
Dunia memang sangat kejam. bagaimana bisa ini terjadi, tidak ada yang menduganya.
Anjaran tidak hanya guru tapi sudah seperti pengganti sosok ibu bagi dirinya. Apa yang melekat pada Rapatni saat ini, semua berkat tunjuk ajar Anjaran.
Ketulusan serta jiwa kependekaran yang dijunjungnya saat ini, semua juga dia dapat dari Wanita yang kini mati di ujung pedangnya ini.
Siapa yang bisa menebak masa depan? Siapa yang yang menyangka hati seseorang yang begitu lembut, bisa berubah sangat kejam? Semua itu tidak akan pernah ditemukan jawabannya. Pada kenyataannya, kau adalah siapa dirimu saat menghembuskan nafas terakhir.
Anjaran mati di tangan Rapatni, muridnya sendiri sebagai pendekar sesat. Tidak akan bisa mengubah semua itu.
Dengan satu tangan lainnya, Rapatni menutup rapat mata Nyai Anjaran. Tidak ada kesenangan apalagi kepuasan saat dia berhasil mengalahkan gurunya itu.
Marendra meneguk ludahnya sendiri. Dia sedikit menyesal telah mengatakan sesuatu yang berlebihan pada Rapatni beberapa waktu yang lalu.
Saat ini, dia melihat betapa beratnya beban yang di tanggung pendekar wanita terkuat di Daratan Timur itu.
Akan tetapi, di sisi lain, itu membuat semangatnya yang tadi sempat redup, kembali berkorbar. 'Aku harus tetap hidup, setidaknya untuk bisa meminta maaf padanya, di masa depan.' Batinnya.
"Kalian, tidak akan pernah menaklukkan Daratan Timur ini. Itu bukan hanya karena kalian tidak mampu. Tapi, itu karena kami tidak akan pernah membiarkannya!"
Marendra dengan semangat barunya, langsung menghambur pada kedua petinggi Oldrnbar itu. Sesuatu yang ditunjukkan Rapatni membuat tenaga dalamnya seolah kembali penuh. Saat ini, dia merasa bisa mengalahkan dua musushnya ini sekaligus.
Ki Lentoro yang juga sedang bertarung dengan Ki Rangkas, juga tersulut. Sekarang tubuhnya terasa lebih ringan. Padahal, beberapa luka sudah bersarang ditubuhnya.
Rangkas tiba-tiba merasa kesulitan, berbeda dengan Lentoro yang semakin bersemangat, Rangkas merasakan sebaliknya. Beberapa saat yang lalu, dia semoat sekilas Sapujagad di hantam jurus pamungkas Sekte bulan sabit dari Marendra, sekarang Nyai Anjaran juga sudah kalah.
Hanya tinggal dia sendiri yang masih bertahan, namun sepertinya itu juga tidak akan bertahan lebih lama lagi. Karena, setiap pertukaran jurus yang dia lakukan, Lentoro sedikit demi sedikit mukai mengunggulinya.
Setali tiga uang dengan apa yangbmebuat ketua-ketua mereka bersemangat, para pasukan aliansi seperti mendapatkan kobaran api yang sama.
Beberapa saat yang lalu serikat Oldenbar muncul dan mulai menghancurkan pertahan mereka, sekarang mereka langsung berbalik melawan. Dalam sekejap mata, arah angin berubah.
Kelompok sekte aliran hitam, sedikit demi sedikit mulai terpukul mundur. Jika ini tetap berlangsung, bukan tidak mungkin musuh mereka itu mulai terpojok.
Tidak memberi kesempatan musuh untuk bereaksi lebih banyak. Aliansi sekte aliran putih terus mendesak.
Pertatungan yang terjadi secara acak kini terlihat sedikit rapi. Pasalnya, dalam waktu bersamaan pendekar-pendekar dari kelompok sekte aliran hitam mundur bersamaan.
Rantoba dan Darius juga terikut dalam gerakan masal itu, secara tidak sadar Rantoba juga merasa terdesak.
Bagi Rantoba sendiri, ini cukup aneh. Beberapa saat yang lalu, mereka merasa sudah di atas angin. Sekarang justru sebaliknya.
Ini menunjukkan bagaimana suatu hal kecil dapat memicu hal kecil lainnya. Dan lama kelamaan hal-hal berkumpul, lalu mulai membesar.
Pada situasi ini, kemenangan Rapatni atas gurunya membuat aliansi sekte aliran putih, sudah merasa menapakkan satu kaki di jenjang kemenangan. Dan akan melangkah satu tapak lagi di jenjang berikutnya.
