ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Berburu Pemburu


Sempat termenung sebentar saat mendengar perkataan Arya yang terdengar mustahil itu, pria tua itu menyadari Arya sudah berdiri dan mulai berjalan pada kawanan Siluman itu. " Anak Muda, mau kemana kau?! Itu arah yang salah untuk lari! "


" Aku hanya ingin memastikan agar makhluk-makhluk itu tidak mendekatimu.  Jangan kemanapun. Tetap di situ, tunggu teman-teman paman di sana! " Arya berjalan semakin menjauh dan menghilang di kegelapan hutan itu.


" Guaaarr ... "


" Guaaaaarrr ... "


" Buk! Sreeet! Krak! "


" Buk!  Buk! Buk!


" Guarrrr ... "


" Krak! "


" Guarrrr ... "


" Buk! "


" Guarrrr ... "


" Krak! "


" Guarrrrrrrr ... "


" Buk! "


Pria tua itu terperanjat dan langsung reflek berdiri saat mendengar suara kekacauan di tempat yang di perkirakannya sebagai pertemuan Arya dan Siluman-siluman itu. Suara itu hanya terdengar sebentar lalu keadaan menjadi sangat hening.


Ragu ingin diam di tempat atau harus berlari pergi. Mengingat kakinya yang terluka sangat mustahil untuk bisa menjauh dari sana. " Sebaiknya aku bersembunyi saja "


Pria itu memandangi sekeliling mencoba mencari beberapa tempat yang dia pikir bisa digunakan untuk bersembunyi. Hanya ada batang-batang pohon saja di sana dan di belakangnya hanya ada dinding tebing. " Mungkin sebaiknya aku bersembunyi di atas pohon saja " putusnya.


Dia berjalan mendekati sebuah batang pohon dan mulai memanjat. Tidak butuh waktu begitu lama baginya untuk bisa sampai di atas. " aku rasa aku akan aman di sini. "


Beberapa saat kemudian, dia merasa ada yang salah. Dia lupa jika dia sedang terluka.  " Kenapa aku bisa memanjat ini? " pria tua itu segera meraba kakinya dan melihat untuk memastikan " Lukaku! ... Di mana ... Lukaku?! " teriaknya histeris seperti telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga.


Sementara itu, setelah Arya dengan Rewanda dan Krama  membunuh enam siluman beruang itu. Mereka mengejar para pemburu.


" Krama!  Rewanda! Pisahkan para pemburu itu dengan para pengangkut. "


" Baik! "


" Baik! "


Setelah mengatakan itu Arya meloncat dari punggung Krama. Sementara Krama memperkencang larinya, Rewanda melompat tinggi dan mulai berlari di atas pohon.


" Sekarang Aku akan memburu Kalian! " Seringai Arya sambil terus berlari mengejar para pemburu itu.


Para pengangkut tampak kesulitan membawa hasil buruan tersebut. Jarak antara mereka dan para pemburu semakin melebar.


Belum lagi sekarang mereka sepertinya sedang di buru oleh siluman lainnya.


"  Au Au Au Auuuuuu ... "


Suara lolongan Siluman srigala itu sudah mereka dengar sejak beberapa waktu lalu. Sepertinya para pemburu itu sama sekali tidak memikirkan nasib mereka.


" Orang asing sialan! " salah seorang dari mereka tidak tahan lagi untuk meluapkan kekesalannya.


" Sebaiknya kita tinggalkan saja semua ini! " ide dari yang lainnya.


" Ya!  Kita sudah pasti mati jika tetap membawa ini "


Saat mereka masih mempertimbangkan itu. Sebuah suara lagi menggema di  hutan itu. 


" Woooooo Hoooooo! "


Belum sempat otak mereka berpikir tentang asal suara itu. Tiba-tiba sebuah siluet besar menyusul dan melangkahi mereka.


" Buk! "


Seekor siluman kera baru saja mendarat beberapa belas meter di depan mereka. Mereka mencoba sekuat tenaga untuk segera berhenti. Bahkan dalam usahanya ada dari mereka yang tersandung hingga berguling-guling.


Saat berhasil berhenti, mereka langsung membeku di tempat. Tatapan siluman tajam itu membuat pikiran mereka kosong. Bahkan tidak ada satupun dari mereka yang terpikir untuk lari.


Siluman kera itu hanya diam selama beberapa waktu dan selama itu pula tidak ada satupun dari mereka yang berani bergerak. Bahkan bernafas pun, mereka takut.


Akan tetapi, sebuah keajaiban terjadi. Tiba-tiba saja suara seseorang  mendekat. Suara itu juga membuat Siluman Kera itu pergi.


Para pengangkut menoleh pada orang yang datang itu. Berpikir bahwa seorang pendekar yang sangat kuat barusaja membuat Siluman itu takut dan menyelamatkan mereka.


