ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Kondisi Arya


Hari berikutnya, Luna dan Ciel adiknya keluar dari bangunan tempat dimana mereka berada Sebelumnya.


Meski terlihat ramah, hampir semua orang di sana, begitu takutnya saat melihat Luna.


Masih sangat jelas di ingatan mereka saat kemunculan gadis itu yang langsung membuat perang berakhir. Hampir dua minggu yang lalu.


Namun begitu, saat ini keduanya duduk di antara mereka, dan menjelaskan bagaimana situasinya.


Bai Hua memang masih tidak sadarkan diri. Itu hanya karena Arya tetap membuatnya seperti itu. Namun, untuk membangunkannya, tentu saja hanya Arya yang bisa.


Namun, Saat ini Arya juga belum sadarkan diri. Meski saat ini tubuh Arya sudah terlihat cerah seperti biasa.


Berita selanjutnya, langsung membuat Karpatandanu terduduk di bawah. Bukan karena kecewa, namun saking leganya.


Sultan Negeri Pasir Putih itu, bisa dikatakan hampir tak bicara saat terakhir kali mendengat teriakan penuh kesakitan  Arya dari dalam bangunan, dimana putrinya berada.


Saat Luna mengatakan ada kemungkinan Citra Ayu akan terbangun terlebih dahulu dari dua lainnya, benar-benar membuatnya bahagia.


Akan tetapi, saat Karpatandanu meminta izin untuk melihat putrinya, Luna dan Ciel, serentak melarangnya. Saat itu mereka mengatakan pada Ayah Citra Ayu itu, sekarang belum saatnya.


Berkah Air memang tidak bisa lepas dari Arya. Namun, Arya dalam keadaan tidak sadar, terus menerus memberikan energinya lewat berkah air. untuk menyelamatkan Citra ayu. 


Mereka tentu tidak bisa membiarkan Karpatandanu melihat putrinya itu, terbaring di sebelah Arya tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuhnya. Meskipun keduanya sama-sama tidak sadarkan diri.


Keduanya tidak bisa mengatakan apa yang sebenar-benarnya terjadi pada mereka berempat dan dua Iblis langit selama mereka di dalam sana.


Bahkan, saat ini saja keduanya belum bisa mempercayainya. Mereka benar-benar tidak menyangka betapa luasnya alam Sadar Arya dan makhluk yang bersemayam di dalamnya.


Jika semua orang di depan keduanya saat ini mengetahui bahwa Kulkan, sang mahkluk legenda yang sudah di ceritakan  dari masa ke masa selama puluhan ribu tahun lamanya, sebagai makhluk penghancur dunia itu, kini berada di dalam tubuh Arya.


Itu saja sudah jauh di luar nalar manusia. Namun, Yang paling sulit untuk di terima saat ini adalah, mahluk itulah yang sedang berusaha menyembuhkan Arya.


Zolka Putra Tza-mamna, memberikan seluruh kekuatannya agar kesadaran Arya tetap ada.


"Baiklah, meski terdengar buruk tapi, aku bisa yakinkan kalian bahwa, semuanya akan baik-baik saja."


Saat Luna menyelesaikan penjelasannya.  Semua orang masih terdiam cukup lama. Jauh Lebih lama dari penjelasan yang sangat singkat dari kedua kakak adik itu.


Namun, tiba-tiba Harupanrama bersuara.


"Ini, bahaya ... Benar-benar, bahaya!"


Semua orang sudah mendengar apa yang membawa Harupanrama kesini, dan berita apa yang datang bersamanya. Namun, tentu saja kedua gadis itu belum mengetahuinya.


"Tuan, aku sudah jelaskan. Mereka bertiga, tidak lagi dalam keadaan yang bisa membahayakan mereka."


Mendengar kata-kata Luna itu, Harupanrama langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, bukan itu. Kalau itu, aku sudah mengerti."


"Tuan, jadi katakan apa yang kini kau anggap bahaya?" Tanya Ciel sedikit ketus.


"Nona, saat aku berjalan kesini, seluruh serikat Oldenbar di Daratan ini, mungkin sudah meninggalkan dermaga Tenggayu di Negeri Bukit Batu."


