ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Iblis Langit dan Manusia


"Ting!"


...


"Ting!"


...


"Ting!"


"Kenapa logam ini keras sekali?!"


Luna sudah memukul kepingan logam kecil berwarna emas di landasan tempa berkali-kali. Sampai saat ini, kepingan itu belum rusak bahkan tidak ada bekas lecet sama sekali akibat hantaman palunya.


"Entahlah ... Aku juga heran, kita sudah membakarnya seharian namun tetap tidak bisa memanaskannya." jawab Ciel dengan nada putus asa.


Kepingan logam berwarna emas itu, mereka ambil dari sebuah zirah perang yang diberikan Arya pada mereka.


Cirl terus memperhatikan zirah yang kini terbentang di atas meja, di ruangan khusus tempat mereka melakukan penelitian pada bahan-bahan yang bisa digunakan untuk pembuatan perlengkapan kependekaran.


"Kakak, jika pengguna Zirah ini adalah Arangga leluhur Arya, kenapa badan Arya tidak seperti dirinya? Jelas orang ini memiliki tinggi setidaknya dua meter bahkan lebih."


"Treng...!"


"Berhasil! ...  Aku berhasil merusaknya ... !"


Ciel langsung menoleh pada lempengan logam kecil itu. Namun, perhatiannya langsung teralihkan pada kakaknya yang tiba-tiba berseru histeris karena telah berhasil merusak lempengan itu.


Matanya langsung melebar. "Luna, kenapa seluruh titik cakramu, menyala?"


Meski tidak terlalu terang, namun dengan matanya, tentu saja Ciel bisa melihatnya dengan sangat jelas. Bahkan seharusnya orang lain yang tidak memiliki kekuatan seperti apa yang Ciel miliki, juga bisa melihat tubuh Luna sedikit berpijar.


Luna langsung memperhatikan kedua tangannya. Dan benar, sekarang dia bisa merasakan bahwa Prana-nya mengalir memenuhi seluruh titik-titik cakra yang telah terbuka, ke seluruh tubuhnya.


"Apa yang terjadi?!"


Luna yang merasa heran dengan perubahan tubuhnya, menoleh pada Ciel. Sekarang, dia juga terkejut dengan apa yang dia lihat.


"Ciel ... Matamu ... Berubah warna!"


Luna bisa melihat warna mata ciel berubah-ubah beberapa kali, kadang sesekali memiliki banyak warna.


Mereka mengingat perasaan ini. Tentu saja mereka mengingatnya. Keadaan seperti ini, hanya akan terjadi saat mereka membangunkan Bahuraksa.


Akan tetapi, sekarang Bahuraksa tidak bersama keduanya. Pedang yang dibuat oleh leluhur mereka itu kini bersama Arya.


"Luna, menurutmu apa yang sekarang sedang di lakukan Arya dengan pedang itu?"


"Ntahlah. Aku juga tidak tau. Tapi, jika Arya bisa membangunkan kekuatan Kosha sampai ketahap ini, yang pasti dia bukan sedang latihan."


****


"Woooo ... Hoooo ... !"


Rewanda melompat tinggi di atas hutan. Dia melesat antara pohon yang satu ke pohon lainnya dengan kecepatan luar biasa.


"Sial! ...  Makhluk apa itu sebenarnya?"


Seorang pendekar suci berlari dengan setengah putus asa. Dia tidak menyangka beberapa jam yang lalu dirinya seolah sudah akan menaklukkan Daratan timur ini bersama dengan yang lainnya, sekarang bersusah payah untuk bisa lepas dari siluman kera yang entah darimana datangnya.


Sempat berfikir bahwa yang mengejarnya ada Arya, dia sama sekali tidak berani untuk menoleh kebelakang. Namun, saat siluman kera itu sempat mendahuluinya, dia sedikit merasa lega.


Mencoba melepas kekesalannya, bagi seorang pendekar suci tingkat dua, siluman kera sebesar apapun seharusnya bukan masalah. Tapi saat pertama kali dia melancarkan serangannya, saat itu pula dia tau bahwa keadaanya tidak berbeda jauh dari sebelumnya.


"Ki Watugeni, gunakan api mu untuk membakarnya ... !"


Pendekar suci itu menoleh pada suara yang baru saja memanggilnya. Saking takutnya pendekar suci itu sampai melupakan ilmu yang dia miliki.


"Siluman ini tak biasa. Sebaiknya kita menghadapinya bertiga ... "


Saat menghentikan langkahnya, Watugeni di hampiri satu lagi pendekar dan tak lama pendekar suci wanita yang mengingatkannya juga datang menghampiri.


Sekarang, mereka bertiga berhadap-hadapan dengan Rewanda.


Watugeni menatap kedua pendekar suci yang kini bersamanya. Dia mendapat Kepercayaan dirinya kembali begitu juga dengan dua lainnya.


"Aku yakin siluman ini adalah peliharaan pemuda itu. Tapi jika kita menyerang bersamaan, dia tidak akan memiliki kesempatan."


Kata-kata Watugeni langsung mendapat anggukan dari yang lainnya. Selama mereka berlari beberapa saat yang lalu, mereka yakin pemuda yang ada di dalam goa tidak mengejar mereka.


