
Keesokan harinya, giliran Aliansi sekte aliran putih di kejutkan dengan sebuah berita. Saat beberapa pendekar yang sengaja mereka utus untuk mengawasi pergerakan musuh, mendapati sebuah pemandangan yang tak terpikirkan oleh mereka sebelum.
"Apa kau bilang?!"
Ki Serabang berseru histeris seolah tak percaya apa yang di sampaikan pendekar itu, pada ketua-ketua sekte.
"Ya, Ketua. Tidak salah lagi aku yakin itu, Raja Darmuraji."
Ketua-ketua sekte itu terdiam. Pendekar itu baru saja memberi tahu bahwa tepat di tengah Lembah Haru, kini ada sesosok tubuh yang dia yakini adalah Darmuraji.
Raja Daratan Timur itu dipastikan sudah mati. Karena saat mereka memastikan, saat itu jasad Darmuraji di tusuk dengan sebuah kayu panjang dari lobang bawah tubuh hingga menembus mulutnya dalam keadaan telanjang.
Kayu panjang itulah yang kini tertancap tepat di tengah-tengah Lembah Haru.
"Ki Serabang, ini tidak seperti yang kita rencanakan. Bagaimana bisa Darmuraji mati begitu saja. Bukankah sekarang dia memiliki pendekar-pendekar kuat bersamanya?"
Kepanikan seketika melanda ketua-ketua aliansi Sekte aliran putih. Mereka berfikir bahwa mereka akan membantu Darmuraji dan pasukan kerajaan, dalam pertempuran ini.
Akan tetapi, keadaan langsung berubah karena sebuah fakta yang mengejutkan, juga tak bisa mereka fahami.
"Jika seperti ini, aku rasa ada pengkhianat di kerajaan."
Kata-kata Serabang memang masuk akal, masalahnya itu tidak menjawab apapun.
"Ki Serabang, kita sudah di sini dan jelas bahwa kita sudah siap untuk berperang. Jadi, karena dari awal ini ide mu, apa yang akan kita lakukan dari sekarang?"
Ki Serabang mengedarkan pandangannya. Seluruh ketua dan tetua-tetua sekte yang ada di depannya itu, meminta pertanggung jawabannya. merasa tiba-tiba di salahkan, Serabang menjadi kesal.
"Ahhh ... Kalian seperti anak kecil saja. Tentu saja di dalam perang ada kejadian yang tidak terduga. Dalam hal ini, Darmuraji mati, itu saja." Jawabnya asal.
"Itu saja? ... Maksudmu, itu bukan apa-apa?!"
"Ki Lentoro, dan kalian semua. Kita belum kalah. Berperang saja belum. Dan itu, jelas tantangan atau ancaman. Jadi, sekarang aku bertanya pada kalian, apa kita akan menjawab tantangan tersebut, atau kembali saja?"
Mereka tampak memikirkan kata-kata Serabang itu. Jika memang pihak musuh ingin bicara, tentu tidak dengan cara seperti itu.
"Aku rasa, jika tidak hari ini, maka suatu saat kita juga akan tetap menghadapi mereka. Jadi, karena sudah di sini, sebaiknya kita hadapi saja." Lentoro memberi pendapat.
Serabang mengangguk. Dan menatap ketua-ketua lainnya. "Bagaimana menurut kalian? Terutama, kau Rapatni. Di sana ada gurumu, Nyai Anjaran."
Rapatni sedikit tertegun dan menggelengkan kepalanya. "Ki Serabang, jika aku masih menganggapnya guruku, maka aku seharusnya berdiri di sana, buka. Di sini bersama kalian."
"Hahahaha!"
Seseorang tertawa saat mereka mencoba mencari keputusan apa yang terbaik saat ini. Saat mereka melihat, ternyata itu adalah tawa Marendra. Salah satu ketua Sekte, dan masih sangat muda.
"Hei, Marendra. Apa yang membuatmu tertawa? Kau fikir keadaan ini sangat lucu?" Hardik Serabang.
Marendra menggeleng. "Aku pernah memikirkan ini sebelumnya dan tak pernah mendapatkan jawaban pasti. Tapi, saat ini aku melihat langsung apa yang membuat sekte aliran putih tidak di anggap sama sekali oleh kerajaan bahkan mungkin seluruh penduduk Daratan ini."
"Anak Muda, apa maksudmu?" Tanya Ki Lentoro, ketus.