"Kau lengah!"
Rantoba terkejut, dan lansung tersadar dari lamunannya yang hanya berdurasi sepersekian detik itu. Namun, semua sudah terlambat. Pedang Darius melesat cepat ke arah perutnya.
Beruntung dia memiliki kecepatan reflek gerakan. Terlambat sedikit saja, pedang itu benar-benar bisa membuat seluruh usus nya terburai keluar.
Geram, Daga benar-benar geram. Dia tidak menyangka akan jadi seperti ini. Sehatusnya, Tidak ada yang salah dalam perhitungannya. Karena Semua sudah dia pertimbangkan dengan sangat matang.
Datangnya Oldenbar, seharusnya bisa membuat kubu aliansi sekte aliran putih terdesak lebih jauh. Tapi kenyataannya itu hanya bertahan sebentar.
Kini kubu musuh lah yang membuatnya pasukannya terdesak. Dia mulai memikirkan ulang strateginya. Beruntung saat ini, Edward berada di dekatnya.
"Tuan Edward. Bagaimana menurutmu?!"
Tentu saja Edward berfikiran sama. Kedatangannya sehatunya bisa membalikkan arus pertempuran seperti yang Daga perkirakan.
Bahkan Edward cukup yakin bahwa kedatangannya akan memberikan dampak besar yang membuat kubunya bisa memenangkan pertempuran ini.
Ini pertama kali bagi serikat Oldenbar menghadapi pertempuran di mana kehadiran mereka tidak memiliki dampak berarti.
Selama dia berjuang bersama serikat ini, sudah berapa pertemouran yang dia lalui. Tentu saja semua berakhir dengan kemenangan. Namun, melihat situasi saat ini, untuk pertama kalinya Edward merasa akan mengenal apa itu kekalahan.
"Tuan Daga. Sama sepertimu, aku juga tidak menduga hal ini. Tapi, ini belum berakhir. Kita masih unggul jumlah dan kekuatan pendekar. Jika kita bergerak sekarang, semua akan baik-baik saja."
Daga terdiam sejenak lalu menoleh pada medang tempur. Dia melihat Rantoba sedang terluka meski tidak parah. Beberapa pertarungan pendekar suci tampak berimbang.
Akan Tetapi, anehnya kenapa mereka terasa seperti sedang mundur. Bukan, jika di lihat dengan seksama, Daga yakin selangkah demi selangkah, pasukannya memang sedang mundur.
Pertarungan tidak lagi berpusat pada tengah lembah, tapi sudah sedikit masuk ke area mereka. Ini benar-benar buruk.
Daga dan Edward masih terlihat berfikir dan mempertimbangkan sesuatu, saat tiba-tiba Moro berdiri.
"Aish ... "
Moro berjalan melewati Daga sambil menepuk bahu adiknya itu beberapa kali.
"Daga ... Tekad memang sangat mengerikan, begitu juga pengalaman. Tidak ada yang menyangkal itu ...."
Daga dan Edward mengernyit. Jika Moro berdiri, tentu saja itu berarti bahwa dia akan segera bergerak. Sontak saat itu keduanya ikut berdiri.
Moro menajamkan matanya dan melihat ke medan tempur
"Hari ini, sebagai ketua sekte Pasir Besi, aku akan memberikan pelajaran penting pada kau dan seluruh anggota kita bahwa, Kekuatan adalah segalanya."
Setelah Moro mengatakan hal itu, dia berjalan ke medan tempur. Namun, tiba-tiba udara di sekitarnya semakin menipis. Daga dan Edward yang mengikuti langkahnya, harus menggunakan tenaga dalam untuk bisa bernafas dengan benar.
Setiap langkahnya, Aura pembunuh yang dipancarkan Moro semakin besar dan terus membesar.
Para pendekar sekte aliran hitam yang berada di belakang, tiba-tiba merasa sesak.
"Menyingkir ... !"
Perintah Daga mengejutkan pasukannya, saat mereka berbalik, mata mereka. Langsung terbelalak. Mereka melihat Moro berjalan menembus pasukan langsung menuju pasukan aliansi.
Semakin dekat dengan musuh, Aura pembunuh itu semakin besar. Hingga pasukannya sendiri terpaksa menyingkir jauh agar bisa tetap sadar.
Tak lama, pasukan aliansi merasakan hal yang sama. Terlebih lagi bagi pendekar-pendekar Ahli, Raja hingga oendekar suci, mereka langsung bjsa merasakan Aura yang mengerikan itu.
