ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Hukum


" Apa?! Bahu apa?! "


" Bahuraksa! " jawab Arya lagi " cuma satu kata itu saja yang tertulis di sana "


Luna dan Ciel kembali saling berpandangan lalu menoleh pada Arya serentak.


" Di mana Kitab Itu?! "


" Seperti apa Kitab itu?! "


Keduanya lagi-lagi histeris bertanya bersamaan.


Arya sedikit terkejut. " Oh,  soal itu " Arya berpikir, Kitab itu selalu dia bawa. Tapi, menunjukkannya sekarang sepertinya sekarang bukan pilihan yang bijak. Bisa saja keduanya lebih terkejut lagi saat Arya membuka lingkar dimensi untuk mengeluarkan kitab itu dari sana. " Nanti aku akan menunjukkannya pada kalian "


" Kenapa nanti?! Kami ingin melihatnya! " protes Ciel penasaran.


Arya memang sedikit kesulitan menghadapi Ciel yang memiliki sifat seperti itu. " Nanti aku akan membawanya dan akan menunjukkannya pada kalian, bagaimana? "


" Arya, mengertilah. Setelah semua yang kami lewati, kami sangat berharap memiliki petunjuk tentang kenapa ayah kami ingin sekali sampai ke Daratan Ini. Kitab yang kau bilang itu, pasti ada hubungannya "


" Baiklah! Sebaiknya kalian tidak terkejut. Aku akan— "


" Tok! Tok! Tok! Tok! Tok! Tok! "


" Tok! Tok! Tok! Tok! Tok! Tok! "


" Tok! Tok! Tok! Tok! Tok! Tok! "


Kata-kata Arya terpotong oleh suara gedoran pintu yang terdengar tiba-tiba dari depan toko. Perhatian ketiganya teralihkan karena suara itu.


" Kalian tunggu di sini! Aku akan melihatnya " Luna langsung berjalan ke depan. Meninggalkan Arya dan Ciel di belakang.


Setelah Luna membuka pintu, Arya dan Ciel mendengar Luna seperti sedang berbicara dengan beberapa orang. Pembicaraan itu tidak berlangsung lama sebelum Luna Akhirnya kembali kebelakang.


" Kakak. Ada apa? Siapa itu? "


Tidak menjawab langsung, Luna menatap Arya " Arya aku minta maaf. Sepertinya kami memiliki urusan lain saat ini. Aku dan Ciel harus pergi. Kita akan membicarakan ini lagi nanti. Bagaimana? "


Arya mengangguk mengerti " Baiklah! Kita akan melanjutkannya nanti " jawabnya dan langsung berjalan hendak beranjak pergi.


" Kau tetap harus menunjukkan Kitab itu pada kami! " ingat Ciel.


" Tentu saja. Aku berjanji! " jawab Arya sambil terus berjalan keluar dari toko.


Setalah dari toko smith, Arya kembali ke penginapan Bulan Fajar. Sepanjang jalan dia memikirkan dampak pergerakan yang akan mereka lakukan. Jika memang terjadi seperti apa yang Luna katakan. Maka, semuanya akan menjadi sia-sia.


" Tuan Arya, jika kau ingin membantu mereka. Sebaiknya kau membiarkan kami membantumu! "


Sekar sedang berbicara dengan Arya di ruangannya di penginapan Bulan Fajar. Arya berniat memberikan makanan pada penduduk di pemukiman selama persiapan mereka.


" Baiklah! Aku juga tidak mengerti apa yang mereka butuhkan! " Arya menyetujui permintaan Sekar.


" Begini. Maksudku kau tidak bisa menggunakan siling emasmu untuk membeli makanan untuk mereka. Itu akan terlalu mencolok. Bagaimana jika kau menukarkannya terlebih dahulu? "


" Baiklah! " Arya menyetujuinya lagi, dan mengeluarkan siling-siling itu. " Jika begitu, bagaimana jika Nona Sekar saja yang menukarnya? "


Sekar sempat ragu sebentar, lalu mengangguk " Baik! Aku akan meminta beberapa orang untuk membantu. Kami akan memastikan bahwa semua penduduk di sana tidak kelaparan lagi! "


" Terimakasih "


" Tidak, seharusnya kami yang berterimakasih padamu! " jawab Sekar cepat.


