ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Hukum Mutlak


Hari itu, kota Basaka benar-benar sudah sangat ramai. Berbagai pengunjung dari segala penjuru datang. Mereka yang dahulu merasa kota itu sangat jauh, kini bisa mengunjungi dalam waktu yang sangat singkat.


Basaka memang kota tertua di Kerajaan Swarna. Bahkan, kota itu jauh lebih tua dari umur kerajaan itu sendiri.


Seperti yang di ketahui sebelumnya, Basaka adalah ibukota kerajaan SwarnaDwipa. Kerajaan satu benua sebelum daratan luas itu hancur dan terbelah menjadi tiga bagian.


Sejak perkembangan Daratan timur sembilan tahun yang lalu, Basaka memang banyak perubahan begitu juga daerah lainnya. Tapi, hanya dalam beberapa bulan terakhir, perkembangan yang sekarang di lakukan pihak istana langsung melampauinya.


Kota-kota lainnya saja sudah menjadi sangat menakjubkan. Akibatnya, saat mereka memasuki Basaka. Membuat mulut setiap orang menganga.


Jangankan rakyat jelata yang baru kali ini mendapatkan kesempatan untuk mengunjunginya. Para bangsawan yang bisa dikatakan sudah beberapa kali ke kota ini saja dibuat terperangah.


Meski kota mereka juga dilengkapi pertahanan yang sama, namun melihat langsung tiga ratus senjata pelontar yang berada di atas tembok besar yang mengelilingi kota itu, benar-benar pemandangan yang luar biasa.


Segala lapisan penduduk Daratan Timur, begitu bersuka cita. Meski mereka tidak di undang secara langsung, tapi pihak istana mengatakan bahwa setiap yang datang akan di jamu dengan sebaik mungkin, siapapun itu.


Hal itu, membuat membeludaknya pengunjung Basaka. Sebenarnya, mereka datang bukan karena jamuan tersebut saat ini bahkan mereka tidak memikirkannya.


Mereka datang karena sangat penasaran dengan Raja baru mereka yang telah memberikan kehidupan sejahtera, hanya setelah beberapa bulan bertahta. Meski hanya Sekali seumur hidup, mereka sangat ingin melihatnya.


Belasan kereta kuda tampak melaju mendekati kota. Dari apa yang terlihat, itu bukan kereta biasa. Dari ukiran yang ada pada dinding kereta dan ada empat ekor kuda yang menariknya, itu jelas miliki keluarga-keluarga bangsawan.


Sampai di gerbang kota, kereta-kereta itu berhenti. Di sana begitu banyak orang mengantri untuk memasukinya.


"Hei Kau, cepat suruh orang-orang miskin itu menyingkir. Katakan, kami semua mau lewat."


"Baik Tuan!" Sang kusir yang keretanya berada paling depan, langsung turun.


"Huh, hebat sekali pembangunan Basaka. Aku akan mencoba berbicara dengan Wisanggeni. Apakah dia mau mempertemukan aku dengan bocah yang di jadikannya Raja itu."


"Tuan Kumara, ada baiknya kita membaca situasi terlebih dahulu. Bagaimanapun, kita telah lama tidak mengunjungi kota ini. Mungkin sudah banyak perubahan."


"Loti, tentu saja banyak perubahan. Kita juga bisa merasakannya di kota Ambang tempat tinggal kita dan selama perjalan kesini, kita juga melihat perubahan di seluruh daerah. Tapi, aku tidak akan membiarkan si tua bangka itu memanfaatkan keadaan ini sendiri."


Loti, adalah pengawal Kumara. Salah satu keluarga kaya dari kota Ambang, selatan Daratan Timur.


Letak kota itu dan beberapa kota sekitarnya memang terbilang jauh, namun pembangunan besar-besaran ini, telah sampai ke sana.


Hanya saja, berita yang mengikuti perkembangan itu, tidak bisa dia dan beberapa bangsawan lain yang berada di Kereta-kereta kuda di belakangnya, percaya begitu saja.


