ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Meteor


"Hueee...k!"


"Hueeee...k!"


Sudah setengah jam sejak Darsapati dan kaungsaji berserta seluruh anggota Sekte Singa Emas keluar dari reruntuhan tersebut. Namun, rasa mual di perut mereka belum juga hilang.


Bayangan betapa mengerikan kejadian yang barusaja mereka lihat beberapa waktu yang lalu, terus berenang-renang di kepala mereka.


Sekarang, setiap anggota Sekte Singa Emas itu, berkumpul membungkuk karena seluruh isi perut mereka memberontak ingin keluar.


Dibayangan mereka masih terlihat jelas kejadian beberapa saat setelah empat orang itu keluar.


Saat tiba-tiba tubuh pendekar yang menyandera Arya, tidak bisa bergerak. Awalnya tidak ada yang menyadari sampai pendekar suci itu sendiri berteriak.


Dia menyadari tubuhnya tidak bisa bergerak saat Arya sudah berjalan menjauh.


"Kenapa tubuhku tidak bisa bergerak?!"


Dari sanalah semuanya dimulai.


Darsapati dan Kaungsaji melihat dengan jelas bahwa tubuh pendekar suci itu sedang terbungkus air.


Saat semuanya menyadari ada yang salah dengan pendekar kapak kembar itu, tentu saja hal tersebut membuat mereka merasa semua heran. Tidak ada yang menyadari bahwa hal serupa akan segera menimpa mereka.


Akan tetapi, sebelum itu terjadi. Mereka di buat terperangah terlebih dahulu dengan apa yang mereka lihat setelahnya.


"Dia mencabutnya!"


"Apa?!"


"Pedang itu!!"


"Bagaimana, bisa...?"


Pedang yang tadi tertancap di lantai Aula tersebut, sudah berpindah tempat. Kini, Bahuraksa yang memiliki ukuran yang besar itu, sudah melintang di atas bahu Arya.


Melihat kejadian itu, Darsapati dan Kaungsaji mengingat kembali apa yang dikatakan Bai Fan sebelumnya. Bahuraksa yang sudah terbangun, hanya bisa di angkat oleh sang pemiliknya.


Saat seperti ini, sudah tidak diragukan lagi bahwa Arya benar-benar pemilik Pedang yang sempat dianggap sebagian orang yang pernah mendengarnya itu, hanyalah sebuah mitos yang melegenda.


Berbeda dengan Gurat. Meski sempat membuatnya sama terkejutnya, Namun beberapa saat kemudian dia berfikir mungkin Arya memiliki semacam trik untuk mencabut pedang tersebut. Bagaimanapun, dia tidak melihat tenaga dalam, sedikitpun pada Arya.


Selesai dengan keterkejutannya, Gurat masih memikirkan harta yang di sebut oleh Arya sebelumnya.


"Anak muda! Kami sudah membiarkan teman-temanmu keluar sesuai perjanjian. Sekarang, katakan padaku, dimana ruangan yang mengimpan Harta tersebut?!"


Arya mengangkat Bahuraksa dan menjulurkannya kedepan. Pedang besar tersebut, terlihat sangat ringan saat berada di tangannya. Dengan pedang itu dia menunjuk.


"Di belakang dinding itu, ada sebuah terowongan yang akan mengantarkan kalian pada ruangan yang aku katakan sebelumnya!"


Semua mata menoleh pada dinding di antara dua tangga yang ditunjuk Arya tersebut. Namun, hanya batu-batu yangbtersusun rapi yang kalau di perkirakan sudah terletak dan tak pernah bergerak selama ribuan tahun lamanya.


"Cih! Kau mencoba membodohi kami?"


Tidak ada tanda-tanda bahwa di sana ada bekas tempat yang bisa di lalui. Jadi, tidak mungkin pemuda tersebut baru saja keluar dari sana dengan membawa mangkok emas yang berada di tangannya sekarang ini.


"Kosha...!"


