
"Tuan Muda ... Tolong beri mereka kesempatan."
Itulah permintaan Wisanggeni pada Arya sebelum berangkat ke Lembah Haru. Menurutnya, apa yang sudah Arya lakukan beberapa bulan terakhir, baik di sengaja ataupun tidak. Arya terbukti telah berhasil memisahkan hitam dan putih di Daratan Timur ini.
Terlebih lagi saat ini, pendekar-pendekar aliran putih sedang menggabungkan kekuatannya untuk membela tanah leluhur mereka.
Wisanggeni meminta Arya memberikan pendekar-pendekar itu kesempatan untuk berjuang bersama. Tidak mudah untuk menyatukan mereka semua dan tidak mungkin mereka pulang tanpa bertarung.
Hal tersebut juga di setujui Darsapati, Lamo dan Salu. Meski keinginan mereka sama kuatnya untuk bertempur, tapi apa yang di katakan Wisanggeni memang patut dipertimbangkan.
"Arya. Kami setuju. Mungkin akan ada nyawa yang terkorbankan dari mereka. Tapi cobalah melihat ke depan. Jika kau tak memberi mereka kesempatan berjuang, maka mereka tidak akan merasa bagian Daratan ini."
Rencana yang di buat Arya dan yang lainnya adalah menjauhkan pertempuran dari kota Basaka. Namun, untuk berjaga-jaga, mereka sengaja memesan senjata dalam jumlah besar pada Oldenbar.
Senjata-senjata itu akan di gunakan oleh pendekar-pendekar dari Sekte Besar Tujuh Mata Air, yang sudah di persiapkan jauh-jauh hari di pusat kota untuk melindungi penduduk. Itu semua jika kemungkinan buruk terjadi.
Namun, semua bergerak diluar kendali. Aliansi Sekte Aliran Suci muncul dan Darmuraji mati. Perang tidak terhindarkan.
Rencana mereka untuk melindungi penduduk Basaka memang berjalan jauh lebih baik dari apa yang di perkirakan. Ditambah lagi kedatangan Darsapati mampu membuat prajurit kembali berpihak padanya atas dukungan Wisanggeni.
Tapi, perang dalam jumlah besar tetap akan menyebabkan jatuhnya korban dalam jumlah besar pula. Itulah kenapa Arya hendak langsung terjun sejak awal.
Arya dan yang lainnya sudah tiba di Lembah Haru beberapa saat setelah perang di mulai.
Darsapati dan Kaungsaji berkali-kali mencoba menahannya. Karena menurut mereka Aliansi Sekte Aliran Putih masih di atas angin.
Namun, tiba-tiba Moro menunjukkan kekuatannya. Hal itu membuat Darsapati dan Kaungsaji hampir menyesali pendapatnya. Pasalnya, ternyata Moro begitu mengerikan.
"Suruh mereka semua mundur! ... Akan sulit bagi kami bertempur sambil melindungi banyak orang!"
Itulah perintah terakhir Arya. Saat kata-kata itu dia ucapkan, Darsapati, Kaungsaji dan yang lainnya, langsung merinding.
Tanpa bisa ditahan lagi, Sesaat setelahnya, Arya dan yang lainnya segera bergerak. Arya langsung melempar Bahuraksa jauh tinggi ke udara dan meluncur tajam menghantam ke arah Moro dan yang lainnya.
Kejadian itulah yang menghantarkan situasi menjadi seperti saat ini. Beruntung dua Kubu sempat terpisah dan tidak akan sulit bagi Darsapati untuk menyuruh pihak aliansi segera menjauh.
"Penguasa?! ... "
Serabang masih bertanya di sela menyaksikan apa yang terjadi di depan sana. Namun, pertanyaannya tidak terjawab. Karena lagi-lagi mereka di kejutkan dengan suara ledakan di susul teriakan.
"Booom ... !"
"Arghhh ... !"
Hantaman Godam Luna kembali membentur pertahan Edward. Sebesar apapun tenaga dalam yang di kerahkan Edward, itu menjadi sia-sia dia mencoba menangkisnya.
"Nona Luna. Kita tidak ada dendam sebelumnya, Kenapa kau menyerang kami?"
Bukan tidak beralasan Edward mengatakan itu. Daya kejut dari benturan Godam Luna dan tubuhnya, memiliki daya dampak yang dahsyat. Beberapa pasukan yang memiliki level kependekaran rendah, langsung pingsan seketika.