Bagi para keluarga bangsawan dari kota-kota selatan Daratan itu, ceritanya benar-benar tidak masuk akal.


"Tuan Kumara, aku memiliki firasat buruk tentang ini. Sebaiknya kita urungkan saja niat Tuan dan yang lainnya."


Kumara memandang Loti dengan tatapan meremehkan. "Loti, sudah sejak lama kau menjadi pengawal keluargaku. Katakan, seberapa hebat Darsapati dan Sektenya, yang merupakan pendekar-pendekar terkuat daratan ini? Apakah menurutmu dia mampu mengalah seratus ribu pendekar sekte aliran hitam?"


"Soal itu, aku rasa tidak mungkin. Tapi Tuan, cerita yang kita dengar bukan seperti itu?"


"Cih, ... Itu kenapa aku rasa cerita itu hanya mengada-ada. Darsapati dan Sektenya saja tidak mungkin bisa, lantas bagaimana cara kita mempercayai hal itu. Kami keluarga bangsawan tidak sebodoh itu untuk di tipu, dengan dongeng murahan yang mereka katakan."


Loti hanya bisa melepas nafas Pasrah. Memang cerita yang beredar terlalu luar biasa. Tapi perkembangan yang terjadi tak kalah luar biasanya. Itulah yang membuatnya berfikir bahwa Kumara bisa saja salah.


Kumara baru saja memimpin keluarga itu setelah ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu. Tapi, wataknya sangat keras dan sedikit tidak masuk akal.


Dan Tuannya inilah yang memiliki gagasan untuk mempertanyakan keputusan Wisanggeni dalam pengangkatan Raja baru.


Karena menurutnya, kontribusi keluarganya pada Basaka beberapa tahun terakhir sangat besar. Meski Basaka adalah kota tua di daratan ini, tapi kota Ambang tempat tinggalnya juga cukup besar.


Dirinya punya pengaruh yang sangat kuat di sana. Bahkan walikota sebelumnya saja, tidak berani untuk berbicara langsung padanya.


Saat Wisanggeni tiba-tiba mengganti Raja dan mengirim utusan baru sebagai walikota, sejak saat itu keluarganya merasa tidak dihargai.


Hari ini, karena akan ada pertemuan besar, dia dan beberapa bangsawan datang untuk melayangkan keberatan atas kebijakan itu. Bahkan, dia berniat untuk mempertanyakan hak tahta kerajaan.


"Maaf Tuan. Penjaga kota tetap menyuruh kita untuk menunggu dan mengikuti barisan. Kita tidak diperbolehkan untuk memotongnya, Atau ... "


Kusir yang baru saja kembali dan melaporkan apa yang dia temukan di depan sana, ragu untuk melanjutkan.


"Atau ... Atau apa?!"


Mata kumara melebar. Bukan karena takut tapi tersulut amarah.


"Siapa yang membuat aturan bodoh seperti itu? Jadi, mereka menyuruhku dan yang lainnya untuk menunggu, sementara mereka lebih mendahulukan orang-orang miskin ini, begitu?!"


Sang Kusir menelan ludah. Tuannya ini memang sulit dimengerti. Hal-hal kecil saja bisa membuatnya marah, apalagi hal seperti ini.


"Maaf Tuan, aku sudah memberitahu mereka bahwa anda dan bangsawan lainnya akan memasuki kota, tapi mereka tidak peduli. Bahkan, jika kita tidak mau mengikuti aturan maka kita akan di usir."


"Hah ... Mereka berani mengusirku dari Basaka? Lihat saja, nanti aku akan mengatakan ini pada Wisanggeni ... Basaka? Huh, hari ini aku akan membuat perhitungan dengan mereka!"


"Maaf Tuan, mereka tidak hanya akan mengusir kita dari Basaka, tapi dari Daratan ini."


Wajah Kumara semakin memerah. Dia menggelutukkan giginya, dan mengangguk-angguk, geram.


