ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Tinju Api


"Aaaaarrrrrhhh......!"


Tubuh Kelang semakin memerah. Tenaga dalam yang sangat besar itu mungkin saja dapat merusak tubuhnya. Tapi, sepertinya saat ini Ketua Sekte Tanah Hitam itu, bisa menahannya.


Tak berapa lama, teriakan Kelang mereda. Nafasnya memburu dan tatapannya semakin tajam. Tak lama seringai muncul di wajahnya.


"hahahahahaha! ... Luar biasa!"


Kelang merasakan kekuatannya bertambah berkali-kali lipat. Dalam keadaan Normal, seharusnya tubuhnya tidak akan mampu menahan ledakan tenaga dalam itu.


Akan tetapi dalam kondisi ketakutan akan kematian seperti beberapa saat Sebelumnya, tubuhnya bereaksi berbeda. Atau, ini ada hubungannya dengan beberapa pil buatan Arya yang dia terima dari Darmuraji beberapa waktu yang lalu.


"Kuakui bahwa kau sangat kuat. Tapi, kau melakukan kesalahan karena tak langsung membunuhku. Hahahaha!"


Sama seperti Arya, Kelang juga tidak mampu mengukur kekuatan lawan. Namun, sekarang dia dengan sangat jelas bisa merasakan tubuhnya sangat kuat. Dengan tenaga dalam yang sangat besar, semua pergerakannya terasa sangat ringan.


"Sukurlah kalah begitu, sekarang, ma—"


Belum semoat Arya menyelesaikan kata-katanya, Kelang telah menghilang dari tempatnya berdiri.


Arya tak sempat melihat arah kemana Kelang menghilang, sebelum akhirnya dia menyadari bahwa Kelang sudah berada di belakangnya.


"Booom...!"


Telat sedikit saja Arya bereaksi, kepalanya bisa saja pecah. Beruntung saat Kelang melayangkan pukulan, tangannya reflek menangkis.


Meski bisa mengantisipasi serangan Kelang tersebut, Namun tubuh Arya terpental beberapa meter kesamping.


Terkejut dengan serangan mendadak yang mampu melemparnya sejauh itu, baru saja Arya bersiap, Kelang sudah kembali berada di depannya.


Tak menunggu, Kelang langsung memberi tendangan yang sangat keras yang mengarah ke perut Arya.


Lagi-lagi serangan Kelang dapat di tangkisnya. Namun kali ini, tubuhnya melambung ke udara. Kelang tak membiarkannya. Pria sepuh itu melompat ke udara dan memberikan pukulan keras kepunggung Arya.


"Buuuu...k!"


"Booom...!"


Kali ini serangan itu benar-benar mengenainya telak. Tubuhnya langsung menghantam tanah.


Sebuah cekungan dalam langsung terbentuk di sana. Menandakan pukulan yang di lancarkan Kelang padanya itu, menggunakan tenaga dalam yang sangat besar.


Begitu kaki Kelang menginjak tanah, sekali lagi dia mencoba menendang. Dia melihat Kepala Arya cukup terbuka. Dengan tenaga yang mampu meremukkan logam sekalipun, Tendangan itu langsung terarah ke sana.


"Arrrgghhh ... !"


Hanya dengan satu tangan Arya menangkisnya karena tangan yang lain tertindih tubuhnya sendiri. Tentu saja itu tidak cukup apalagi tendangan yang di layangkan Kelang pada kepalanya tersebut bermaksud membunuhnya.


Tubuh Arya lagi-lagi terbang dan berputar-putar seperti gasing. Sempat menabrak beberapa pohon sebelum akhirnya berhenti.


"Hahahaha! Ternyata kau tidak cukup kuat."


Merasa kecepatan Arya tidak bisa mengimbangi kecepatannya yang sekarang, kelang tertawa puas.


Sejujurnya, Kelang juga sangat terkejut dengan kekuatannya sendiri. Sekarang, dia bahkan belum menggunakan seluruh kemampuannya.


Melihat Arya kembali berdiri, Kelang sedikit kesal. Kali ini dia berniat menyerang Arya dengan lebih serius.


"Karema kau sempat membuatku ketakutan, aku akan membalasmu sepuluh kali lipat!"


Setelah berseru seperti itu, Kelang melesat dengan cepat ke arah Arya. Tentu saja dia tidak perlu menunggu Arya siap untuk menerima serangannya.


Dengan menambah tenaga dalamnya sedikit lebih banyak, Kelang memberikan serangan beruntun.


Puluhan pukulan serta tendangan langsung menghujani tubuh Arya. Saat Arya mencoba menangkis satu pukulan, tendangan Kelang dari bawah menyusul.


Awalnya beberapa serangan bisa di antisipasinya. Namun, semakin lama serangan itu semakin cepat. Arya sedikit kewalahan karena Kelang sama sekali tidak memberi jeda pada serangannya.


