
"Sepertinya kata-kata tidak akan membuatmu mengerti!"
Bai Fan dengan cepat menghadang dan menangkis serangan topeng hitam itu.
Topeng hitam itu mundur beberapa langkah, setelah Bai Fan memberikan pukulan balasan.
Dia tidak menyangka bahwa orang asing itu akan menangkis serangannya. Tepatnya, dia tidak menyangka orang asing akan melindungi penduduk setempat dari serangannya.
Bai Fan kini berdiri membelakangi Arya dengan kedua tangan bertaut di belakang.
"Kau terlalu gegabah. Bagaimana kau bisa menyerang begitu saja orang yang tak kau kenal?"
Masih kesal karena serangannya baru saja dipatahkan, topeng hitam itu kembali menyerang. Kali ini, Bai Fan menjadi sasarannya.
Tentu saja Bai Fan sudah bersiap untuk serangan itu. Seperti yang dia duga, topeng hitam tidak akan berhenti jika hanya lewat kata-kata. Pertarungan antar keduanya pun akhirnya tak bisa terelakkan lagi.
Pertukaran jurus antara keduanya awalnya terlihat imbang. Namun dalam waktuk singkat, Bai Fan menaikkan kecepatan serangannnya. Topeng hitam semakin kewalahan.
"Buk!"
Satu pukulan dari Bai Fan, akhirnya mendarat di dada topeng hitam. Membuatnya kembali mundur beberapa langkah.
Melihat temannya kalah, topeng hitam lainnya langsung mengambil kuda-kuda hendak membantu.
"Zeup! Zeup! Zeup!"
"Bom!"
Langkah keempatnya langsung terhenti saat tiga anak panah menancap tepat di depan kaki mereka, diakhiri pukulan Godam milik Luna yang membuat tanah bergoncang.
"Jika kalian pintar, maka kalian harus tau mengukur kekuatan lawan!" Ujar Ciel memperingatkan semua orang yang kini menatap dua gadis itu.
"Cih! Tidak kusangka, kalian ingin menyelamatkannya. Bukankah orang asing seperti kalian tidak menghargai nyawa manusia di sini? " Ucap topeng hitam yang tadi berhadapan dengan Bai Fan.
"Ck! Ck! Ck!" Bai Fan menggelengkan kepala. "Kami tak menyelamatkannya. Sebaliknya, kami baru saja menyelamatkan nyawa kalian semua!" Ucap Kakek Bai Hua itu pada topeng hitam.
Kata-kata Bai Fan, sedikit membuat mereka kebingungan. Namun, mereka tidak terlalu memikirkannya. Karena mereka langsung sadar bahwa ada hal yang lebih penting sekarang untuk di pikirkan.
Bai Fan dan yang lainnya, sudah mengerti bahwa orang-orang yang mengaku dari Sekte Lembah Hantu itu, sudah salah faham sejak awal. Jadi, mereka merasa pertarungan ini hanya akan sia-sia.
Luna dan Ciel juga sudah kehilangan minat untuk menyerang. Tapi, mereka masih waspada. Jika orang-orang di depan mereka ini masih berniat menyerang, maka mereka akan memberikan perlawanan.
"Apa maksudmu?!"
"Berarti, kau memang bodoh jika masih tidak mengerti maksud kami" Bai Hua yang sudah bersiap menghadang topeng merah tidak jauh dari mereka, kini bersuara.
"Kalian sudah mati, jika kami menginginkannya" Jelas Luna.
Sebelum si topeng itu kembali berbicara, Bai Fan langsung memotongnya. "Kau tau tadi aku bisa membunuhmu dengan mudah, bukan? Tapi, aku tak melakukannya. "
Topeng hitam itu mengelus dadanya yang tadi terkena pukulan Bai Fan. Dia kini menyadari bahwa pukulan itu tidak terlalu menyakitkan.
'Apa orang tua ini mengasihaniku?' Batinnya.
Sayangnya, harga diri sebagai pendekar, menolak untuk menerima kata hatinya. Tak mengindahkan kesimpulannya sendiri, 'Tidak mungkin!' topeng hitam kembali membatin.
"Hahahaha! Orangtua. Aku rasa pukulanmu, tidak sanggup melukaiku!"
"Aish! Sial!" Umpat Ciel kesal saat mendengar ucapan topeng hitam itu. "Apa kalian memang sebodoh itu?!" Ucapnya geram.
Tiba-tiba saja udara di sana berubah.
Orang-orang bertopeng yang mengaku dari Sekte Lembah Hantu itu, langsung sadar bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan orang sembarangan.