"Baik kalau begitu. Kau tandai siapa prajurit tadi yang berani mengancam kami. Kita lihat, bagaimana nasibnya setelah aku bertemu dengan Wisanggeni nanti."


Setelah menunggu lama, Akhirnya iring-iringan kereta kuda Kumara dan bangsawan-bangsawan di belakangnya memasuki kota Basaka.


Meski masih jauh dari Istana Basaka, keretanya kembali berhenti.


"Apalagi kali ini?! Suruh mereka semua untuk minggir, atau tabrak saja. aku tidak peduli. !"


Sang kusir hanya menghela nafas dala. dan melepasnya. Suasana hati Tuannya sungguh sedang tidak baik. Segera dia turun dari kereta. Di depannya, dia melihat banyak anak-anak yang sedang berkerumun.


"Kakak ... Satu lagi, adikku belum dapat!"


"Kakak, bolehkah aku mendapatkan dua?"


"Kakak, aku belum dapat."


" Siapa saja akan dapat, dua boleh. Sepuluh juga boleh. Tapi berikan dulu pada yang belum dapat, ya?"


"Ya. Di sini temanku belum dapat."


"Ya, temanku juga."


"Baik, ini ambil semua dan bagikan ya. Masih banyak jangan takut tidak kebagian."


Anak-anak itu sedang mengerumuni Arya, dan tiga gadis lainnya yang sedang membagikan kembang gula. kembang gula ini, adalah buatan Restoran Keluarga Bai, yang menjadi sangat terkenal di Basaka.


Anak-anak di seluruh kota Basaka, memanggil Arya dengan sebutan kakak. Hal yang tak akan pernah terjadi pada Raja manapun di dunia.


Hari ini, Arya sengaja meminta restoran keluarga Bai membuat kembang gula yang sangat banyak dan akan diberikan ke seluruh anak-anak di sana.


Kerumunan ini, tidak hanya di sini saja, tapi hampir di seluruh sudut kota.


Semua pengunjung yang baru saja tiba, sangat terkejut saat mengetahui bahwa pemuda itu adalah Raja yang mereka ingin lihat.


Sebelumnya, mereka berfikir seorang Raja akan duduk di singgasana di dalam istana, dan jika beruntung, mereka berkesempatan masuk dan melihatnya.


Saat datang, mereka tidak hanya mendapati bahwa semua orang boleh dengan bebas keluar masuk ke istana Basaka saja.


Lebih dari itu semua, mereka bisa bertemu langsung dengan sang Raja, bahkan mereka sangat terkejut saat sang Raja langsung menyapa anak-anak mereka di tengah jalanan di kota itu.


Saat ini, mereka dan seluruh Daratan Timur merasa benar-benar sangat diberkahi. Menurut mereka, pemuda yang sedang bermain dengan anak-anak ini, tidak hanya seorang Raja, melainkan sebuah Anugrah.


Hal kecil seperti ini, benar-benar membuat Arya bahagia. Tiga gadis lainnya untuk pertama kalinya, benar-benar melihat Arya tertawa lepas.


Siapa yang menyangka, pemuda yang di masa depan berpotensi menghancurkan dunia ini, memiliki senyuman yang begitu hangat.


Tidak hanya mereka. Hal tersebut di rasakan oleh semua orang yang melihatnya. Bahkan, kehangatan itu menjalar ke seluruh penjuru kota.


Kebahagiaan Arya terus berlangsung dan semua orang melihatnya dengan kebahagiaan yang sama. Namun, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya, dan menyela kebahagiaan itu.


"Anak Muda, maaf. Kereta Tuanku dan para bangsawan lainnya, ingin lewat. Bisakah kau dan anak-anak ini, sedikit kepinggir dan membiarkan kami lewat?"


Selesai kusir itu bertanya, aura di seluruh penjuru kota itu, tiba-tiba berubah menjadi sangat mencekam.