
"Tuan Daga. Semalam aku sudah mengutus seseorang untuk menyampaikan pasan pada pemimpin kami. Jika tidak ada masalah, dia dan sisa pasukan Oldenbar, akan tiba paling lama malam hari ini."
Tidak ada pilihan lagi bagi Kenneth selain terlibat langsung dalam pertempuran ini dan ini tentu berlaku juga bagi Edward dan seluruh Oldenbar.
Rencana mereka sudah berantakan, apalagi utusan yang mereka kirim tidak pernah kembali. Sekarang, suka atau tidak, siap ataupun tidak. Kenneth dan Oldenbar akan turun ke medan perang.
"Baiklah, itu sudah cukup."
Kenneth mengangguk. "Jika begitu, aku juga akan bersiap-siap."
Tidak hanya Kenneth saja, seluruh sekte aliran hitam sudah bersiap-siap pula. Karena, ada ataupun tidak pergerakan dari aliansi sekte aliran putih, mereka tetap akan menyerang hari ini.
Daga cukup puas dengan pencapaiannya saat ini. Walaupun belum secara resmi mengambil alih Daratan Timur, tapi sepertinya hal tersebut hanya menunggu waktu saja. Dan sekarang, baginya cukup bertindak hati-hati agar tidak ada terjadi masalah yang tidak di inginkan.
Di sebelahnya, Moro kakaknya duduk dengan senyum tersungging bangga. Memang dia berusaha mengambil alih Daratan Timur sebelumnya.
Hal itu karena dia melihat kesempatan saat Rantoba muridnya, entah bagaimana bisa menjalin hubungan dekat dengan Darmuraji.
Awalnya Darmuraji hanya mencari pendekar yang mampu mengimbangi Darsapati ataupun Kelang. Dua pendekar yang memimpin sekte terkuat yang ada di Daratan Timur ini. Namun, seiring berjalannya waktu, keterlibatan Rantoba semakin dalam. Darmuraji sendiri semakin bergantung dengan Rantoba, dan terakhir sekte yang di pimpinnya.
"Kakak, aku penasaran. Siapa sebenarnya yang membantai keluarga kerajaan. Jelas itu bukan kami."
"Tentu saja bukan aku. Tapi, beberapa anggota sekte kita. Hahahahahha!"
Daga tersenyum menggeleng. "Cukup aneh, kenapa seseorang yang telah menolak Tahta tertinggi kerajaan ini, rela melakukan hal sejauh ini, demi sesuatu yang belum jelas."
"Huh, orang sepertimu bagaimana bisa mengerti. Kau lebih kejam dari dirinya." Ejek Moro.
"Kakak, apa kau akan membunuhku demi sebuah benda?"
Moro mengernyit, keheranan. "Tidak! Bagaimana bisa aku membunuhmu. Bahkan sejak awal aku ingin kau menjadi sangat kuat. Itu kenapa aku melatih mu dengan cara seperti itu." Jawab Moro ketus.
"Ya. Aku mempercayainya. Itu kenapa aku tak akan pernah bisa mengalahkan mu. Karena, sejak awal meski aku sangat kuat dan kita berdua memang sudah sesat. Kau satu-satunya orang yang tidak akan aku bunuh demi apapun."
"Aku mengerti maksudmu." Moro sedikit merenung. Memikirkan apa yang pernah di minta Darmuraji pada sektenya beberapa tahun yang lalu.
"Darmuraji itu, memang lemah dan pengecut. Tapi, dia sangat keji. Bagaimana dia bisa membunuh seluruh keluarganya hanya untuk memfitnah sebuah Sekte yang telah melindungi kerajaannya."
"Hahahaha! Seharusnya, dialah yang kalian panggil setan gila, bukan aku!"
Saat mereka sibuk berbincang. Rantoba memasuki tenda. Seperti hendak menanyakan sesuatu.
Daga yang melihat raut wajah murid kebanggaan kakaknya itu, langsung menyadarinya. "Rantoba. Katakan, apa yang ingin kau tanyakan."
"Paman Guru, saat kami kesini, kami belum mengetahui tentangmu. Aku dan guru sangat yakin bisa menghancurkan pasukan kalian sebelumnya."
"Ya. Aku mengerti. Langsung saja!"
Rantoba sedikit kebingungan menjelaskannya. Tapi melihat Daga tidak suka berbasa basi, maka dia langsung menanyakan intinya. "Setelah sebagian prajurit di bawa Kelang beberapa waktu yang lalu, sekarang tersisa lebih dari tiga puluh ribu pasukan di Basaka saat ini. Karena Darmuraji telah mati. Kita akan sulit mengendalikan mereka. Apa yang akan kita lakukan dengan itu?"
Bukan Daga yang menjawab tapi Moro, gurunya. "Rantoba, mereka sudah melihatmu dekat dengan Darmuraji. Seharusnya kau bisa memerintah mereka setelah kematian Raja mereka."
Rantoba langsung menggeleng. "Itu tidak sesederhana itu, guru. Karena ... "
Mulailah dia menjelaskan situasinya pada keduanya. Rantoba sudah memikirkan ini sejak malam hari. Para panglima dan seluruh prajurit kerajaan, hanya akan patuh pada perintah langsung Darmuraji. Karena, itu Raja mereka.
