
Umbara langsung berputar dengan sebuah tendangan keras ke belakang. Namun saat itu, dia kembali menendang udara. Daisuke sudah tidak lagi berada di sana.
"Sreeet ... "
Sebuah tebasan di kaki dari Daisuke yang tiba-tiba saja berada di sisi bawah kirinya, langsung membuat bekas luka menganga.
"Argh ... !"
Meski merasakan sakit, tapi luka itu tidak membuat Umbara langsung terjatuh. Dia langsung melayangkan tinjunya ke arah di mana dia merasa Daisuke berada.
Namun, lagi-lagi dia menghilang, tepat sebelum kepalan Umbara sampai, yang berakhir dengan meninju udara, lagi.
"Hahahaha ... "
Umbara berbalik saat mendengar suara Daisuke di belakangnya. Namun ...
"Srreeet ... !"
Kali ini, Umbara merasakan tebasan terasa seperti merobek punggungnya.
"Sial ... !"
Saat berbalik, Umbara lagi-lagi di hadapkan dengan kenyataan yang sama.
"Kemana di—"
"Srreeet ... "
Setiap putra Jakasona itu berbalik, Daisuke muncul di tempat tak terduga dan memberinya satu sayatan pedang yang sangat cepat.
"Bukankah kau ingin membunuhku? Hmm ... Hahahahha!"
"Streeet ... !"
Hari yang terasa semakin gelap, membuatnya semakin sulit menghadapi Komandan Pasukan Nippokure ini.
Umbara yakin, saat ini Daisuke sedang mencari kesempatan untuk memberinya serangan yang fatal. Saat itu juga, dia berfikir sangat keras agar bisa menghadapi musuh yang dia juga yakin bisa menggunakan teknik ilusi tingkat tinggi ini.
Rangkupala juga melihat Umbara sedang kewalahan. Namun, saat ini lawan yang dia hadapi semakin banyak saja.
Bagus, jika itu yang lawan fikirkan. Karena Rangkupala bisa mengurangi jumlah mereka dengan jauh lebih cepat.
Akan tetapi, saat ini jelas bahwa pertarungan pada kegelapan akan membuat mereka kesulitan.
Tidak hanya Daisuke saja, beberapa lawan yang Rangkupala hadapi, juga memiliki teknik ilusi, namun tidak sehebat teknik yang digunakan Komandan mereka, yang sedang menghadapi Umbara.
"Hiiiiyyyaaaaa ... "
"Hiyyyaaaaaaa ... "
"BOOOOOMMM ... "
"Bommmm ... "
"Bruuuuuuk ... "
Tau bahwa putra kakaknya sedang kesulitan, Salendra langsung melempar satu senjata pelontar dengan sangat kuat yang membuat senjata itu menghantam tiga senjata lainnya berurutan.
"Aaaarrrggggghhhh ... "
"Aaaarrrggggghhhh ... "
Puluhan prajurit Nippokure yang berada di sana, juga menjadi korban amukannya itu.
"Kebojalang ... Lakukan sesuatu ... !"
Teriakkan sahabatnya itu, di jawab gelengan oleh si Kebojalang. "Tidak, aku tidak bisa melakukannya sekarang ... "
"Cakar Elang ... "
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Cakar Elang ... "
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Cakar Elang ... "
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
Sebanyak musuh yang dibantainya, sebanyak itu pula yang datang. Ini benar-benar semakin menyulitkan.
Saat hari semakin gelap itu, satu lagi masalah datang. Rangkupala melihat banyak dari pendekar pembela jampa, mulai kehabisan tenaga.
Mereka terlihat sedang kesulitan dalam menghadapi lawan-lawannya, yang tadi terlihat sangat mudah.
Saat itu, Rangkupala baru menyadari sesuatu.
"Sial ... Mereka menundanya sampai racunnya bekerja."
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
Rangkupala membantai beberapa orang lagi, sebelum akhirnya berteriak.
"Kalian ... Yang terkena senjata rahasia mereka, Mundur ke benteng."
Bahkan, Rangkupala melupakan satu rencana mereka lainnya karena terlalu memikirkan rencana lawan. Saat itu, dia berbalik pada Salendra.