Aura yang dilepas Bai Fan begitu mengintimidasi mereka. Hingga sembilan orang yang menggunakan topeng putih, jatuh berlutut karena merasa sudah tak mampu menahan beban tubuhnya.
"Jika kalian berfikir kami tidak membunuh kalian hanya karna di belakang kalian ada ribuan orang, kalian salah besar!"
Arya maju dan meletakkan tangan di bahunya Bai Fan. "Kakek Bai, tenanglah!" Bisiknya.
Tak lama setelah Arya mengatakan itu, Bai Fan langsung menghilangkan Aura Pembunuhnya.
Arya lalu berjalan mendekati topeng hitam yang tadi hendak menyerangnya itu. "Tuan pendekar. Aku tidak tau apa yang membuat kalian ingin menyerang kami. Tapi, kami sama sekali tidak memiliki niat buruk di sini" Jelasnya.
Kelima topeng hitam saling berpandangan. Mereka sepertinya sedang mempertimbangkan keadaan mereka saat ini dan juga ucapan Arya.
Tidak lama berselang, mereka saling mengangguk. Sepertinya sudah memahami situasi.
"Tuan Muda. Maaf atas kelancangan kami. Apa yang kami lakukan, semua ada alasannya."
Arya mengangguk mengerti. "Baiklah, aku mengerti. Jadi, bisakah kita berbicara tanpa harus saling melukai?"
Topeng hitam itu mengangguk."Baiklah. Tapi, jika kalian tidak keberatan, sebaiknya kita menunggu ketua kami terlebih dahulu. Bagaimana? "
Setelah Arya menyetujui permintaannya, ketegangan di antara mereka langsung mereda. Arya dan Bai Fan langsung menjelaskan dari mana dan akan kemana tujuan mereka.
Tidak lama berselang, ribuan orang yang memang sedang menuju arah mereka pun tiba.
Semua dari mereka mengunakan jubah yang sama. Kecuali satu orang. Orang itu memakai jubah merah dengan topeng berwarna emas. Seperti yang di katakan pendekar topeng hitam sebelumnya, itu adalah pemimpin mereka. Ketua Sekte Lembah Hantu.
Saat baru saja tiba, semua orang melihat pada rombongan Arya dengan tatapan sinis. Tapi, saat topeng hitam menghampiri ketua mereka dan menjelaskan situasinya, tatapan ketuanya itu berubah.
ketua mereka langsung menghampiri ke limanya, dan menyapa. "Jika, apa yang dikatakan anggotaku benar, maka, aku minta maaf atas kelancangan mereka" Ucap ketua sekte Lembah Hantu itu pada mereka.
"Oh, tidak apa-apa. Kami mengerti. Pasti ada alasan untuk itu" Jawab Bai Fan ramah.
Setelah kelimanya memperkenalkan diri, akhirnya ketua dari sekte Lembah Hantu itu, memerintahkan pada semua anggotanya, untuk mendirikan kemah di sekitar sana.
Seperti sudah sangat terlatih, tenda utama untuk digunakan oleh ketua Sekte lembah Hantu itu, sudah berdiri. Kini, anggota-anggotanya tengah menyalakan penerangan di dalam.
"Sebaiknya kita berbicara di dalam saja." Tawar ketua Sekte itu pada kelimanya.
"Baiklah, terimakasih!"
Kini Arya dan yang lainnya, duduk di dalam tenda yang cukup luas itu. Sebelumnya, ketua sekte itu sempat mengatakan alasan kenapa, mereka begitu tidak menyukai orang asing.
Bai Fan dan yang lainnya sudah bisa sedikit menebak alasannya. Tapi, saat ketua itu melanjutkan penjelasannya, kelimanya menjadi sedikit terkejut.
"Kalian akan berperang?!" Ciel yang memiliki kebiasaan memotong pembicaraan, tidak dapat menahan sifatnya itu. "Jadi, kalian sekarang sedang menuju medan perang?!" Tanya gadis itu sekali lagi.
"Ya! kami tidak mungkin hanya akan berjalan-jalan dengan membawa seluruh pendekar dari Sekte Lembah Hantu, Bukan?"
Setelah mengatakan itu, Ketua sekte Lembah Hantu menyapu pandangannya pada semua orang. Dia bisa memaklumi bahwa mereka tidak akan percaya.
"Tepatnya, dengan siapakah kalian akan berperang?" Tanya Bai Fan.
Ketua Sekte lembah hantu itu terdiam sedikit lama, sebelum akhirnya menjawab.
"Ini sedikit menyedihkan. Kami akan berperang dengan saudara kami sendiri. Beberapa hari kedepan, kami akan melawan Sekte Besar Yang di ketuai oleh sahabatku. Sekte Bukit Tengkorak."