ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Wu Guo


Paganti. Sebuah desa yang terletak di lereng sebuah gunung dengan nama yang sama. Desa kecil yang subur dan ditinggali oleh hanya sekitar lima puluh keluarga saja.


Desa yang terletak di selatan Daratan Timur kerajaan Swarna ini, sangat jarang dikunjungi sebelumnya. Namun beberapa tahun terakhir, tersiar kabar bahwa banyak orang datang ke desa ini untuk bekerja.


Pemerintah Kota Arsa, Numargeda, setidaknya sudah mengirim lebih dari seribu laki-laki untuk dipekerjakan di sini. Isu nya, mereka bekerja untuk sebuah pertambangan logam dan batu mulia.


Ki Jabara dan para pendekar yang ikut bersamanya, kini berjalan memasuki desa yang bernama Paganti itu. Tidak sesuai dengan kabar yang dia dengar. Desa Paganti yang dia datangi saat ini, terlihat kosong.


Rumah-rumah di sana terlihat sudah lama ditinggalkan. Desa itu sepertinya sudah tak lagi berpenghuni.


Tidak seperti yang diingatnya saat dahulu pernah kesini, Ki Jabara menyaksikan desa yang dahulu dihuni oleh warganya yang terkenal ramah ini, telah menjadi desa mati.


Seorang pendekar yang berjalan bersamanya, merasa sedikit heran. "Ki. Apakah benar ini desa Paganti yang seharusnya kita datangi?"


"Tentu saja. Tapi aku tak mengerti, kenapa desa ini sekarang menjadi seperti ini" Ki Jabara masih melihat ke sekeliling, berharap menemukan satu orang saja untuk bertanya.


"Sebaiknya kita menyuruh beberapa orang untuk berpencar, mungkin tempat yang dimaksud catatan itu bukan desa ini. Tapi, salah satu daerah di gunung ini."


"Aku rasa sebaiknya begitu" Jawab Ki Jabara menyetujui.


Di dalam lorong sebuah goa di dalam perut gunung, beberapa orang berjalan di belakang seorang pria paruh baya. Salah satu dari mereka tersenyum mengejek ke arah punggung pria paruh baya itu.


"Senior Bai. Bagaimana rasanya diperlakukan seperti penjahat dan melakukan perintah dari orang seperti kami?"


Pria paruh baya yang ternyata Bai Fan itu berhenti dan berbalik. "Wu Guo! Berkerja untuk siapa kau sebenarnya?" Tatapnya tajam.


Mata Wu Guo sempat sedikit melebar, "Hahahaha! Apakah menurutmu itu begitu penting, sekarang?" Jawabnya masih dengan nada mengejek.


"Cih! Orang busuk seperti dirimu, tetap akan selalu berada dalam kesesatan. Di manapun kau berada" Bai Fan kembali berbalik dan mulai berjalan, kembali.


Nurmageda memerlukan Wu Guo untuk mengawal Bai Fan. Bagaimanapun, Hanya Wu Guo dan kelompoknya yang mampu menghentikan Bai Fan jika pria tua itu memilih untuk melawan.


Sebenarnya, Nurmageda tidak terlalu menyukai Wu Guo. Tetapi, dia terpaksa mengikuti perintah dari seseorang untuk terus mempekerjakan pendekar dari Benua Timur itu.


Wu Guo sama sekali bukan orang yang bisa dia kendalikan apalagi perintah. Nurmageda tidak menyukainya.


Beberapa hari yang lalu, Wu Guo melakukan hal yang mengerikan pada cucu Bai Fan. Padahal sebelumnya, Nurmageda hanya meminta Wu Guo untuk menekan gadis itu agar memberitahu keberadaan Bai Fan.


Sikap Wu Guo itu kini membuat Nurmageda harus mewaspadainnya. Meski orang yang berada di belakang Nurmageda sangat kuat, Nurmageda curiga bahwa Wu Guo juga punya tujuannya sendiri di kerajaan Swarna ini.


"Tuan Wu Guo. Aku harap anda membiarkan saja orangtua itu bekerja. Jika anda terus menganggunya, itu hanya akan membuat pencarian ini akan menjadi lebih lama."


Wu Guo menoleh pada Nurmageda, "Tuan Nurmageda. Kalian benar luar biasa. Bagaimana kalian tidak tahu bahwa orangtua itu memang sengaja membuat pencarian ini lebih lama?" Tunjuk Wu Guo pada Bai Fan yang terus berjalan di depan mereka seolah tidak mendengar ucapannya.


Nurmageda terkejut dengan ucapan Wu Guo yang terasa sedang mengejekknya itu. "Apa maksud anda?"


"Hahaha!" Wu Guo menggeleng sambil tertawa seolah tidak percaya, " Senior Bai sekarang sedang mempelajari jalan untuk melarikan diri. bukankah begitu, Senior?"


"Sepertinya aku memang tidak bisa mengalahkanmu dalam hal kelicikan" Bai Fan mengatakan itu seperti hal itu bukan apa-apa dan terus berjalan.


Mata Nurmageda melebar. Dia merasa orang-orang dari Benua Timur ini benar-benar meremehkannya, "Tuan Wu Guo! Jika kau sudah tau, kenapa kau membiarkannya?!" Nurmageda sedikit mengeraskan suaranya.


"Wu Guo! kapan kau akan membunuhnya? " Bai Fan berbalik, "Bukankah dia sudah tidak berguna lagi?" Tambahnya.


