
"Aku Arya. Arya Mahesa."
Hanya itu yang Arya jawab saat pertama kali Rangkupala dan Rentangjala menanyainya.
Ketiganya dan Citra Ayu, kini sedang berada di ruangan Rangkupala. Dua hari sejak pertarungan di bukit itu, Kota Pallas berubah. Mereka tetap menerima pengunjung. Tapi, tak mengizinkan siapapun untuk keluar.
Luna, Ciel dan Bai Hua sudah sadar dan berada dalam kamar mereka di penginapan. Hanya butuh sedikit waktu bagi Arya menutup semua luka mereka.
Sekarang, ketiganya hanya butuh istirahat dan akan membaik sepenuhnya dalam waktu dekat.
Meski Citra Ayu berada di dalam rumah tanah Yang di buatnya saat Arya menyembuhkan ketiganya. Namun, gadis itu tak melihat bagaimana Arya menyembuhkannya.
Ada sedikit kejadian unik di sini. Saat itu Arya mengatakan pada Citra Ayu bahwa ketiganya tidak suka jika orang lain melihat tubuh mereka. Hal itu dipahami berbeda oleh Citra Ayu.
Gadis itu berfikir bahwa Arya adalah suami ketiganya. Atau, ketiganya selain pengawal juga merupakan selir-selirnya. Itu kenapa ketiganya terlihat sangat patuh pada Arya.
Bagi Citra Ayu sendiri itu hal biasa. Bahkan dia tidak mengetahui berapa jumlah selir yang dimiliki ayahnya.
Selama dua hari, mereka di dalam rumah itu. Meski sekali-sekali Citra Ayu keluar. Dan setiap kali dia keluar, seluruh pendekar yang ada di sana menanyakan keadaan tiga pendekar Wanita itu.
Saat melihat bagaimana cara Luna, Ciel dan Bai Hua bertarung, hal itu membuat semua pendekar di sana mengagumi ketiganya.
Bahkan saat ini, Sri Ratna Sari berniat menjadikan salah satu atau bahkan ketiganya guru mereka. Hal tersebut dinyatakannya secara terang-terangan. Dan tentu saja membuat semua orang langsung berfikir sama.
Itu membuat Citra Ayu menjadi cemas. Gadis itu juga tertarik menjadi murid salah satunya bahkan juga ketiganya. Tapi sekarang, dia memiliki tugas besar dari sektenya, yang sedang dia emban
Saat itu, mereka memutuskan untuk berjaga-jaga di sana setelah membakar ribuan potongan mayat pendekar suci dari Barus, yang bernasib malang bertemu musuh yang tak akan mungkin bisa mereka kalahkan.
Rangkupala dan Rentang Jala membawa beberapa orang untuk memastikan, hanya itu pasukan Barus yang mengejar Citra Ayu.
"Tuan Muda, kemana tujuan Tuan muda dan tiga pendekat wanita itu sebenarnya. Dan bagaimana kalian bisa bertemu Citra Ayu?"
Arya menatap Rangkupala dan berfikir wajah pria itu memang sedikit terlihat mirip dengan Darmuraji.
"Sekarang, Aku ingin memastikan apa yang terjadi di Darat ini. Namun, sebelumnya aku hanya berniat lewat tujuanku sebenarnya, adalah daratan utara, kota Barus." Terang Arya.
Mata Rangkupala dan Rentangjala melebar. Itu memastikan bahwa Arya berasal dari Daratan Timur.
Mereka yang berada di pesisir timur Daratan ini, mendapat berita. Meski berita itu terdengar tidak nyata dan sulit bagi siapapun untuk percaya.
Itu tentang pertempuran yang melibatkan seratus ribu pendekar sekte hitam, melawan Enam Iblis Pelindung Daratan Timur. Di antara enam iblis itu, ada tiga wanita.
Hal itu, sekarang terdengar sedikit nyata, bagaimanapun mereka telah melihat kemampuan ketiganya. Walaupun sisa ceritanya masih terlalu luar biasa untuk dipercaya.
"Tuan Muda. Apakah kau tau tentang pertempuran di Daratan Timur dan apakah tiga pendekar wanita itu terlibat?"
Pertanyaan Rentangjala itu langsung di jawab Arya "Ya, tentu saja mereka terlibat. Karena sejak awal, memang kami yang merencanakannya?"
