
Tidak ada yang tidak mungkin di dalam perang. Hal itu sudah diketahui semua orang.
Pasukan Lapis kedua milik pasukan Nippokure ini, tidak hanya lebih kuat tapi juga sangat ahli sekali dalam berpedang. kehadiran mereka yang tak di duga itu, benar-benar menyulitkan.
Arya sudah mengingatkan hal ini pada mereka sebelumnya. Namun, Rangkupala dan yang lainnya, tidak menyangka mereka akan sehebat ini.
Dua tambahan pasukan Nippokure yang melawannya, benar-benar memberikan perlawanan berbeda. Rangkupala dipaksa lebih waspada.
"Aku rasa ini cukup, aku tidak bisa mempertanggungjawabkan kehilangan banyak pasukan, hanya karena peperangan kecil seperti ini."
Daisuke cukup puas dengan dampak serangan pasukan lapis keduanya. Saat itu juga, dia memberi tanda pada prajurit yang berada pada senjata-senjata sihir itu, agar bersiap-siap.
Dia hanya perlu mendesak musuh mundur dan dalam jarak serang, lalu dia akan memberi tanda yang tentu saja akan bisa langsung dimengerti oleh pasukannya yang berada di garis depan, apa yang harus dilakukan saat serangan dari belakang datang.
"Arrrrrrrgggggghhhhhh ... !"
Sebuah lengkingan pekikan kesakitan, langsung mengubah suasana di sana.
"Ini akan lama jika kita terus-terusan menahan tenaga dalam kita. Lagipula, aku rasa, ini sudah semua dari pasukan mereka, bukan."
Saat mengatakan itu, Salendra baru saja mengoyak tubuh pasukan Nippokure dengan cara menarik kedua kakinya dan memisahkan keduanya.
Salendra tidak terbiasa bertarung dengan senjata, karena tidak pernah menemukan senjata yang cocok dengan gaya bertarungnya. Akan tetapi dengan kekuatannya dia seolah tak terkalahkan.
Saat Selendra menjelaskan maksudnya, semua pendekar-pendekar pembela negeri Jampa yang berada di belakang mereka langsung mengerti.
Saat itu juga, mereka melepas apa yang selama ini mereka sembunyikan. Ya, ini salah satu cara yang terlintas di pikiran Rangkupala untuk membuat lawan mereka lengah dan meremehkan mereka.
Belajar dari Arya dan yang lainnya, Saat meremehkan kekuatan seseorang hanya karena terlihat lemah, maka saat itu pula orang itu dalam bahaya. Dia pernah mengalaminya, dan tau seperti apa dampak peristiwa itu pada nyalinya.
Taktik ini tidak hanya membuat lawan lengah. Ini mampu memukul mental lawan dalam waktu yang bersamaan.
Pelepasan tenaga dalam yang dilakukan secara bersamaan itu, lebih mengerikan karena mereka semua langsung melepas Aura membunuh di saat itu juga.
Saat itu, pendekar-pendekar pembela Jampa, langsung mengubah susana medan perang.
"Sekarang, habisi mereka ... !"
Karena sudah tidak perlu menyembunyikan tenaga dalam yang membuat mereka berperang dengan setengah-setengah, para pendekar pembela Jampa langsung menyerang dengan sekuat tenaga.
Adalagi hal yang membuat pertempuran ini berubah semakin berat sebelah. Jauh-jauh hari sebelum ini terjadi, Luna dengan jelas berpesan pada semuanya, agar hanya membawa pendekar suci dalam pergerakan ini.
Saat itu, Luna berpendapat pendekar-pendekar yang berada di bawah itu, tidak akan dapat banyak membantu.
Hal lainnya adalah, ada keadaan di Saat-saat tertentu, kekuatan yang sangat timpang dalam pasukan hanya akan memperbanyak korban dan merusak keseimbangan rencana dan daya serang.
Namun, siapa sangka hal itu akan berguna di saat seperti ini.
Meski menang Jumlah, Daisuke menyadari bahwa saat ini, pasukannya sedang menghadapi sembilan ribu pendekar suci dari seluruh penjuru negeri.
Itu sudah menjelaskan bahwa seluruh sekte dan padepokan di negeri Jampa, sudah mengirim pendekar-pendekar terkuat mereka dan memang berniat menghancurkan pasukan Nippokure di negeri ini.
Semakin lama waktu berlalu, jumlah pasukan Nippokure semakin berkurang.
"Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !"
"Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !"
"Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !"
"Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !"
Saat itu, Daisuke langsung memanggil salah satu bawahannya.
