
"Elemen Udara?!"
Sontak keduanya berseru. Tentu saja begitu. Pasalnya, Ciel akan sangat senang jika mengetahui bahwa dia bisa mengendalikan salah satu elemen.
Luna sangat mengetahui hal tersebut. Itu karena, sejak saat keduanya masih kecil, adiknya.itu sangat ingin bisa menguasai salah satu elemen saja. Apapun itu.
Akan tetapi, secara mengejutkan Ciel tidak mengatakan apapun padanya terkait hal tersebut. Bahkan, pada kenyataannya Arya lebih dahulu tau daripada dirinya.
"Ya, dia memiliki elemen tersebut. Hanya saja, pusat energi elemen milik Ciel sebelumnya sangat kecil. Hingga dia sendiri tidak yakin bahwa dia benar-benar memilikinya, karena itu adalah emen udara."
Apa. Yang dikatakan Arya masuk akal. Itu karena energi dari elemen udara sedikit berbeda. Jika elemen lainnya memiliki kepadatan konsentrasi, namun elemen udara tidak seperti itu.
Ciel mungkin bisa sedikit melihat, tapi karena begitu kecilnya, dia jadi tidak yakin apakah dia benar-benar memilikinya.
Pemasaran, Luna langsung bertanya. "Arya, katakan ... Sejak kapan kau menyadarinya?"
Arya tampak berfikir sejenak, seolah mencoba mengingat kapan dia mulai menyadari hal tersebut. Lalu, beberapa saat kemudian diaberkata.
"Aku rasa, sejak pertama kali kalian berdua mengaktifkan Bahuraksa ... "
Mendengar itu, Luna langsung terdiam. Dia tidak mungkin lupa hari dimana dia untuk pertama kali mengangkat pedang itu.
Karena hari itu adalah hari dimana dia dan Ciel menjadi yakin bahwa mereka berdua adalah keturunan Hellion Smith, sang empu dari pedang yang bahkan lebih kuat dari sembilan senjata pusaka dunia itu.
Akan tetapi, mendengar fakta bahwa Arya telah mengetahui Ciel memiliki pusat energi elemen udara sejak saat itu dan tidak memberitahunya, sedikit membuatnya kesal.
Namun, saat Luna ingin melayangkan protesnya, tiba-tiba Bai Hua bersuara.
"Bukankah elemen udara sangat cocok dengan teknik bertarung gadis itu?"
Perhatian Luna langsung teralihkan. Karena apa yang dikatakan oleh Bai Hua memang benar.
Ciel, memang bisa menggunakan banyak senjata. Akan tetapi, untuk memaksimalkan kekuatan matanya, gadis itu memiliki kecenderungan menggunakan senjata jarak jauh, seperti senjata lontar dan panah.
Dengan kekuatan matanya, gadis itu menjadi sangat mengerikan. Akan tetapi, selama ini, kekuatan itu memiliki sedikit kelemahan, yaitu angin.
Perlu usaha dan sedikit penyesuaian agar apapun yang dia tembakkan bisa mengenai Tepat pada target yang sudah dikunci oleh matanya.
Namun, saat Ciel mampu mengendalikan elemen udara, maka kekuatan gadis itu bisa dikatakan akan sempurna. Udara yang selama ini menjadi musuhnya, akan berubah menjadi sesuatu penunjang lain dari teknik dan kekuatannya saat bertarung.
"Ya, tentu saja saat ini elemen itu sangat cocok dengannya. Akan tetapi, menurutku, Kelemahan Ciel, justru adalah matanya ... "
Kata-kata itu di ucapkan Arya seolah bukan apa-apa. Namun demikian, reaksi yang berlawanan langsung ditunjukkan Luna dan Bai Hua.
Bagaimanapun, keduanya bahkan Ciel sendiri pasti berpendapat sama. Dari semua keahlian yang gadis itu miliki, matanyalah yang paling berbahaya.
Bahkan sampai saat ini, keduanya belum pernah melihat orang lain memiliki kekuatan mata, seperti yang dimiliki gadis yang barus saja meninggalkan mereka, dengan hanya satu lompatan jauh tersebut.
Tidak Luna, tapi Bai Hua yang langsung melayangkan protesnya.
"Senior, bukankah itu terdengar aneh? Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa mata gadis itulah kelemahannya?"
Tanpa sadar, Luna mengangguk kuat dan langsung menoleh pada Arya. "Ya, kali ini aku yakin kau salah ... "
Arya menggelengkan kepalanya, lalu menjawab keduanya. "Entahlah, mungkin saja aku salah. Tapi, aku yakin kekuatan Ciel bukanlah matanya ... "
Jika yang berkata bukan Arya, mungkin keduanya akan berhenti dan memukuli pemuda yang berlari di antara mereka itu.
Akan tetapi, sampai saat ini, mereka terlalu mempercayai Arya melebihi diri mereka sendiri. Entah kenapa, apa yang dikatakan pemuda itu, Meskipun belum terbukti kebenarannya, naluri mereka memilih untuk mempercayainya.
