ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Kau Memilikinya?


"Citra Ayu ... !"


Karpatandanu benar-benar panik saat sampai di benteng. Tepat seperti dugaan Nilam Sari, memang sedan terjadi sesuatu dengan Putri mereka itu.


Akan tetapi, saat dia mencoba mendekat, Luna melarangnya. Hampir saja terjadi pertarungan antara keduanya, jika saja Rangkupala tidak segera menenangkan Sultan Pasir putih itu.


Saat itu, Karpatandanu ingin langsung membawa putrinya ke Sekte Lubuk Bebuai. Akan tetapi, luna bersikeras memintanya untuk menunggu.


Tentu saja hal itu tidak bisa di terima Karpatandanu begitu saja. Karena Menurutnya, hanya Nilam sari atau Lindu Ara saja yang bisa menyelamatkan putrinya.


Di situlah Rangkupala menaikkan suaranya.


"Jika memang demikian, maka kami sudah akan langsung membawanya kesana."


"Tentu saja begitu, karena mereka yang memasang segelnya. Jika diperbaiki, maka semua akan kembali"


Pertengkaran keduanya pun terjadi. Karpatandanu sudah murka dan Rangkupala juga sama. Namun, tiba-tiba Luna kembali berbicara.


"Jika kau bisa membawanya, maka bawalah. Jika dia mati karena itu, maka itu akan menjadi kesalahanmu."


Saat itu juga, Karpatandanu baru menyadari bahwa putrinya itu benar-benar sedang melayang. Hal yang tadi tidak terlalu diperhatikannya karena cemas dan takut yang langsung mengerogoti dirinya.


Saat dia berfikir sedikit tenang, sekarang dia memahami maksud Luna, meski tak bisa melihatnya, Karpatandanu yakin sesuatu sedang membuat anaknya tetap melayang di udara dan membuat Citra Ayu tetap terjaga.


Hal itu, tentu saja tidak bisa di lakukan oleh pendekar-pendekar dari Sekte Lubuk Bebuai.


"Tenanglah Wahai sang Ayah, mereka sedang membuatnya tetap terjaga. Jika kau salah melangkah, maka kau yang membuat putrimu tak lagi bernyawa."


Karpatandanu langsung terdiam. Tubuhnya langsung lemas berlutut di bawah.


"Hanya dia yang kami punya, tolong selamatkan nyawanya ... Pada kalian, aku menyembah."


Tubuh Karpatandanu bergetar hebat. Dia tidak siap melihat bagaimana tubuh anak gadisnya itu, terbujur kaku mengambang di udara.


"Tidak perlu meminta, kami akan menyelamatkannya. Sekarang, kita hanya harus menunggu. Arya sedang mencari obatnya."


Mendengar itu, Karpatandanu langsung berdiri. "Ke Negeri mana mereka pergi? Aku hendak menyusul, aku hendak membantu."


Rangkupala hanya menggelengkan kepala. Tentu saja semua orang mengerti kepanikan Karpatandanu itu.


"Dua hari sudah mereka pergi. Seharusnya sebentar akan kembali."


"Bagaimana jika mereka tidak kembali?"


Luna langsung maju dan kembali bicara. "Arya adalah orang yang paling tau apa yang dilakukannya, jika dia bilang dia akan kembali, maka dia akan kembali."


Saat itu, semua orang tau Luna memandang Karpatandanu dengan wajah marah. Jelas dari Rautnya saja, baginya tidak ada yang boleh meragukan pemuda itu.


Sadar bahwa dirinya meragu"Ya, Ya ... Aku akan menunggu."


Terlihat tenang, Rangkupala memanfaatkan itu untuk membawa Karpatandanu segera keluar dari sana.


Karpatandanu cemas, tapi dia juga tau kenapa gadis itu juga cemas.


Untuk mendapatkan bahan yang bisa mengibati Citra Ayu, sekarang adiknya juga di sana. Sehari sejak kepergian adiknya, Rangkupala bisa melihat kegelisahan Luna.


Pada malam pertama saja, gadis dari Benua Barat itu, benar-benar terlihat cemas. Saat itu, matanya terlihat nanar dan tak menjawab saat di sapa.


Jadi, saat Karpatandanu mengatakan bagaimana jika keduanya tak kembali, tak pelak membuat gadis itu meradang.


Itu sama saja Karpatandanu mengatakan bahwa Arya dan adiknya gagal, atau mati.


Diluar, Rangkupala menjelaskan semuanya. Bahkan, pendekar yang bergelar si kebojalang itu juga menceritakan kekuatan Citra Ayu saat bertarung yang membuat mulut Karpatandanu terbuka lebar.


Di sana juga ada Bai Hua. Gadis itu yang masih merasa bersalah meminta maaf pada Ayah Citra Ayu itu.


Akan tetapi, karena sudah mendengar terlebih dahulu penjelasan dari Rangkupala, maka Sultan itu tak bisa menyalahkan Bai Hua.


Bai Hua menjelaskan semua keadaan Citra Ayu beserta kemungkinannya. Dia mencoba meyakinkan bahwa, Hanya Arya-lah yang mampu menyembuhkannya.


