
"Apa ... ?!"
Tidak hanya Citra Ayu saja. Bahkan Ketiga gadis itu lainnya sama terkejutnya.
Mereka tidak habis fikir, bagaimana Arya bisa mengatakan hal itu sekarang.
Mereka memiliki masalah waktu. Dan semua ini bermula karena Citra Ayu memakan makanan yang memicu pusat energi element logamnya.
Butuh banyak waktu bagi tubuh citra Ayu untuk bisa bangkit dan mendapatkan kekuatan agar bisa kembali sadar, setelah melakukan penggatian unsur darah.
Sekarang, Arya mengatakan bahwa ini waktu yang tepat bagi gadis itu untuk menyerap serbuk Bayam Tiga Jari.
Arya memundurkan sedikit kepalanya karena terkejut atas teriakan keempat gadis di depannya itu.
"Kenapa kalian terkejut begitu?"
"Tu-tu-tuan ... Muda. Aku ... Aku ... Maksudku ... Begini ... Tubuhku ... "
Luna tau bahwa perubahan cara bicara Citra Ayu itu, menandakan betapa terkejutnya gadis itu. Seperti biasanya, dia bisa langsung bisa menguasai situasi seperti ini.
"Arya, bukankah kau memgatakan bahwa saat ini kekuatan Citra Ayu sangat kita butuhkan? ... Jadi, bukankah sebaiknya kita menunda proses terakhir pemulihan tubuhnya?"
Citra Ayu mengangguk pada Luna dengan cepat. Karena selain sedikit takut, memang itulah yang sedang dia fikirkan.
Dia tidak mau lagi menjadi beban, apalagi jika apa yang dikatakan Arya memang benar, bahwa saat ini tenaganya sangat dibutuhkan.
"Senior ... Aku rasa apa yang dikatakan oleh Luna ada benarnya."
Diantara semua gadis di sana. Hanya Ciel yang masih terus mengunyah. Sepertinya dendamnya pada Siluman itu mengakibatkan dia ingin terus melahap sampai dirinya benar-benar puas.
Menanggapi reaksi mereka, Arya menggelengkan kepalanya. "Tidak, sekarang kondisi Citra Ayu sudah berbeda. Itu kenapa aku memilih untuk menggunakan metode pergantian unsur tanah terlebih dahulu pada tubuhnya. Sekarang, sepertinya tidak akan sulit baginya untuk menyelesaikan semua proses dari penyerapan itu."
Setelah mengatakan hal tersebut. Semua orang langsung terdiam. Sementara Arya mengeluarkan sesuatu dari lingkar udara, dimana dia menyimpan serbuk tersebut.
Citra Ayu hanya bisa menelan ludah saat melihat Arya. Namun, beberapa saat kemudian, muncul perasaan asing di pikirannya.
"Jadi ... Itu ... Itu ... "
Citra Ayu kembali tergagap. Kali ini bukan karena takut. Akan tetapi, saat Arya semakin mendekatkan benda itu padanya, putri dari Sultan Karpatandanu itu, bisa merasakan bahwa pusat energinya sedang bereaksi.
Sambil tersenyum Arya meyakinkan dirinya "Seperti yang aku duga. Benda ini bereaksi ... Tidak, ... Hmm ... Sepertinya, kau dan benda ini benar-benar bereaksi saat begitu dekat."
"Bagaimana bisa?!"
Ciel yang sejak tadi tidak ikut bicara, kini melayangkan pertanyaan atas rasa penasarannya. Karena, semua orang tau bahwa Bayam Tiga Jari adalah tumbuhan.
Jadi, bagaimana mungkin tumbuhan bisa bereaksi terhadap pusat elemen manusia.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya. Bayam tiga Jari bisa Hidup hanya dengan menyerap energi dari elemen Logam saja."
Saat ini, mereka bisa menyimpulkan bahwa Bayam Tiga Jari adalah energi Logam yang telah melalui proses panjang dan tersaring melalui batang pohonnya, lalu terpadatkan selama ribuan tahun.
Dengan kata lain, di depan mereka saat ini. Adalah bentuk lain dari energi elemen logam murni, yang sudah melewati satu lagi proses penghalusan yang di lakukan Arya dan dua iblis langit lainnya.
"Apa yang akan terjadi padaku, jika aku menyerapnya sekarang? ... "
Itulah pertanyaan yang melintas di kepala Citra Ayu saat Arya menjelaskan tentang Bayam Tiga Jari itu.
Mendengar pertanyaan Citra Ayu, Arya hanya bisa menghela nafas panjang, lalu melepasnya. Sambil menggelengkan kepala, Arya menjawab.
"Jujur saja, sebenarnya aku tidak tau bagaimana cara kerjanya saat kau berhasil menyerapnya. Akan tetapi, aku bisa memastikan, saat ini, tubuhmu mampu menahan apapun resiko yang akan terjadi."
Seperti biasanya, Arya hanya mengetahui hal melalui informasi dari buku-buku yang ditinggalkan Obskura, dan dari hasil observasinya sendiri.
Namun begitu, kali ini Arya tampak yakin bahwa apapun itu, Tubuh Citra Ayu akan mampu menahannya.
Hanya saja, dia tidak tau bagaimana reaksi tubuh Citra Ayu setelahnya, atau apa dampak Bayam Tiga Jari jika tubuh Citra Ayu benar-benar bisa menyerap dengan sempurna, atau sebaliknya.