Edward merasa ngeri saat melihat Luna. Bagaimanapun, dia merasakan Luna hanya berada di level pendekar Raja. Namun, dengan tubuh menyala seperti saat ini, seolah Edward sedang menghadapi pendekar suci tingkat akhir.
"Baiklah, jika kau tidak menjawab. Berarti kau memang serius hendak membunuhku. Jangan salahkan aku jika kau mati di tanganku."
Edward menggeram. Saat itu, dia langsung memusatkan tenaga dalamnya. Tidak penting apa yang dikatakannya, pertarungan mereka sudah pasti tidak bisa di hentikan.
Diam tanpa perlawanan bukan pilihan. Lagipula, Kekuatan Edward tidak hanya itu. Dan di sini, dia juga tidak sendiri.
"Kenneth! Ludwig! ... Bantu aku menyingkirkan wanita ini."
Di sisi lainnya, Daga juga berfikiran sama. Ternyata, gadis yang baru saja menebasnya hanya berada di peringkat pendekar ahli tingkat akhir.
Sebenarnya ini sangat mengejutkan. Mereka terpisah sangat jauh dalam level kependekaran. Tapi melihat Bai Hua bisa menebasnya, itu membuat nya benar-benar heran.
"Cih! Pertanyaanmu sangat tidak penting." Jawab Daga kesal. "Lindungi aku dari anak-anak panah itu. Aku akan menghabisi gadis ini terlebih dahulu."
Mungkin pendekar asing memiliki beberapa trik dalam menghadapi pendekar yang jauh berada di atasnya. Apalagi, saat dia terkena tebasan, saat itu Daga dalam keadaan lengah.
Akan tetapi, saat ini Rantoba dan beberapa pendekar suci ada bersamanya. Tidak sulit baginya untuk menghancurkan gadis yang sejak tadi terus membantai siapa saja yang ada di depannya ini.
"Gadis Sial! Sekarang, tidak ada yang akan mengalihkan perhatianku. Kau akan mati dan aku akan memakan jantungmu!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
Bai Hua berhenti. Apalagi saat itu, tidak adalagi pendekar-pendekar sekte aliran hitam yang berada dalam jarak serangnya. Dia berbalik menatap Daga dan memberikan senyuman miring seperti meremehkan.
"Kau? ... Ingin membunuhku ... Kau mampu?!" Balas Bai Hua mengejek.
Daga menjadi sangat kesal dengan apa yang dikatakan Bai Hua itu. Dalam segi kecepatan, memang gadis ini tidak bisa di remehkan. Tapi, Daga juga memiliki kelebihan dalam hal tersebut.
"Sial! Mati— "
Kata-kata Daga terpotong. Matanya melebar dan jelas dia terkejut. Baru saja gadis itu berada di depan matanya, dan tiba-tiba menghilang seketika.
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
Daga segera berbalik dan melihat beberapa pendekar suci dan Raja di sana sudah mendapat sabetan pedang secara Acak.
"Dimana dia?! ... "
"Ngiiiing ... !"
Daga melompat kesamping saat mendengar suara pedang dalam kecepatan tinggi, melintas sejajar dengan lehernya. Setelah itu dia berbalik untuk mengejar Bai Hua.
Namun, langkahnya terhenti. Matanya langsung terbelalak. Saat itu, Daga berani bersumpah. Tidak ada keganjilan yang lebih aneh dari apa yang dia lihat saat ini.
"Pet-petir?! ... "
Daga melihat Bai Hua berdiri menatapnya dengan seringai mengerikan. Saat ini ratusan kilatan petir yang sangat kuat, menyambar-nyambar dari tubuhnya.
"Pak Tua, bukankah kau bilang ingin membunuhku? Cobalah mendekat, jika kau mampu!"
Hari ini, gelarnya sebagai Setan Gila, sungguh tidak berguna. Daga benar-benar tidak mengerti makhluk apa yang kini sedang di hadapinya.
Itu Jelas, karena tidak ada dalam catatan sejarah bahwa ada manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan elemen selain 5 elemen dasar yang ada.
Akan tetapi, tepat di depan matanya, seorang gadis asing sedang memperlihatkan bahwa itu nyata.
Petir. Ya, petir yang menyambar-nyambar. Daga bahkan tidak pernah menyangka bahwa petir adalah sebuah elemen sebelumnya
"Ka-kalian! ... Makhluk apa kalian sebenarnya?"