ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Tenang, dan Mulailah Bicara


Melihat empat pendekar Ranah bumi terlentang di tanah tak sadarkan diri, bukanlah hal yang biasa terjadi. Bahkan, mungkin belum pernah terjadi di Daratan ini sebelumnya.


Apalagi saat ini, di antara empat orang itu ada seorang legenda yang baru kembali menunjukkan dirinya.


Para pendekar di kota palas yang melihat, tidak ada yang berani mendekat. Jangankan mendekat, tanpa sadar kini mundur selangkah demi selangkah.


Mata mereka mencari-cari tiga orang yang mereka gelar sebagai iblis wanita. Saat mereka tidak bisa menemukannya di dalam kota, mereka langsung menyimpulkan bahwa apa yang terjadi didepan mereka ini, adalah ulah ketiganya.


Semua orang di buat terperanjat saat Luna dan Bai Hua, tiba-tiba keluar dari penginapan. Keduanya menghampiri tubuh empat orang itu, lalu mengangkat dan menarik kaki mereka hingga kembali masuk ke dalam penginapan.


"Ayahanda! "


Citra Ayu berteriak saat mendapatkan kesadarannya. Tau bahwa salah satu dari yang di tarik adalah ayahnya.


Namun, saat dia hendak berlari mendekat, Surma dan Durma menahannya. Kembar itu juga melihat Ayah mereka. Namun, tidak ada satupun yang bernyali mendekat.


"Citra Ayu, tenangkan dirimu. Aku rasa, mereka tidak berniat membunuh keempatnya." Ucap Sri Ratna Sari.


Citra Ayu menggeleng dan meronta. Tapi, Surma dan Durma masih menahannya.


"Mereka ... Mereka ... Akan membunuhnya."


"Tidak, Ayah kami juga di sana. Kau sudah pernah lihat sendiri bagaimana ketiganya membunuh lawannya."


Lagipula, mereka melihat bahwa keempatnya masih hidup meski tak sadarkan diri. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.


Sementara itu, di dalam. Setelah Luna dan Bai Hua membawa keempatnya kembali kedalam. Arya langsung mengobati mereka.


Ada sebab kenapa Arya berbuat sejauh itu. Menurutnya, Rangkupala tidak seharusnya meninggalkan istana dan hanyut dengan gelar legenda.


Jika ingin berjuang, maka berjuang sampai akhir. Jika tidak, maka jangan pernah muncul sama sekali.


Menurut Arya, seseorang bisa dikatakan sebagai pendekar, jika tidak lari dari tanggung jawabnya. Tidak peduli menang ataupun kalah. Hidup ataupun mati. Itulah kata Arangga padanya saat di reruntuhan Kuno.


Dia sudah melihat kekejaman Darmuraji kakak dari Rangkupala. Apalagi, juga sudah mendengar kebijakan yangbdi ambil Maharaja. Arya benar-benar marah.


Sedangkan untuk Karpatandanu dan Harupanrama, kedua Sultan itu bahkan tidak peduli jika Daratan ini bertempur. Mereka datang hanya karena jika perang terjadi, itu membahayakan negeri mereka.


Seolah saat itu, mereka tidak peduli siapa lawan ataupun kawan. Jika saja Daratan Timur memang menginginkan perang, dan ternyata mereka merasa Daratan Timur lemah, maka keduanya akan balik melawan. Begitu juga sebaliknya.


Untuk Rentangjala, patih negeri Ambang itu hanya sedang sial saja. Saat itu Arya terpaksa memberi mereka pelajaran agar mata mereka terbuka. Dan mulai melihat sejarah siapa mereka sebenarnya.


"Apa yang terjadi?! ..."


Harupanrama langsung duduk dan berseru saat baru saja sadar dari pingsannya.


Kejadian yang begitu cepat itu, terasa seperti mimpi baginya. Apalagi, dia melihat pedangnya dipatahkan pemuda yang tak memiliki tenaga dalam. Benar-benar seperti mimpi.


Kepalanya mencari-cari di mana pedangnya. Akhirnya di berhenti mencari saat melihat patahan bilah pedangnya tertancap di lantai di ruangan di mana terakhir kali dia berdiri.