Namun demikian, sejak awal sebagian besar dari mereka tidak menyukai Sekte Aliran Hitam. Mereka terus mengabdi pada sang Raja, karena sudah bersumpah setia, Itu saja.
Selain itu, Sekte Singa Emas terkait dengan sejarah dan Rahasia Daratan ini, yang selain mereka, hanya Darmuraji saja yang mengetahuinya. Salah satu dari rahasia itu, adalah pedang yang di incarnya tersebut.
Dengan matinya Darmuraji, maka secara tidak langsung, para prajurit itu terlepas dari sumpah setia mereka. Jelas bahwa mereka tidak akan mengikuti dirinya, terlebih lagi Daga.
Tentu saja dalam sebuah pertempuran, berkurangnya pasukan akan merugikan sekali. Apalagi, saat ini, pasukan itu berpotensi berbalik dan berpihak pada musuh.
Begitulah Rantoba mengakhiri penjelasannya. Tampak kecemasan yang sangat mengganggu terukir di wajahnya.
"Hahahahaha!"
Daga tertawa lantang sesaat setelah mendengar penjelasan Rantoba itu. Jangankan Rantoba, kakaknya pun merasa heran dengan reaksi adiknya tersebut.
Puas tertawa, Daga menggelengkan kepalanya. "Rantoba, aku dan kakakku, tidak memiliki anak. Setelah ini, bisa di pastikan bahwa kau lah yang akan menguasai semua ini. Sekarang, saatnya untukmu belajar lebih jauh."
Kata-kata Daga membuat mata Rantoba melebar. Daga baru saja mengatakan, seolah apa yang sedang mereka perjuangkan ini, semuanya untuk dia kendalikan di masa depan.
Moro tak kalah terpananya. Dia tidak menyangka adiknya akan berfikir seperti itu. Tapi, dia tentu saja langsung mendukungnya.
"Hahahaha! Aku tidak terlalu mengerti. Tapi, aku menyukai Saat-saat seperti ini" Sela Moro dengan tawanya.
"Rantoba, Meski aku sering mengatakan paman gurumu ini, bodoh. Ketahuilah itu hanya karena aku yang berani mengatakannya. Dalam sejarah sekte kita. Bisa dikatakan, Daga lah yang memiliki pemikiran jauh ke depan. Sekarang, dengarkan dia dan belajarlah darinya!"
Rantoba langsung mengangguk mengerti. "Baik, Guru." setelah itu, dia menatap Daga yang tiba-tiba menjadi sosok yang dihormatinya. "Paman Guru, tolong beri aku pencerahan."
"Rantoba, kau kehilangan tiga puluh ribu pasukan. Tapi, sekarang lihat lah diluar sana. Ada lebih seratus ribu pasukan yang lebih kuat sebagai gantinya."
Saat dia Daga hendak menambahkan, tiba-tiba Ki Sapujagad masuk ke dalam tenda dan tanpa basa basi, langsung berbicara.
"Ketua, kami menunggu perintah. Musuh sudah bergerak."
Mendengar itu, Daga langsung berdiri. "Kalau begitu, hadapi dengan kekuatan penuh!" Tegas Daga.
Namun, respon Ki Sapujagad sedikit lambat. Itu membuat Daga mengernyit heran dan menatapnya tajam.
"Ketua, anu ... Sepertinya mereka terpecah belah. Sekarang hanya seorang pendekar muda bernama Merendra, dari Sekte Bulan Sabit yang tetap maju. Meski hanya memiliki sepuluh ribu pasukan saja."
Menurut Sapujagad, perintah Daga untuk mengerahkan kekuatan penuh sangat berlebihan. Apalagi, hanya untuk menghadapi sepuluh ribu pasukan.
"Kalian benar-benar bodoh.!" Hardik Daga, kesal. "Kita bukan sedang berlatih tanding, tapi ini perang. Bahkan jika hanya beberapa orang saja musuh yang maju, tidak ada ampun bagi mereka. Kita tetap akan mengerahkan seluruh pasukan!" Bentak Daga.
Sapujagad terkejut dengan reaksi Daga yang sama sekali tak di duganya itu. Namun, karena saat ini Daga-lah yang memegang kendali, dengan berat hati dia tetap mangangguk.
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, kami akan segera menuju medan tempur dengan seluruh pasukan."
Setelah Ki Sapujagad pergi, Daga menoleh pada Rantoba.
"Rantoba, jika di masa depan kau menghadapi kelompok kecil yang sama sekali tidak takut pada kelompok besar, maka hadapi dengan sepenuh hati. Karena, sudah pasti mereka adalah musuh yang berbahaya!"
Setelah mengatakan itu, Daga keluar menuju barisan pasukannya, meninggalkan Moro dan Rantoba terdiam di dalam tenda.
Tak lama, Moro pun berdiri dan mulai berjalan. Namun, tepat di sebelah Rantoba, gurunya itu berhenti dan memegang bahunya.
"Ada sesuatu yang lebih mengerikan daripada jumlah dan kekuatan di dunia ini, Rantoba. Dan jangan sekali-sekali kau pernah meremehkannya. Sesuatu itu di sebut sebagai, Tekad."