ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Keberangkatan


Dua hari berikutnya, Arya dan ketiganya sudah bersiap untuk berangkat ke kota Basaka. Kini mereka sudah berdiri di gerbang kota Arsa.


Di sana, hampir seluruh penduduk kota, datang hendak melepas mereka. Bagaimanapun, Arya dan yang lainnya sudah menjadi pahlawan bagi mereka.


Tentu saja Saat mengetahui pahlawan mereka itu akan pergi, hampir semua orang meneteskan air mata.


Apalagi, mereka mengetahui bahwa Arya akan melakukan perjalanan yang sangat panjang dengan waktu yang belum diketahui. Mereka hanya berharap pahlawan mereka itu menemukan apapun yang sedang dicarinya.


"Kalian juga ingin pergi?! "


Sekar bertanya pada kedua kakak adik yang sepertinya juga bersiap untuk bepergian jauh. Di lihat bagaimana keduanya berpenampilan saat ini.


"Yah! Aku dan Ciel memutuskan untuk mengikuti orang-orang ini ke Basaka" Jawab Luna.


Ciel memberikan sebuah buku pada Sekar. " Ini! Ambilah "


Sekar menerima buku itu dengan rasa heran. "Apa ini?"


"Itu adalah buku petunjuk. Kami juga meninggalkan seluruh senjata di toko kami. dengan buku itu, kalian bisa menggunakannya" Ucap Ciel.


Sekar dan Ki Jabara terkejut dengan perkataan Ciel itu.


"Nona! ... ini sangat berlebihan. Ini barang-barang daganganmu. Bagaimana kalian akan menjalani hidup kalian setelah ini?" Ki Jabara keberatan menerimanya. Memberi tanda pada Sekar untuk mengembalikannya.


Sekar juga berniat sama. Saat dia hendak menolaknya, namun Luna segera angkat suara.


"Tidak apa-apa. Kami tidak akan berjualan lagi. Kami memutuskan menjadi petualang saja. Dan mengikuti pemuda ini!" Jawab Luna sambil menunjuk Arya.


Arya yang mendengar pengakuan keduanya langsung protes "Kanapa kalian ingin mengikutiku?"


"Kau tidak pernah keluar dari daratan ini. Kami cemas, kau akan tersesat" Jawab Ciel dengan nada meremehkan.


Mata Arya melebar saat mendengar perkataan Ciel itu, namun tak lama setelahnya dia mengangguk "Baiklah. Itu masuk akal" Ucapnya.


Semua orang tersenyum saat melihat jawaban polos dari Arya itu.


"Sebentar!" Ki Jabara menoleh kebelakang." Hei bawa kemari, sekarang!" perintah pemimpin kota Arsa yang baru itu pada beberpa orang yang tidak jauh dari mereka.


Tak lama, penduduk yang berkerumun, menyingkir memberi jalan. Sebeuah kereta kuda kini berjalan mendekat pada mereka.


Sebuah kereta yang cukup besar dan di tarik oleh empat ekor kuda, digiring oleh beberapa orang. Dan kini kereta kuda itu sudah berada di sana.


"Kami tidak mungkin membiarkan kalian semua berjalan kaki kesana. Ini adalah kereta yang paling besar yang ada di kota ini. Dan kuda-kuda ini, adalah kuda-kuda terbaik juga" Jelas Ki Jabara.


"Ini menakjubkan!" Ciel bersorak riang "Kalian tau, sudah sejak lama aku menginginkan sebuah kereta yang seperti ini" sambungnya.


"Kau bisa mengendarainya?" Tanya Arya.


Ciel terdiam. "Soal itu ... Aku ... "


"Aku bisa. Dan aku akan mengajarkannya padamu. Lagipula perjalanan kita cukup jauh. Kau pasti bisa saat sebelum kita sampai di sana"


Ciel kembali bersorak senang saat Bai Fan mengatakan itu. "Ya. Aku akan belajar dengan baik" dia menatap Ki Jabara dan Sekar. "Terimakasih" ucapnya.


Mereka semua hanya tertawa saat melihat tingkah Ciel yang kini seperti anak-anak itu.


"Baiklah, Nona Sekar dan Ki Jabara. Sepertinya sekarang sudah saatnya. Kami berangkat dulu" Ucap Arya pada keduanya.


Sekar tidak dapat menahan dirinya. Akhirnya dia melompat dan langsung memeluk Arya. Bulir-bulir air mata menetes di pipinya. Meski sebentar, rasanya Sekar sudah mengenal Arya sangat lama. Melepas Arya menjadi sangat terasa berat baginya.


"Tuan Muda. Aku berharap kau tetap hidup dan menemukan apapun yang kau cari" Ucapnya.


"Ya. Seperti Itulah rencanaku!" jawab Arya.


Setelah pelukan itu, akhirnya Ki Jabara dan Sekar, juga seluruh penduduk kota Arsa, melepas kepergian pahlawan-pahlawan kota itu.


