ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Penjinak Siluman.


Darya tersadar dari pingsannya. Sebelumnya dia merasa bermimpi telah melihat siluman di vila yang sering dia lalui untuk mengendap-endap untuk keluar dari kediamannya.


Seorang pelayan mencoba mengingatkannya untuk tidak keluar lagi, apalagi sendiri. Karena, beberapa waktu yang lalu dirinya ditemukan pingsan oleh seseorang yang sedang menjadi tamu kehormatan yang kini sedang berada di vila utama bersama Kakeknya.


Mendengar perkataan pelayan tersebut, sontak membuat Darya terkejut. Ternyata siluman itu bukan di mimpinya tapi ternyata itu adalah sebuah kenyataan. Darya langsung terpekik histeris. Siluman yang dia lihat itu, jauh lebih menyeramkan daripada makhluk apapun yang pernah dia lihat seumur hidupnya.


Tarim Saka dan beberapa petinggi Sekte Awan Senja berlari menuju vila milik Darya. Mereka merasa sesuatu yang buruk sedang terjadi. Saat mendekati vila tersebut, mereka bisa mendengar teriakan histeris dari seorang gadis. Sudah bisa di pastikan bahwa gadis itu adalah Darya.


Saat sesampainya di sana, Tarim Saka langsung masuk ke dalam. Sementara Arya dan yang lainnya menunggu di depan vila tersebut.


Di dalam, Tarim Saka mendapati cucunya sedang berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Beberapa pelayan wanita mencoba menenangkannya.


Tarim Saka menatap Darya dengan rasa iba. Kesehatan cucunya tersebut semakin memburuk semenjak kedua orangtua nya meninggal dunia.


" Darya? "


Tarim Saka mencoba mamanggil nama cucunya itu.


" Kakek! "


Darya langsung memberontak memaksa agar keempat pelayan yang mencoba menenangkannya itu untuk melepaskannya. Ke empat pelayan itu menatap Tarim Saka seolah menunggu perintah.


Dengan sekali anggukan dari Tarim Saka, mereka pun langsung melepaskan Darya.


Tarim Saka menyambut Darya yang berlari menghambur padanya.


" Kakek! Kakek! , aku melihat siluman! " Darya histeris memberitahu Tarim Saka tentang apa yang membuatnya seperti itu.


" Siluman? "


" Ya!  Aku sungguh melihatnya "


" Di mana? "


Darya menunjuk arah vila yang di sediakan untuk Arya. " Di sana! Di vila yang kosong itu! "


Tarim Saka sudah terbiasa dengan keanehan cucunya tersebut. Jika memang ada siluman di sini, dia pasti bisa merasakannya. Tapi, untuk membuat cucunya tersebut tenang, dia berpura-pura bertanya.


" Benarkah? Siluman apa yang kau lihat? "


" Siluman Kera dan Srigala! Mereka sangat besar, Kek! Juga sangat menyeramkan! "


Mengingat arah yang ditunjuk oleh Darya adalah vila yang di tawarkannya untum Arya menginap, Tarim Saka langsung mengingat anjing dan Kera yang di bawa Arya.


Tarim Saka memduga kedua binatang itulah yang di anggap siluman oleh Darya " Hmm ... Aku rasa kau benar. Sekarang di sana memang sedang ada dua siluman! "


Darya terdiam sejenak lalu menatap Tarim Saka. " Kakek mempercayaiku? "


" Tentu saja aku mempercayaimu. Siluman-siluman itu adalah peliharaan seseorang dan mereka tidak berbahaya. Bahkan, aku yang mengundang mereka ke sini " Jawab Tarim Saka meyakinkan Darya.


Darya mengernyit heran. Dia yakin dua siluman itu sangat besar dan menyeramkan. Dan kakeknya baru saja mengatakan bahwa siluman itu merupakan peliharaan seseorang. Bahkan kakeknya sendiri mengatakan bahwa dirinya sendirilah yang mengundang orang itu dan siluman peliharaannya ke Sekte Awan Senja.


" Seseorang menjadikan siluman peliharaannya? " tanya Darya bingung.


Tarim Saka tersenyum. Ternyata membuat Darya tenang tidak sesulit sebelumnya. " Jika kau tidak percaya, aku bisa memanggil orang itu kesini. Sekarang, dia ada di depan vila ini "


Darya memang menunjukkan wajah yang tidak percaya " Jika benar begitu, bukankah berarti dia orang yang sangat hebat? "


" Hahaha! Ya, dia adalah pendekar yang sangat hebat. Bahkan jauh lebih hebat daripada kakek dan semua pendekar-pendekar Awan Senja! "


Rasa penasaran Darya tergelitik. Dia melupakan ketakutannya yang tadi begitu saja. Sejak tubuhnya melemah dan sering tak sadarkan diri, Kakeknya memutuskan untuk melarang Darya keluar dari vilanya, kecuali dengan kakeknya.


" Maukah kakek mengenalkanku padanya? Aku sangat penasaran dengan pendekar yang bisa menjinakkan siluman yang sangat menyeramkan itu. "


Mata Darya berbinar. Tentu saja mengenal orang yang sangat hebat begitu menarik minatnya. Sejak kecil Darya ingin menjadi pendekar yang sangat hebat. Bahkan dulu cita-citanya adalah menjadi ketua Sekte Awan Senja wanita pertama sepanjang sejarah.


Akan tetapi, tentu saja itu tidak munkin terjadi. Bukan karena Sekte Awan Senja melarang wanita menjadi pendekar. Darya terlahir dengan tubuh yang lemah dan sering sakit-sakitan. Jadi tidak memungkinkan baginya untuk belajar ilmu beladiri. Apa lagi sejak kedua orang tuanya meninggal, tubuh lemah Darya sering kehilangan kesadarannya.