Sore hari, Arya berniat kembali ke toko smith untuk menunjukkan Kitab yang dia maksud pada kedua kakak beradik pemilik toko itu.


Akan tetapi, saat sampai di sana, Arya tidak bisa menemukan keduanya. Hanya ada anak laki-laki dan adiknya di toko itu.


" Jaka. Dimana Nona Luna dan Ciel? " tanya Arya pada anak laki-laki yang kini tinggal bersama kedua gadis itu.


" Mereka pergi dengan beberapa orang untuk membawa hasil buruan. " Jawab anak laki-laki yang di ketahui bernama Jaka itu.


" Baiklah! " Arya berniat untuk menunggu mereka di sana. Tapi setelah hari sudah mulai gelap, keduanya belum kembali.


Arya berpesan pada Jaka untuk mengatakan pada keduanya saat mereka kembali nanti bahwa dia datang dan menunggu. Setelah itu, Arya kembali ke penginapan.


Sejak hari itu, Arya tidak kembali lagi ke toko Smith. Arya menghabiskan waktunya di pemukiman. Di bantu dengan beberapa orang yang di tunjuk Sekar sebelumnya, mereka memastikan bahwa kebutuhan pemukiman itu terpenuhi.


Sepuluh hari berlalu. Pada pagi hari Sekar mengatakan pada Arya bahwa, sebagian besar dari pendekar yang di utus sudah kembali.


Mereka sekarang mendirikan semacam markas di tengah hutan di sebalik bukit tidak jauh dari kota Arsa. Beberapa Sekte mengirimkan pendekar untuk membantu, namun sebagian menolak seolah menutup mata mereka dari masalah ini.


Namun, pendekar yang tidak memiliki Sekte yang berhasil mereka temui, hampir semuanya mau meminjamkan tenaga mereka. Tentu saja itu karena bayaran yang di tawarkan untuk ini sangat tinggi.


Sebelumnya pendekar sangat menjunjung nilai keadilan. Tapi, saat ini banyak dari mereka hanya mementingkan harta agar bisa membeli pil atau sumber daya lainnya agar bisa menjadi lebih kuat.


Mereka yang seperti itu mengatakan bahwa mereka memilih sikap netral.


Arya juga sudah banyak belajar dari Sekar tentang dunia kependekaran. Hanya saja Arya tidak terlalu peduli dengan pendekar yang menyebut dirinya mereka beraliran putih ataupun hitam.


Hari-hari yang di lalui Arya selama menunggu, terlihat tenang dan lancar. Sampailah beberapa hari setelah pembicaraan dengan Sekar pagi itu, sebuah kehebohan terjadi di tengah kota. Hal itu menarik perhatian banyak orang termasuk Arya.


Siang itu, Arya dan banyak warga di kota mendatangi sebuah area yang sedikit lapang di tengah kota. Di sana Arya melihat ada sekitar tujuh orang, yang berdiri dengan tangan terikat di belakang. Wajah mereka mengalami banyak luka lebam dan pakaian mereka sudah kotor dipenuhi noda darah. Seperti telah mendapat penyiksaan.


Hal yang mengejutkan Arya adalah, ketujuh orang itu dikenali Arya sebagai pengangkut yang sama saat dia memberi pelajaran pada pemburu dua minggu sebelumnya.


" Mereka akan di hukum karena dituduh telah membunuh sekelompok pemburu dan mencuri hasil buruan kelompok tersebut "


Sekar yang berdiri di sebelah Arya, coba menjelaskan apa yang membuat ketujuh orang itu berada di sana.


Penjelasan Sekar itu tentu saja membuat Arya terkejut. Pasalnya, dia mengetahui betul apa yang terjadi malam itu. Mereka bukanlah pencuri. Dan yang membunuh pemburu itu tentu saja bukan mereka.


