
Terkait serikat Oldenbar, jauh sebelum itu, serikat itu telah bergerak dibelakang kerajaan dan menghubungi banyak sekte aliran hitam maupun putih dengan cara mereka.
Saat ini saja, serikat Oldenbar dengan hampir semua sekte aliran hitam memiliki perjanjian.
Serikat Oldenbar akan berbagi sumberdaya serta akan memberikan mereka senjata-senjata sihir sebagai penambah kekuatan. Sebagai gantinya, serikat Oldenbar meminta mereka melakukan pekerjaan kotor.
Tentu saja sebagai Sekte Aliran Hitam, mereka merasa itu sah-sah saja. Dan sama sekali tidak peduli walaupun mereka mengetahui akan di apakan orang-orang yang mereka culik itu, oleh Oldenbar.
Hanya saja beberapa bulan ini, rencana mereka sedikit berubah. Itu karena, secara tiba-tiba serikat Oldenbar menarik senjata-senjata dari peredaran.
Bahkan Kelang juga menyadari kerajaan juga tidak mendapatkan senjata apapun.
Sampailah akhirnya, mereka mengetahui bahwa serikat itu sedang menyiapkan senjata dalam jumlah besar untuk seseorang. Kelang juga baru mengetahui orang itu adalah Arya, saat pertama kali mereka bertemu di istana Basaka.
Pengakuan Kelang tersebut sempat membuat seluruh perwakilan sekte di sana terkejut.
Mereka tidak menyangka pemuda yang ada di dekat mereka saat ini, memiliki kemampuan untuk berurusan langsung dengan Oldenbar bahkan memiliki kekayaan yang bisa membayar semua senjata-senjata itu.
Mengingat bahwa pemuda itu sekarang di sini, tentu saja itu sudah tak jadi masalah. Malah, sepertinya mereka telah mendapatkan sumber daya baru lainnya.
"Saat kita berbicara ini, ketua-ketua sekte kami sudah bergerak ke tempat yang sudah kita sepakati. Jadi, kehadiran kami di sini untuk memastikan bahwa senjata-senjata yang telah kau janjikan sudah kau dapatkan."
"Ki Kelang ... Meski kami sudah sepakat menjadikan kau Raja nantinya. Tetap saja, bagaimana dengan jaminan yang kau janjikan sebelumnya?"
"Huh! Ruka ... Kau sangat tajam seperti biasanya. Pantas saja si tua itu mengirimmu kesini."
"Ya, kau harus menunjukkan bukti pada kami terlebih dahulu. Setelah itu, kami akan langsung bergerak bersamamu dari sini."
Saat Kelang hendak menjawab. Seseorang terlebih dahulu bersuara. Mereka yang duduk melingkari meja batu langsung menoleh padanya.
"Tentang senjata itu, tentu saja kalian tidak akan pernah mendapatkannya. Bahkan Orang yang gagal menjaga senjata-senjata itu, adalah orang yang akan kalian jadikan Raja, ini."
Arya tiba-tiba sudah berjalan mendekat dan langsung naik ke atas meja batu tersebut. Dia sama sekali tidak memperdulikan bagaimana reaksi orang-orang yang ada di sekelingnya.
"Aku bersukur akhirnya bisa sampai disini. Bahkan sepertinya aku juga mendapatkan banyak informasi yang berguna di sini."
Melihat tingkah Arya yang naik ke atas meja seolah sama sekali tidak menghormati mereka, langsung membuat semua orang berdiri. Wajah mereka langsung merah padam.
"Hei Bocah. Apa yang kau lakukan?!"
Arya sedikit menyengir. "Bukankah di tempat ini, hanya yang terkuat saja yang mendapat kehormatan. Aku rasa, di sinilah seharusnya tempat aku berada."
"Kau?! ... Aku rasa kau telah kehilangan isi kepalamu."
Tidak mengindahkan siapa yang mengatakan hal itu, Arya tiba-tiba bertanya. "Apakah kalian semua yang ada di sini, pernah mendengar seseorang yang bernama Cokropati? atau mungkin saja secara bersamaan kalian juga mengenal seseorang yang bernama, Natungga?"
Saat Arya menayakan hal tersebut, hampir semua menunjukkan reaksi yang sama.
"Hmmm ... Sepertinya kalian semua mengenalnya."