Saat Arya meneriakkan itu, seketikan batu-batu yang berada di sana, bergerak. Prosesnya sama seperti saat Arya, Kulkan, dan Kosha pertama kali melihatnya.


Tak lama sebuah pintu sudah terbentuk dan sebuah terowongan benar-benar ada di belakang dinding tersebut.


Mata semua orang di sana terbelalak. Tidak ada satupun dari mereka yang menyangka bahwa ada sebuah terowongan di sana.


"Hahahaha! Ternyata, kau memang tidak berbohong!" Gurat merasa sebentar lagi akan menemukan Harta sebanyak apa yang di ceritakan Arya sebelumnya.


"Ya! Aku tidak berbohong. Hanya saja ... Hmm ... tidak ada harta lagi yang tersisa untuk kalian!"


"Hah?! Apa maksudmu?"


"Sudah aku katakan, bukan? Aku akan mengambil apa yang menjadi hakku. Dan itu berarti, Semuanya!"


Mendengar jawaban Arya itu, semua pengikutnya murka. Namun, tidak bagi Gurat.


"Apakah kau memang sebodoh, ini? Dengan menunjukkan terowongan ini, maka nyawamu dan seluruh Sekte Singa Emas itu, sudah tidak berharga lagi bagi kami. Jangankan harta, bahkan kau tidak akan memiliki nyawamu lagi setelah ini, Hahahahaha!"


"Hahahahha!"


"Hahahhaha!"


"Hahahhaha!"


Tawa Gurat bersambut. Suara tawa bergemuruh di Aula tersebut. Mereka merasa bahwa apa yang mereka inginkan sudah di temukan.


Tidak ada lagi alasan membiarkan pemuda itu dan Sekte Singa Emas keluar dari sini hidup-hidup.


Akan tetapi, saat mereka ingin menyerang, langkah mereka langsung terhenti. Mereka terpana saat melihat aoa yang di lakukan Arya.


Itu karena, Arya baru saja melepas Bahuraksa. Pedang itu tidak terjatuh melainkan tetap di tempatnya melayang di udara.


Terkejut dengan apa yang mereka lihat, itu belum seberapa dengan apa yang akan mengejutkan mereka setelahnya.


Mereka melihatnArya mengangkata tangannya tinggi dengan kedua telapak tangan menghadap ke atas.


"MATRA...!"


"Omi Obi..."


Air berbentuk tabung menyeruak dari lantai langsung membungkus tubuh semua orang yang ada di sana dengan sangat cepat. Kecuali bagi Darsapati, Kaungsaji, dan seluruh Anggota Sekte Singa Emas.


Saat itu, Gurat dan semua orang seperti akan berteriak atau mengatakan sesuatu untuk menunjukan keterkejutan atau kepanikan mereka, Namun Arya sama sekali tidak memberikan mereka kesempatan untuk melakukannya.


"Tirta Amerta!"


"Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!"


"Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!"


"Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!"


"Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!"


"Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!"


"Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!"


"Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus!" "Tus...!"


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


"Bruuuuuu...k!!!!"


Suara ledakan dari Seluruh tubuh mereka hancur, Di sertai dengan suara kepala-kepala berjatuhan kelantai Aula yang telah di genangi darah bercampur dengan Air.


Bau amis darah langsung menyeruak memenuhi Aula. Semua pemilik mata yang melihat kejadian tersebut, benar-benar tidak siap secara lahir dan batin dengan pemandangan yang terhampar di depan mereka saat itu.


Semuanya berdiri membeku di tempat mereka masing-masing. Keheningan langsung menyelimuti seluruh ruangan sebelum akhirnya satu suara memecahnya.


"Hueeeee...k !"


Entah siapa yang dahulu memulai, Tidak sempat menutup mulutnya, Darsapati dan Kaungsaji langsung ikut muntah. Hal serupa juga di alami seluruh anggotanya.


Sejak saat itu sampai satu jam berikutnya, setiap mengingat kejadian tersebut mereka akan langsung muntah.


