
Berbeda dengan keempat korban perampokan yang diselamatkan Arya, pemimpin kelompok perampok itu sendiri menduga Arya adalah siluman yang sudah sangat tua yang berhasil menjelma dalam bentuk manusia.
Buktinya, Dua ekor siluman yang mereka duga setidaknya berusia di atas tiga ribu tahun berbentuk srigala bertanduk dan kera raksasa di depannya ini, sangat patuh padanya.
Menyadari betapa takutnya ke empat orang itu sekarang, Arya mencoba menenangkan mereka "Jangan takut, aku tidak akan melukai kalian."
Salah seorang laki-laki yang jauh lebih tua dari dua orang lainnya terlihat lebih tenang. Dia memberanikan diri mengangkat wajah untuk menatap Arya.
Dia sedikit terkesima dengan penampilan Arya. Bagaimanapun dia menilai, Arya terlihat layaknya pemuda biasa. Selain tubuhnya yang terlihat kuat dan gagah, pandangan Arya sendiri tidak sedikitpun terlihat menakutkan baginya.
"Tuan Pendekar, terimakasih atas pertolongan mu!"
"Tidak perlu berterimakasih paman! Aku hanya kebetulan lewat dan hanya ingin membantu."
Setelah melepaskan ikatan mereka, Arya berbalik melihat pada ketua kelompok perampok yang masih berdiri mematung tidak jauh dari dirinya berada.
"Suruh seluruh orang-orangmu berkumpul dan berdiri mengelilingi pohon itu!" Perintah Arya sambil menunjuk sebuah pohon yang cukup besar.
Perintah Arya itu membuatnya terkejut "Kalian dengar! Berkumpul dan berdiri di sana!"
Perintah pemimpin itu diabaikan oleh seluruh anak buahnya. Mereka sama sekali tidak bergerak sesuai perintahnya sehingga membuatnya panik. Orang itu takut Arya akan tiba-tiba menghajarnya "Kenapa diam saja? Ayo berdiri di sana?" katanya sambil menunjuk dengan mulut dan matanya.
Orang itu bukan tidak tau kenapa seluruh anak buahnya tidak mematuhinya. Mereka lebih takut jika siluman srigala sebesar kuda yang memiliki tanduk itu akan langsung menerkam orang yang pertama kali bergerak sesuai ancaman Arya. Begitu juga dengan dirinya.
Bahkan saat memberi perintah pun dia sama sekali tidak berani bergerak. Hanya suara yang keluar dari mulutnya dengan gigi yang bertaut rapat untuk mengurangi risiko dianggap melakukan pergerakan yang bisa membuat siluman srigala menerkamnya.
"Jika kalian tidak berkumpul disana, aku akan memerintahkan Rewanda dan Krama meremukkan tulang dan mencabik tubuh kalian semua saat ini juga!" kata Arya tiba-tiba.
Tanpa menunggu lebih lama lagi semuanya melompat berdiri dan langsung berlari ke arah pohon yang ditunjuk Arya. Bahkan saking takutnya, beberapa dari mereka menarik teman di sampingnya kebelakang agar bisa mendahului yang lainnya. Seolah yang terlambat sampai ke pohon itu akan kehilangan nyawa mereka.
Saat semuanya telah berkumpul, Arya mengikat semua perampok di pohon itu dan kembali pada keempat orang yang telah diselamatkannya.
"Tuan pendekar, sekali lagi terimakasih." ucap laki-laki tadi sambil menunduk dan diikuti oleh dua orang lainnya. Sementara satu orang lainnya masih tidak sadarkan diri.
"Baiklah paman, sebaiknya bangunkan bibi itu! Salah satu teman kalian sedang terluka di sana. Aku akan kesana untuk melihat keadaannya."
"Baiklah tuan pendekar, kami juga akan menuju ke arah sana. Kami akan segera menyusul."
Arya kembali menaiki punggung Krama untuk segera ke tempat orang yang tadi terluka. Namun, sebelum sampai di sana, Arya meminta Krama dan Rewanda untuk merubah wujud mereka agar tidak mengejutkan orang itu.
Di sana, Arya mendapati orang tersebut ternyata sudah tak sadarkan diri. Luka yang di sebabkan anak panah tersebut ternyata cukup parah. Terlihat dari banyaknya darah yang menetes yang sudah membasahi celananya.
Arya ingin mencoba salah satu teknik pengobatan yang ada di salah satu Kitab yang di berikan Obskura padanya. Sebelumnya Arya sempat ragu, karena di dalam Kitab tersebut butuh tenaga dalam untuk menghentikan pendarahan. hal yang tidak dimiliki Arya.
Tapi, karna luka orang tersebut cukup parah, Arya menggunakan Energi lain yang ada di tubuhnya. Arya berniat menggunakan Energi dari Kulkan.
"Hei, apa yang kau lakukan?!"
"Aku mencoba untuk mengobati luka paman ini" jawab Arya pada suara Roh Air yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Kau memang bodoh, berani-beraninya kau menggunakan Energinya untuk hal sekecil ini." kata Amia ketus.
"Apa maksudmu?"
"Coba cari dalam ingatanmu, Berkah air juga bisa menyembuhkan luka, apalagi hanya luka sekecil itu!"
Arya mengikuti saran Amia untuk mengobati luka tersebut dengan teknik penyembuhan dari Berkah Air yang ada di Ingatannya. Saat Arya mencoba mencari teknik itu di dalam ingatannya, ternyata Arya menemukan banyak jenis teknik pengobatan yang bisa dilakukan menggunakan Berkah Air.
Arya tampak berfikir sejenak menimbang sesuatu. Kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Bukan ini" gumammnya.
