
"Aku tidak bisa membayangkan berapa banyak kerugian Sekte Singa Emas saat kehilangan tempatnya ini."
"Ya. Terakhir saat aku di Basaka, kota itu tidak terlihat sebesar pusat sekte ini."
Pagi menjelang siang, Arya dan ketiga gadis yang bersamanya memutuskan berkeliling pusat kota yang dahulu milik Sekte Singa Emas.
Pusat keramaian tersebut terletak. Di sebuah lembah yang sangat besar. Di kelilingi bukit-bukit kecil dan Gunung-gunung besar di sisi luarnya.
Di setiap bukit terlihat pemukiman-pemukiman terpisah. Diduga di sana dulu adalah tempat tinggal tetua-tetua sekte beserta murid-muridnya. Namun kini berganti menjadi tempat tinggal petinggi-petingi serikat Oldenbar.
Dari ukurannya saja, sudah bisa dipastikan setidaknya kota itu memiliki hampir lima juta penduduk. Sangat padat untuk dikatakan hanya sebuah sekte besar di Daratan Timur.
Sebelumnya, seperti yang diketahui, Sekte Singa Emas memiliki sepuluh ribu pendekar bebagai level dengan tingkat kependekaran berbeda-beda. belum lagi pendekar-pendekar yang mereka utus untuk menjadi prajurit di Kota Basaka. semua Itu tidak dihitung dengan murid-murid seluruh sekte yang masih dalam tahap pelatuhan dan belum pernah menjalankan misi apapun.
Dengan kekuatannyang mereka miliki dan pergerakan ekonomi penduduknya. Jelas bahwa seharusnya Sekte Singa Emas memiliki kekayaan yang sangat melimpah.
Namun, melihat bagaimana pemukiman Darsapati bersama pengikutnya yang tersisa di Ngarai tersembunyi, jelas bahwa saat meninggalkan pegunungan ini, mereka tidak membawa harta yang cukup.
Sepertinya harta tersebut juga sudah di kuasai oleh serikat Oldenbar. Tentu saja begitu. Kekayaan serta pengaruh yang luas adalah tujuan serta kekuatan Oldenbar.
Singkatnya, dengan kekayaan itulah Oldenbar menjadi sangat kuat dan dengan kekuatan itulah mereka memperkaya diri dan menyebar luaskan pengaruhnya.
Perhatian mereka teralihkan saat melihat sebuah gunung di ujung lembah tersebut. Dari tempat mereka berdiri sebenarnya gunung itu cukup jauh, namun yang menarik di sana adalah. Mereka masih bisa melihat sebuah bangunan yang berada di sisi gunung tersebut.
"Apakah itu sebuah istana?"
"Ya. Itu adalah sebuah istana. Menakjubkan, bukan?!"
Sebuah suara di belakang mereka menjawab pertanyaan Bai Hua. Mereka mengenal suara tersebut.
"Oh, tuan Angus. Kau di sini. Istana apa itu?" Tanya Luna.
"Aku baru saja ingin menjemput kalian, dan ternyata kalian sudah di sini." Kata Angus. "Itu adalah Istana Singa Emas yang kini sudah berganti nama menjadi Istana Oldenbar. Di sanalah tuan Edward berada." Lanjutnya.
"Jadi, maksudmu... kita akan kesana?!"
Angus tersenyum "Tepat sekali! Kita akan kesana. Tuan Edward sudah menunggu. Kita akan makan siang bersama dengannya." Namun, beberapa saat Angus langsung merasa ada yang asing dengan pengucapannya. "Oh salah. Maksudku kalian akan makan siang di sana. Aku sendiri, hanya akan mengatarkan saja.!" Ralatnya.
Mendengar kata-katanya itu, Mereka berempat hanya mengangguk. Tampak tidak begitu peduli dengan apa yang dikatakan Angus.
Hal tersebut, Membuat Angus merasa makin kesulitan menghadapi orang-orang yang menurutnya sangat misterius ini. Sampai saat ini saja, Angus bahkan belum bertanya prihal nama atau asal keempatnya.
Karena sejak Awal mereka tidak berniat memperkenalkan diri, Jadi Angus langsung mengerti. Menurutnya, hanya orang-orang yang dengan kedudukan tinggi saja yang berhak menanyai mereka langsung.
"Semoga tuan Kenneth mengerti apa yang aku maksud tentang keempat orang ini!" Batin Angus.
Tak lama, sebuah kereta yang berukuran cukup besar dan ditarik oleh empat ekor kuda datang menghampiri mereka.
"Tuan Muda dan Nona-nona sekalian, silahkan! kita akan ke sana sekarang."