"Kalian berdua. Beri aku waktu sebentar untuk memusatkan tenaga. Kita harus segera mengalahkannya sebelum tuannya datang kesini."


"Baik!"


"Baik!"


Watugeni memusatkan tenaga dalamnya. Saat itu seluruh tubuhnya mulai mengeluarkan asap.


Kedua pendekar yang berada di kedua sisinya, juga sudah bersiap dengan kuda-kuda untuk menyerang Rewanda.


Saat keduanya tiba-tiba merasakan hawa panas yang mereka duga dari kekuatan elemen api pendekar suci Watugeni, keduanya yakin akan bisa mengalahkan siluman kera yang kini ada di depan mereka.


"Tidak sia-sia kau bergelar setan api." Puji pendekar suci wanita saat menoleh pada Watugeni.


"Ya, aku rasa dengan begini akan lebih mudah." Sahut pendekar suci lainnya.


Mereka berbalik menoleh pada Rewanda. Seketika mata mereka melebar. Bukan takut, tapi mereka berdua tidak percaya bahwa kekuatan Watugeni bisa membuat siluman Kera itu langsung terbakar.


Berfikir akan menggunakan kesempatan itu untuk menyerang, saat mereka sekali lagi melirik ke tempat Watugeni. Pendekar suci itu sudah tidak berada di tempatnya.


"Watugeni ... Apa yang kau lakukan?!"


Keduanya melihat Watugeni sudah mundur dan segera berbalik, Lari terbirit-birit.


"Kalian! Hadapi saja dia ... Itu bukan apiku!"


Terkejut. Mereka langsung menoleh sekali lagi pada siluman kera yang beberapa saat yang lalu, mereka duga telah terbakar itu.


"Siluman ini memiliki elemen api ... "


Mereka segera menyadari bahwa hawa panas yang mereka rasakan sebelumnya, bukanlah dari kekuatan Watugeni. melainkan iblis kera yang kini menatap tajam ke arah mereka.


"Bajingann kau Watugeni ... !"


Mereka baru sadar bahwa Watugeni telah meninggalkan mereka. Saat mereka mengumpat itu, Rewanda telah datang mendekat.


Keduanya sudah tidak punya keinginan untuk lari. Karena menyadari bahwa itu sudah sangat terlambat sekali.


"Sreet... "


"Nyai Renda ... !"


Pendekar suci itu terperangah saat melihat temannya, baru saja menggunakan pedang di tangan untuk merobek lehernya sendiri. Pendekar suci wanita itu benar-benar sudah putus asa dan langsung memilih mati bunuh diri.


Terlambat. Meski rasa takut membuatnya berfikir untuk melakukan hal yang sama, namun Rewanda telah berada di belakangnya.


"Tuan Siluman. Jika kau mengerti apa yang aku katakan. Tolong bunuh Watugeni busuk itu, dengan cara yang lebih kejam!"


Itulah kata-kata terakhirnya sesaat sebelum Rewanda menunjukkan Neraka, langsung padanya.


Di sisi lain hutan di Lembah Tonda, di waktu yang hampir sama. Tiga pendekar suci lainnya mengalami hal yang tidak lebih baik.


Saat ini mereka Mendapati seluruh bagian tubuh mereka telah tercabik-cabik akibat cakar dan taring. Tulang-tulang mereka juga remuk akibat serudukan tanduk di kepala milik siluman serigala besi, sebesar kuda.


Anehnya, dengan tubuh hancur seperti itu, ketiganya belum juga mati. Dengan kepala yang tidak terluka sama sekali, semuanya merasakan sakit yang teramat sangat.


"Raja siluman ... Tolong bunuh aku." Pinta  salah satu pendekar yang kepalanya menghadap pada Krama.


Bagaimanapun, dengan keadaan seperti ini. Mereka tetap akan mati. Tapi, sebelum itu mereka akan sangat tersiksa. Berharap makhluk yang dia anggap raja siluman itu mengerti, dia memohon agar dibunuh saat itu juga.


Malang baginya. Dia melihat siluman Serigala bertanduk itu berbalik dan mulai berjalan pergi.


"Aku harus mendapatkan setidaknya empat agar Kera bodoh itu mengakui kekalahannya."


Setelah bergumam seperti itu, Krama langsung melesat menerobos hutan. Berharap dia lebih cepat dari pada Rewanda untuk mastikan siapa yang mendapatkan target terakhir mereka.


Rewanda dan Krama mulai mengerti kenapa Arya bertindak sekejam ini. Bagi keduanya membunuh manusia sebekumnya, seharusnya tidak terasa berbeda.


Akan Tetapi saat keduanya ditugaskan Arya untuk menyelidiki banyak hal, mereka mendapati fakta bahwa Pendekar beraliran hitam mampu melakukan apa saja untuk memperoleh kekuatan.


Semua pendekar yang mati itu, sudah dipastikan telah menelan Pil Zulu beberapa kali sebelumnya. Itu berarti mereka juga telah memakan daging bangsanya sendiri.


Seiring dengan kembalinya rasa kemanusiaan Arya. Kedua iblis langit itu mulai memiliki perasaan yang sama dengan Raja mereka.


Rewanda dan Krama mulai menyukai manusia. Tapi tidak untuk yang baru saja mereka siksa. Karena keduanya menganggap para pendekar itu, bukan lagi manusia.