Luna dan Ciel mengernyit heran, keduanya tidak melihat bahaya dari kata-kata Harupanrama tersebut.


Melihat Raja Ambang kesulitan menjelaskannya, Rangkupala langsung memotongnya.


Keduanya menoleh pada Rangkupala dan Luna langsung bertanya.


"Tuan Rangku, apa rencana mereka?"


"Dengan kekuatan penuh mereka, Serikat Oldenbar, berniat menyerang dan mengambil Alih seluruh Daratan Timur."


Tentu saja itu langsung membuat Luna Dan Ciel terkejut. Bahkan, berita itu benar-benar mengejutkan mereka.


Saat itu juga, Ciel kembali bertanya dengan nada cemas. "Tuan Haru, berapa jumlah mereka?"


Harupanrama menelan ludah sebelum mengatakannya. "Lebih dari Dua Ratus Ribu prajurit."


Kedua kakak adik itu, langsung bisa membayangkan kekuatan seperti apa yang kini sedang mengancam Daratan Timur.


Dua ratus Ribu prajurit, itu sama saja mengatakan bahwa serikat itu datang dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki di Kerajaan Swarna.


Setidaknya, untuk sampai ke sana. Serikat Oldenbar harus membawa seribu kapal.


Karena saat ini mereka sedang membahas serikat dagang terkuat di dunia, jelas kapal-kapal itu di lengkapi senjata perang.


Dengan kata lain, serikat Oldenbar datang dengan seribu kapal kapal perang dan membawa dua ratus ribu orang untuk menyerang Daratan Timur. Tentu saja itu berbahaya, bahkan benar-benar berbahaya.


"Nona, kami tidak tau harus melakukan apa. Jadi, setelah kami mendapatkan berita ini dari Sultan Harupanrama, kami semua memutuskan untuk menunggu."


Luna dan Ciel mengangguk bersamaan. Namun, pikiran mereka saat ini, sedang tidak bersama semua orang di sana.


Daratan Timur, benar-benar belum siap untuk menghadapi kekuatan tempur sebesar itu. Meski sekarang kota Parinan  sudah di lengkapi dia ratus senjata pelontar yang lebih kuat dari milik serikat Oldenbar, tentu saja itu belum cukup untuk menahan kedatangan mereka.


Tentu saja saat ini, Daratan Timur sangat memerlukan kehadiran Arya. Namun, mereka semua juga tau bahwa Arya sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri, dan tidak diketahui kapan akan terjaga.


"Nona, kami tidak ingin membebani kalian, apalagi dengan keadaan seperti ini. Namun, tentu saja berita ini harus kami sampaikan."


Luna langsung mengangguk, begitu pula dengan adiknya. Mereka mengerti, namun tentu saja tidak bisa memikirkan solusi apapun saat ini.


"Tuan Rangku, kami tidak taj betapa tepatnya hari yang sudah kami lewati dalam semua proses ini. Jadi, bisa kalian katakan padaku, berapa hari sudah berlalu sejak, perang ini berakhir?"


Rangkupala mengernyit heran. Namun, dia tetap menjawabnya. "Tiga belas hari ... "


Luna dan Ciel serentak menutup wajah dengan kedua tangan mereka. Ternyata semuanya berlalu terlalu lama.


Ke adaan saat ini tentu akan sangat merugikan semua orang. Sekarang, tidak hanya daratan Timur saja akan berperang tapi, juga daratan ini.


Masalahnya, semua ini di mulai dari mereka. Tentu saja mereka tidak bisa pergi begitu saja.


Seperti kata Arya sebelumnya semua ini di mulai, pendekar-pendekar di daratan ini, tidak akan menang, jika mereka tidak membantunya.


Sebenarnya, semua kepala di sana memikirkan hal yang sama. Hanya saja, tidak ada yang berani mengemukakan pendapat mereka.


Lama mereka sibuk dalam pikiran mereka masing-masing. Sebelum akhirnya Ciel bersuara.


"Kita sudah tidak bisa mundur. Karena semua sudah di mulai."


Saat Ciel mengatakan hal tersebut, semua orang langsung serentak menghela nafas. Namun begitu, apa yang di katakannya itu, terdengar masuk akal walau sedikit sulit dimengerti.