
"ting ... !" "ting ... !" "ting ... !" "ting ... !"
"ting ... !" "ting ... !" "ting ... !" "ting ... !"
"Hehehe ... Apa begini cara armada terkuat Nippokure bertempur?"
Rangkupala memang langsung menyerang Daisuke. Akan tetapi, ada belasan pendekar yang menghalanginya untuk sampai di sana.
"Orang tua, sepertinya kau tidak mengerti aturan berperang."
Salah satu pendekar yang menggunakan pedang cukup panjang dari yang lainnya, tampak cukup percaya diri saat menghadapi Rangkupala.
"Mungkin saja ... Tapi, ini tanah Swarna. Kami memiliki aturan sendiri ... "
"Cakar Elang ... !"
"ting ... !" "ting ... !" "ting ... !" "ting ... !"
"ting ... !" "ting ... !" "ting ... !" "ting ... !"
"ting ... !" "ting ... !" "ting ... !" "ting ... !"
"ting ... !" "ting ... !" "ting ... !" "ting ... !"
Lawan-lawannya kali ini, memang memiliki pendalaman ilmu berpedang sangat baik dari yang dia lawan Sebelumnya.
Sudah beberapa kali Rangkupala memberi serang cepat, namun mereka masih sanggup menangkisnya. Ya, walaupun harus bersama-sama.
"Matikau ... !"
Rangkupala tersenyum saat musuh-musuh yang mengepung, mencoba menyerangnya bersamaan.
Saat mereka mendekat, Rangkupala mengangkat tinggi pedangnya. Saat itu juga, belasan prajurit itu melihat ke atas untuk mengatisipasi jurus nya.
Namun, tanpa mereka sadari, saat mereka mendekat itu, di bawah, dinding tanah setinggi tulang kering, muncul.
Saat itu juga mereka tersandung olehnya dan membuat mereka kehilangan keseimbangan. Itu kenapa Rangkupala tersenyum sebelumnya. Karena pendekar tua itu, telah mengetahui bahwa Mereka masuk dalam jebakannya.
"Cakar Elang ... !"
"Sreeeet ... !" "Sreeeet ... !" "Sreeeet ... !"
"Sreeeet ... !" "Sreeeet ... !" "Sreeeet ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"ting ... !" "ting ... !" "ting ... !" "ting ... !"
"ting ... !" "ting ... !" "ting ... !" "ting ... !"
Sesuai dugaan Rangkupala. Tidak semua serangannya itu, mampu mengenai lawan-lawannya. Akan tetapi, dengan berkurangnya jumlah lawan, dia akan lebih mudah untuk menekan mereka.
"Cih, orang tua licik ... !"
Rangkupala balas dengan mencibir, "Sepertinya kalian tidak mengerti aturan bertarung."
Meski terlihat sedang bermain-main, namun saat ini Rangkupala sangat gelisah. Sepertinya, mendekati Daisuke, tidak semudah yang dia bayangkan.
Saat bertarung, matanya mengedar ke segala arah mencoba mempelajari apa yang sedang terjadi.
Namun, saat dia melihat Umbara baru saja mengalahkan musuh-musuhnya, kedua tatapan mereka berada.
Saat itu, dengan cepat Rangkupala mendapat gagasan. Dia menggerakkan kepalanya sedikit kebelakang seolah menunjuk pada Daisuke.
Tanda itu mendapat anggukan dari Umbara yang terlihat langsung memahaminya.
"Baiklah, sepertinya aku akan serius sekarang."
Saat tiba-tiba Rangkupala mengatakan hal itu, semua prajurit-prajurit Nippokure melirik padanya. Mereka sudah tau bahwa Pendekar tua itu adalah satu dari tiga orang yang paling diwaspadai dalam pertempuran ini.
Karena sejak tadi dia dan Salendra terlihat bermain-main, maka saat Rangkupala mengatakan bahwa dia akan serius, membuat musuh-musuhnya langsung waspada.
Tak menunggu lama, Rangkupala melepas Aura membunuh yang sangat kuat. Hingga musuh-musuh yang mengelilinginya sedikit merasakan sesak nafas.
"Kalian ... Kesini, bantu kami."
Rangkuoala sudah melihat bagaimana jika pasukan-pasukan Nippokure saat mengahadapi musuh yang kuat.
Meski mereka terasa takut, namun tidak akan ada yang panik. Itu dia lihat sendiri saat Arya berhadapan dengan pasukan mereka saat menaklukkan benteng.
Mereka menyaksikan sendiri kekuatan Arya, namun mereka masih berusaha menghadapinya, meski akhirnya semuanya berniat kabur setelah melihat kengerian yang Arya lakukan pada salah satunya.
"Ya, berkumpulah karena aku tidak akan setengah-setengah ... !"
