
Setelah mengetahui dengan jelas situasi Daratan Barat, akhirnya mereka mulai bersiap untuk bergerak.
Saat ini, mereka memanggil anak-anak Sultan yang ada di Kota Palas. Jika ingin cepat, maka orang-orang inilah yang akan bisa menyampaikan kabar pada ayah mereka dengan aman.
Seperti yang di ketahui sebelumnya, Serikat Oldenbar bukan serikat yang bisa di serang begitu saja. Dengan telah lamanya mereka berada di Daratan Timur ini, tentu saja kekuatan serta pengaruh mereka sudah mengakar.
Arya dan yang lainnya curiga bahwa di istana sudah banyak mata-mata dari Organisasi itu. Untuk itu, mereka sangat berhati-hati dalam menyampaikan detilnya pada para pendekar muda yang kelak akan menjadi pemimpin tujuh negeri di Daratan Barat ini.
Belum lagi tentang kekuatan. Tentu saja Serikat Oldenbar di Daratan Ini jauh lebih kuat. Tapi itu belum seberapa. Masalahnya, di Daratan ini tidak hanya ada Oldenbar saja.
Pasukan dari kekaisaran Nippokure juga sudah mendirikan pangkalan militer mereka di lima negeri di Daratan ini. Salah satunya ada di negeri terdekat dari Ambang dan Pasir Putih. Tepatnya, Negeri Jampa.
"Umbara, pulanglah dulu ke negeri Jampa. Sampaikan salam juga berita. Ingatlah bahwa ini Rahasia, pastikan sampai ke Jakasona."
Umbara adalah putra Jakasona, Sultan negeri Jampa. Diantara semua anak-anak Sultan, dirinyalah yang paling tua.
Bisa dipastikan, dalam waktu dekat, Umbara akan menjadi pemimpin Jampa. Karena Jakasona sudah sangat tua.
"Tabik Sultan. Aku kan pulang ke Negeri Jampa. Membawa teguh sebuah Rahasia. Melihat sendiri keadaan, terimakasih aku ucapkan."
Umbara sudah tau bahwa Negerinya memang sedikit kesulitan karena adanya dua pihak asing itu. Ayahnya tidak bisa berbuat apa-apa karena keduanya memiliki izin dari Barus, sedangkan Istana Malka seperti tidak tidak peduli.
Mendengar sendiri penjelasan dari Harupanrama dan yang lainnya, Umbara sangat bersemangat.
Sekarang saja, dia sudah tidak sabar untuk segera pulang dan memberi tau ayahnya berita yang dia bawa.
"Baiklah, mulai lah berjalan. Seminggu lagi dari sekarang, kami akan menyeberang jalan."
Itulah rencana mereka. Arya dan yang lainnya, memberi waktu pada negeri Jamba untuk melakukan persiapan.
Semua itu dilakukan untuk memperkecil jatuhnya korban. Ada dua pihak yang akan mereka serang, tentu saja itu tidak akan mudah, jika negeri Jampa tidak siap.
Karena setiap negeri memiliki keadaan dan kebiasaan yang berbeda-beda, maka mereka memanggil dan memberi pesan yang berbeda-beda pula.
Serambar. Negeri paling ujung Barat di Daratan ini. Tempat di mana Sultan Tengku Arif memimpin, masih terlihat sangat kuat. Dua pihak asing ini, tidak bisa begitu saja berlaku semena-mena di sana.
Lewat Sri Ratna Sari yang merupakan putri dari Sultan Negeri Serambar itu, Rangkupala sendiri yang memberi pesan langsung padanya. Karena keduanya punya sejarah dan keterikatan dimasa lalu.
Selanjutnya, Putra Sultan Gonggo. Pemimpin Negeri Litapa. Negeri ini sedikit lebih dekat dari Serambar. Gonggo sendiri, sebenarnya memiliki dua putra. Namun, yang ada di kota Palas saat ini adalah putra kedua, Bujang paju.
Menurut Bujang paju, Negeri Litapa tidak terlalu peduli dengan Serikat Oldenbar. Tapi, Sultan Gonggo benar-benar membenci Pasukan dari Nippokure. Mereka merekrut pendekar-pendekar dari banyak padepokan kecil dan dikirim entah kemana. Setiap Sultan Gonggo mempertanyakan hal itu, mereka dengan enteng menjawab, "Prajurit harus siap dikirim kemana saja."
Kabar ini sedikit mengejutkan, karena tidak ada satupun yang mendengar tentang perekrutan sebelumnya. Dan hal ini tentu saja membuat banyak pertimbangan lainnya.
Jika memang mereka berniat menyerang Pasukan Nippokure, ada kemungkinan mereka akan menyerang pendekar-pendekar dari negeri Litapa.
Untuk itu, Luna meminta agar mereka memberi pesan yang harus di balas oleh Sultan Gonggo secepatnya. Mereka tidak bisa bertindak gegabah.