Darius yang berada paling dalam wilayah pertahanan musuh yang pertama kali menyadarinya. Jantungnya langsung terasa berhenti ketika merasakan Aura yang sangat mengintimidasi ini.
"Mundur ... ! Cepat ... ! Pendekar itu berbahaya!"
Darius merasa bahwa Moro benar-benar berbahaya. Teriakannya yang penuh kepanikan itu membuat semua orang ikut panik.
Tentu saja Darius menjadi panik bahkan itu tidak cukup menggambarkan apa yang di rasakan nya saat ini. Karena saat ini, Darius takut.
Dia tidak menyangka akan menemukan pendekar yang sangat kuat di Daratan ini.
Pendekar yang membuat naluri bertahan hidupnya meneriakkan tanda bahaya ini, benar-benar berada di level berbeda.
"Seorang Pendekar yang sudah menyentuh Ranah di atas pendekar suci. Pendekar Ranah Bumi."
Kekuatan Moro benar-benar Dahsyat hingga sanggup membuat pertempuran berhenti seketika.
Bahkan kubu Aliansi selangkah demi selangkah mundur. Sebagian lagi mulai merasakan pusing karena merasa tertekan.
"Cepat mundur. Ini berbahaya!"
Ketua-ketua Sekte dari aliansi langsung memerintahkan pasukannya mundur. Bukan karena takut kalah, tapi mereka sadar jika tetap berada di medan tempur, maka pasukan mereka akan mati sia-sia.
Marendra, Serabang, Lentoro, Rapatni, bahkan Darius yang langsung berdiri bersama, harus mengeluarkan tenaga dalam cukup besar untuk mempertahankan kesadaran mereka.
Begitu juga beberapa pendekar suci lain yang berada di belakangnya.
Mereka menelan ludah. Sebab mereka sangat menyadari bahwa dengan menggabungkan seluruh kekuatan mereka saat ini, belum tentu bisa mengalahkan Moro. Apalagi, masih banyak pendekar suci lainnya di belakangnya.
Dalam sekejap mata, padang rumput di Lembah Haru menjadi hening. Tidak ada lagi satupun suara pertarungan.
Semua mata dari kedua kubu, kini hanya tertuju pada satu orang saja. Mereka tidak berkedip sekalipun saking terkejutnya.
Meski itu kakaknya, Daga masih dibuat terkejut. Diantidak menyangka bahwa Moro akhirnya bisa menembus Ranah Bumi. Dalam sejarah sektenya, bisa dipastikan bahwa Moro lah yang terkuat. Tidak salah lagi.
Daga tersenyum lega bahwa Moro ada bersamanya saat ini. Kemenangan sudah bisa dipastikan, bahkan jika apa yang ditakutkannya terjadi.
Begitu juga dengan Edward. Beruntung sekali baginya tidak salah berpihak. Melihat bagaimana kuatnya Moro, di masa depan, Edward berfikir untuk bisa bekerja sama dan memanfaatkan kekuatannya.
Dalam keheningan itu, Moro mengedarkan pandangan, dan menatap satu-satu ketua sekte aliansi yang berdiri cukup jauh di depannya.
Semua ketua sekte aliansi, tiba-tiba merasakan tekanan yang lebih dahsyat. Karena Moro baru saja mencabut pedangnya.
Mereka menyadari pedang yang ada di tangan Moro bukan pedang biasa. Itu adalah Senjata Pusaka Bumi. Keadaan benar-benar sudah berubah.
Kubu aliansi merasakan kehancuran di Daratan Timur sudah di depan mata mereka.
"Kalian bisa memilih, untuk bersujud pada kami, dan aku akan membunuh kalian dengan cepat. Atau—"
Kata-kata Moro terpotong, karena saat itu juga, dia merasakan sesuatu dari langit sedang bergerak sangat cepat menuju dirinya.
Saat melihat ke atas, matanya langsung melebar. Reflek dia berbalik lalu menangkap Daga dan Edward. Dengan tenaga dalam yang besar, dia melompat sejauh mungkin.
Sepersekian detik berikutnya. Sesuatu yang sangat mengejutkan terjadi.
"BOOOOOMMM ... !"
Sebuah pedang besar menghantam tempat di mana Moro tadi berdiri. Saking kuatnya hantaman pedang itu, membuat cekungan yang cukup luas sedalam lima meter.
Belum cukup sampai di sana, tiga teriakan beruntun dari belakang ketua-ketua sekte aliansi aliran putih, kembali mengejutkan mereka semua.
"KOSHA ... !"
"KOSHA ... !"
"KOSHA ... !"