"Pedangku ... "


Tiba-tiba Sekilas dia teringat ingat kata-kata Arya sebelumnya. Sultan negeri Ambang itu kembali berseru." Apa Aku sudah mati?"


Semua orang yang sudah lebih dahulu sadar, hanya bisa melihat kejadian itu dengan tersenyum masam.


"Aaaaaaaaaa ... !"


Harupanrama terloncat dari tempat tidurnya, dan terjerembab ke bawah. Sultan negeri Ambang itu langsung menendang-nendang lantai berusaha menjauh secepat mungkin dari arah asal suara.


Dari sudut ruangan itu, dia melihat Arya yang kini tersenyum padanya.


"Kau ... Kau ... Makhluk apa kau sebenarnya?"


Tiba-tiba jantungnya terpompa cepat dan nafasnya memburu. Senyuman Arya membuatnya benar-benar takut. Karena senyuman itu yang terakhir dia lihat sebelum mendapati dadanya mendapat tamparan sangat keras yang membuatnya terpental hingga tak sadarkan diri.


"Bukankah, kalian menyebut kami sebagai Enam Iblis pelindung dari Timur. Atau Iblis Timur atau Enam ... Ah, aku tidak tau berita yang sampai di sini seperti apa."


Harupanrama menelan ludah. Dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Apa yang dia katakan pada Arya sebelum semuanya berakhir seperti ini.


Tak lama, dia oun kembali berdiri dan segera berlutut di depan Arya. "Aku terikat sumpah. Engkau benar dan aku yang salah."


Sumpah pendekar negeri Ambang begitu berbahaya. Siapapun pemimpinnya, sudah pasti yang terkuat. Karena, di sana yang kuatlah yang benar. Hingga orang itu berhak menjadi Sultan karena tak terbantahkan. Sumpah yang aneh, tapi begitu di hormati di negeri itu.


"Tenangkan diri kalian terlebih dahulu. Selanjutnya, kita akan kembali bicara, dan memulainya dari awal."


Setekah mengatakan itu, Arya dan yang lainnya meninggalkan mereka berempat di ruangan tersebut.


Sementara para pengunjung penginapan Kebojalang sudah berangsur-angsur keluar dan habis menghilang sejak Luna dan Bai Hua menarik keempatnya kembali kedalam.


Dari merekalah semua orang di kota itu, apa yang sedang terjadi di dalam. Hal.itu juga membuat Surma, Durma dan Citra Ayu legan


"Apa yang terjadi di dalam?"


"Empat mereka sedang di obat. Kami tak berani melihat"


Para pendekar itu benar-benar tidak mampu mencerna apa yang terjadi di dalam sana. Namun begitu, mereka menyimpulkan bahwa, pasti keempat nya sudah berkata atau berbuat sesuatu yang membuat mereka marah.


"Tinggi Tak terkira dalam tak terhitung." Ucap salah satu dari mereka.


Yang lainnya langsung mengangguk dengan tanda tanya masih memenuhi kepala mereka masing-masing.


"Tuan Muda. Kami, tak pandai mengira. Harap Tuan tak berburuk sangka."


"Mulut salah berucap, badan salah bersikap. Kami bersyukur masih bernyawa."


Karpatandanu dan Harupanrama masih sedikit trauma saat melihat Arya. Sekarang keduanya duduk namun lutut mereka tak henti-hentinya bergerak.


"Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf. Tapi, seperti yang aku katakan. Aku ingin melihat kekuatan kalian dan sepertinya, kami memang harus menunda untuk ke utara."


Rangkupala sudah mulai mengerti apa yang terjadi di Daratan Timur. Dengan cara Arya kembali mengajak mereka bicara, itu pertanda apapun yang mereka pikirkan sebelumnya, sepenuhnya salah.


"Aku mendengar dari Tuan Rentangjala, jika dia tidak bisa menceritakan apapun tanpa izin sultan. Sekarang kalian sudah disini, tolong ceritakan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi, antara Istana Barus dan istana Malka."


Sekarang Luna, Ciel dan Bai Hua juga sudah di sana. Arya dan mereka mencurigai bahwa kerajaan ini benar-benar sudah terpecah belah.


Menurut keempatnya, Setiap orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan di dua Daratan ini, memiliki maksud dan tujuan mereka masing-masing.


"Baiklah, Aku akan bicara. Adiaksa bukanlah Raja ... "