"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan?" Nurmageda benar-benar terkejut saat mendengar Bai Fan mengatakan, seolah memang itulah yang sedang direncanakan oleh Wu Guo padanya.


Wu Guo yang melihat ekspresi Nurmageda itu hanya tersenyum miring "Tuan Nurmageda. Kau belum terbiasa menghadapi orang-orang seperti senior ini. Dia hanya ingin memecah belah kita dan memanfaatkan itu untuk melarikan diri, lalu menyelamatkan cucunya"


Nurmageda benar-benar kebingungan harus mempercayai Wu Guo atau tidak. Memang apa yang dikatakan Wu Guo ada benarnya.


Karena jika Bai Fan bisa melarikan diri sekarang, dengan Kecepatannya dia bisa mencapai kota Arsa dan menyelamatkan Bai Hua cucunya.


Melihat Nurmageda yang meragukannya, Wu Guo menjadi sedikit kesal "Tuan Nurmageda. Jujur saja, kami memang menganggap kalian orang-orang Daratan ini tertinggal. Tapi jika kau mempercayai kata-kata orang itu, aku benar-benar akan membunuhmu. Bukan karena niatku tapi karena kebodohanmu!"


Keadaan yang tadi terasa biasa saja, kini menjadi sedikit menakutkan bagi Nurmageda. Dia berusaha berpikir cepat.


"Oh, hahaha! Tentu saja aku mempercayai anda. Kita bekerja untuk orang yang sama. Bukankah begitu?"


Wu Guo mencebik dan mengangguk "Ya. Sepertinya begitu" Jawabnya.


Kata-kata Wu Guo sama sekali tidak melegakannya. Nurmageda mencoba mengalihkan topik dan menatap Bai Fan tajam.


"Hei, Bai Fan! Lakukan tugasmu, Cepat! Atau aku akan mengutus orang-orangku untuk membunuh cucumu sekarang!"


Bai Fan menggeleng dan berbalik kemudian berjalan lagi. "Kau akan mati karena kebodohanmu" ucapnya.


Mereka Semua kembali berjalan mengikuti. langkah Bai Fan dari belakang. Wu Guo menghampiri Nurmageda sambil berjalan.


"Jika aku menjadi kau, aku tidak akan melakukan itu!" Wu Guo memperingatkan Nurmageda.


Nurmageda melihat Wu Guo, ternyata orang itu memasang wajah serius. "Apa maksudmu? Apa yang telah aku lakukan?" Nurmageda merasa heran.


"Di negeriku, meski kami saling membenci dan ingin saling membunuh, kami tetap akan memanggil musuh kami dengan pantas"


"Huh! Aku tidak perduli. Ini negeriku. Di sini, kami bebas memanggil musuh kami apa saja!" Jawab Nurmageda ketus.


"Yah! Itu terserah kau saja. Kami bisa mengalahkannya. Tapi, kami tidak bisa melindungimu saat melakukan itu"


Setelah mengatakan itu, Wu Guo kembali menjauh dan berjalan bersama orang-orangnya.


Sementara Nurmageda sempat berhenti sejenak. Jika apa yang dikatakan Wu Guo itu benar, maka rencananya kali ini memang berbahaya.


Sebelumnya, Nurmageda berniat jika apa yang mereka cari sudah ditemukan, dia akan meminta Wu Guo untuk melenyapkan Bai Fan. Seperti perintah yang dia terima.


Tetapi, perkataan Wu Guo membuatnya memikirkan ulang rencana itu. Nurmageda benar-benar tidak bisa mencerna cara berfikir pendekar-pendekar dari Benua Timur yang sedang bersamanya itu.


Berpikir terlalu keras juga tidak akan membantunya saat ini. Nurmageda menunda memikirkan langkah selanjutnya. Sekarang dia berfokus untuk menyelesaikan tujuan utamanya. Namun, saat dia baru berjalan beberapa langkah. Seseorang berteriak pada mereka.


"Tuan! ... Tuan!" Seorang prajurit tampak berlari tergesa-gesa menghampirinya.


"Ada Apa?! "Tanya Nurmageda sedikit ketus saat prajurit itu baru saja mendekatinya.


Sambil menunjuk arah kedatangannya, dengan terengah-engah prajurit itu berkata. "Puluhan pendekar tiba-tiba datang.dan sekarang mereka membuat kekacauan di luar"


"Apa katamu?! " Nurmageda meradang.


"Ya! Mereka kini sedang bertarung dengan orang-orang kita!" Tambah prajurit itu.


Nurmageda langsung menoleh pada Bai Fan. Namun, dia melihat Bai Fan tidak bereaksi apapun. Kemudian dia menoleh Wu Guo "Tuan Wu Guo. Apakah ini rencanamu?" Tanya Nurmageda dengan nada menuduh.


Wu Guo tersinggung "Aku bahkan tidak perlu menggunakan separuh tenagaku hanya untuk menghacurkan kau dan semua orang-orangmu! Jadi jangan tunjukkan kebodohanmu itu sekali lagi padaku!"


Nurmageda sudah merasa kepalang tanggung. Dia tidak membayangkan hal ini akan terjadi. Tak menghiraukan ancaman Wu Guo, Nurmageda masih menatapnya tajam.


"Jika bukan kau, maka bantu aku membereskan orang-orang itu!"


"Kalian orang-orang Daratan ini, ternyata memang sangat bodoh!" Wu Guo menggeram.


Setelah mengatakan itu, Wu Guo langsung berjalan cepat ke arah luar. Berniat melampiaskan kekesalannya pada siapapun yang membuat kekacauan di luar sana.