ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Melampaui Para Dewa


Sudah seminggu semenjak Angus pergi untuk mendatangi tempat Darsapati. Setidaknya butuh sekitar sepuluh hari lagi baginya untuk kembali.


Karena barang sudah terus diproduksi oleh Oldenbar, Sebelum berangkat, Arya juga meminta Angus untuk menyuruh seserorang mengirimkan surat pada Lamo. Hal ini akan membantu rencana yang telah.di siapkan oleh mereka berempat.


Tubuh Putri Jasmine juga sudah kembali utuh. Hanya saja Arya sengaja belum membuat gadis itu sadar. Karena butuh beberapa hari lagi bagi beberapa organ dalam tubuhnya untuk bisa bekerja secara normal.


Serikat Oldenbar di sibukkan dengan semua pesanan Arya. Edward sendiri terlihat serius mengawasi seluruh pesanan tersebut secara langsung. Hanya beberapa kali saja pemimpin Oldenbar itu berkunjung ke paviliun Arya.


Dua iblis langit selalu ditugaskan Arya untuk mengawasi semuanya. Berjaga-jaga jika ada sesuatu yang bergerak tidak sesuai rencana mereka.


Sementara itu, beberapa waktu yang lalu Arya sudah membuka segel pusat Prana Bai Hua. Sesuai dugaan Arya, energi besar yang membentuk elemen petir langsung menyambar ke segala arah.


Beruntung Arya sudah lebih dahulu membangun segel Obskura yang membuat Bai Hua tidak membahayakan orang-orang atau apapun di sekitarnya.


Arya perlu mencari tahu bagaimana cara mengendalikan elemen baru tersebut karena petir sejatinya adalah sesuatu yang tidak stabil dan sangat liar. Belum ada teknik manapun yang sudah tercipta untuk mengendalikannya. Arya berusaha mencari solusinya.


Untuk itu, Arya harus melihat langsung bagaimana cara kerja elemen tersebut ditubuh Bai Hua.


Sedangkan Bai Hua sendiri, benar-benar tidak bisa mengendalikannya. Meski sudah menghentikan penyebaran Prana ke seluruh titik-titik cakranya. Namun, sesekali sebuah lidah petir selalu keluar dari tubuhnya.


Hal ini benar-benar sulit. Arya belum menemukan petunjuk apapun terkait hal itu.


Tapi, dampak baik lainnya adalah, tubuh Bai Hua semakin lama semakin terbiasa dengan unsur elemen petir tersebut. Hingga tubuhnya tidak lagi bereaksi apapun meski dia membiarkan gelombang tersebut berbalik menyambarnya.


Arya dapat merasakan bahwa tubuh Bai Hua menjadi kuat dengan kecepatan yang cukup mengejutkan. Karena belum bisa mengendalikan elemen itu, setiap selesai melatih diri, Arya akan kembali menyegel pusat Prana Bai Hua.


Luna dan Ciel benar-benar tidak bisa membayangkan reaksi Bai Fan saat melihat sendiri Bai Hua, cucunya itu sudah berubah menjadi sangat kuat hanya dalam waktu relatif singkat ini.


Apalagi mengetahui Bai Hua ternyata benar-benar memiliki petir yang sangat kuat yang juga sangat liar di tubuhnya. Sebagai seorang kepala keluarga Bai. Tentu saja itu akan menjadikan Bai Fan sangat bangga.


Karena setahu keduanya, Benua Timur terkenal dengan kebanggaan sebuah keluarga jika salah satu anggota keluarganya merupakan jenius beladiri.


Apalagi, Bai Hua pernah menceritakan bahwa dia sedikit diremehkan di keluarganya karena tidak memiliki kemampuan pengendalian elemen apapun sebelumnya.


Keduanya sangat mengerti kenapa Bai Hua sangat bersemangat saat melatih elemen baru itu. Walaupun saat pertama kali, satu kilatan saja, sudah membuat dirinya tak sadarkan diri.


Menolak untuk menyerah, Bai Hua terus bertahan hingga akhirnya tubuhnya beradaptasi setelah mampu mengimbangi kekuatan petir tersebut. Benar-benar gadis yang sangat gigih.


