Luna dan Bau Hua menoleh pada Ciel. Beberapa Saat yang lalu, Ciel mengatakan bahwa Arya memiliki ilmu seperti itu.


Ciel langsung menggoyang-goyang kedua telapak tangannya pada keduanya. "Tidak, bukan ... Maksudku, Arya tidak menghidupkanku ... Ah, maksudku ... Itu."


Melihat Ciel yang tiba-tiba gelagapan, sebenarnya Arya juga merasa heran. Namun, saat ini dia merasa itu bukan hal yang tepat untuk di bahas.


"Berbeda dengan Citra Ayu, kalian tidak dalam keadaan tersesak. akan tetapi, Ini hanya bisa di lakukan sekali saja, Jika kalian menolak, maka, ke depan mungkin tidak ada lagi kesempatan untuk melakukannya."


Ketiganya tampak berfikir keras, mempertimbangkan apa yang dikatakan Arya. Namun, tiba-tiba Bai Hua bersuara.


"Senior, aku akan melakukannya. Aku tidak ingin selalu membebanimu. Karena tujuanku mengikutimu, adalah untuk membantumu."


Mendengar Bai Hua mengucapkan keputusannya, Luna dan Ciel langsung berpandangan dan menganggukkan kepala bersama.


"Baiklah, sejak awal kita juga sudah tidak ada yang normal."


"Ya, lagipula ... melakukan sesuatu yang tidak normal pada orang-orang tidak normal, adalah hal yang ... Normal, bukan?"


Saat itu ketiganya serentak tertawa.


Arya mengangguk mengerti. "Bagus, jika begitu sudah diputuskan."


"Bahuraksa ... Bangunlah!"


"Kosha ... !"


"Jurus Pertama ... Gerbang Cakra."


"Matra ... !"


"Omi ... Obi."