Sama seperti ketiganya, Citra Ayu sangat mempercayai Arya. Bagaimanapun, dia masih bisa hidup sampai saat ini, adalah karena kerja keras semua orang disana terlebih pemuda itu.
Dengan tanpa fikir panjang lagi, Citra Ayu langsung berdiri. Hanya saja, saat itu tiga gadis lainnya melihatnya dengan keheranan.
"Citra Ayu ... Apa yang kau lakukan."
"Nona Luna, Bukankah sudah jelas ... Seperti kata Tuan muda, aku harus menyerap serbuk itu."
Tentu saja semua orang menyimak semua kata-kata Arya itu. Namun masalahnya, mereka tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Citra Ayu saat ini.
"Tentu saja kami semua mendengarnya dengan sangat jelas. Tapi, kenapa kau terlihat seperti ingin membuka pakaianmu? ... "
Saat itu juga, Citra Ayu menghentikan pergerakannya. Mata gadis itu melebar, dan pikirannya tiba-tiba menjadi kacau.
Cara Arya menyembuhkannya sebelumnya, menuntut agar dirinya melepas pakaian hingga tidak ada sehelai benangpun yang menutupi dirinya.
Itu kenapa saat Arya mengatakan bahwa sekarang saatnya untuk dirinya menyerap Serbuk Bayam Tiga Jari sebagai proses terakhir pemulihan tenaga dalamnya, Citra Ayu secara naluri berpikir bahwa dia harus membuka bajunya.
Akan tetapi, jika dipikirkan kembali. Arya sama sekali belum mengatakan bagaimana atau seperti apa metode yang akan dilakukannya untuk menyerap Serbuk Bayam Tiga Jari itu.
Wajah Citra Ayu memerah saat melihat ketiga gadis itu menatapnya sambil menahan tawa.
"Nona Citra Ayu ... Apa kau tidak mempermasalahkan lagi, jika Senior me ... Hmm ... Itu "
Wajah Citra Ayu semakin memerah saat melihat Bai Hua menunjuk ke arahnya. Tepatnya, sekarang gadis itu menunjuk ke arah dadanya.
Reflek gadis tersebut menyilangkan kedua tangan di dada, dan langsung menoleh pada Arya.
"Tuan Muda ... Apakah ... Tidak, tidak ... Maksudku ... Ba-bagaimana caranya ... Serbuk itu ... Aku ... "
Melihat tingkah Citra Ayu dan tiga gadis lainnya itu, Arya mengernyitkan keningnya. Meski tidak terlalu mengerti apa yang membuat Wajah Citra Ayu memerah, tapi Arya sangat yakin bahwa mereka sedang mempermainkan Citra Ayu.
Arya hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat kejadian tersebut. Arya sudah terbiasa dengan ketiganya. Akan tetapi menurut Arya, mungkin Citra Ayu perlu waktu untuk menyesuaikan diri.
Jadi, Arya berniat untuk menyelamatkan Citra Ayu yang terlihat sangat malu itu.
"Kenapa kalian terlihat sangat yakin apa yang dilakukan Citra Ayu, salah?"
Saat Arya mengatakan hal tersebut, ketiganya langsung terdiam. Karena sama seperti Citra Ayu, mereka juga tidak tau metode seperti apa yang akan di ajarkan Arya pada Citra Ayu gunakan menyerap energi Logam murni pada Bayam Tiga Jari itu.
"Itu ... Bukankah, maksud kami ... Menyerap, tidak harus ... "
Melihat Bai Hua yang tergagap, Arya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia menatap kedua gadis lainnya yang kini juga terlihat malu.
Sekarang ketiganya berpikir bahwa, Bisa Saja selama perjalanan mereka ke tempat ini, Arya sudah mengatakan pada Citra Ayu bagaimana proses penyerapan tersebut.
Melihat ketiganya terdiam, Arya menoleh pada Citra Ayu. Sekarang, Arya yakin bahwa Wajah gadis itu tidak lagi merah karena malu seperti tadi.
Citra Ayu sangat senang karena Arya mengatakan bahwa dirinya tidak salah. Akan tetapi, untuk memastikan agar tidak terjadi hal yang memalukan seperti tadi, dengan sedikit malu, Citra Ayu memilih bertanya.
"Tuan Muda, apa aku harus membuka pakaianku seluruhnya?"
Arya menganggukan kepalanya. "Kau bisa melakukannya, terserah padamu."
Mendengar kata-kata Arya, Citra Ayu mengernyitkan dahinya. "Tuan Muda, apa maksudnya terserah padaku?"
Menanggapi itu, dengan nada bicara sangat meyakinkan, Arya berkata.
"Untuk menyerap Energi Bayam Tiga Jari, kau hanya perlu memasukkan serbuk ini ke mulutmu dan menelannya. Tapi, jika kau lebih suka melakukannya tanpa pakaian, itu tidak masalah."
Setelah Arya mengatakan hal itu, tiba-tiba saja suasana di sana menjadi hening seketika.
"Hahahahahha ... "
"Hahahhaa ... "
"Arya ... Kau, hahahhahaha ... "
Ledakan tawa dari ketiganya benar-benar memecah keheningan yang terjadi sekitar dua detik tersebut.
Tentu saja hal itu membuat Arya terkejut. Karena, reaksi ketiganya ini diluar apa yang dipikirkannya.
Sementara itu, saat dia berbalik kembali melihat Citra Ayu, kali ini Arya mendapati wajah gadis itu jauh lebih merah daripada sebelumnya.
"Arya, kau benar-benar memiliki selera humor, paling kejam ... Hahahhaha ... "