Saat mereka telah sedikit menjauh, tiba-tiba Ki Jabara teringat akan sesuatu. Wajahnya menjadi sedikit panik.


"Sekar! ... Apakah kau sudah menanyakan nama adik Tuan Muda?" Ki Jabara melupakan hal penting yang disarankan oleh Bai Fan sebelumnya.


Sekar tersenyum. "Sudah!"


Ki Jabara menghembuskan nafas lega. "Sukurlah! ... Siapa namanya?"


" Namanya Gadis itu adalah... "


***


Di Sekte Delapan Mata Angin dan di waktu yang sama, seluruh sesepuh sedang berkumpul di depan Vila yang ditempati oleh Tarim Saka. Di sana, juga ada Wulandari yang terlihat sedang merayu Darya untuk membatalkan keputusannya.


Wanita yang sudah dianggap Darya sebagai pengganti ibunya itu, terlihat sedang memegang tangan Darya. seolah tak ingin melepasnya.


"Ketua! ... Tolong hentikan Nona Darya. Dia tidak boleh pergi!"


Tarim Saka benar-benar sedang kebingungan saat ini. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja Darya memutuskan untuk  pergi. Dan sekarang dia memaksa Kakeknya untuk mengizinkannya.


"Darya. Bisakah kau tetap di sini? Kau bisa latihan di sini, area ini cukup luas" Tarim Saka sekali lagi mencoba merayu cucunya itu.


Darya menggeleng, menolak permintaan Kakeknya itu.


"Kek, aku belum bisa mengendalikan kekuatanku sepenuhnya. Dalam seminggu ini saja, aku sudah menghancurkan tiga bukit secara tidak sengaja. Aku takut akan melukai penduduk dan mengahancurkan desa-desa di sekitar sini! " jelasnya.


Meski sudah mengetahui sebelumnya, tetap saja hal itu membuat para sesepuh dan semua orang yang mendengarnya terkejut. Gadis kecil ini benar-benar telah jauh berubah.


Siapa yang menyangka, lebih dari sebulan yang lalu, gadis ini masih kesulitan hanya untuk sekedar berjalan saja. Seolah tiupan angin kecil saja, sudah mampu membuatnya terjatuh.


Namun sekarang, dengan kekuatannya yang mengerikan itu, dia bisa menghancurkan tiga bukit dengan tidak sengaja. Ini benar-benar sulit dipercaya.


"Kalian Jangan diam saja!" Bentak Tarim Saka pada semua sesepuh itu. "Bantu aku bicara padanya"


Mendengar bentakan Tarim Saka, semua sepuh itu terkejut. Tapi saat mereka menatap mata Darya yang kini mempelototi mereka, Tarim Saka sama sekali tidak lagi menakutkan bagi mereka.


Mereka semua sudah menyadari bahwa, ternyata Darya jauh lebih menakutkan dari kakeknya Mereka memilih untuk bungkam.


Apalagi, saat ini wajahnya sedang terlihat tidak bersahabat. Itu sama saja bunuh diri.


Tarim Saka menggeleng saat menyadari tak ada satupun dari tetua itu yang berani sekedar untuk bersuara. "Dasar pengecut!" UmpatTarim Saka pada mereka.


Tarim Saka menghela nafas panjang, lalu melepaskannya. Dia tidak percaya apa yang akan dikatakannya beberapa saat lagi.


"Baiklah! Aku mengerti. Dimana kau akan berlatih?" Ucap Tarim Saka mengalah.


Senyum langsung terukir di wajah Darya. Gadis itu langsung memeluk Kakeknya.


"Terimakasih. Kau memang kakek yang sangat pengertian. Aku berjanji tidak akan melakukan hal-hal bodoh selama aku melatih diriku. " Bisik Darya pada Kakeknya itu. Berharap kata-kata itu bisa menyenangkan kakeknya.


"Ya. Aku rasa tidak ada yang bisa kami lakukan lagi, untukmu!"


Tarim Saka sudah menyadari bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan agar Darya bisa menjadi lebih kuat.


Seperti kata Arya padanya beberapa hari sebelum dirinya pergi. Darya memang harus benar-benar kuat agar prana yang ada di dalam tubuhnya bisa di kendalikan. Hingga tenaga dalamnya tidak lagi membahayakannya.


"Jadi, Darya! Kemana kau akan pergi berlatih" Tanya Tarim saka sekali lagi.


Darya tersenyum "Aku akan pergi ketempat dimana kakakku pernah berlatih dan menjadi sangat kuat!" Jawabnya penuh semangat.


Semua mata orang di sana melebar saat mendengarnya. Kakak yang dimaksud Darya tentu saja Arya. Mengetahui di mana Arya berlatih, sangat menggelitik rasa penasaran mereka.


"Di mana itu?!"


Kali ini,  rasa penasaran Handar mengambil alih rasa takutnya pada Darya.