"Yah, terserah ... Lagipula, apa bedanya. Aku sangat senang karena akhirnya, dia memiliki sesuatu yang telah lama dia impikan."
Arya dan Bai Hua hanya tersenyum saat mendengar kata-kata Luna. Lalu ketiganya melihat ke arah di mana Ciel tadi melompat.
Sebenarnya, beberapa saat yang lalu, lebih dari Luna dan Bai Hua, Ciel tidak kalah terkejutnya.
Rasa takutnya pada Luna, tiba-tiba saja membuatnya memusatkan tenaga dalam pada kakinya melebihi apa yang biasa dia lakukan. Hasilnya, secara naluri dia menembakkan udara yang ada di bawah sana yang membuat lompatannya ratusan kali melebihi apa yang dia perkirakan.
Tentu saja Ciel sudah mengetahui bahwa dia memiliki elemen udara. Namun, tidak banyak yang di katakan Arya tentang hal itu sebelumnya.
"Sial ... Bagaimana caranya aku turun ... "
Belum selesai keterkejutannya, Ciel mendapati dirinya dalam kecepatan tinggi, melesat kebawah.
"Oh tidak, tidak ... Ini tidak baik ... Sial!"
Panik, Ciel tidak berhasil mengumpulkan tenaga dalam yang cukup di kakinya untuk membuat dirinya mampu mengendalikan udara di sana. Akhirnya, dengan mengalirkan banyak tenaga dalam pada seluruh tubuhnya, dia menerima nasibnya dan membiarkan tubuhnya membentur gundukan tanah di bawah sana.
"Booom ... !"
Beruntung, kekuatan serta daya tahan tubuhnya sudah jauh berkembang terlebih dahulu. Jadi, saat benturan keras yang menyebabkan ledakan yang menghancurkan gundukan tanah yang cukup keras itu terjadi, bisa dikatakan bahwa gadis itu tidak terluka sedikitpun.
"Yah, akan sangat menyenangkan jika aku bisa langsung menguasainya. Tapi, sepertinya semuanya tidak semudah itu."
Cuel hanya busa bergumam pasrah, dan lekas berdiri. Namun, saat ini sebuah kepercayaan diri muncul dari dalam dirinya.
Setidaknya, sekarang dia sudah mengetahui bagaimana cara kerjanya. Dan dalam hal itu, jauh di dalam hatinya, dia berterimakasih pada kakaknya Luna, karena dengan secara tidak sengaja telah mengajarinya sesuatu tentang bagaimana cara memanfaatkan tenaga dalam serta elemen yang di milikinya itu.
Ciel memusatkan konsentrasi. Lalu, dia mengalirkan tenaga dalam yang cukup besar pada kedua kakinya. Tak lama, energi dari elemen udara mulai terkonsentrasi di sana.
Dengan sedikit senyuman di wajahnya, Ciel membulatkan tekadnya. Lalu bergumam.
"Kakak, teriamakasih ... "
"Boooom ... "
Satu hentakan dari kedua kaki gadis itu, sukses membuatnya melompat lebih tinggi dan lebih jauh dari sebelumnya.
Namun, beberapa setelah dia merasakan bahwa tubuhnya kembali turun dengan kecepatan tinggi, sebuah senyuman lain lagi tersungging dinwajahnya.
"Bom ... "
...
"Bom ... "
...
"Bom ... "
Kali ini, tubuh Ciel tidak membentur tanah seperti tadi. Suara itu berasal konsentrasi udara yang terpadat kan dari masing-masing kakinya.
Ciel membuat tembakan udara cepat, yang memberhentikan momentum kejatuhannya, dan membuatnya tetap di udara.
Dengan tembakan bergantian dari kedua kakinya, Ciel mulai melangkah sangat lebar dalam kecepatan tinggi.
"Woooooooo ... Hooooo ... "
Tanpa sengaja, dia mengikuti bagaimana cara Rewanda berteriak, saat menyadari bahwa dengan kekuatannya saat ini, dia mampu berlari di udara.
"Ya, seperti ini ... Hahahahahha ... "
Gadis itu berteriak senang, sebelum mengumpulkan tenaga dalam lebih besar, yang membuat ledakan udara lebih besar pula.
"Boooom ... "
"Wooooo ... Hoooooo ... "
Satu Lompatan tinggi dan jauh, membawa gadis itu menghilang di sebalik awan.
Jauh di bawah sana, ratusan pendekar yang tengah berjaga, telah mendengar beberapa dentuman kecil sebelumnya.
Namun kali ini, mereka mendengar suara lainnya. Penasaran, mereka melihat ke langit, karena yakin dari sanalah asal suara itu.
Baru saja mereka mencoba memastikan, sesuatu meluncur dengan sangat cepat dan mendarat dengan sangat kuat membentur tanah ditengah-tengah mereka.
"Boooooom ... "