"Nakata ... ! Kenapa mereka lama sekali?"
Saat itu, salah satu anggotanya
itu mengernyitkan dahi. Jika rencana mereka berhasil, seharusnya ini akan selesai beberapa saat lagi. Setidaknya, mereka sudah melihat tanda yang telah di sepakati. Namun, hingga saat ini, itu belum terjadi.
"Komandan, aku akan memerintahkan beberapa orang untuk pergi memeriksanya."
"Baiklah, suruh mereka cepat, jika tidak kita benar-benar akan kalah. Kita hanya ada dua kesempatan lagi."
Di medan pertarungannya, sekali-sekali dalam setiap kesempatan, Umbara memperhatikan gerak gerik Daisuke.
Pasti ada alasan kenapa komandan musuh mereka ini menahan diri untuk tidak menyerang secara habis-habisan, padahal dia mengetahui sekarang mereka sudah terdesak.
"Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !"
"Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !"
Umbara, menghabisi empat orang pasukan Nippokure setelah dia dan beberapa prajurit istana Jampa di belakangnya, mendesak pemimpin pasukan garis depan musuh untuk mundur.
"Arrgh ... !"
Sebuah tebasan pedang, berhasil melukainya. Saat menoleh, dia mendapati salah seorang pemimpin pasukan Nippokure yang berhasil melukainya itu, kembali akan melibaskan pedang padanya.
"Matilah kau ... !"
Beruntung, saat itu Salendra melihatnya dan langsung melemparkan dua jasad pasukan Nippokure ke sana guna mengganggu serang itu.
"Sreeeettt ... !"
"Sreeeettt ... !"
Pemimpin pasukan Nippokure itu, reflek menebas dua benda yang datang padanya tersebut. Namun, detik kemudian dia langsung melebarkan matanya. Saat itu, dia menyadari bahwa dirinya baru saja membelah dua tubuh pasukannya sendiri.
"Umbara, jangan perhatikan yang lainnya saat kau bertarung ... Kau bisa mati sebelum menunaikan sumpahmu."
Seruan peringatan pamannya itu, langsung membuat Umbara tertegun. "Bukankah, dia memperhatikanku saat dirinya sendiri sedang bertarung?" Gumamnya.
Bisa menebak apa yang dikatakan putra kakaknya itu, Salendra kembali berseru sambil tertawa. "Hahahhahaha ... Kau boleh melakukannya, jika kau sudah sekuat aku, atau pria tua itu ... Hahahahahha.!"
Rangkupala yang ditunjuk Salendra hanya bisa menggelengkan kepala.
Namun saat ini, Umbara benar-benar mengerti kenapa Ayahnya mengatakan bahwa negeri Jampa tidaklah lemah. Salendra pamannya ternyata benar-benar kuat. Dan jelas Ayahnya tidak melebih-lebihkannya.
Namun, tiba-tiba dia merasa bersemangat. Umbara menjadi sangat senang hingga akhirnya tertawa.
"Hahahahaha ... Salendra Sang Pangeran Hilang ... Terimakasih telah menjadi saudara ayahku dan pelindung negeri ini ... Hahahahahaha."
Entah kenapa Umbara langsung tertawa kuat sambil meneriakkan hal tersebut, tapi dia benar-benar lega saat setelah melakukannya.
Dan setelah itu, dia kembali menyerang lawannya, namun saat ini seolah kekuatannya bertambah.
"Salendra, kau memiliki dampak buruk ... Baru bertemu saja, kau sudah membuat Sultan masa depan negeri ini, gila seperti dirimu ... "
"Hahahahaha ... Terimakasih atas pujian mu, hahahahha.!"
Sama dengan Umbara yang terlihat senang bertarung, Saat ini Salendra terasa sedang berjuang dengan kakaknya.
"Kakanda Jakasona ... Dia memiliki kebijakanmu dan kekuatanku ... Dialah yang paling berhak memimpin negeri ini, aku bersumpah akan membuatnya pantas untuk itu ... "
Saat itu Umbara sudah berada jauh di depan yang lainnya. Salendra juga mendekat menyusulnya. Paman dan keponakannya itu, melibas musuh yang menghadang. Tujuan mereka saat ini, sudah sangat jelas.
Umbara memusatkan banyak tenaga dalam ke kakinya. Dengan ilmu meringankan tubuhnya, dia langsung melesat lurus tepat ke orang yang kini menatapnya.
"Daisuke ... Kau harus mati, agar aku bisa memenuhi Sumpahku... !"