Satu lagi Aura muncul dari Rangkupala. Itu adalah Aura yang dilepas pedangnya.
Tidak hanya musuh yang terkejut. Namun, tidak jauh dari sana, Salendra juga melebarkan matanya.
"Sial ... Sejak kapan dia memiliki senjata itu?"
Lama bertarung dan berpetualang bersama, tentu membuat Salendra mengetahui kekuatan pedang sahabatnya itu. Namun, dia tidak menyadari sebelumnya dan sekarang barulah Salendra tau bahwa pedang Rangkupala, berbeda.
"Kalian ... Cepat ... ! Orang ini benar-benar berbahaya ... !"
Tau bahwa mereka saja tidak cukup, Prajurit-prajurit yang tadi melawan Rangkupala berteriak memanggil rekan-rekannya.
Saat itu, tatapan Rangkupala benar-benar berubah.
"Sekarang, ... Matilah ... Kalian....!"
Mata lawan-lawannya langsung melebar saat menyadari Si kebojalang sudah menghilang dari tempatnya berdiri.
"Kebojalang sial ... Dia mengambil nama jurusku ... !" Umpat Salendra di kejauhan saat mendengar temannya itu berteriak.
"Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
Dalam sekejap saja, sudah beberapa Prajurit-prajurit berpedang itu kehilangan kaki, kepala, tangan, bahkan ada yang perutnya terbelah.
"Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
Belum ada tanda-tanda legenda Daratan Barat itu untuk berhenti, membuat nyali-nyali musuhnya langsung menciut.
"Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
Tanpa sadar, mereka mundur beberapa langkah kebelakang menjauh dari wilayah yang mereka yakin bahwa Rangkupala akan muncul di sana.
"Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!" "Sret ...!"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
Beberapa detik kemudian, Rangkupala berhenti karena Prajurit-prajurit itu sudah menjarak setidaknya lima puluh kaki dari tempat nya berdiri
"CAKAR ... AYAAAAAMMM ... !!"
Rangkupala baru saja meneriakkan nama jurusnya, setelah selesai menggunakannya.
"Tuan Rangku, Namu jurusmu sangat bagus ... Dan, terimakasih sudah membukakan jalan untukku."
Itulah kata-kata Umbara saat melesat melewatinya. Saat itu, Rangkupala tertegun mengingat kata yang baru saja dia teriakkan.
"Hahahahahaha ... Itulah nama jurusmu yang seharusnya ... Hahahahahahah ... !"
Rangkupala memejamkan matanya. "Sial, orang ini benar-benar memberi dampak buruk bagi siapa saja."
Rangkupala meneriakkan dengan sangat lantang nama jurus yang di sarankan Salendra beberapa waktu yang lalu, tanpa sadar.
Terkejut dengan apa yang dilakukan Rangkupala, membuat mereka tidak menyadari bahwa Umbara sudah maju melesat pada Komandan mereka, Daisuke.
"Hei, ... Kejar Umbara ... Itu bisa menggagalkan rencana kita."
Saat itu, Rangkupala menyadari bahwa, dengan menyerang Daisuke sekarang, apapun yang sedang mereka rencanakan, akan gagal.
"Mau kemana kalian? ... Hah?!"
Beberapa pendekar yang berniat mengejar Umbara, langsung menghentikan langkah saat tiba-tiba saja Rangkupala muncul menghadang mereka.
"ting ... !" "ting ... !" "ting ... !" "ting ... !"
"ting ... !" "ting ... !" "ting ... !" "ting ... !"
"ting ... !" "ting ... !" "ting ... !" "ting ... !"
"ting ... !" "ting ... !" "ting ... !" "ting ... !"
Tidak menunggu tanggapan mereka, Rangkupala kembali menyerang. Namun, dia tidak memakai tenaga dalam seperti tadi.
"Hiyyyaaaaaaa ... !"
"Boooom ... "
"Arrrrrggghhhh ... "
Di kejauhan, Salendra sudah menghancurkan dua lagi senjata pelontar. Tinggal delapan belas tersisa, namun sangat jauh dari sana, Karpatandanu berteriak.
"Jalan Rahasia ... Mereka lewat jalan Rahasia ... !"
Akhirnya, Sultan Pasir Putih menyadari rencana Pasukan Nippokure.
"Bangsat itu menya—"
Tidak sempat Daisuke mengumpat, tiba-tiba dia menyadari bahaya sedang mendekat. Dan reflek mencabut pedangnya.
"Ting ... !"
Matanya menatap Umbara yang juga menatapnya, dengan niat membunuh.
"Jaga, mulut busukmu itu ... Dia adalah salah satu Sultan yang sangat dihormati orang-orang di Daratan Barat ini ... Bedebah ...!!"