Saat ini, setelah di luar, sesekali mereka masih merasakan mual yang sama. Akan tetapi, sudah tidak separah saat masih berada di dalam.


Mereka sungguh menyesal tidak mempercayai keempat orang yang tadi sudah memperingatkan mereka. Tapi, jika di fikirkan, siapa yang menyangka kejadiannya akan seperti ini.


Seseorang yang mereka anggap sangat lemah, ternyata memiliki kekuatan yang sungguh sangat mengerikan. Tiga ribu pendekar mati hanya dengan sebuah teknik pengendalian elemen Air tingkat tinggi, yang tak pernah mereka lihat sebelumnya


Bai Fan yang melihat wajah pendekar suci tingkat dua yang pucat karena muntah, merasa sangat perihatin. Kakek Bai Hua itu, tidak sanggup berkata-kata.


"Tuan Darsapati, bukankah kami sudah mengingatkan kalian, agar mempercayai calon pemimpin kalian, sendiri?!" Ucap Luma mengingatkan.


Darsapati menggeleng tak menjawab. Karena memang tidak tau harus menanggapi kata-kata Luna tersebut seperti apa.


Tak berbeda dengan kaungsaji yang berdiri di sebelahnya. Wajah pendekar suci tingkat pertama itu, tak kalah pucatnya. Seratus anggota mereka di sana, jauh lebih parah.


Bai Hua dan Ciel, tampak sedang bersemangat saat berbicara dengan Arya.


"Senior, jadi nama jurus itu, Tirta Amerta?"


Arya mengangguk. "Ya. Itu Namanya"


Ciel yang ada di sebelahnya, tak kalah penasarannya. "Matra! Kenapa kau mengucapkan kata itu, dan Omi Obi itu, jurus yang mana?!"


"Matra itu—"


Sebelum Arya sempat menjelaskan, kata-katanya langsung terhenti. Karena saat itu, naluri bertahan hidupnya memberi sinyal bahaya. Seketika kepalanya langsung mendongak ke atas.


Melihat Arya yang tiba-tiba menoleh ke atas itu, Keduanya juga mengikuti arah pandangan Arya. Mata mereka langsung melebar.


"KALIAN SEMUA!! ... BERKUMPUL KESINI!!"


Teriakan Arya yang tiba-tiba itu, membuat semua orang terkejut. Saat mereka menoleh, Ciel dan Bai Hua menunjuk ke atas langit dengan wajah putus asa.


Saat mereka semua melihat ke atas, mata mereka langsung terbelalak. Dilangit, Sebuah meteor sebesar rumah sudah datang mendekat dengan kecepatan yang sangat tinggi, mengarah pada mereka.


Tidak sampai sepuluh detik setelah itu,  meteor tersebut sudah menghantam bukit yang tadi mereka masuki.


"BOOOOOMMM...!"


****


Hello,


MOONMARVEL di sini.


Terimakasih sudah terus mengikuti cerita ini, Ya!


Dan terimakasih juga untuk kalian yang sudah memberikan Like dan Vote pada ceritaku ini. itu benar-benar sangat berarti buatku.


Rate dengan memberikan Bintang Lima pada kiri tampilan awal Cerita, tidak di pungut Biaya lho. jika kalian berkenan, aku sangat menghargai jika kalian mau meluangkan sedikit waktu untum memberikan cerita ARYA MAHESA ini, Rate dengan 5 bintang.



Begitu juga dengan Vote. mungkin bagi kalian itu bukan hal yang besar. Tapi, bagi penulis amatir sepertiku ini, itu sangat berarti dan memberikanku semangat untuk terus menulis.



LIKE dan Komentar, kritik dan sarannya juga akan membantuku untuk terus mengembangkan cerita ini agar kedepan akan semakin lebih baik lagi.


TAPI, APAPUN ITU, TERIMAKASIH ATAS SEGALA BENTUK DUKUNGANNYA.


IKUTI TERUS CERITA ARYA MAHESA HINGGA AKHIR YA!.


M.M