" Kau?! "


Para pengangkut bertanya hampir bersamaan. Seolah tidak percaya bahwa orang yang datang itu adalah Arya.


" Bagaimana kau bisa ada di sini? "


Arya tidak menjawab pertanyaan itu " Kembalilah ketempat paman tadi. Aku akan menyusul para pemburu itu " kata Arya sambil terus berlari melewati mereka.


Mereka benar-benar sulit percaya dengan apa yang baru saja mereka alami. Tapi, mengingat pemuda yang sama sekali tidak memiliki tenaga dalam itu bisa sampai di sana, tentu saja arah kedatangannya cukup aman. Para pengangkut itu memutuskan untuk kembali.


" Dwight! Aku tidak pernah mendengar di hutan ini ada Siluman Srigala yang memiliki tanduk seperti itu. "


" Aku juga tidak tau! " Dwight dan para pemburu terus berlari. " Sial! orang-orang bodoh itu berlari terlalu lamban. Buruan kita ... Akh! Benar-benar Sial! " Umpat Dwight.


" Aku rasa mereka telah mati. " kata seseorang.


" Persetan! Aku akan tetap membunuh orang-orang bodoh itu jika gagal membawa buruan kita " jawab Dwight.


" Mungkin siluman itu sedang memangsa mereka. Aku sudah tidak mendengar lagi lolongan Siluman srigala itu "


" Ya! Aku juga sama! "


" Hehehe! ... " Dwight ketawa " setidaknya mereka berguna untuk membuat kita memiliki kesempatan agar bisa melarikan diri "


" Hahahha! Ternyata mereka bisa kita manfaatkan sampai akhir "


" Hahahaha! "


Para pemburu itu merasa sudah lepas dari keadaan berbahaya. Namun untuk memastikan keselamatan, mereka masih berlari hingga beberapa ratus meter.


" Berhenti! " tiba-tiba Dwight meminta teman-teman nya untuk segera menghentikan langkah nya.


" Ada apa?! "


Dwight meletakkan telunjuk di bibirnya tanda meminta agar teman-temannya tidak mengeluarkan suara. Dwight mempertajam pendengarannya.


Tak berapa lama, dia menoleh ke atas dan matanya langsung melebar. Pandangan Dwight itu juga di ikuti teman-temannya dan mereka memberikan reaksi yang sama.


Rewanda telah sejak tadi mengikuti mereka dari atas. Dan kini dari sebuah cabang pohon Rewanda menatap mereka semua, Tajam.


Tak cukup sampai di sana, mereka juga mendengar langkah kaki berjalan semakin mendekat. Ragu untuk melihat karena bisa saja Siluman Kera di atas langsung menerkam begitu mereka lengah.


Akan tetapi, sebuah suara berhasil membuat mereka melupakan itu. dan langsung menoleh bersamaan.


" Akhirnya Kalian menyadarinya? "


Kini mata mereka terbelalak saat melihat Arya sedang duduk di atas punggung Siluman Srigala perak bertanduk runcing yang ternyata memikiki ukuran lebih besar dari seekor kuda dewasa.


" Kau?! "


Mereka seolah melihat kejadian itu seperti mimpi. Mereka memang pernah mendengar bahwa beberapa orang mampu menjinakkan siluman untuk di gunakan bahkan di tunggangi. Tapi, orang itu pasti memiliki tenaga dalam yang sangat kuat.


Dan sepengetahuan mereka, di Kerajaan Swarna ini tidak banyak orang yang memiliki kemampuan sampai di level itu. Apalagi di Daratan Timur ini.


" Bagaimana bisa? Siapa kau sebenarnya?! " Dwight angkat suara.


Melupakan keterkejutannya, Dwight tetap tidak bisa merasakan tenaga dalam di tubuh Arya hingga saat ini. Dan dia juga barusaja menyadari kedua makhluk itu juga tidak memiliki Aura siluman.


Bagaimanapun menurut Dwight, jika di bandingkan dirinya dengan beberapa pendekar tingkat tinggi di Daratan Timur ini, tidak banyak pendekar di Daratan ini yang bisa mengimbangi apalagi bisa mengalahkannya.


Tetapi, entah bagaimana Aura pemuda di depannya ini membuat nyalinya menciut. Sekarang dia menyadari, dari tatapan pemuda itu, mereka semua bukan apa-apa baginya. ' Sial! Aku telah salah melibatkan orang ' batinnya


Arya tidak menjawab " Kau pikir, kau bisa berburu? " Arya menatap Dwight tajam, kemudian tersenyum meremehkan. " Aku akan tunjukkan pada kalian bagaimana cara berburu yang benar "


Melihat wajah Arya saat mengatakan itu, mereka tau bahwa pemuda itu tidak sedang bercanda. " Apa maksudmu? "


" Aku sarankan kalian untuk, ...  Lari! "