"Tempat dimana orang-orang lemah seperti kalian, tidak akan mampu hidup lebih dari satu hari saja" Jawab Darya.


Perkataan Darya itu tentu saja memukul harga diri mereka. Tapi, menyadari kekuatan Darya dan Arya. Mereka tidak lagi terlalu mempermasalahkannya.


Kakak adik yang telah ditakdirkan bersaudara ini, masing-masing memang memiliki kekuatan yang tidak bisa di ukur nalar mereka.


Tarim Saka kembali menggeleng. "Baiklah! Bagaimanapun. Kau yang akan memimpin Sekte ini kedepan. Jadi, sesuai pesan kakakmu. Jadilah kuat! Dan lindungi kami semua!" Ucap Tarim Saka.


Darya mengangguk." Ya! Aku akan menepati janjiku padanya."


"Jadi, kapan kau akan pergi? Apakah kau memerlukan seseorang untuk menemanimu?"


"Kek, aku sudah katakan, tidak ada orang yang akan mempu bertahan di sana!" Protes Darya seolah kakeknya menganggap dia bercanda.


Lagi-lagi Tarim Saka menggelengkan kepala. "Setidaknya, biarkan seseorang mengantarkanmu ke sana" kata Tarim Saka lemah.


"Tidak perlu! Itu hanya akan memperlambatku"


"Apa maksudmu?" Tarim Saka tidak mengerti "Kau akan kesana dengan berlari?"


Semua orang memiliki kesimpulan yang sama dengan Tarim Saka. Namun, kesimpulan itu akan patah sebentar lagi.


Karena, tiba-tiba mereka merasakan Angin kencang berhembus di sekitar mereka. Lalu, angin itu berkumpul dan membentuk pusaran kecil yang sangat kencang di bawah kedua kaki Darya.


Sesaat kemudian tubuh Darya mulai terangkat dan melayang semakin tinggi di depan mereka.


"Selama aku pergi, aku percayakan Sekte ini pada kalian. " Darya mengatakan itu sambil melayang semakin tinggi. "Saat aku kembali nanti, Aku akan membuat Sekte Delapan Mata Angin ini, mengguncang dunia kependekaran kerajaan Swarna!"


"Wuussshhh!"


Darya melesat jauh ke udara. Mereka melihat gadis itu terbang sangat tinggi. Sebelum akhirnya memutar arah jauh diatas sana.


"Bom!"


Darya benar-benar menghilang setelah meninggalkan bunyi ledakan di belakangnya.  Meninggalkan lubang yang sangat besar menganga di tumpukan awan putih di langit di atas Sekte Delapan Mata Angin.


Semua orang di sana membatu di tempat mereka. Pikiran mereka benar-benar menjadi kosong.


"Tepat seperti apa yang dikatakan, Kakaknya"


Tarim Saka bergumam sambil melihat lobang besar dilangit itu. Dia mengingat hari di mana Arya mengatakan kekuatan sesungguhnya keturunan asli keluarga Tarim.


"Darya, cucunya itu benar-benar akan memiliki kekuatan yang mampu menghancurkan sebuah Negara"


Tubuh Tarim Saka bergetar. Setelah mendapatkan kembali kesadarannya, Tarim Saka langsung berbalik.


"Kalian!" Tarim Saka berteriak keras.


Suaranya berhasil mengejutkan semua sesepuh dari keterpanaan mereka. Kini mereka menoleh pada Tarim Saka.


"Kalian tentu sudah dengar, apa yang dikatakannya, Bukan?" Tarim Saka melihat pada semuanya.


Mereka segera mengangguk mengerti apa yang dimaksud oleh Tarim Saka. Tak mungkin mereka bisa melupakan kata-kata seseorang yang bisa terbang. Malah kata-kata itu kini terpatri di kepala mereka masing-masing.


"Kita harus memperbaiki dan membangun Sekte ini Secepatnya." kata Tarim Saka.


"Karena Saat Dewi Angin kembali... "


Tarim Saka menekan suaranya, dalam. Menatap semua sesepuh Sekte, tajam.


"Kita dan Sekte Delapan Mata Angin ini, ... Sudah harus siap untuk berada di bawah perintahnya!"


Tarim Saka langsung melangkah pergi, lalu seluruh sesepuh Sekte mengikutinya di belakang. Mereka sadar, bukan Darya-lah yang harus mereka cemaskan saat ini. Tapi, diri mereka sendiri.


Sejak saat itu, seluruh Sekte Delapan Mata Angin, benar-benar melakukan perubahan total.


Setiap sepuh berlatih sangat keras. Setelah melihat apabyang bjsa di lakukan Darya, mata mereka kini benar-benar telah terbuka. Jika sekarang, mereka masih sangat lemah.


Dengan semua Kitab yang di tinggalkan Arya, kakaknya. Seluruh Sekte Delapan Mata Angin sedang mempersiapkan diri untuk menyambut kepulangan pemimpin mutlak mereka.


Sang Dewi Angin, Darya!