Tarim Saka kembali masuk dengan membawa seseorang. Saat melihat orang itu untuk pertama kalinya, matanya langsung melebar. Bukan karena ketampanan pemuda tersebut. Tapi, karena dia adalah seorang pemuda.


Darya berfikir bahwa orang yang akan dibawa oleh Kakeknya, setidaknya berumur sama atau lebih dari kakeknya tersebut. Darya tau, untuk menjadi pendekar yang hebat butuh puluhan tahun. Saat kakeknya mengatakan orang itu jauh lebih hebat, tentu saja Darya membayangkan kakeknya akan datang dengan seorang yang sudah sangat sepuh.


" Darya, ini Arya. Dia lebih tua tiga tahun darimu " Tarim Saka mengenalkan Darya cucunya pada Arya.


" Perkenalkan, nama ku Darya. Aku tidak mewarisi nama Tarim karena aku belum menjadi ketua. Tapi aku adalah cucu Ketua Sekte Awan Senja ini " Darya memperkenalkan dirinya dengan bangga.


" Seperti kata Kakek Saka, namaku, Arya! " kata Arya singkat tanpa membawa embel-embel keluarganya ataupun Sektenya.


" Kakak Pendekar, berasal dari Sekte apa? "


" Hmm ... Aku ... Aku— "


" Hahaha! Darya, cukup untuk hari ini. Nak Arya baru saja membantu sekte kita menumpas Kelabang Hitam seorang diri. Kau bisa melanjutkannya besok. Nak Arya pasti sangat lelah, sebaiknya kita membiarkannya beristirahat " Tarim Saka memotong perkataan Arya, karena dari cara Arya yang tidak langsung menyebutkan nama sektenya, Ketua Sekte Awan Senja tersebut mengerti jika Arya enggan membawa-bawa nama besar sektenya.


Bahkan bagi Tarim Saka sendiri, Arya tidak membutuhkan nama sektenya untuk menunjukkan kehebatannya. Karena, dirinya memang sudah sangat hebat tanpa sekte sekalipun.


" Oh baiklah, tapi kakek harus berjanji, Aku boleh bertemu dengan Kak Arya esok! " tuntut Darya pada Kakeknya.


" Hahahaha! Kalau itu, kau harus menanyakannya sendiri. Aku tidak bisa menjanjikan hal tersebut padamu! "


Walaupun Tarim Saka terlihat berbasa basi. Namun, dia sebenarnya memang tidak berani menjanjikan hal tersebut pada cucunya itu. Bisa saja itu membuat Arya tidak senang. Itu bukan hal yang di inginkannya saat ini.


Mendengar perkataan kakeknya tersebut, Darya tidak mau membuang kesempatan berharga ini begitu saja. " Kak Arya, maukah kak Arya mengenalkan aku dengan siluman Kera dan Srigala yang aku lihat tadi? " pintanya dengan wajah penuh harap.


Mata Arya melebar, ternyata dugaannya salah. Gadis ini benar-benar telah melihat Rewanda dan Krama dalam wujud aslinya. " Kau ingin mengenal mereka? " tanya Arya heran. Gadis ini tidak takut sama sekali denga Rewanda dan Krama.


" Ya, bolehkah " tanya Darya sudah seperti memohon.


Arya berfikir sejenak. Menimbang bagaimana jika orang-orang sekte Awan Senja salah mengira bahwa Rewanda dan Krama memang siluman dan menganggapnya berbahaya. Tapi karna gadis ini telah melihatnya, Arya rasa itu tidak masalah.


" Baiklah, tapi dengan satu syarat! "


" Apa itu? "


" Hanya kau yang boleh berkenalan dengan mereka. "


" kenapa? "


" Kau sudah melihat betapa menyeramkannya mereka bukan? Aku takut yang lainnya menjadi ketakutan " kata Arya jujur.


Darya berfikir tentu saja orang-orang akan takut begitu melihat Siluman Kera dan Srigala itu " Baiklah, aku setuju "


" Hahahaha!  Jika begitu, aku akan memastikan, besok hanya kau yang boleh berkenalan dengan kedua siluman yang sangat menyeramkan itu " Tarim Saka mengira Arya sama seperti dirinya. Mencoba menyenangkan hati Darya.


Rasa kagum Tarim Saka dengan Arya semakin bertambah. Kuat dan berbudi luhur. Sekarang, sangat bijaksana. Benar-benar seorang pendekar muda yang sangat hebat.


Setelah meninggalkan vila Darya, Arya sempat bercerita sebentar dengan beberapa orang yang lainnya. Karena malam sudah larut, Akhirnya Tarim Saka menawarkan Arya untuk segera beristirahat.


" Baiklah, aku rasa malam ini sudah cukup. Kita harus membiarkan nak Arya beristirahat " Sulit bagi Tarim Saka untuk menghentikan saat semua sepuh dari sektenya berusaha mengakrabkan diri pada Arya.


Meski kelihatan masih ingin terus berbincang dengan Arya, dengan berat hati mereka mengikuti kata-kata Tarim Saka dan segera berpamitan pulang.


Pulang ke vila, lagi-lagi Arya dikawal oleh dua orang pendekar yang sama saat menjemputnya. Namun, kali ini mereka berjalan dengan bangga di belakang Arya. Mereka merasa bahwa merekalah orang yang paling cocok mengemban tugas ini.


" Aku rasa, ada yang aneh dengan gadis itu! " Amia tiba-tiba bersuara.