"Sebentar. Jadi, Darmuraji mati di tangan salah satu dari ketiganya?" Tanya Rangkupala.
Menurut Arya, mungkin saja Rangkupala akan menuntut balas. Bagaimanapun, itu adalah saudaranya.
"Tidak. Aku tidak akan membalas apapun. Ada alasan kenapa aku keluar istana. Itu menyangkut kedua kakakku itu."
Sesuai dugaan Arya sebelumnya, memang ada yang salah dengan keadaan di kota Barus. Bagaimanapun, saat putra mahkota mati, bahkan Barus tidak mengirim pasukan ke Daratan Timur.
Tapi mendengar cerita dari Citra Ayu bagaimana dia di buru, itu membuat kecurigaan Arya bertambah. Sekarang, Pangeran ketiga menyempurnakan segalanya.
"Aku akan menceritakan banyak hal pada kalian. Tapi, jelaskan padaku terlebih dahulu apa yang terjadi di Daratan ini, dan apa yang kalian ketahui tentang Daratan Utara.
Keduanya berniat bertanya tentang Daratan Timur lebih banyak namun Arya meminta informasi sebagai gantinya.
Meski tidak bisa memastikan, Rentangjala dan Rangkupala menganggap Arya adalah utusan Daratan Timur, dan tiga pendekar itu adalah pengawalnya.
Mengetahui bagaimana tingginya ilmu pengobatan Arya dan cerdiknya yang mampu membuat Rentangjala bahkan Rangkupala merasa terintimidasi itu, membuat mereka menyimpulkan bahwa Arya adalah Ahli strategi saat perang berlangsung.
Sudah sepantasnya jika Arya yang di utus untuk bertemu dengan Maharaja. Karena menurut kabar yang beredar, Daratan Timur, tidak lagi mengakui kedaulatan Kerajaan Swarna.
Sudah ada Raja yang begitu di segani penduduk Daratan Timur yang kini sudah bertahta di sana. Meski itu masih kabar angin saja, dengan banyak kejadian beberapa orang sudah mulai mempercayainya.
"Tuan Muda. Kami tidak akan menyimpan berita. Tapi aku berada di bawah titah. Tidak pantas untuk bicara."
Rentangjala terkenal setia. Meski keadaan seperti apapun dia tidak akan menceritakan rahasia negeri Ambang pada di siapapun tanpa izin sultan.
Saat mendengar itu, Arya langsung berdiri. "Baiklah aku mengerti. Jika begitu, tidak ada yang harus kita bicarakan lagi."
Menurut Arya, ke adaan Daratan ini berbeda dengan Daratan Timur. Meski terpecah menjadi tujuh negeri dan masing-masing negeri itu memiliki kebijakan sendiri. Namun, para penduduknya masih terlihat rukun.
Arya tidak bisa memastikannya. Bisa saja itu hanya apa yang terlihat di luar dan sebenarnya di dalamnya sudah sangat kacau. Dia berniat mencari tau sendiri.
"Sebentar! ... Aku bisa memberimu semua informasi yang kau butuhkan. Tapi, kau harus menjawab satu saja pertanyaanku terlebih dahulu."
Arya menghentikan langkahnya dan berbalik melihat pada Rangkupala. "Tanyakan, jika aku punya jawaban, maka akan aku berikan."
"Apa yang kau dan orang-orang Daratan Timur inginkan?"
"Kami datang untuk meminta pertanggung jawaban mereka, jika mereka jika mereka menolak, maka kami akan menghancurkan kerajaan ini!" jawab Arya tanpa ragu.
Tepat seperti kabar yang beredar. Daratan timur memang membeli dan mendatangkan senjata dan baru-baru ini mereka bahkan membeli banyak kapal.
Di kerajaan Swarna, Negeri Ambang dan Pasir putih terkenal dengan pembuatan kapalnya. Seseorang bernama Darius dari Daratan Timur, memesan kapal dalam jumlah besar dan rela membayar berapa saja asal disiapkan dengan waktu yang cepat.
Jika apa yang di katakan Arya adalah yang sebenarnya. Inti tanah bukanlah pemicu sebenarnya. Bahkan jika pusaka itu tetap di istana Malka, Kerajaan Swarna tetap akan menghadapi perang saudara.
Daratan Timur lah yang akan memulainya dan Pemuda di depan mereka ini, baru saja mengatakannya dengan sangat terang dan, jelas.