
Dari penginapan Bulan Fajar, Arya langsung menuju tempat yang sangat ingin dia kunjungi sebelumnya.
Dan di sinilah dia sekarang. Di depan lima gundukan tanah. Tempat peristirahatan terakhir seluruh keluarganya dan Ki Cokro berada.
Lama Arya termenung di sana, tidak ada sepatah kata yang bisa dia ucapkan dari mulut ataupun hatinya. Arya hanya menatap setiap gundukkan tanah itu, dan membayangkan semua kenangan yang dia punya dengan orang yang berada di dalamnya.
Air mata Arya mengalir deras. Arya sangat merindukan mereka. Hari ini, semua yang telah dia lalui selama ini entah kenapa menjadi terasa sudah sangat lama dan berat.
Arya berharap entah bagaimana, bisa kembali bersama mereka. Tapi, dia juga tau bahwa semua itu tidak akan mungkin terjadi.
Saat kembali dari desa Paganti, Arya berusaha keras menahan amarahnya. Dia tau jika dia kehilangan kendali, maka itu akan berakibat buruk pada semua orang yang ada di sekitarnya.
Jadi, Arya memilih untuk menenangkan diri, di kamar. Hingga amarahnya benar-benar mereda, dan memutuskan untuk keluar.
Bagaimanapun, Arya merasa dirinya adalah awal dari semua penderitaan semua orang-orang itu. Rasa bersalahnya itulah yang membuat Arya hampir saja kehilangan kendali atas dirinya.
Setelah tenang, Arya memikirkan cara terbaik yang bisa dia lakukan untuk semua orang. Dan hal pertama yang dia pikirkan, tentusaja mengembalikan kehidupan mereka seperti dulu lagi, setidaknya hal itu telah dia mulai.
Dan hal berikutnya adalah, Arya akan mendatangi kota Basaka. Menuntut balas bagi siapa saja yang memerintahkan Nurmageda melakukan kengerian itu. dan benar-benar mengakhiri apa yang menjadi awal segalanya.
Arya terus mengunjungi pusara itu ditemani Rewanda dan Krama selama hari-hari terakhirnya di Kota Arsa.
Selama itu pula, kota Arsa mulai berbenah. Semua orang menyepakati agar Ki Jabara yang memimpin kota itu dibantu oleh Sekar sebagai wakilnya.
Nurmageda juga telah dihukum, saat semua orang memutuskan untuk membakarnya di tengah kota.
Memang tidak cukup untuk mengobati luka yang di derita korban-korbannya. Tapi, itu berhasil mengingatkan mereka bahwa penderitaan mereka kini, telah berakhir.
Ki Jabara dan Sekar berjanji akan mengembalikan semua tanah dan ladang-ladang semua orang. Lalu, keduanya juga berjanji akan memberikan bantuan ternak dan uang untuk memulai hidup mereka yang baru dengan emas yang di berikan Arya.
Jaka dan Ratih, dua anak yang pernah diselamatkan Arya sebelumnya, tidak seberuntung itu. Mereka tidak bisa menemukan keluarga mereka. Namun, Sekar berjanji akan merawat mereka dengan baik sebagai anak-anaknya sendiri.
Ada hari dimana Arya menepati janjinya pada Luna dan Ciel. Arya akhirnya menunjukkan kitab dimana dia melihat barisan huruf yang sama dengan simbol keluarga yang selalu di gunakan kedua kakak adik itu di depan toko mereka.
Sebelumnya, keduanya sempat curiga jika Arya adalah orang yang di utus untuk menyelesaikan misi untuk menangkap mereka.
Setelah Arya menunjukkan bukti itu, kecurigaan mereka pada Arya benar-benar sirna saat itu juga. Mereka merasa Arya memiliki rahasia yang jauh lebih banyak dari mereka.
Tanpa di duga, Luna dan Ciel menunjukkan sebuah kitab pada Arya. Luna dan Ciel mengaku bahwa itu adalah warisan keluarganya. Akan tetapi, tidak ada satupun dari keluarga mereka yang bisa membaca isi kitab tersebut termasuk Rouge Smith, ayah mereka.
Meski Arya tidak mengerti isi kitab tersebut, Namun Arya tetap bisa membacanya. Dan apa yang terkandung dalam Kitab keluarga Smith itu, mengejutkan Ciel dan Luna.
Kitab itu menjelaskan semua rahasia teknik penempaan besi dan bahan-bahan yang langka. Juga jenis-jenis senjata dan tameng.
Luna dan Ciel juga menyadari bahwa, keluarganya sudah sangat maju dibandingkan pandai besi lainnya. Bahkan, Luna yakin teknik yang ada di Kitab tersebut, tetap lebih maju dari pada teknik yang ada di era ini.
Hal tersebut yang menyebabkan keluarga Smith menjadi keluarga pandai besi yang paling hebat di dunia, sekitar lebih dari dua ribu tahun yang lalu.
Sebuah misteri kembali mencuat pada keduanya. Apa yang menyebabkan keluarga mereka tidak lagi menurunkan ilmu untuk bisa membaca isi kitab-kitab tersebut. Dan kenapa mereka berakhir menjadi keluarga miskin di negaranya.