"Sudah lakukan saja yang itu, aku akan meminjamkan kekuatanku."
"Kau memiliki kekuatan?"
"Jadi selama ini kau tidak tau? Kau memang payah!"
Arya membuka tapak tangan kanannya. Tak lama ia merasakan sebuah arus energi dari tubuhnya mengalir ke telapak tangan itu. Kemudian dengan tanga kiri, Arya mencabut sisa anak panah pada laki-laki itu dan langsung menutupi bekas luka dengan tangan kanannya.
Arya bisa merasakan perpindahan energi dari telapak tangannya pada luka orang itu. Saat pergerakan energi itu berhenti, Arya mengangkat telapak tangannya itu.
Meski masih sedikit berbekas, namun luka itu sudah sepenuhnya tertutup. Sekarang bisa dikatakan luka itu sudah sembuh.
"Berhasil" kata Arya puas dan sedikit bangga dengan pencapaiannya.
"Tentu saja berhasil, kau meremehkan kekuatanku?"
Alih-alih menjawab Amia, Arya malah mengabaikannya. Arya membalikkan tubuh laki-laki hingga terlentang. Wajahnya tidak sepucat saat terakhir kali Arya melihatnya. Sekarang dia hanya seperti orang tertidur karna kelelahan.
Arya duduk di sebelah laki-laki itu. Sementara Krama merebahkan badan di depannya. Lain dengan Rewanda yang memilih untuk duduk di atas sebuah dahan kecil di belakang Arya. "Krama, Sebaiknya tidak menunjukkan wujudmu yang asli saat bertemu manusia."
"Baik!"
Arya melihat ke arah Rewanda, "kau juga Rewanda!"
"Baiklah Raja, aku akan menunjukkan jika kau minta."
Melihat betapa takut nya orang-orang tadi dengan kemunculan Krama dan Rewanda, Arya tidak lagi berniat untuk menunjukkan wujud asli mereka di depan manusia.
Mungkin mereka bukan siluman seperti yang di duga oleh orang-orang itu. Tapi, itu tidak akan mengurangi ketakutan mereka. Faktanya, Rewanda dan Krama sebenarnya lebih mengerikan daripada siluman itu sendiri. Mereka adalah Iblis langit.
Arya masih teringat bagaimana menakutkannya kekuatan dua makhluk yang kini memanggilnya Raja itu.
Saat terbangun, orang yang tadinya terluka karna anak panah itu, sempat keheranan saat mendapati lukanya sudah sembuh.
Arya tidak menutupi diri bahwa dia yang mengobatinya. Namun, ekpresi orang itu terlihat sangat mengagumi Arya. Dan mengucapkan terimakasih sampai hampir bersujud di depannya.
Laki-laki itu berfikir pasti Arya adalah orang yang sangat sakti. Sehingga bisa membuat lukanya yang sangat parah dan menyakitkan itu bisa sembuh seketika.
Melihat kejadian itu Arya mulai berfikir bahwa semua tindakannya itu tidak baik diketahui banyak orang. Dia memutuskan untuk mempertimbangkan segala sesuatu sebelum bertindak mulai dari sekarang.
Tak begitu lama menunggu, gerobak pedati yang ditarik dua ekor kerbau mendekati mereka. Untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya, mereka mengundang Arya untuk singgah di desa mereka.
Arya berusaha menolak, namun mereka bersikeras untuk menjamu Arya. Walau kadang mata mereka selalu awas pada makhluk yang selalu mengikuti Arya.
Ke empat orang ini yakin bahwa Anjing yang berjalan di sebelah kereata dan Kera yang duduk di atas salah satu kerbau itu adalah jelmaan dari dua Siluman yang sangat menyeramkan itu.
Laki-laki yang menawarkan Arya itu bernama Barda, sedang wanita yang sempat tak sadarkan diri tadi adalah Sundari istrinya. Dua orang lelaki sisanya adalah anak-anaknya.
Arya hanya menyebut namanya namun tidak menyebut dari mana asalnya. Mereka menyadari keengganan Arya itu memilih tidak menanyakan hal tersebut lebih jauh lagi.
Arya juga meminta mereka merahasiakan wujud Krama dan Rewanda dari siapapun. Tentu saja permintaan itu langsung dibalas dengan anggukan cepat oleh kelimanya.
Butuh waktu dua jam bagi mereka untuk sampai ke desa yang di maksud. Sesampainya di sana, di depan pintu desa mereka melihat orang-orang berkumpul memegang senjata.
Pemandangan yang juga mengejutkan empat orang yang mengaku penduduk desa tersebut.
"Siapa mereka paman?" tanya Arya saat melihat kumpulan orang itu kini berjalan mendekati pedati mereka.
Barda memperhatikan baju yang di gunakan oleh orang-orang tersebut, "Sepertinya mereka pendekar dari Sekte Awan Senja."
"Awan Senja?"
Barda mengangguk pada Arya dan kembali melihat kedatangan pendekar-pendekar itu. Di antara mereka Barda mengenali seseorang di sana.
"Tuan Barda, bagaimana anda bisa selamat " orang itu bertanya keheranan "Dan ... Kau? Bukankah kau pemuda yang tadi?" tanya orang itu setelah menyadari kehadiran Arya di belakang.
"Parjo! Jaga sikapmu! Tuan Arya ini yang menyelamatkan kami sementara kau kabur meninggalkan kami!" Bentak Barda pada orang yang ternyata berlari di depan saat meminta pertolongan tadi.
Seorang pendekar paruh baya yang berdiri di sebelah Parjo tertawa dan menyela Barda. "Hahahaha! Tampaknya kalian bukan disergap oleh kawanan perampok tapi gerombolan penipu!"