
Meski terletak di atas bukit dan sedikit jauh dari pusat kota Gomba, Vila yang di sewa mereka ternyata cukup besar. Memiliki dua lantai dengan tujuh kamar. Layaknya rumah, vila itu bahkan memiliki dapur dan ruang tamu yang telah dilengkapi segala jenis perabotannya.
Ciel yang sejak tadi protes karena merasa Arya telah ditipu oleh pemilik Vila sekaligus penginapan yang memperkenalkan dirinya dengan nama Mundara itu, sekarang, sudah melupakannya begitu saja.
Tiga gadis yang bersama Arya itu, kini terlihat sangat senang karena akhirnya bisa mendapatkan tempat tidur yang layak setelah beberapa lama melakukan perjalanan. Terlebih, sekarang mereka bisa membersihkan diri. Hal yang sangat dirindukan ketiganya.
Setelah menghabiskan makan malam yang disediakan oleh pelayan Mundara, sisa malam itu tidak banyak yang mereka bahas lagi. Semuanya pergi ke kamar mereka masing-masing untuk istirahat.
Sejak pagi, Bai Fan memperhatikan Arya sibuk membaca. Hal yang sering dilakukan pemuda itu di setiap ada kesempatan. Meski tertarik, Bai Fan tidak mengerti satu huruf pun dari setiap sesuatu yang di baca pemuda itu.
Di lain waktu, kakek Bai Hua itu juga melihat Arya sering berlatih berbagai jenis jurus beladiri. Menurut pengakuan Arya, saat ini dia tidak lagi berniat untuk melatih jurus dari sektenya. Melainkan, dia akan menyesuaikan seluruh jurus yang dia pelajari seseuai dengan kondisi tubuhnya.
Satu hal lagi yang masih tidak dimengerti oleh Bai Fan. Bagaimana tubuh Arya bisa menerima dan memahami jurus-jurus tersebut. Sementara, tubuhnya hanya tubuh manusia biasa.
Tapi, tidak diragukan lagi oleh Bai Fan saat melihat bagaimana setiap gerakan yang dilakukan Arya. Jelas bahwa semua gerakan itu sangat penuh perhitungan. Hingga tidak menyisakan ruang untuk membuang tenaga menjadi sia-sia.
Setiap Bai Fan bertanya, Arya tidak bisa memberi tau apa nama teknik atau jurus yang dia gunakan. Menurut pemuda itu, semua gerakan yang dia lakukan adalah gabungan dari berbagai macam pemahaman dalam banyak kitab yang dia baca. Sampai dia sendiri menjadi sulit untuk menyebut nama jurus-jurus itu.
Contohnya saja, jurus meringankan tubuh tingkat tinggi milik keluarga Bai yang pernah di gunakan Arya. Meski memiliki teknik pemusatan kekuatan tenaga dalam yang sama, namun Arya menggunakan sumber kekuatan serta teknik pernafasan berbeda saat melakukannya. Hasilnya, kecepatan Arya jauh lebih tinggi dari yang bisa Bai Fan lakukan.
"Arya. Bukankah sebaiknya dirimu menulis sebuah kitab?"
Mulai hari ini, Bai Fan tidak lagi memanggil Arya sebagai pendekar muda. Menurut Arya panggilan itu membuat dirinya sedikit tidak nyaman. Mengingat bahwa dirinya belum terbiasa untuk dikatakan sebagai seorang pendekar.
Alasan Arya yang lainnya adalah, panggilan itu seolah membuat Bai Fan terasa sangat asing baginya. Padahal, mereka telah saling mengenal lebih dari satu bulan lamanya.
Arya mengangguk "Aku sudah merencanakannya. Hanya saja, aku masih tidak tau harus memberi nama apa dalam setiap teknik yang aku gunakan."
Penjelasan Arya menarik minat semuanya. Ketiga gadis yang sejak tadi tidak terlibat langsung dalam percakapan tersebut langsung mendekat pada keduanya.
Aku bisa memberi nama pada jurus pukulan senior. Nama jurus itu adalah. "Jurus Penghancur Kepala Tanpa Ampun" kata Bai Hua tanpa pikir panjang.
"JurusĀ Peremuk Jantung!" Teriak Luna merasa nama yang dia fikirkan lebih terlihat cocok.
Bai Fan mengangguk. "Peremuk Jantung, aku rasa sangat cocok"
Melihat keduanya, Bai Hua menggeleng cepat. "Kalian belum melihat saja bagaimana cara senior menghancurkan kepala orang-orang tak berguna itu!" Protes Bai Hua.
"Bagaimana dengan jurus yang menggunakan Air yang membuat orang tidak bisa bernafas itu?"
Luna kembali mengingat bagaimana Arya menggunakan jurus yang bisa melumpuhkan ratusan orang dengan sangat mudah itu.
"Kalian ingat? Senior bisa menghancurkan tubuh seseorang dengan sangat mudah. Jurus Itu akan di beri nama apa?"
"Dinding Air! ... Itu jurus terkuat yang pernah aku lihat. Sebaiknya kita hati-hati memberi nama jurus tersebut." Bai Fan mengingat hal lain yang mampu dilakukan Arya.
