
Keesokan harinya, apa yang di cemaskan oleh Citra Ayu tidak terjadi. Meski merasa heran, dia sangat bersyukur bahwa tidak ada pendekar yang menghadang jalan mereka.
Hanya saja saat ini, para pendekar itu tampak tengah disibukkan dengan hal lainnya.
Belum sempat dia bertanya, Ciel sudah kembali entah darimana. Saat ini mereka sedang berada di salah satu rumah makan di kota itu.
"Arya. Apakah kau tertarik dengan lelang? Tampaknya di salah satu tempat di kota ini, akan di adakan acara seperti itu.
"Lelang? Apa itu?"
Arya tidak mengerti apa itu lelang, tapi karena melihat bagaimana antusiasnya Ciel, sepertinya hal itu sangat menarik minat gadis tersebut.
Arya mengedarkan pandangannya. Luna dan Bai Hua juga tampak sangat tertarik. Namun Citra Ayu, meski hanya matanya saja yang terlihat, mereka semua tau bahwa gadis itu sama sekali tidak berniat untuk menghadirinya.
"Lelang itu tempat penjualan barang-barang langka dan menarik. Mereka menaruh harga dan melepasnya pada seseorang yang mampu menawar dengan harga tertinggi." Jelas Luna.
Citra Ayu sebenarnya terkejut mengetahui bahwa Arya sama sekali tidak mengerti apa itu lelang. Di kepalanya saat ini, memikirkan kembali kesimpulan yang dia dapat setelah memperhatikan pemuda ini dalam dua hari terakhir.
Saat ini, Arya begitu samar baginya. Bahkan, jika ketiga gadis ini pelayan ataupun pengawalnya, dia memperlakukannya dengan sangat baik.
"Baiklah, sepertinya menarik. Aku juga ingin tau bagaimana tepatnya lelang itu."
Saat Citra Ayu hendak memberikan pendapatnya. Arya langsung menyela.
"Jika hendak menyembunyikan pohon, letaklah di dalam hutan."
Mata Citra Ayu melebar, begitu pula yang lainnya. Arya benar-benar bisa menguasai cara berbahasa yang sama dengan orang Daratan ini. Padahal, baru beberapa orang saja yang benar-benar berbicara dengannya.
"Tuan pandai dalam berkata. Kata tuan benar adanya. Jika lelang yang tuan hendak. Aku mengikut saja."
Dengan begitu, mereka memutuskan untuk mengikuti acara lelang yang dikatakan Ciel itu.
Meski tidak terjadi masalah apapun, bukan berarti tidak ada yang mengawasi mereka. Hampir seluruh pendekar yang ada di rumah makan tersebut, mencuri pandang dan dengar apapun yang mereka lakukan juga apapun yang mereka katakan.
Hanya saja, siapapun yang mengawasi kelimanya, orang-orang itu tidak mengetahui bahwa, ada dua iblis langit dan sepasang mata dengan kekuatan yang unik, milik gadis dari benua barat yang lebih awas dari mereka.
Tempat pelelangan tidak begitu jauh. Mereka berjalan ke sana. Di perjalanan ada beberapa pendekar yang menatap mereka langsung ataupun tidak. ini membuat Citra Ayu semakin heran. Pasalnya, ini sedikit tidak wajar.
Tentu seperti dirinya, akan banyak pendekar yang menganggap rombongan mereka lemah. Namun, tidak ada yang mencoba langsung menghadang jalan mereka. Seharusnya, dengan apa yang dilakukan Arya di penginapan Kebojalang tadi malam, itu sudah cukup untuk mereka mendapatkan beberapa pertarungan saat ini.
Akan tetapi, saat tiba di Balai Lelang sekalipun, semuanya tampak berjalan sangat lancar.
"Jika ini sungai, pasti ada riak. Jika ini dalam, maka aku harus berjaga." Gumamnya.
Sebenarnya selain Arya, yang lainnya juga berfikir seperti apa yang sekarang difikirkan oleh Citra Ayu. Hanya saja mereka sudah terlalu percaya pada Arya.
Jika pemuda tersebut mengatakan tidak akan ada yang mampu membahayakannya di kota ini, maka itulah faktanya.
Meski seluruh pendekar di kota ini meremehkannya, Luna, Ciel dan Bai Hua, adalah orang yang sangat-sangat mengetahui seberapa berbahayanya Arya jika sudah marah.
Bahkan saat ini saja, ketiganya berharap tidak ada yang memulai untuk memprovokasi pemuda yang berjalan santai bersama mereka ini.
Setidaknya untuk saat ini saja. Luna, Ciel dan Bai Hua sangat berharap bisa menemukan barang yang bagus dan menarik di acara lelang.