"Apa hubunganmu dengan pemuda gila itu?"
Arya segera berjalan mendekat pada orang yang mengatakan pemuda gila. Dia bisa mengerti orang itu bermaksud mengatakan bahwa itu adalah Natungga, ayahnya.
Saat berada di depan orang itu, Arya menunduk dan melihat darinatas dengan tersenyum meremehkan. "Apa dia pernah menyusahkan hidupmu?"
Entah kenapa saat Arya mendekat, jantungnya seolah berhenti. Saat dia hendak menjawab, ternyata itu telah terlambat.
Begitu juga dengan yang lainnya. Bahkan Kelang juga tak sempat bereaksi apapun saat tiba-tiba sesuatu yang tak mereka duga baru saja terjadi.
"Zruuub... !"
"Kresss...!"
Arya telah membobol dada salah satu pendekar perwakilan dari sekte aliran hitam itu, dan menarik paksa jantungnya keluar, lalu meremasnya hingga hancur.
"Ah ... Kau terlalu lama menjawabnya."
Pemuda tanpa tenaga dalam itu, baru saja mencabut jantung seorang pendekar suci tingkat satu dengan mudahnya. Itulah yang ada di kepala mereka saat ini.
Tidak ada yang yakin dengan apa yang baru saja mereka lihat. Tapi saat menyaksikan sendiri bahwa tangan pemuda yang berada di atas meja itu masih berlumur darah, mereka langsung sadar bahwa itu memang benar-benar terjadi.
"Bruu...k!"
Suara ambruknya tubuh pendekar suci yang mati berdiri itu, langsung menyadarkan mereka semua dari keterkejutan.
"Sial! ... Apa-apaan ini!"
Seketika semuanya bersiaga. Mereka langsung memasang kuda-kuda. Tidak bisa mengukur kekuatan pemuda tersebut, membuat naluri mereka langsung mengingatkan untuk tidak bertindak gegabah.
Arya langsung menoleh pada salah satu pendekar yang baru saja bersuara. "Kau? Mengenal Natungga? Atau Cokropati?"
"Hei! Kelang? ... Kau menjebak kami?!"
Tiba-tiba seorang pendekar sepuh menatap Kelang dengan wajah memerah. Merasa bahwa situasi itu terjadi karena Kelang telah menjebak mereka.
Kelang tersentak, karena baru saja fikirannya tiba-tiba terasa kosong. Dia baru teringat bahwa saat pertama kali bertemu dengan Arya, pemuda tersebut sama sekali tidak terpengaruh dengan Aura pembunuh yang di lepasnya.
Teriak Kelang panik. Meski saat ini dia sudah mencapai level pendekar suci tingkat empat, tapi dia sama sekali tidak bisa mengukur kekuatan Arya.
Meski hal itu terasa sangat tidak wajar, tapi melihat bagaimana tenangnya pemuda itu, tentu saja hal tersebut bukti bahwa dia sangat kuat.
Melihat Kelang yang sama terkejutnya dengan mereka, semua pendekar di sana langsung waspada. Dengan sigap mereka langsung melepaskan aura pembunuh.
Namun, secepat itu pula mereka menyadari bahwa pemuda di atas meja tersebut sama sekali tidak terintimidasi.
"Tidak mungkin... ! Si-siapa dia sebenarnya?!"
Dengan tergugup, Nyai Ruka berseru histeris. Naluri bertahan hidupnya tiba-tiba meneriakkan tanda bahaya.
Arya mengedarkan pandangan kesekelilingnya. Setiap mata yang bersitatap dengannya langsung merasa gugup.
"Bukankah kalian adalah orang-orang kuat yang akan menaklukkan Daratan ini? Kenapa kalian hanya diam saja? Bukankah sekarang waktu yang tepat untuk menyerangku?"
Bahkan Kelang sendiripun tidak bergerak dari tempatnya. Meski tangannya sudah berada di gagang pedangnya, entah kenapa hatinya berteriak agar tidak melakukan apapun.
Seolah jika dia bergerak sedikit saja. Maka, kematian akan segera menjemputnya.
"Kelang... Kenapa kau diam saja. Lakukan sesuatu!"
Teriakan panik ketakutan terdengar di belakang Arya. Saat dia berbalik, pendekar itu langsung memalingkan wajah.