"Kalau begitu, aku setuju."


Bai Hua dan Rangkupala  langsung terkejut mendengar ketegasan Karpatandanu itu.


"Tuan Karpa, dengar dulu—"


"Tidak perlu, aku tidak akan memberi syarat apapun. Jika itu yang bisa menyelamatkan putriku, maka aku akan menikahkan mereka."


Bai Hua tidak bisa berkata apa-apa. Bagaimanapun, Karpatandanu berhak mengetahuinya. Masalahnya tentu saja pada Arya. Pemuda itu, belum tentu tau cara melakukannya.


Apalagi, Bai Hua mengatakan bahwa masih ada cara untuk menyelamatkan putrinya. Itu menurutnya kabar paling baik yang dia dengar sampai saat ini.


Bahkan, jauh sebelum ini, Sultan dari Negeri Pasir Putih itu juga berniat sama. Apalagi, jika hal tersebut bisa menyelamatkan putrinya. Niatnya menjadi tekad dan tekadnya itu, menjadi bertambah bulat.


"Tuan Karpa, sebaiknya kita tunggu Senior saja. Aku tidak bisa mewakilinya untuk menjawabnya."


Karpatandanu menggeleng dan mengangguk. "Tidak, Oh tentu kita akan menunggunya. Bahkan jika dia menolaknya, aku akan berlutut padanya."


Rangkupala memberi tanda pada Bai Hua untuk berhenti menjelaskannya. Itu hanya akan semakin memperparah keadaan saja.


***


Keesokan pagi, kabar baik pun tiba, benteng di hebohkan dengan kepulangan Ciel dan Arya.


Tanpa perlu berbasa basi, Arya langsung menuju ruangan di mana Citra Ayu berada.


Di sana, dia mendapati Citra Ayu masih dalam keadaan sama, dan hal itu membuatnya sangat lega.


"Ciel, kalian menemukannya?"


Ciel mengeluarkan ekspresi wajah bangga. "Tentu saja, perjalanan ini sangat menegangkan."


Luna yang sudah dua hari mencemaskan adiknya itu, tentu saja merasa lega. Tapi, melihat bagaimana ekspresi adiknya, tentu saja dia merasa heran.


Bai Hua juga merasa sama. "Ciel, apa begitu menyenangkannya?"


Ciel mengangguk cepat "Ya, aku hampir saja mati, eh tidak ... Hmm ... Aku rasa, aku benar-benar sudah mati. Arya menarik ku kembali dari kematian."


"Hah?! ... Benarkah?"


Luna langsung berderap mendekat ke adiknya itu, kemudian memeriksa seluruh tubuhnya. Namun, Luna tidak menemukan ada satupun yang salah.


"Jadi, bagaimana cara senior menarikmu dari kematian?"


Pertanyaan Bai Hua itu, tiba-tiba membuat Ciel kehilangan kata-kata.


"Soal itu ... Arya ... Aku ... Hmm."


"Kau kenapa? ... Kenapa wajahmu memerah?"


Saat Ciel sedang memikirkan cara menjawab, dia di selamatkan dengan teriakan keterkejutan dari beberapa pendekar tua tidak jauh dari mereka.


"SEBESAR PULAU ... ?!"


semua orang yang mendengar Salendra bercerita, serentak berteriak histeris dengan nada tak percaya.


Akan tetapi, apa yang di katakannya, di dukung anggukan seluruh pendekar lain yang ikut melihat kejadian yang sangat luar biasa itu.


"Tantu saja kalian tidak akan percaya, tapi itulah kenyataannya. Siluman Kerang Itu, benar-benar sebesar pulau. Dan kedua pendekar muda itu keluar dari Cangkangnya seolah itu bukan apa-apa."


Mereka terus bercerita, dan terdiam saat tiba-tiba Arya keluar dari ruangan Di mana Citra Ayu berada.


"Tuan Muda, bagaimana keadaan Putri ku, apa kau bisa menyelamatkannya?"


Saat itu, Arya menoleh pada Karpatandanu. Namun, matanya tidak melihat pada mata Sultan itu.


Mereka semua terdiam dan terlihat heran saat Arya berjalan semkin mendekat dan memandang ke sesuatu yang ada di dada Karpatandanu.


"Hei,  apa yang—"


Tak mengindahkan Karpatandanu yang terkejut saat tiba-tiba dia menarik apa yang tergantung di ujung kalung yang melingkari leher ayah Citra Ayu itu, Arya bertanya.


"Tuan Karpa, kau memiliki ini?"


Meski masih terlihat terkejut dan heran, Karpatandanu mengangguk ragu "Ya, saat muda, ibu Citra Ayu memberikan itu padaku, sebenarnya apa itu?"


Saat itu, Arya langsung tersenyum.


"Sesuatu yang bisa membuat Citra Ayu menjadi sangat Kuat, ini adalah Bayam Tiga Jari ... "


"APAAA ... ?!"


Semua orang yang sudah tau apa itu, serentak berseru tak percaya.


"Bayam Apa?" Tanya Karpatandanu, sekali lagi.