Jika memang harus ada keributan, mereka lebih memilih itu terjadi saat lelang selesai. Bahkan, jika kota ini harus hancur sekalipun, mereka tidak peduli. Asal itu terjadi setelah acara lelang selesai.
"Pucuk dicinta, ulam pun tiba" tiba-tiba Citra Ayu berseru.
Menoleh sebentar pada Citra Ayu kemudian mereka melihat kemana arah gadis itu memandang.
Mereka terpaksa menghentikan langkah, saat melihat itu. Saat ini, apa yang akan dilakukan kedua kubu tersebut menyita banyak perhatian.
"Jika hanya telur yang berlaga, di periukpun bisa. Dengan banyaknya mata. Dua Kinantan sedang berjumpa."
Citra Ayu mengatakan bahwa dua kubu yang akan bertarung bukanlah kumpulan pendekar-pendekar biasa. Karena itu sama sekali tidak akan menarik perhatian banyak orang.
Akan tetapi, melihat banyaknya pendekar yang melihat dari jalan hingga atas bangunan, ini menunjukkan bahwa ada pendekar hebat di dua kubu tersebut.
Tiga gadis yang selalu bersama Arya, entah kenapa sangat tertarik untuk melihat pertarungan yang mereka yakini akan terjadi sebentar lagi itu.
Mereka bertiga penasaran apa yang di maksud Kinantan oleh Citra Ayu itu. Dan tak lama, dua orang yang sangat kuat melepas Aura membunuh.
Mata ketiganya terbelalak. Tidak hanya terasa sama kuat. Bahkan, mereka berdua terlihat sama. Benar-benar sama.
"Mereka, Kembar?!" Seru Bai Hua.
"Ya, tidak salah lagi, kekuatan mereka juga sama." Tegas Ciel.
Diantara mereka semua, Citra Ayu lah yang paling terkejut. Bukan karena tidak mengetahui kedua pendekar yang sama kuat itu adalah kembar.
Citra Ayu Justru sangat mengenal dua pendekar kembar ini. Bahkan, dia yakin apapun yang menyebabkan dua orang ini bertengkar, sedikit banyaknya ada keterlibatan dirinya di sana.
"Sendang! Kau bermata tapi buta. Kemana Tuanmu kau jaga? Tak lihatkah siapa di seberang."
"Bukan buta yang aku bela. Tapi, apa yang nak kulihat. Batu bukan pohon pun bukan. Seberang jalan tak ada benda."
"Cih, entah apa yang kau makan, sampai tak nampak puncak gunung. Jika engkau bejalan tunduk, lewatlah. Kami beri haluan."
"Teratak. Aku rasa engkau salah mengira. Kami jalan bukan sembarang jalan, tinggi bahu dari kepala. jika engkau tidak percaya, Cobalah, yang menghadang, aku tendang."
Salah satu keunikan Daratan Barat adalah, penduduk Daratan itu begitu mahir bersilat lidah. Bahkan, pendekar-pendekar Daratan itu, akan menggunakan keahlian tersebut untuk membuat lawan marah.
Satu hal yang unik lainnya adalah, saat itu berlangsung, kedua kubu sama-sama melepas Aura membunuh. Gunanya memang untuk menghancurkan mental lawan mereka.
Inilah kenapa pertarungan antar pendekar di Daratan Barat menjadi tontonan yang sangat menarik. Kedua pihak sudah bertarung mental terlebih dahulu, sebelum baku hantam yang sebenarnya terjadi.
Saat dua kubu pendekar sedang bersilat lidah, tiba-tiba Ciel menyadari Arya sudah tidak ada lagi di dekatnya.
"Kenapa senior ke sana?"
Sendang dan Teratak melebarkan mata mereka. Saat ini, keduanya terdiam ketika melihat seorang pemuda melintas di antara keduanya.
Bukan hanya mereka saja, bahkan semua orang yang ada di sana juga sama terkejutnya.
Berbagai macam umpatan akan mereka ucapkan, namun tiba-tiba pemuda itu berhenti tepat di tengah dua kubu yang akan bertarung itu.
Arya menatap Teratak lalu Sendang bergantian. "Aku baru melihat dunia, tak aku sangka ada kucing bertubuh manusia."
Semua orang terperangah. Tentu saja mereka sangat mengerti apa yang baru saja dikatakan Arya. Dengan jelas Arya mengatakan hanya kucing yang bertarung dengan mengeraskan suara.
Apa yang Arya Ucapkan itu, jelas sebuah hinaan untuk kedua Kubu.
Luna, Ciel dan Bai Hua hanya menggeleng dan tersenyum kecut, saat melihatnya. Harapan mereka untuk ikut lelang, sepertinya sudah sirna.
"Yah! sepertinya, saat yang tepat sekali untuk memulai pertarungan." Gumam, Luna.