"Kalian tau? Aku sebenarnya tidak ingin membunuh orang dari bangsaku sendiri. Bahkan aku sama sekali tidak ingin membunuh manusia. Tapi, jika aku fikirkan kembali, orang-orang seperti kalian ini, jika di biarkan hidup. Kedepan kalian hanya akan membuat orang lain menderita."
Kata-kata Arya itu telah menjelaskan segalanya. Kini mereka tau bahwa sejak awal mereka telah berada didekat seseorang yang sangat berbahaya.
Tak terbayangkan oleh mereka bahwa di level kependekaran mereka yang sudah berada level pendekar suci, baru kali ini mereka bertemu dengan seseorang yang bahkan tidak memiliki tenaga dalam, dan anehnya, itu terasa sangat menakutkan.
"Kalian bisa menyalahkan Ki Kelang, jika kalian mati hari ini. Karena keberadaan sektenyalah kalian akan mati dengan cara yang paling mengerikan."
"Apa maksudmu?. Dan sebenarnya siapa dirimu?!" Kelang teriak protes, seolah tak terima dengan tuduhan itu.
"Aku Arya ... Arya Mahesa! Putra Natungga. Pendekar dari Sekte Singa Emas. Seseorang yang seharusnya masih hidup sampai saat ini. Tapi, demi melindungiku. Tak hanya dia, bahkan seluruh keluargaku harus mati oleh Kudra, bukankah orang itu berasal dari Sekte ini?!"
Mata Kelang langsung terbelalak. Sekelebat ingatan tentang masa lalu, langsung menghujani kepalanya.
"Jika begitu ... Kudra ... Pasti ... Wiratama ... Tubuh."
Kata-kata Kelang tidak tersusun dengan baik. Itu karena kepalanya sedang bekerja sangat cepat mecerna ingatan acak untuk mencari penjelasan keberadaan sosok pemuda yang kini berada di depannya ini.
"Ya. Aku anak itu!"
Terjawab sudah. Jika begitu, Kelang langsung mengerti. Karena saat Wiratama menjelaskan tentang sebuah tubuh yang sangat kuat, itu menjurus pada tubuh seorang anak dan anak itu kebetulan adalah salah satu dari anak Natungga. Orang terkuat di Basaka saat itu.
Tubuh Spasial. Jika pemiliknya berhasil hidup, maka dia akan memiliki kekuatan yang mengerikan. Itu saja yang bisa dia simpulkan saat ini.
"Semuanya ... Anak ini sangat berbahaya. Kita harus mengerahkan seluruh kemampuan kita untuk membunuhnya... "
Kelang berteriak mengingatkan semuanya. Tidak mungkin bisa selamat jika tidak berusaha sekeras mungkin saat ini.
Meski tidak mengerti kenapa Kelang bisa berteriak histeris seperti itu, tapi mereka sadar bahwa itu adalah tindakan yang paling tepat saat ini.
Namun, saat mereka bersiap menyerang bersama dengan sekuat tenaga, kejadian lainnya langsung menghancurkan keinginan bertarung mereka seketika.
"Kosha...!"
"Jurus Pertama ... Gerbang Cakra!"
*****
Hello,
MOONMARVEL di sini.
Terimakasih sudah terus mengikuti cerita ini, Ya!
Dan terimakasih juga untuk kalian yang sudah memberikan Like dan Vote pada ceritaku ini. itu benar-benar sangat berarti buatku.
Rate dengan memberikan Bintang Lima pada kiri tampilan awal Cerita, tidak di pungut Biaya lho. jika kalian berkenan, aku sangat menghargai jika kalian mau meluangkan sedikit waktu untuk memberikan cerita ARYA MAHESA ini, Rate dengan 5 bintang.
Begitu juga dengan Vote. mungkin bagi kalian itu bukan hal yang besar. Tapi, bagi penulis amatir sepertiku ini, itu sangat berarti dan memberikanku semangat untuk terus menulis.
LIKE dan Komentar, kritik dan sarannya juga akan membantuku untuk terus mengembangkan cerita ini agar kedepan akan semakin lebih baik lagi.
TAPI, APAPUN ITU, TERIMAKASIH ATAS SEGALA BENTUK DUKUNGANNYA.
IKUTI TERUS CERITA ARYA MAHESA HINGGA AKHIR YA!.
M.M