Jika Bai Hua sudah berhasil mengendalikan elemennya. Saat gadis itu kembali pulang nanti, Sudah bisa dipastikan seluruh keluarganya akan memuja bahkan mungkin mendewakannya.


Saat Bai Hua masih berlatih di dalam segel tersebut, Arya sibuk mencari sesuatu di banyak kitab dan buku yang di berikan Obskura padanya. Namun, apapun yang di carinya, sampai sekarang belum ia temukan.


Di dekatnya, ada Ciel dan Luna yang kembali sibuk mempelajari Kitab keluarganya. Sekarang, mereka sudah bisa membaca kitab tersebut. Hanya butuh sedikit waktu lagi bagi keduanya untuk bisa memahami isinya.


"Arya. Bukankah kau mengatakan bahwa kami bertiga juga terikat dengan takdir yang sama? Tapi, aku tidak melihat dimana keterikatan itu."


Ciel sudah lama ingin menanyakan itu pada Arya.


Arya hanya tersenyum menanggapinya. "Kalian adalah keluarga Smith tentu saja kalian orang yang paling dekat dengan takdir tersebut. Bahkan, Arangga tidak akan sampai pada puncak kekuatannya jika bukan karena leluhur kalian."


Luna mendongakkan kepalanya. "Maksudmu? Leluhur kami dan leluhurmu Arangga, saling mengenal?!"


"Tentu saja mereka saling mengenal atau, Arangga mengenal leluhur kalian. aku juga tidak tau tepatnya bagaimana. Tapi, Kalian tentu sudah menyadari bahwa sebenarnya, kalian sedang membawa sesuatu ke Daratan ini, Bukan?"


Saat itu keduanya sempat mengernyitkan dahi mereka sebelum akhirnya Arya tiba-tiba menarik Bahuraksa yang keluar dari lingkar ruangnya.


Arya mengayunkan pedang yang berukuran sangat besar itu pada keduanya. "Bukankah, seharusnya kalian tidak asing dengan ukiran yang ada di pedang ini?" tanya Arya saat bilah pedang tersebut berada di depan mata keduanya.


Mereka sempat memperhatikan bilah pedang tersebut. Sebelum akhirnya mata keduanya terbelalak. Sebenarnya mereka sudah menyadari hal ini saat pertama kali Arya membangunkan Bahuraksa di reruntuhan kuno.


Akan tetapi, banyaknya kejadian besar yang beruntun. Membuat keduanya melupakan hal itu. Mereka kini menyadari bahwa pedang inilah yang menuntun Rouge Smith Ayah mereka kesini. Karena, mereka memiliki sesuatu agar pedang itu sempurna.


Luna Langsung membuka lingkar ruangnya. Tak lama, Sebuah sarung pedang di tariknya dari sana.


"Kosha!"


Akhirnya keduanya bisa mengeja huruf yang terukir di sana.


Arya mengangguk. "Ya!  Kosha atau pelindung. Atau lebih tepatnya, leluhur kalian menyebutnya sebagai... Perisai!"


Mata keduanya melebar dan menutup mulutnya Yang terbuka lebar dengan telapak tangan mereka. Jauh di dalam lubuk hati keduanya, mereka akhirnya mengerti kenapa ayah mereka sangat ingin sampai ke Daratan ini.


Mata keduanya mulai berlinang, Sebelum akhirnya mereka menangis. Bukan karena sedih tapi bahagia. Usaha mereka tidak sia-sia. Mereka benar-benar telah menemukan alasan keberadaan mereka di Daratan ini.


Alasan itu, sekarang tepat berada di depan mereka. Bahuraksa adalah Kosha. Perisai yang di buat oleh leluhur mereka untuk melindungi umat manusia. Sesuatu yang lebih kuat dari senjata.


"Zruuuup!" Arya menanjapkan pedang itu ke lantai. "Ini, coba angkatlah!"


Arya menyerahkan Bahuraksa pada mereka. Namun keduanya tampak ragu untuk mencobanya.