Karena menurut Luna, prajurit-prajurit rekrutan biasanya di posisikan di garis depan. Merekalah yang akan pertama kali menjadi korban jika serangan benar-benar mereka lakukan.
Bujang Paju langsung mengerti, sebelum pergi dia mengatakan bahwa ayahnya memiliki cara tersendiri untuk mengirimkan pesan dengan cepat.
Negeri Sembilan, dipimpin oleh Sultanah. Itu karena pemimpin negeri di mana Sekte Lubuk Bebuai berada, adalah seorang wanita yang bernama Sedayu.
Bisa dikatakan Sungai Sembilan ini sebagai Negeri terkuat di daratan Barat. Karena, Sedayu adalah murid dari Lindu Ara, pendekar wanita terkuat yang melegenda itu.
Meski putra Sedayu, Mantiko Sati ada di Palas, di sini juga ada Citra Ayu. Maka, Citra Ayu sendiri yang menyampaikan pesan pada kakak seperguruannya itu lewat putra tunggalnya.
Lewat informasi yang di dapat dari anak-anak Suktan lainnya, Tungkeh Aji, yang diketahui anak Sultan Bukit Batu yang berada di kota ini, tidak memiliki hubungan yang baik dengan ayahnya.
Beberapa kali, terdengar kabar bahwa Tungkeh Aji berniat membangun pasukan untuk memberontak. Tidak diketahui apa penyebabnya, namun mereka mengetahui Tungkeh Aji sang putra Sultan itu, memiliki kepribadian yang baik. Namun, sangat mudah terbakar amarah.
Harupanrama dan Karpatandanu yang memang akan bergerak ke Malka untuk menemui Adiaksa, berniat untuk ke negeri itu langsung.
Sementara, Tungkeh Aji sendiri di minta untuk tetap tinggal oleh Rangkupala. Pangeran Ketiga kerajaan Swarna itu, berniat mencari tau apa penyebabnya anak dari Sultan Tungkeh Aram ini, begitu menentang ayahnya.
Padahal, dirinyalah yang paling berhak menyandang gelar Sultan, kelak setelah ayahnya meninggal.
"Arya, kita masih ada waktu seminggu lagi. Selama itu, apa yang akan kita lakukan?"
Luna dan dua gadis lainnya, sudah berlatih selama sebulan terakhir. Mereka sudah mulai mengerti kekurangan diri mereka masing-masing.
Akan tetapi, jika mereka akan berperang, seminggu ke depan tidak mungkin di habiskan dengan latihan saja.
"Aku dan Bai Hua akan meramu banyak Pil. Sebaiknya, kalian memperkuat senjata orang-orang ini."
Saat mendengar kata-kata Arya, empat pendekar tua yang ada di sana sedikit terperangah. Mereka tidak menyangka bahwa Luna dan Ciel adalah penempa dan ahli senjata.
Terlebih saat Arya mengatakan bahwa dirinya dan gadis lainnya akan meramu Pil. Itu menandakan bahwa mereka tidak hanya memiliki kekuatan, namun juga keterampilan.
Saat itu, Arya berbalik melihat pada Harupanrama. "Tuan Haru, maaf karena telah mematahkan senjatamu. Tapi, jika hanya pedang itu yang kau miliki, maka itu tidak akan bertahan dalam perang."
Harupanrama menelan ludah. Senjatanya adalah pusaka bumi. Meski tingkat rendah, namun tidak mudah untuk menghancurkannya.
Namun, pemuda di depannya ini mematahkan pedangnya hanya dengan dua jarinya saja. Jika, memang apa yang di katakannya benar, maka dua gadis lainnya itu, memang memiliki keterampilan penempa yang luar biasa.
Pasalnya, Arya mengatakan pada mereka akan memperkuat senjata mereka.
"Kami memerlukan, tempat untuk meramu dan membuat Pil. Apakah Tuan memiliki tempat dimana kami bisa bekerja dengan leluasa?" Tanya Bai Hua.
Rangkupala mengangguk. "Ya. Silahkan gunakan Bangunan di belakang penginapan ini."
****
Hello, M.M di sini.
Hari ini, aku baru saja mempublish satu lagi cerita yang berjudul, World Order Sistem : The Mafia.
Itu hanya cerita ringan, ya!
Sedikit Bocoran, itu tentang kehidupan Fantasi Urban. Jadi, tidak ada banyak pesan Moral. Namun, lumayan sebagai hiburan.
Cerita itu, tidak akan menggangu jumlah rilis 3 bab dari Arya Mahesa, karena W.O.S telah lebih dulu ada di Draft ceritaku.
Jika berminat, silahkan mampir ya. Silahkan klik profilku dan temukan di sana.
Oh iya, ceritanya mengandung unsur dewasa yang sedikit kental. harap bijak menanggapinya, Ya!
Terimakasih.
M.M