"Jika itu yang terkuat, aku rasa kalian telah lupa dengan jurus Arya yang lebih mengerikan daripada sekedar menghancurkan tubuh seseorang" Gumam Luna.
Saat semua mata tertuju padanya, Luna membalas tatapan mereka dengan serius. "Bukankah lebih mengerikan jurus yang digunakan Arya untuk melumpuhkan pendekar-pendekar dari negeri kalian itu?"
Seketika semuanya mengingat bagaimana keadaan pendekar-pendekar yang sebelumnya telah menodai Bai Hua. Saat itu, semua dari mereka memohon untuk dibunuh. Bahkan, Bai Hua yang menjadi korban saja, merasa sedikit iba saat mengeksekusi mereka.
Meski tidak ada yang melihat bagaimana jurus itu secara langsung, semuanya sepakat bahwa itu jurus yang sangat kejam.
Semuanya terdiam. Mereka menyadari bahwa Arya terlalu banyak mengkombinasikan sebuah jurus. Apalagi setiap jurus itu memiliki keunikan masing-masing. Hingga mereka juga menjadi sulit untuk memikirkan nama-nama jurusnya.
"Ck! Ck! Ck! Ck!" Ciel menggelengkan kepalanya seolah tak percaya. "Sepertinya kalian tidak berbakat dalam memberi nama sebuah jurus." Ucapnya sedikit meremehkan.
Melihat kepercayaan dirinya, mereka penasaran dengan gagasan nama yang akan di katakan Ciel.
"Jadi, menurutmu, apa nama yang pantas untuk Jurus-jurus Senior?"
"Setiap nama jurus bisa di beri sesuai dengan cara kematian musuhnya atau cara Arya menggunakannya. Tapi, yang paling penting itu adalah, Nama Kitab dimana jurus-jurus itu akan disimpan." Jawab Ciel.
"Kitab Legenda Pendekar Manusia Biasa!" Teriak Bai Hua.
"Kitab Monster Neraka!" Sahut Luna.
"Legenda Penguasa Yang Sangat Kejam!"
"Kitab Kunci Neraka"
"Hukuman Dari Neraka"
"Kekejaman Raja Neraka"
"Legenda Penguasa Air"
"Neraka Air"
"Legenda Manusia Yang Biasa Tapi Sangat Tidak Biasa!" Ucap Bai Fan.
Celetukan Bai Fan itu, langsung mendapat tatapan aneh dari ketiga gadis tersebut.
"Kenapa? Bukankah itu nama yang bagus?" Ujar Bai Fan tak terima di pelototi oleh ketiganya.
"Kenapa kalian orang Benua Timur selalu menggunakan kata Legenda di sebuah kitab?!" Tanya Ciel heran.
"Dan kalian, orang Benua Barat selalu menggunakan kata Neraka!" balas Bai Hua.
Sekarang, Arya hanya terdiam saat melihat mereka berempat berdebat. Dirinya tidak menyangka untuk memberi nama sebuah kitab yang belum tau entah kapan akan ditulis saja, bisa membuat perdebatan sengit seperti ini.
Mereka kini menoleh pada Arya yang tampak kebingungan.
"Senior! Bukankah kata Legenda lebih menakjubkan?"
"Tentu saja kata Neraka lebih mengerikan. Itu sesuai dengan jurus-jurus yang akan ada di dalamnya. Arya, bagaimana menurutmu?!" desak Ciel.
Arya tampak berfikir. Dia tidak menyangka nama kitab yang difikirkan orang-orang di depannya ini, akan jadi seperti itu.
"Hmm... Nama-nama itu cukup bagus. Tapi, aku rasa... Aku akan memberi nama sesuai keadaan tubuhku saja"
"Tubuhmu?!"
"Kenapa dengan tubuhmu?"
Bai Fan dan Luna bertanya bersamaan.
"Aku rasa, jurus-jurus ini, hanya akan dapat digunakan oleh orang yang memiliki tubuh sepertiku saja, bukan?"
Semuanya langsung menyadari maksud Arya. Tentu saja orang dengan kondisi tubuh yang sangat misterius seperti Arya saja yang akan dapat menggunakannya.
"Sebenarnya, aku memang memiliki tubuh yang sedikit ... unik!" Cetus Arya.
Melihat semua orang yang tadi berdebat kini masih diam, Arya melanjutkan penjelasannya.
"Aku tidak bisa menjelaskannya pada kalian bagaimana tepatnya. Karena baik aku ataupun guruku, belum mengerti jenis tubuhku dengan baik. Itu salah satu alasan kenapa akhirnya aku memutuskan untuk bertualang. Aku ingin mencari tau apa yang membuat tubuhku berbeda. Tapi sebelumnya, guruku sudah mempelajarinya selama tujuh tahun lebih dan akhirnya dia sedikit mengerti dengan jenis tubuhku ini. Jadi, Kitab itu nanti akan kuberi nama sesuai dengan jenis tubuhku."
Mata semua orang melebar. Baru kali ini Arya secara langsung mengungkap rahasianya tanpa ditanya terlebih dahulu.
"Jadi, Menurut gurumu, apa jenis tubuhmu?"
Pertanyaan Bai Fan itu, langsung mewakili pertanyaan yang lainnya.
"Matra!"