
Pertempuran Daratan Timur di Lembah haru memang telah berakhir. Setelah pihak musuh dipastikan benar-benar kalah total, seluruh jasad-jasad mereka di bumi hanguskan.
Karena ada seratus ribu lebih jasad, api pembakaran membumbung tinggi ke angkasa.
Ada enam ribu lebih pendekar aliansi yang gugur saat pertempuran. Jasad-jasad mereka dikuburkan secara layak.
Padang rumput di tengah lembah haru, menjadi pemakaman pendekar-pendekar yang akan dikenang sebagai simbol kepahlawanan serta pengorbanan demi perubahan Daratan Timur, menjadi tempat yang lebih baik di masa depan.
Pertempuran memang membutuhkan banyak energi. Namun, Arya benar-benar kehabisan energi untuk menyembuhkan korban luka perang.
Membunuh seribu mungkin sulit, tapi menyelamatkan satu nyawa akan jauh lebih sulit. Arya bertekad tidak akan membiarkan satu orang pun mati setelah pertempuran berakhir.
Akibatnya, setelah memastikan seluruh korban sekarat yang berjumlah tidak kurang dari sepuluh ribu orang itu melewati masa kritis mereka, Arya kehilangan kesadarannya.
Beruntung, Bai Hua masih mampu membuat Pil penyembuhan tingkat tinggi. Korban luka ringan, bisa mendapatkan perawatan dengan itu.
Kondisi Arya membuat cemas semua orang. Namun, Luna, Ciel dan Bai Hua, bisa menenangkan mereka.
Sebenarnya, hal ini juga membuat cemas ketiganya. Pasalnya, Arya sudah memulihkan keadaan mereka terlebih dahulu.
Memang ketiganya sangat kuat saat pertempuran berlangsung. Tapi, di sebalik itu, tubuh Luna dan Ciel, belum benar-benar bisa menahan kekuatan Energi Arya.
Begitu juga dengan Bai Hua. Cucu Bai Fan itu, terlalu banyak melepas Prana-nya untuk memaksa jurus-jurus yang di kuasainya sampai jauh melewati batas yang biasa dia latih.
Ketiganya mengalami beban kekuatan yang cukup parah hingga merusak susunan aliran Cakra mereka. Tapi, karena Arya sudah menduga hal tersebut akan terjadi, maka mereka tidak menderita luka yang fatal.
Malah, setelah Arya mengantisipasi itu, mereka tampak segar seperti tidak terjadi apapun sebelumnya.
Pihak yang tidak menyadarinya, merasa yakin bahwa tiga gadis itu bukan manusia. Jika memang manusia, maka jelas ketiganya sangat tidak normal.
Waktu berjalan. Kota Basaka memasuki masa pembersihan. Seluruh sisa-sisa serikat Oldenbar di sita. Para pendatang yang memiliki bisnis kotor dengan serikat itu, di tangkap untuk di periksa.
Pada hari ketiga, Arya sadar. Setelah melewati masa pemulihan dua hari kedepannya. Arya meneruskan rencana pasca perang mereka.
Seluruh kota di Daratan Timur dilakukan pembersihan seperti yang terjadi pada kota Basaka sebelumnya. Dampak pertempuran itu masih berlangsung hingga beberapa minggu lamanya.
Aliansi Sekte aliran putih, di bagi menjadi tiga kelompok. Mereka di utus untuk menyapu bersih seluruh sisa-sisa peninggalan sekte aliran hitam.
Dengan kekuatan yang sangat besar, dalam waktu satu bulan, Daratan timur benar-benar dipastikan tidak memiliki sekte aliran hitam lagi, Bersih.
Selama itu berlangsung, Seperti yang disarankan Bai Fan jauh-jauh hari sebelumnya, Arya mengubah segala bentuk struktur di Basaka dan kota-kota di Daratan Timur.
Kecuali Sekte Delapan Mata Angin, di ujung semenanjung Daratan Timur, semua sekte, padepokan, serikat atau organisasi apapun yang ada di Daratan Timur, diminta mengirim perwakilan mereka ke kota Basaka.
Selama itu berlangsung, Pegunungan Singa Emas yang kembali di kuasai Sekte Singa Emas membuat Darsapati dan Kaungsaji sibuk.
Atas permintaan Arya, keduanya harus memulihkan Keadaan Sekte dan pusat Kota yang memang sangat besar itu secepat mungkin.
Beruntung Wisanggeni ada di sana membantu Arya. Mantan walikota kota Basaka itu benar-benar memahami seluk beluk Daratan Timur beserta sejarahnya.