"Benar kata ayahku. Itu kenapa dia hanya menghormati Darsapati dan Kaungsaji di antara semua pendekar di Daratan Timur ini. Karena, menurut ayahku, kalian hanyalah kumpulan pendekar-pendekar tua pengecut dan terlalu banyak berfikir. Bersembunyi di saat dibutuhkan dan hendak muncul sebagai pahlawan. Kalian, benar-benar contoh paling buruk bagi pendekar-pendekar muda di Daratan Timur ini!"
"Hei, jaga mulutmu. Jika tidak—"
Serabang langsung terdiam saat kata-katanya terpotong. Bukan karena selaan, tapi mulutnya benar-benar akan terpotong jika masih tetap berbicara.
Karena saat itu, tiba-tiba Pedang Marendra sudah menempel di lipatan Bibirnya.
"Kau yang harus menjaga mulutmu. Ayahku mengatakan, kau lah yang sejak awal tidak mau membantu Sekte Singa Emas. Padahal, Darsapati sering membantu sekte lemah mu, hingga menjadi kuat seperti sekarang ini."
Serabang tertegun. Apa yang dikatakan oleh Marendra, memang ada benarnya. Tapi, saat itu dia berfikir sedangkan Sekte Singa Emas yang terkenal sangat kuat saja bisa hancur, lalu mereka bisa apa.
Marendra menarik pedang dan menyarungkannya kembali. Setelah itu, dia berbalik dan berjalan pergi. Namun, saat sampai di pintu tenda, dia berhenti dan menoleh kebelakang sedikit.
"Kalian bisa kembali ke persembunyian kalian dan hiduplah di sana sampai kalian mati sebagai pengecut ... "
Lentoro hendak membalasnya, namun Serabang langsung mencegahnya.
"Meski hanya tinggal kami di sini, Sekte Bulan Sabit akan berjuang sampai akhir. Walaupun itu berarti akhir dari sekte kami."
Marendra pergi meninggalkan semua pendekar yang mengaku sebagai ketua sekte aliran putih itu, dalam keadaan tertunduk malu di dalam tenda.
Bagi Marendra sendiri, itu tidak ada apa-apanya. Sekte Bulan Sabit, juga tidak membantu beberapa tahun terakhir. Itu karena ayahnya, ketua sekte sebelumnya sudah sangat tua dan dia sendiri masih sangat muda kala itu.
Tapi sekarang, dengan latihan yang sangat keras, Marendra berhasil menjadi ketua sekte Bulan Sabit menggantikan ayahnya. Dan niatnya datang kesini, hanya satu. Bertempur dengan siapa saja yang mengancam ketentraman Daratan Timur, persis seperti apa yang selalu di lakukan Sekte Singa Emas, selama ribuan tahun lamanya.
Marendra berdiri di tempat dimana seluruh Anggota sekte nya mendirikan Kemah dan langsung berseru.
"Kalian Semua ... Dengarkan aku!"
Saat itu, seluruh anggotanya langsung berdiri menghadap padanya. Meski masih muda, mereka sangat menghormati ketua Sekte mereka tersebut. Karena, semangat juang yang dia tunjukkan sejak masih kecil hingga berhasil menjadi ketua Sekte termuda dalam sejarah Daratan Timur ini.
Marendra mengedarkan pandanganya pada seluruh anggota yang ada di depannya. "Saatnya telah tiba untuk melakukan tugas kita ... Bersiaplah! ... kita akan bertempur!"
Marendra tau bahwa pertempuran ini sama saja dengan bunuh diri. Tapi, ini jauh lebih baik daripada hidup sebagai pengecut.
Seluruh pendekar dari Sekte Bulan Sabit tidak sanggup lagi menanggung malu seperti itu. Jiwa kependekaran mereka meronta, menolak nya.
Marendra mengeluarkan seutas kain berwarna hitam dan mengikat kepalanya dengan itu. Hal tersebut juga langsung di ikuti oleh seluruh anggotanya, yang berjumlah lebih dari sepuluh ribu pendekar itu.
Tepat di tengah keningnya dan seluruh anggota Sekte Bulan Sabit, kini terpajang sebuah gambar yang merupakan lambang sebuah sekte.
Lambang Sekte yang merupakan Simbol pelindung Daratan Timur sejak ribuan tahun yang lalu, sebuah gambar Singa berwarna emas dengan tatapan tajam milik, Sekte Singa Emas.
"Hari ini, jika kami mati. Maka, Kami akan mati dengan membawa kehormatan Sekte ini!" Gumam Marendra dengan Tekad membara.