
"Salendra ... Aku tidak bisa melihatnya. Sebaiknya aku pergi saja."
"Ya, sebaiknya kita bantu yang lain saja. Mari kita kumpulkan pemuda-pemuda itu."
Keduanya tidak bisa membantu apapun, bahkan saat semua pertarungan itu berakhir.
Seseorang bisa berteriak melolong sekuat tenaga, karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Namun, jika rasa sakit itu tidak bisa lagi membuat orang itu bahkan hanya bersuara, maka itulah sesungguhnya sebuah kesakitan. Dua pemimpin pasukan Nippokure itu, kini tengah merasakannya.
Dengan kemampuan Arya yang memahami struktur tubuh seseorang, setelah menghancurkan ratusan titik-titik cakra mereka, Arya memanipulasi syaraf-syaraf kedua orang tersebut, agar mengirim gelombang rasa sakit terus menerus ke otak Mereka.
Fikiran mereka dipenuhi dengan rasa sakit yang membuat keduanya berguling-guling di lapangan.
Salendra dan Rangkupala yang tidak tahan melihatnya, ingin segera menghabisi keduanya. Namun, Arya melarang mereka. Bahkan saat ini, Arya juga melakukan hal yang sama pada seluruh prajurit Nippokure yang tersisa.
Berfikir tidak bisa melakukan apapun di sana, keduanya berencana mengumpulkan prajurit di mana banyak wanita terkurung.
Bahkan saat melihat salah seorang prajurit itu saja, Salendra langsung muntah.
Bai Hua membuat musuh-musuh nya merasakan neraka bahkan sebelum kematian mereka.
Gadis itu menguliti Prajurit-prajurit tersebut hidup-hidup. Tak sampai di sana. Cucu Bai Fan itu juga mencincang sebagian daging anggota tubuh lawannya hingga ke tulang mereka.
Mereka tidak mati namun sangat menderita. Karena Bai Hua membiarkan rasa sakit itu terus menjalar ke otak korban-korbannya.
Mungkin beberapa dari mereka mencoba mati dengan mengigit lidah. Namun, tentu saja itu percuma. Bai Hua sudah terlebih dahulu menggeser paksa rahang-rahang musuhnya itu.
Bai Hua tau benar bagaimana rasa sakit yang kini di rasakan para wanita yang di tawan di benteng tersebut. Jika ingin menyelamatkan mereka, maka selamatkan lebih dahulu jiwa semuanya.
Hal inilah yang dilakukan Arya pada dirinya saat mengalami hal yang nyaris serupa. Jika tidak, mungkin Bai Hua sudah tidak ingin lagi hidup di dunia ini.
Dua pendekar tua tak ingin lagi mendatangi dua gedung dimana dia melihat dua Iblis langit membantai seluruh sisa pasukan Nippokure.
Karena menurut mereka, itu sungguh tidak perlu. Keduanya sudah melihat bagaimana sadisnya pembantaian itu, walaupun hanya beberapa detik saja.
"Arya, kenapa kau begitu lama?"
Luna sedikit penasaran. Dengan cara Arya mengakhiri pertarungan, seharusnya pemuda itu bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat. Namun tidak, Arya selesai paling terakhir.
"Aku banyak mendapat pelajaran dari menghadapi mereka."
Luna dan Ciel hanya menggelengkan kepala. Cara berfikir pemuda yang mereka ikuti itu, memang sedikit aneh. Namun, tiba-tiba saja Arya menunjukkan sesuatu yang langsung menarik minat Ciel.
"Ciel ... Coba lihat ini. Kau tau nama jenis senjata kecil ini?"
Ciel menggelengkan kepala namun itu tidak menyebabkan minatnya menyurut. Gadis itu berniat mengambilnya dari tangan Arya, namun Arya segera menariknya. Tentu saja itu membuat gadis itu sedikit terkejut.
"Senjata Ini, beracun ... "
"Lalu, kenapa kau seolah memberikannya padaku?!"
"Aku hanya ingin kau melihatnya. Sebaiknya kau berhati-hati."
Saat itu Arya kembali menjulurkannya pada Ciel, dan gadis itu memegangnya sedikit lebih berhati-hati.
"Shuriken ... "
Arya dan Ciel menoleh. Saat itu, Bai Hua menghampiri mereka.
"Senjata para Shinobi. Namanya, Shuriken ... " Tegas Bai Hua.
"Kau tau ini?"
Bai Hua mengangguk. "Bagi kami orang benua Timur, Senjata itu sangat terkenal. Pendekar-pendekar yang menggunakannya, pasti dari klan-klan Shinobi di kekaisaran Nippokure ... dan aku rasa, senjata-senjata itu sangat cocok untukmu."
Penjelasan Bai Hua, membuat Ciel tambah bersemangat.
"Sebaiknya, kau periksa yang lainnya. Senjata itu memiliki banyak bentuk." Tambah Bai Hua.