Salendra langsung mengerti. Apa yang di katakan Rangkupala benar. Jika semakin gelap, musuh juga tidak akan menggunakan senjata ini.
Beberapa pendekar yang terkena senjata rahasia, mulai berlari mundur jauh kebelakang. Beberapa pendekar yang memiliki kekuatan tinggi dan masih kuat bertarung, tetap menghadang musuh yang jumlahnya sudah jauh berkurang.
"Sial, jika terlalu gelap ... Kita juga tidak bisa mengharapkan mereka."
Rangkupala berfikir keras. Rencana mereka ini, adalah tanggung jawab Karpatandanu sebelumnya. Namun, Sultan Pasir Putih itu telah pergi untuk memastikan rencana Nippokure terkait jalan-jalan Rahasia.
"Kalian ... Beri saja sedikit jarak ... Mereka akan tau apa yang harus di lakukan."
Beruntung Salendra juga tau apa yang sedang difikirkan Rangkupala. Dan dia baru saja meneriakkan sesuatu yang akan membuat rencana mereka, berjalan sebagai mana seharusnya.
Pendekar-pendekar pembela Jampa yang sedang menghalangi pasukan musuh yang berniat mengejar teman-teman mereka yang terkena racun, langsung mengerti maksud perkataan Salendra.
Mereka masih memberi sedikit perlawanan, sebelum akhirnya mereka membiarkan musuh-musuh itu mengejar yang lainnya ke benteng.
Rangkupala dan Salendra tersenyum.
"Ya, sekarang tinggal yang di sini." Batin keduanya.
"Salendra, sebelum gelap ... Aku akan mengajarkanmu kembali cara berhitung ... !"
"Hohoho ... Aku sudah berbisnis lebih lama darimu, teman ... Aku sudah jauh lebih hebat darimu sejak saat itu."
Dua pendekar tua kembali berkelakar. Meski terdengar sedang bercanda, namun semua mata musuh yang melihat keduanya, tidak menunjukkan ekspresi yang sama.
Entah apa yang direncanakan keduanya saat ini, tidak ada dari prajurit-prajurit itu yang menyimpulkan hal tersebut sebagai pertanda baik bagi mereka.
"Kebojalang ... Ayo mulai ... !"
"Cakar Elang ... "
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Cakar Elang ... "
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Cakar Elang ... "
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
Mata Salendra terbuka lebar sementara mulutnya ternganga lebih lebar lagi.
"Sialan kau Kebojalang ... Kenapa kau mulai duluan?! ... "
"Bukankah kau sudah mengatakan mulai, jadi aku memulainya ... "
Sambil menggaruk kepalanya, Salendra berujar. "Seharusnya aku menyerang dahulu, baru berteriak kemudian ... Sial!"
Kesal, Salendra menatap pada tempat dimana terlihat lebih banyak prajurit Nippokure berada.
Salendra tersenyum, "Bukan siapa yang memulainya lebih awal. Tapi siapa yang membunuh lebih banyak, bukan?"
Tiba-tiba saja, Satu lagi Aura pembunuh pekat muncul di medan tempur itu. Semua Prajurit-prajurit Nippokure yang berdiri di dekat di mana Aura itu muncul, langsung tertegun.
Meski hari menjelang gelap, mereka masih tetap bisa dengan jelas melihatnya. Mata yang menatap tajam di tambah senyuman yang menyeringai.
Salendra baru saja melepas seluruh kekuatannya yang sesungguhnya. Satu teriakan kalimat, menjelaskan apa yangbakan dilakukannya setelah itu.
"MATILAH ... KALIAAAN ... BEDEBAH ASIIIIINGGGG ... !!!"
Waktu terasa berjalan lambat bagi mereka saat tiba-tiba melihat Salendra menghilang dari tempat di mana dia berdiri.
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"
Ratusan bagian tubuh pasukan musuh, hancur begitu saja, saat mereka merasakan sesosok bayang melintas dengat sangat cepat, di tempat di mana mereka berdiri.
Itulah kenapa Salendra dianggap Rangkupala satu-satunya manusia yang bisa menyulitkannya saat bertarung, sebelum bertemu dengan Arya.
Sahabatnya itu, memiliki kekuatan yang sama dengan sifat dan cara bertarungnya yang, memang benar-benar gila.