"Bukankah, hanya pemiliknya saja yang bisa mengangkatnya?"


"Kalian adalah keturunan Helion Smith penempa sekaligus pemilik pertama Bahuraksa. Jika aku bisa, maka tentu saja, kalian juga pasti bisa."


"Jadi itu nama leluhur kami?!" Ciel berseru histeris.


"Ya. Itu tertulis di urutan pertama kitab ini!"


Arya menaruh kitab Kosha di atas meja di depan mereka. Sekarang keduanya sudah bisa membaca itu. Dan memang seperti kata Arya. Nama pertama di kitab tersebut jelas tertulis kata, Helion Smith.


Dengan Perasaan campur aduk, Luna mencoba meraih untuk menyentuh gagang Bahurakasa. Sementara itu Ciel di sampingnya melihatnya dengan harap-harap cemas.


Meski Arya mengatakan bahwa mereka mungkin bisa mengangkatnya karena mereka adalah keluarga Smith. Akan tetapi, jika gagal, itu membuktikan bahwa mereka bukanlah keturunan langsung Helion.


"Kosha...!"


"Jurus Pertama ... Gerbang Cakra!"


Seluruh titik Cakra Luna, tiba-tiba menyala. Tidak biru seperti Arya, namun berwarna merah.


Tidak hanya Luna, seluruh titik Cakra Ciel, adiknya juga menyala. Tidak sama dengan Luna, setiap titik cakra milik Ciel berwarna putih terang. anehnya, Mata Ciel yang semula berwarna biru kini menjadi memiliki banyak warna.


"Ciel memiliki elemen, Udara?! Lalu kenapa matanya berwarna seperti itu?" Gumam Arya.


Mungkin gadis itu akan terkejut dan melompat kegirangan jika menyadarinya. Selama ini, Ciel mengaku tidak bisa mengendalikan elemen apapun. Berbeda dengan Luna yang telah berhasil membangkitkan unsur apinya.


"Ting!"


Tiba-tiba Luna melepas Bahuraksa. Pedang itu kembali tertancap di lantai.


Setelah titik Cakra keduanya meredup dan akhirnya padam, Nafas mereka berdua langsung sesak. Tubuh mereka terasa sangat kelelahan.


"Apa yang baru saja terjadi?!"


Ciel yang paling terkejut. Dia tidak menyangka bahwa tubuhnya akan ikut bereaksi saat Luna menyentuh dan mengangkat Bahuraksa.


"Itu bukti bahwa Kalian memang keturunan Helion. Tapi saat ini, tubuh kalian masih sangat lemah. Untuk menggunakannya, Bahuraksa meminta kekuatan kalian sebagai gantinya!"


"Maksudmu... Pedang ini, melahap Prana pemiliknya?" Tanya Luna dengan nafas masih terengah-engah.


Arya mengangguk. "Ya. Untuk membuktikan bahwa pemiliknya memang pantas untuk menggunakannya."


Keduanya menatap Arya. Kini mereka sedikit menyadari bagaimana kuatnya Arya. Dan sejauh apa sebenarnya perbedaan kekuatan mereka.


Luna hanya bisa mengangkat pedang itu selama beberapa detik saja. Dan itu membuat Seluruh Prana dan tenaga dalamnya benar-benar terkuras habis .


Bahkan tidak cukup sampai disana, karena memiliki gelombang energi yang sama, Bahuraksa juga menyerap milik Ciel. Dan itu berarti, gabungan kekuatan mereka berdua hanya bertahan mengangkat Bahuraksa selama beberapa detik saja.


"Mulai saat ini, kalian akan berlatih dengan Bahuraksa hingga kalian cukup kuat untuk membangunkan dan menggunakannya!"


Setelah itu, Arya pergi meninggalkan keduanya yang terduduk lemah. Dia berjalan ke belakang pavilun tempat di mana Bai Hua berlatih. Di dalam segel yang di buatnya. Arya melihat cucu Bai Fan itu sudah terkapar, tak sadarkan diri.