Saat Wisanggeni mengetahui siapa Arya pertama kali, tubuhnya bergetar hebat. Sama seperti takdir yang di sandang Darsapati dan Kaungsaji di Sekte Singa Emas, Wisanggeni juga menantikan kedatangan keturunan terakhir Arangga.
Seperti wasiat yang sudah dibebankan turun temurun, Keluarga Wisanggeni adalah keturunan penasehat Arangga.
Garis takdir telah terukir, sosok yang ditunggu mereka telah hadir dan Nubuat telah terpenuhi. Tidak ada lagi alasan Daratan Timur untuk tunduk ke kota Barus. Penguasa Mutlak mereka telah kembali dan Barus lah yang seharusnya tunduk pada mereka saat ini.
"Kakek, aku sudah memiliki rencana jauh sebelum ini. Tapi, tentu saja aku tidak akan meninggalkan Daratan ini tanpa memastikan masa depannya."
"Tapi paduka. Bagaimana dengan pemimpin Daratan ini. Siapa yang akan bertanggung jawab atas semuanya?"
"Kakek, kita semua bertanggung jawab untuk itu. Dan itulah rencana yang kita sedang kerjakan saat ini."
"Paduka, apa maksudmu?"
Arya menghela nafasnya. Sampai saat ini sebenarnya masih sulit baginya untuk terlalu banyak bicara dan berinteraksi dengan banyak manusia, apalagi menyangkut kekuasaan dan kepentingan.
"Kita akan saling menjaga. Itu maksudku."
Meski tidak mengerti, Wisanggeni hanya bisa mencoba lebih memahami cara berfikir Arya.
Saat ini saja, Arya memintanya untuk membangun sekolah. Hal yang tidak Pernah ada di Daratan ini sebelumnya. Bahkan, Wisanggeni sendiri, tidak tau apa itu sekolah.
"Paduka, masalah pembangunan sekolah atau tempat menuntut ilmu yang kau katakan. Kita memiliki cukup untuk membangun beberapa. Tapi, jika kita harus membangunnya di seluruh kota. Keuangan kita tidak akan mampu menanggulanginya."
"Kakek, tidak perlu memikirkan itu. Kita tidak kekurangan apapun."
Wisanggeni tau bahwa Arya sepertinya memiliki banyak Harta. Karena dengan kekayaannya, Rajanya itu bisa membeli senjata dalam jumlah yang sangat banyak pada serikat Oldenbar sebelumnya.
Hanya saja, jika memang cuma sekolah. Mungkin masih bisa. Arya juga meminta pembangunan jalan yang mampu menembus seluruh pelosok dan menghubungkan Kota-kota di daratan ini.
Dan hal-hal lain yang di sarankan Arya benar-benar akan membutuhkan Dana yang tidak terkira.
Hal-hal yang akan di bangun Arya, adalah sesuatu yang bahkan Maharaja di kota Barus sendiri, akan berfikir sejuta kali untuk melakukannya.
Karena Arya melihat Wisanggeni terdiam, dia mengerti bahwa lelaki tua itu tidak pernah menerima bantuan apapun dari Maharaja sebelumnya. Namun, sekarang dia sudah di sini. Arya menjamin semua akan berjalan sesuai rencana.
Lagipula, menurut Arya, Daratan Timur ini memang sangat kaya. Apalagi sekarang dia sudah mengetahui hampir semua rahasianya.
"Kakek, ikut aku.!"
Di Aula istana Basaka, sekarang memang hanya ada mereka berdua. Hal itu memang di inginkan Arya. Karena niatnya sejak awal juga ingin memastikan sesuatu.
Wisanggeni mengikuti Arya berjalan kebelakang singgasana di mana seharusnya raja bertahta. Dia sedikit heran, bagaimanapun dia mengetahui seluk beluk istana.
Sekarang, Arya seolah akan membawanya ke suatu tempat yang tidak di ketahui nya di istana.
Arya menatap dinding yang ada di belakang singgasana. Di sana terpampang sebuah gambar Singa. Namun, tidak gambar biasa. Itu adalah sebuah simbol yang bisa di baca.
"Bahuraksa ... Bagunlah!"
Mata Wisanggeni melebar saat melihat Sebuah pedang keluar dari lingkaran di udara. Kini padang itu menyala biru dan melayang di udara.
Pria tua itu, kini tersentak saat Tangan Arya tiba-tiba memegang bahunya.
"Wisanggeni, Putra Manggala. Dengan ini kubuka segel Api keluargamu."
"Kosha ... "
"Jurus Pertama ... Gerbang Cakra!"