"Kau?! ... Ingin membalas Dendam?! Hahahahhaa! ... Bermimpilah!"


Kelang terus memberi tekanan. Dalam keadaan seperti itu dia tetap sasar bahwa Arya cukup kuat. Karena jika ini Darsapati sekalipun, mungkin sudah akan tumbang. Namun, itu tidak membuatnya takut. Karena sejak dia menyerang untuk pertama kalinya, dia merasa lawannya tidak bisa memberi serangan balasan.


"Booom...!"


Satu pukulan, telak mengenai dada Arya. Tubuhnya terbang kebelakang. Kelang langsung menyusul dan mendahuluinya. Saat tubuh Arya tepat berada di depannya tendangan yang sangat keras mendarat di punggung pemuda tersebut.


"Booom...!"


Kelang membuat Arya melambung tinggi ke udara. Di atas sana, Kelang melihat Arya tak akan memiliki kesempatan untuk mengelak.


"Cobalah tangkis jika kau bisa!"


Kelang menyeringai. Kali ini, dia akan memberikan pukulan yang akan menghancurkan tubuh Arya meski dia mamou menangkisnya.


Kelang sedikit merendahkan kuda-kuda hendak melompat. Dengan memusatkan tenaga dalam yang sangat besar ke kaki dan tangannya, kelang melompat cepat. Sebuah pukulan terarah pada tubuh Arya yang masih melayang di udara.


"Pemecah Karang!"


"BOOOOOMMM ... !"


Suara pukulan Kelang yang mendarat ditubuh Arya cukup besar dengan di ikuti gelombang kejut yang mampu merusak seluruh organ di dalam tubuhnya. Suara tulang retak, terdengar nyaring di sana.


Pukulan yang kuat dari Kelang tersebut, juga membuat Arya terbang semakin tinggi ke udara.


Saat kelang kembali menginjakan kakinya ke tanah, Dia tak lagi melihat ke atas. Beberapa saat kemudian di mendengar suara tubuh menubruk tanah dengan keras.


Seringai puas terukir di wajahnya saat memastikan tubuh Arya tidak bergerak.


"Kau benar-benar membuat kesalahan. Hahahaha ... !"


Mencabut pedangnya, Kelang bersiap membunuh Arya saat ini juga. Namun, saat dia hendak melangkah mendekati tubuh yang tergelatak di tanah tersebut, tiba-tiba Arya kembali bergerak.


Tidak hanya itu saja. Arya bahkan kembali berdiri. Yang membuat Kelang mengernyit heran, Arya tampak sedang menepuk-nepuk lengan bajunya.


"Aish ... Untuk aku tidak memakai yang berwarna putih." Gumam Arya. Sambil membersihkan bekas kotoran di pakaiannya.


"K-kau?! ... "


Kelang tiba-tiba kehilangan kata-katanya. Sangat jelas beberapa saat yang lalu dia mendengar sendiri beberapa tulang Arya retak saat dia memberikan pukulan yang sangat keras di udara.


Arya mengangkat kepalanya dan menaikkan alis sedikit. Wajahnya tampak keheranan.


"Kenapa kau berhenti tertawa? Hmm ... ?!"


Tak sadar, dengan pedang yang ada di tangannya, Kelang mundur selangkah. Perasaan di atas angin yang tadi seolah menghilang.


"Ada apa dengan tubuhmu?!"


Arya mengernyit heran. Dan memperhatikan tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya. "Kenapa dengan tubuhku?"


"Aku ... Aku— "


Berbalik, kali ini belum sempat kelang menyelesaikan kata-katanya, Arya tiba-tiba sudah berada di depannya.


Saat wajah mereka tidak berhadapan, Arya tersenyum meremehkan. "Sebelum kau tadi menyerang, aku ingin bilang. Majulah dengan kekuatan penuhmu.!"


"BOOOOOMMM ... "


Setelah mendengar kata-kata Arya tersebut, Kelang mendapati dirinya terpental kebelakang. Saat itu, dia melihat Arya sedang mengambil posisi dengan kuda-kuda hendak menyerang.


Sementara itu, Arya balik menatap Kelang dengan seringai yang sama yang Kelang tunjukkan sebelumnya.


"Pernafasan Beruang Tanah"


"Langkah Seribu Bintang"


Mata Kelang melebar. Kali ini dia benar-benar melihat Arya menghilang. Sebelum akhirnya dia merasakan seseorang baru saja muncul dan menunggunya di belakang.


Tidak sempat menoleh, Saat itu, Kelang tiba-tiba mendengar Arya meneriakkan nama sebuah jurus yang telah lama tak di dengarnya. Jurus yang selalu menyudutkan beberapa kali dalam pertarungan. jurus milik Natungga.


"Tinju Api ... !"