" Mereka bukan pembunuh pemburu itu, dan sola buruan itu, mereka tidak mencurinya! "


Sekar langsung mengangguk setuju. " Tentu saja begitu! Dwight sangat kuat. Tidak mungkin mereka mampu membunuh Dwight dan kelompoknya. Dan lagi, Dwight dan kelompoknya juga tidak mungkin mampu memburu enam Siluman beruang berumur lebih dari 500 tahun "


" Bukan! Maksudku— "


Belum sempat Arya menjelaskan, Sekar langsung memotongnya " Tuan Arya, aku juga tau saat itu kau ada di sana. " Sekar lalu menatap Arya " Kau tidak akan bisa membebaskan mereka dengan maju dan menjelaskan semuanya pada orang-orang itu! " tunjuk Sekar pada beberapa prajurit dan pendekar-pendekar dari serikat dagang dan pekerja.


Arya mengernyit " Kenapa?! " tanyanya heran.


" Mereka tidak peduli dengan dengan kesaksianmu. Karena tujuan mereka bukan itu "


" Lalu apa tujuan mereka?! "


Sekar kembali menatap tujuh orang yang terikat itu.


" Tentu saja orang-orang serikat dagang tau mereka tidak membunuh kelompok Dwight. Tapi, Mereka hanya memanfaatkan situasi ini untuk menyita Enam Siluman yang para pengangkut itu bawa "


Arya mengepalkan kedua tangannya. " Kita harus melakukan sesuatu! Seperti nya prajurit dan para pendekar itu berniat melakukan hal buruk pada mereka "


Sekar menggeleng " Sayangnya, kita tidak bisa melakukan itu saat ini Mereka terlalu kuat dan Ki Jabara sedang tidak berada di sini. "


Arya tidak terima. " Jadi maksudmu, kita akan membiarkan ketujuh orang itu mati?! "


Sekar tidak menjawab. Karena menurutnya tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini. Walaupun hatinya sangat ingin menolong orang-orang itu.


" Seperti yang kalian ketahui. Kita ini memiliki hukum yang harus di patuhi "


Perhatian Arya teralihkan saat seseorang yang berada di antara prajurit dan pendekar dari Serikat Dagang dan Pekerja, berbicara lantang.


" Ketujuh orang ini telah membunuh delapan orang pemburu dan mengambil hasil buruannya. "


Semua penduduk kota menyimak apa yang di katakan orang itu termasuk Arya dan Sekar.


Orang itu menoleh pada para prajurit dan mengangguk. Tidak lama prajurit-prajurit yang berada di belakang ketujuh orang itu, menendang belakang lutut mereka hingga ketujuhnya terjatuh berlutut di tanah.


" Sesuai perintah Walikota, dan untuk memperingatkan kalian semua tentang hukum di kota ini, mereka semua akan mendapatkan hukuman yang sesuai dengan tindak kejahatan yang mereka lakukan. Mereka akan dihukum, Mati "


Selesai mengatakan itu, semua prajurit di belakang ketujuh orang itu mengeluarkan pedang mereka masing-masing, Lalu mengangkatnya tinggi. Menunggu aba-aba.


Arya bisa merasakan sebentar lagi ketujuh orang itu akan mati. Arya baru saja akan melompat ke tengah untuk menghentikan semua, sebelum sebuah suara menghentikan langkahnya.


" Jleb ... "


Sebuah anak panah entah darimana baru saja melesat sangat cepat, anak panah itu kini tertancap tepat di dada orang yang barusaja bicara.


" Arrrghh! "


Kejadian itu sempat membuat hening semua orang yang ada di sana. Sebelum akhirnya mereka menyadari apa yang sedang terjadi.


Karena teralihkan dengan kejadian sebelumnya, ketujuh prajurit yang sedang mengangkat pedang itu tidak sempat bereaksi saat seseorang tiba-tiba melompat ke arah mereka dan menyerang dengan sangat cepat.


Seketika prajurit itu tumbang dengan kepala terpisah dari tubuhnya.


Semua mata di sana melebar saat menyaksikan kejadian yang sangat cepat itu. Terlebih lagi, itu semua di lakukan hanya oleh satu orang. Yang paling mengejutkan mereka adalah siapa melakukan itu.


" Huh! Seperti yang aku katakan! Kalian semua hanya cecunguk-cecunguk yang berlindung di belakang hukum kotor di Kota ini! "


Luna berdiri di sana dengan pedang berlumur darah di kedua belah tangannya.