
"Tuan Edward. Kami datang hanya untuk melihat-lihat saja. Tidak perlu memberi kami tatapan seperti itu. Atau memang ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan?"
Seminggu sejak pembicaraan yang terjadi di istana Basaka, hari ini Pusat Serikat Oldenbar dikejutkan dengan kedatang prajurit istana, lengkap dengan pakaian tempur.
Pasukan itu dipimpin langsung oleh Rantoba. Kedatangan mereka yang sangat mendadak itu, sempat membuat Oldenbar berfikir bahwa akan terjadi pertempuran tak terduga.
Pintu gerbang saat itu langsung ditutup dan semua anggota Oldenbar dipaksa bersiaga.
Pertempuran pasti terjadi, jika Rantoba tidak segera memperkenalkan siapa dirinya.
"Tuan Rantoba. Kedatangan kalian yang mendadak dan membawa prajurit sebanyak itu, tentu saja membuat kami wasapada. Aku tidak pernah melihat seseorang membawa dua ribu orang bersamanya hanya untuk sekedar melihat-lihat saja." Jawab Edward, dingin.
Saat ini mereka sudah berada di dalam istana Oldenbar. Karena memang tidak ada yang dia rasa ditutup-tutupinya, Edward merasa sedikit tersinggung dengan tuduhan Rantoba itu.
"Tentu saja kami datang dengan cara seperti ini. Karena Oldenbar tiba-tiba menghentikan pasokan senjata sihir pada kerajaan. Itu tidak sesuai dengan perjanjian yang telah di sepakati. Aku sedikit curiga, Apakah kalian menjualnya pada musuh kami?"
Pertemuan dua pendekar dengan level kekuatan tingkat tinggi itu berlangsung dingin. Rantoba sama sekali tidak terlihat takut pada Edward sementara Edward juga menunjukkan sikap yang sama.
"Oh, apakah kalian memiliki musuh?"
"Kedepan, Bisa saja. Meski sekarang kami belum Mengetahuinya."
"Tuan Rantoba, Oldenbar adalah Serikat dagang. Kami hanya mencari sedikit keuntungan. Kenapa kalian mencampuri urusan kami? Bukankah kami sudah cukup membantu kerajaan selama ini?"
"Kami tentu tidak berniat ikut campur. Tapi, kalian berada di negara kami. Dan kalian baru saja menghentikan pasokan senjata untuk kerajaan. Sedangkan kalian terus mendatangkan bahan baku serta senjata-senjata yang belum pernah kalian datangkan sebelumnya. Apakah Menurut kalian, kami akan diam saja?"
Edward tetap tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Rantoba.
"Sudah aku katakan, kami serikat dagang. Oldenbar akan menjual apapun pada siapapun yang sanggup membayarnya. Jika kalian tidak memiliki musuh, lalu apa yang harus kalian takutkan? Atau, apakah baru-baru ini kalian telah menyinggung atau bermasalah dengan kelompok tertentu?"
"Daratan Timur sangat damai sebelumnya. Tapi kini kami sedikit curiga. Kalian sedang merencanakan sesuatu." Rantoba menajamkan tatapannya. "Apakah kalian diam-diam berencana untuk menyerang kerjaan?"
"Hahahahha! Lucu sekali." Edward tidak bisa menahan tawanya. "Jika kami ingin menyerang kerajaan, apa untungnya bagi kami?"
"Cih! Bukan rahasia lagi bahwa Oldenbar selalu memiliki agendanya sendiri. Jadi, aku ingin memastikan. Jika kalian tidak menjual senjata-senjata itu pada kami. Lalu, siapa pihak yang membelinya?"
"Hahahaha!" lagi-lagi Edward tertawa. "Maaf, kami punya perjanjian dagang. Dan itu menyangkut kerahasiaan identitas Pembeli kami. Dan perlu kau ketahui. Jika Oldenbar memutuskan untuk menyerang, kami tidak akan memulainya dari daratan ini. Kami akan langsung menginvasi Barus. Apakah kau berfikir kami tidak mampu melakukannya?"
Kata-kata Edward sedikit membuat Rantoba terdiam. Menurutnya Oldenbar memang mungkin saja sanggup melakukannya. Tapi, penjualan senjata secara besar-besaran di daratan Timur ini, tentu saja sangat mencurigakan.
"Tuan Edward. Kalian punya perjanjian dagang yang jauh lebih penting dengan Maharaja kerajaan ini daripada pembeli kalian itu. Apakah kalian berfikir jika Maharaja kami mengetahuinya, dia akan diam saja?"
Edward menggelengkan kepala. "Maharaja kerajaan ini, berurusan langsung dengan seseorang yang berada di atasku. Jika orang itu tidak menganggap tindakanku salah, maka aku akan terus melakukannya. Itu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu atau Daratan ini."
Inilah kehebatan Edward. Pemimpin pusat Oldenbar di daratan Timur ini, sebenarnya memang tidak mudah untuk terintimidasi. Apalagi sekarang dia sudah kembali berada di level tertinggi kekuatannya. Tidak akan mudah bagi Rantoba untuk menyudutkannya.
Perbincangan Edward dan Rantoba dengan suasana saling mengancam di dalam istana Oldenbar itu terganggu dengan kedatang beberapa orang. Hal itu langsung menarik perhatian Rantoba.
"Apakah kami datang diwaktu yang salah? Atau sangat, Tepat?"