"Jika kalian memang ingin mengikutiku, kalian harus menunjukkan bahwa, kedepan kita mampu melakukan sesuatu yang bahkan para dewa sekalipun, tidak mampu melakukannya.!"


****


PENTING!!!!


Hello, MOONMARVEL di sini!


Tidak terasa sudah dua bulan lebih aku menulis di Noveltoon.


Hari ini sebagai ucapan termakasihku pada kalian karena telah mengikuti ceritaku sampai Chapter 160 ini, aku sengaja Update lebih banyak Chapter dari biasanya. semoga kalian menikmatinya.


Selain itu, aku juga ingin menyampaikan sesuatu.


Arya Mahesa memang sebuah cerita yang memiliki alur yang lambat. itu karena aku kurang menyukai sebuah cerita dimana MC nya sudah sangat kuat dan menguasai banyak jurus-jurus hebat lalu tiba-tiba bisa ini dan tiba-tiba bisa itu.


Arya memerlukan waktu untuk menemukan jurus ataupun sesuatu yang mendukung perjalanannya.


Itu karena,Arya Mahesa hidup di dunia yang tidak hanya memerlukan kekuatan untuk menaklukkannya. jika hanya Kuat, Arangga sudah sangat kuat tiga ribu tahun yang lalu. tapi apa, Arangga pada akhirnya memutuskan untuk meminta Arya menghancurkan apa yang sudah dia bela, bukan? hehehehe.


Sampai di sini, kalian juga sudah tentu menyadari bahwa Arya bukanlah Kultivator, Pendekar, Alchemist Atau apapun. Arya akan menjadi siapa dirinya saat dia sudah merasa sampai pada tujuannya.


Tapi untuk menuju akhir perjalanannya, Arya akan menjadi apapun dan tentu saja itu dua yang hal berbeda, Ya!


Arya dan teman-temannya akan menemukan banyak hal di masa depan. Hal-hal itu akan membuatnya mengerti Arti keberadaanya.


Walaupum dengan pembukaan yang sedikit klise dan mirip-mirip dengan cerita lainnya, itu aku lakukan untuk sekedar menarik perhatian kalian aja. karena kalau aku buat sebagaimana mestinya, kalian pasti tidak tertarik. hahahaha.


Aku sengaja tidak memberikan porsi lebih pada cerita ini tentang kultivator atau sistem atau hal semacam itu. Karena cerita seperti itu sudah sangat banyak di Noveltoon dan Platform Lainnya. aku benar-benar ingin mengajak kalian berpetualang di dunia yang lain. Dunia Arya Mahesa!


Jadi silahkan diikuti terus ya! kedepan, ceritanya akan semakin berkembang. meski alurnya lambat, tapi update ceritanya lumayan cepat, kan?


Terimakasih juga untuk kalian yang sudah memberikan Like dan tips pada ceritaku ini. itu benar-benar sangat berarti buatku.


Rate dengan memberikan Bintang Lima pada kiri tampilan awal Cerita, tidak di pungut Biaya lho. jika kalian berkenan, aku sangat menghargai jika kalian mau meluangkan sedikit waktu dan tenaga, untuk memberikan cerita ARYA MAHESA ini, Rate dengan 5 bintang****.


Aku benar-benar tidak bisa promosi seperti penulis lainnya untuk meramaikan ceritaku****.


Aku hanya berharap dengan Vote, Like, Koment dan Rate itulah yang bisa sedikit mendongkrak perfoma karya ini di antara banyak cerita lainnya.



Begitu juga dengan Vote. mungkin bagi kalian itu bukan hal yang besar. Tapi, bagi penulis amatir sepertiku ini, itu sangat berarti dan memberikanku semangat untuk terus menulis.



LIKE dan Komentar, kritik dan sarannya juga akan membantuku untuk terus mengembangkan cerita ini agar kedepan akan semakin lebih baik lagi.


TAPI, APAPUN ITU, TERIMAKASIH ATAS SEGALA BENTUK DUKUNGANNYA.


IKUTI TERUS CERITA ARYA MAHESA HINGGA AKHIR YA!.


M.M