Sedangkan di kitab itu, jelas tertulis bahwa Smith adalah salah satu keluarga bangsawan di negaranya.
Hal itu membuat keduanya dipenuhi tanda tanya di kepala mereka. Hal itu juga sama sekali tidak menjawab, kenapa ayah mereka sangat ingin sampai ke Daratan paling timur di Dunia ini.
Bai Fan dan Bai Hua cucunya, mendatangi Arya. Mereka sudah mengetahui bahwa Arya akan berada di komplek pemakamam kota Arsa ini.
Arya menoleh pada keduanya, "Ya! Aku sering kesini" Ucapnya.
Sebelumnya, Arya juga sudah mengatakan pada keduanya, bahwa dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan orang dari Benua Timur, apalagi pendekar Kekaisaran Yang.
Arya menjelaskan bahwa dia tidak berguru pada siapapun yang berasal dari sana. Arya mengakui bahwa semua teknik pengobatan yang dia pelajari, adalah dari gurunya. Dan Arya menegaskan bahwa gurunya juga tidak berasal dari Benua itu.
Arya tentu saja tidak akan mengatakan pada mereka bahwa guru Arya adalah seorang dewa. Dan dewa itu adalah Obskura. Tidak akan ada yang mempercayainya jika Arya tidak membuktikannya. Arya sama sekali tidak ingin membuat semua orang salah faham lagi dengannya.
Baik Bai Fan dan Bai Hua, tidak mendesak Arya lagi. Karena mereka juga yakin bahwa Arya mengatakan hal yang sebenarnya. Terlebih dari itu, saat Bai Fan melihat Arya menyembuhkan titik-titik Cakra milik Bai Hua. Dia yakin bahwa, Hanya Tabib terhebat negerinya saja yang mungkin bisa melakukan apa yang bisa di lakukan Arya.
"Senior! Izinkan kami mengikuti anda sampai ke Kota Basaka!" Ucap Bai Hua.
Arya menatap keduanya bergantian. "Kalian juga akan kesana?"
Bai Fan mengangguk. "Ya. Kami ingin memberikan sesuatu pada orang di sana!"
"Baiklah. Aku rasa itu lebih baik. Aku bisa menyembuhkan Bai Hua selama perjalanan" Arya menyetujui permintaan keduanya.
"Pendekar Muda." Bai Fan membuka sebuah benda yang sejak tadi di bawanya. Benda besar yang dibalut dengan kain itu, kini terbuka. "Tidakkah kau tertarik untuk memiliki ini?"
Bai Fan menawarkan pedang besar berbentuk unik itu pada Arya. Entah kenapa, Bai Fan merasa Arya sangat pantas memilikinya.
Arya melihat pedang itu sekilas, lalu berbalik menatap kembali ke pusara keluarganya "Aku tidak tertarik pada benda itu. Bisa dikatakan, itu adalah alasan membuat semua orang-orang di daerah ini menjadi menderita" Ucapnya.
Bai Fan sedikit termenung saat mendengar penjelasan Arya. Bagaimana ada seorang pendekar menolak memiliki senjata yang di kabarkan lebih kuat dari Sembilan Senjata Pusaka Dunia.
Bai Fan mengangguk. "Baiklah, aku mengerti. Bagaimanapun, pedang ini telah mati. Sebaiknya aku memang memberikan pada keluarga yang paling berhak memilikinya" putus Bai Fan. Setelah itu Kakek Bai Hua itu kembali membalut seluruh pedang itu.
"Apakah keluarga itu, ada di Basaka?"
Arya sedikit tertarik pada perkataan Bai Fan tentang keluarga yang diakuinya sebagai keluarga yang paling berhak untuk memiliki pedang itu.
"Ya ... Mereka adalah Keluarga Kerajaan Ini." Bai Fan kembali menatap pedang itu " Keluarga itu yang meminta pada Kaisar Yang agar mengirimkanku untuk menemukan ini sebelumnya. Namun, sepertinya Nurmageda telah mengkhianati mereka" Jelas Bai Fan.
"Pasti ada seseorang di balik pengkhianatan Nurmageda. melihat mereka bisa mendatang Wu Guo kesini, orang itu pasti memiliki kedudukan tinggi di istana Basaka." Bai Hua menjelaskan kesimpulannya.
"Berarti sekarang, tujuanku sudah jelas" Arya kembali menoleh pada keduanya. "Aku akan mencari dan meminta pertanggung jawaban orang itu, atas apa yang telah dia lakukan pada penduduk di sini"
Bai Fan dan Bai Hua saling berpandangan. Lalu keduanya menatap Arya. "Senior. Izinkan kami membantu anda menemukan orang itu. Dengan bantuan kerajaan, aku rasa itu akan menjadi lebih mudah"
"Baiklah! ... Dan terimakasih" Arya menyetujui permintaan keduanya.
"Pendekar Muda tidak perlu berterimakasih pada kami. Keluarga kerajaan pasti akan membantu. Lagipula, mereka juga pasti akan mencari pengkhianat itu" Jelas Bai Fan.
Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk ke kota Basaka bersama.
Arya menatap kembali pada lima pusara itu. " Aku berjanji akan tetap hidup selama mungkin. Jadi, aku harap kalian beristirahatlah dengan tenang"