Saat Ciel memeriksa beberapa orang yang dia lihat memliki senjata Rahasia, Arya menghampiri Luna.
"Aku merasakan pedang mereka memiliki suara yang aneh saat di libaskan di udara. Dan milik dua orang itu, sepertinya sedikit berbeda."
Luna melihat pada Arya menunjuk. "Baiklah, aku mengerti."
Arya sangat haus dengan ilmu pengetahuan. Setiap momen yang memberinya informasi, tidak dia lewatkan begitu saja.
Bahkan, jika itu hanya suara lintasan pedang di udara, yang pada kenyataannya, pengguna pedang itu, berniat membunuhnya.
Saat ini, mereka sudah mengumpulkan semua prajurit Nippokure di lapangan di tengah benteng tersebut.
Herannya, semua pemuda yang ada di sana, tidak takut melihat keadaan para prajurit tersebut. Mungkin, siksaan yang selama ini mereka terima, terasa terbalaskan karena melihat keadaan prajurit tersebut.
Alih-alih menghindar seperti apa yang dilakukan Rangkupala dan Salendra, mereka tidak ingin berkumpul dan membantu Arya dan yang lainnya.
"Ambil senjata-senjata itu ... Dan lakukan apa yang kalian mau. Raga kalian telah bebas, namun jiwa kalian, kalian sendiri yang bisa membebaskannya."
Para wanita yang kini berdiri ketakutan di luar itu, tampak ragu. Saat Citra Ayu ingin memberikan senjatanya pada salah satu wanita, namun Bai Hua langsung menahannya.
"Citra Ayu ... Biarkan mereka sendiri memilih cara untuk membebaskan jiwa mereka sendiri-sendiri. Tidak semua memiliki keberanian untuk membunuh."
"Baik, aku mengerti ... Maafkan aku."
Lama para wanita itu terdiam dan tidak ada yang berani bergerak. Namun, wajah mereka sudah sedikit berubah.
Bai Hua tau proses itu. Karena itulah yang dia rasakan saat akan menghabisi para pendekar yang menodainya.
Pada proses ini, kesedihan, kesakitan, kebencian, amarah serta rasa dendam di dalam hati wanita-wanita itu, sedang di bersihkan setiap kali melihat betapa tersiksanya para Prajurit-prajurit Nippokure yang ada di depan mereka itu.
Bai Hua juga tau pada akhirnya, semua perasaan itu akan berubah menjadi rasa iba dan akhirnya asa yang lainnya menghilang dan mereka bisa memutuskan apa yang akan mereka lakukan pada orang-orang yang telah menjadi mimpi buruk mereka tersebut.
"Hiiiiiyyyyyaaaaaa ... "
"Hiiiiiyyyyyaaaaaa ... "
"Hiiiiiyyyyyaaaaaa ... "
Tiga wanita pertama sudah memegang pedang yang mereka dapat di lapangan dan berlari pada prajurit tersebut.
"Arghhh ... "
"Arghhh ... "
"Arghhh ... "
Melihat para prajurit itu memang tidak berdaya lagi pada mereka, sebagian wanita lainnya juga maju dan berniat melakukan hal yang sama.
"Hiiiiiyyyyyaaaaaa ... "
"Hiiiiiyyyyyaaaaaa ... "
"Hiiiiiyyyyyaaaaaa ... "
"Hiiiiiyyyyyaaaaaa ... "
"Hiiiiiyyyyyaaaaaa ... "
"Hiiiiiyyyyyaaaaaa ... "
"Matilah kalian ... Bedebah ... !"
"Keparat ... Matikau ... "
"Hiiiiiyyyyyaaaaaa ... "
"Hiiiiiyyyyyaaaaaa ... "
"Hiiiiiyyyyyaaaaaa ... "
"Arghhh ... "
"Arghhh ... "
"Arghhh ... "
"Arghhh ... "
"Arghhh ... "
"Arghhh ... "
Di mulailah proses pembebasan sebenarnya. Tidak itu saja, beberapa pemuda di sana juga maju dan melakukan hal yang sama.
Tentu saja mereka juga menderita. Namun, saat ini mereka melihat kesempatan untuk menghilangkan mimpi-mimpi buruk yang selalu menghantui mereka sesaat setelah sampai di benteng ini.
"Salendra ... Pertarungan tadi bukanlah penyelamatan. Akan tetapi, Inilah penyelamatan yang sebenarnya."
"Ya, kau benar ... Aku bersukur orang-orang inilah yang datang bersama kita. Aku bahkan tidak pernah berfikir cara ini sebelumnya."
Keduanya saat itu mengerti. Meski cara Arya dan yang lainnya sangat sadis dan terkesan tidak manusiawi, Namun itu bisa diterima.
Setiap suara yang di teriakan wanita-wanita itu ketika membunuh prajurit-prajurit tersebut, bukanlah suara pembantaian untuk sebuah dendam.
Karena itu adalah teriakan kebebasan.
Dan mereka sangat berhak atas itu.