Tanpa menyapa, Luna langsung bertanya kesemua orang yang ada di sana. Dia dan tiga orang lainnya berdiri di antara pihak kerajaan dan Oldenbar.
"Tuan Edward. Bagaiamana dengan perkembangan senjata pesanan kami?"
Tidak mengindahkan tatapan keheranan semua orang, Ciel langsung membahas soal senjata. Seolah tidak peduli dengan apa yang difikirkan orang-orang yang menatap mereka.
"Jadi ... Mereka ... ?
Meski sempat sedikit terkejut, Rantoba langsung mengenali keempat orang itu. Bukan karena pernah bertemu sebelumnya, melainkan dari informasi yang telah dikatakan oleh Drey sebelumnya.
Tak kalah terkejutnya, Edward tidak menyangka dengan kemunculan Arya dan yang lainnya di saat seperti ini.
Ini benar-benar tidak bisa dicernanya. Pasalnya Arya sendiri yang meminta agar Oldenbar merahasiakan keberadaannya. Lalu, kemunculan mereka dengan langsung menyebut tentang senjata, tentu saja membuatnya bingung.
"Master ... Kenapa anda, ke sini?"
Tidak menjawab. Arya balik bertanya. "Dimana Drey?"
Arya menggeleng. "Maaf Tuan Edward. Aku tidak bertanya pada anda."
"Master, Apa maksud anda?"
"Aku bertanya pada Tuan yang di sana." Tunjuk Arya dengan dagunya.
Saat itu Rantoba menatapnya heran. Namun, Arya kembali melayangkan pertanyaan yang sama.
"Dimana Drey?"
Rantoba langsung berdiri. Dia merasa Arya tidak menghargainya. "Anak muda. Apa maksudmu?!"
"Tuan Pendekar, Jangan memasang wajah menakutkan seperti itu. Kau merusak pemandangan. Tuan kami hanya bertanya, dimana Drey Bodoh itu?"
Mungkin jika Rantoba adalah pendekar yang baru saja memasuki dunia persilatan, dia akan langsung menghabisi keempatnya saat ini juga.
Bagaimanapun, saat dia mengukur kekuatan mereka, Rantoba yakin keempatnya memiliki level kependekaran yang jauh di bawahnya.
Akan tetapi, sikap keempatnya yang terlihat tidak mengenal takut itu, serta melihat bagaimana Edward yang sejak tadi sudah beradu urat syaraf dengan dirinya itu sangat menghormati keempatnya, membuat Rantoba memilih bersikap hati-hati.
Jika perkataan Drey benar, maka ada sesuatu yang sangat kuat dibelakang mereka hingga membuat mereka berani bersikap seolah tidak memiliki rasa takut sama sekali.
"Drey berada di Basaka."
Rantoba memilih jujur. Bagaimanapun, dari cara mereka bertanya, jelas keempatnya sudah tau bahwa Drey lah yang memberikan informasi ini pada kerajaan.
Hal itu seketika membuat semua mata anggota Oldenbar terbelalak. Semua langsung mengerti bahwa Drey telah mengkhianati mereka.
"Baiklah. Apakah kita berangkat sekarang?" Tanya Luna pada Rantoba.
"Berangkat?!"
Tentu saja pertanyaan itu sangat tidak di duganya. Rantoba yang beberapa waktu tadi terlihat sangat percaya diri, langsung mendapati dirinya seolah sedang tidak tau situasi apa yang sedang di hadapinya.
"Ya. Bukankah Raja kalian ingin mengetahui siapa kami? Atau, kau bisa mewakilinya untuk berbicara langsung dengan kami?"
Kemunculan yang tiba-tiba dengan sikap tak kenal takut, membuat keempatnya langsung mengambil alih suasana.
Hal itu juga langsung membuat Rantoba harus berfikir cepat dan sangat keras saat ini.
"Oh begitu. aku rasa kita langsung berangkat saja. Sebaiknya Kalian langsung berbicara dengan Raja, di kota Basaka."
Luna mengangguk. "Baiklah, silahkan duluan. Kami di belakangmu!"
"Baiklah, silahkan Ikuti aku. Kita akan ke Basaka."
Saat Rantoba baru saja melewati keempatnya, Arya langsung berkata pada Edward.
"Tuan Edward. Bukankah aku sudah memperingatkan, bahwa aku tidak suka memiliki masalah sekecil apapun saat aku melakukan sesuatu?"
Edward benar-benar terdiam saat Arya mengingatkan hal itu. Belum sempat dia memikirkan jawaban yang tepat, Arya sudah berbalik dan mengikuti Rantoba yang telah berjalan terlebih dahulu.
"Tuan Edward. Kami akan membereskan kekacauan yang telah dilakukan anak buahmu di Basaka. Sebaiknya periksa kembali seluruh anggotamu di sini. Sepertinya kau terlalu lembek sebagai seorang pemimpin!"
Setelah mengatakan hal itu, Luna berbalik mengikuti yang lainnya.
Sementara Edward berdiri mematung di tempatnya dengan wajah memerah. Belum pernah dia dipermalukan seperti ini sebelumnya. Apalagi yang membuatnya seperti itu adalah Drey, anak buahnya sendiri.
"Siapkan keretaku. Aku juga akan berangkat ke Basaka! Cepaaat...!"
"Siap!"
Beberapa anggota Oldenbar langsung berlari untuk menyiapkan kereta untuk pemimpin mereka itu.
"Drey! ... Aku bersumpah, aku sendiri yang akan membunuhmu!" Geram Edward.