Dengan kereta tersebut, untuk mencapai tujuan mereka sebenarnya cukup cepat. Perjalanan itu memakan waktu sekitar setengah jam. Di sepanjang perjalanan, mereka memperhatikan keadaan di sekitar.
Mereka melihat penduduk lokal tidak banyak berlalu lalang. Hanya ada pendekar-pendekar yang berselisih dengan mereka di jalan.
Selain itu, jalanan hanya di lewati orang-orang asing dengan menggunakan kuda atau kereta, seperti yang mereka naiki saat ini.
Ketiganya mengangguk. Mereka tidak memperdulikan tatapan heran dari Angus.
Tentu saja lelaki itu heran. gadis-gadis itu juga dari negeri asing. Tapi, berkata seolah mereka adalah penduduk setempat.
Akhirnya, mereka sampai di depan istana Oldenbar. Diluar terlihat ada ribuan pendekar yang menggunakan baju seperti seragam khusus keanggotaan Oldenbar.
Sejak kedatangan kereta mereka, semua orang di sana terlihat menghentikan kegiatan mereka. Semua memperhatikan lekat keempatnya dengan tatapan keheranan.
Mungkin ini karena keempatnya adalah tamu pertama yang di undang khusus, untuk datang kesini, sejak istana ini di tempati pimpinan mereka.
Arya dan yang lainnya sedikit terpesona saat baru saja tiba. Namun, cepat Keempatnya mengendalikan diri mereka seolah itu hal biasa. Bagaimanapun, mereka sedang dalam menjalankan rencana. Reaksi sekecil apapun, akan menimbulkan banyak tanda tanya.
Bangunan tersebut memang cukup megah. Ada empat pilar besar yang berdiri menyanggah teras istana tersebut.
Sementara, di atas teras istana itu, terlihat patung singa besar yang berdiri seperti sedang mengawasi keseluruh lembah di depannya.
Saat Angus mengajak mereka masuk, di dalam mereka telah di nanti dengan Ratusan anggota Oldenbar lainnya.
Mereka berjalan sedikit kedalam, dan di sana mereka sampai pada Aula perjamuan. Di tengah-tengah Aula tersebut terlihat sebuah meja makan panjang, Dengan masing-masing kursi berada di kedua ujungnya dengan kursi-kursi lain di kedua sisinga. Meja tersebut setidaknya cukup untuk diisi oleh empat puluh orang.
Meski memiliki banyak kursi, tapi hanya beberapa orang saja yang Kini terlihat duduk di sana. Tidak diragukan lagi, mereka pasti orang-orang yang memiliki kedudukan paling tinggi di serikat ini.
Saat mereka mendekat, orang-orang tersebut menyambut dengan dingin, seolah tidak perduli.
Meski Arya tidak merasa itu bukan sebuah masalah, tapi tidak bagi ketiga gadis lainnya. Jika, kedatangan mereka tidak disambut ramah, maka ini jelas sebuah masalah.
Saat Angus hendak memperkenalkan ke empatnya pada para petinggi Oldenbar tersebut. Tiba-tiba sebuah suara mendahuluiya.
"Paman, Drey! Gadis itu yang mencederai lututku. Paman harus membalasnya, ku!"
Tampak Seorang pemuda berdiri tidak begitu jauh dari salah seorang petinggi Oldenbar, sedang menunjuk Bai Hua dengan tampang penuh dendam.
Petinggi Oldenbar itu menoleh dan melihat keempatnya. Lalu fokus pada Bai Hua yang ditunjuk pemuda tersebut. Wajahnya tampak sangat meremehkan.
"Gadis, ini?"
"Ya!" Jawab pemuda itu cepat.
"Di membuat aku berlutut dan memohon pengampunan pada pemuda yang—"
"Sreeeet...!"
Suara pemuda itu, langsung menghilang. karena saat itu kepalanya sudah melambung kemudian terjatuh kelantai. Sedangkan tubuhnya masih tegak berdiri dengan leher putus sempurna yang menyeburkan darah segar membasahi lantai dan dan sedikit memercik wajah petinggi Oldenbar yang sebelumnya dia sebut pamannya itu.
Melihat kejadian yang sangat cepat tersebut, seluruh orang yang ada di sana langsung membeku. Mereka sangat terkejut.
Tidak ada satupun dari mereka yang menyangka akan melihat kejadian tersebut tepat di tengah Istana Oldenbar.
"Luna! kau mengambil mangsaku!" Seru Bai Hua, Kesal.
"Maaf, Bai Hua! Tapi, Aku tidak ingin mendengar satu katapun lagi dari mulut kotornya ini, tentang Tuan Muda, kita!" Jawab Luna, dingin.
Mereka berdua terlihat tidak memperdulikan seluruh orang yang ada di sana, yang kini menatap mereka dengan mulut ternganga.