ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Amukan Bai Fan


Sadar bahwa yang sedang mereka lawan bukanlah orang yang pantas mereka remehkan, pendekar dari Kekaisaran Yang itu langsung berpencar, mereka membuat semacam formasi bertahan sekaligus menyerang.


"Kita tidak bisa ceroboh menghadapinya" Teriak salah satu mereka.


Formasi yang berbentuk yang seperti jangkar itu, kini mulai bergerak mendekati Arya. Terlihat para pendekar itu sudah berpengalaman dalam menghadapi musuh yang kuat.


Meski hati mereka sedikit gentar, tidak ada kepanikan yang mereka tunjukkan. Mereka masih cukup yakin bisa mengalahkan Arya, jika melakukannya dengan tenang.


Begitu pula dengan Arya. Seketika nalurinya memperingatkannya agar bersiaga. Meski tidak tau apa yang akan dilakukan oleh lawan-lawannya itu, Arya kini jadi lebih waspada.


Keadaan itu sempat membuat orang-orang yang tidak ikut bertarung di sana terdiam saat melihatnya.


Seolah sekarang mereka sedang menonton sekelompok pemburu berpengalaman yang sedang mencoba melumpuhkan siluman yang sangat berbahaya.


Mereka menyadari Arya sangat kuat. Tapi, saat itu juga mereka juga tau bahwa pendekar-pendekar dari negeri asing itu juga sangat hebat.


Tidak mau menjadi korban, para prajurit dan pendekar yang berada di dekat mereka segera menyingkir. Begitu juga Ki Jabara dan yang lainnya.


Mereka sadar, perisai air tadi di buat Arya untuk melindungin mereka. Jika mereka masih berada di dekat Arya. Maka mereka hanya akan menjadi beban baginya. Ki Jabara dan pendekar-pendekar itu menjauh.


Kini, tersisa area yang cukup luas untuk mereka bertarung. Para pendekar itu seperti menunggu untuk menyerang. Sementara Arya tampak masih tenang.


Namun, seketika hawa pertarungan menjadi sedikit berubah. Entah kenapa Aura membunuh yang kental tiba-tiba menyelubungi daerah itu. Tekanan dari aura itu bisa dirasakan oleh semua orang.


Hal itu bukan karena Arya atau pun pendekar-pendekar yang menjadi lawannya. Tapi, seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang mereka.


"Apa yang telah kalian lakukan pada cucuku?"


Semua pendekar itu berbalik melihat arah datangnya suara.


Bai Fan, sudah melepas Aura pembunuh yang bisa membuat pendekar lemah kesulitan mempertahankan kesadarannya. Terbukti dengan beberapa prajurit dan pendekar di sana, saat ini mereka sudah kesulitan hanya untuk tetap berdiri.


Bai Fan dan Nurmageda, baru saja keluar dari goa. Entah apa yang sedang direncanakan Bai Fan hingga akhirnya ia memutuskan menunjukkan tempat pusaka itu pada Nurmageda.


Saat senjata pusaka itu sudah berhasil di ambil oleh Nurmageda, mereka memutuskan untuk melihat keadaan di depan goa.


Saat baru saja tiba, Bai Fan mendengar kata-kata yang menghancurkan hatinya seketika.


Kata-kata dari pendekar yang berasal dari negerinya itu, sempat membuat Bai Fan membeku di tempatnya. Bai Fan seolah tidak percaya bahwa cucunya telah dinodai oleh orang-orang yang kini berada di depannya itu.


Suara benturan gelombang api dan perisai Air yang di buat Arya, langsung menyadarkan Bai Fan.


Dan di sinilah ia sekarang, berdiri melepaskan aura pembunuh yang jelas mengungkapkan hasratnya.


"Kalian akan mati dengan cara yang paling menyakitkan!" Ucap Bai Fan sambil menggeretakkan giginya menahan geram.


Belum sempat para pendekar itu bereaksi, Bai Fan sudah langsung melompat dan melesat lalu menerjang Formasi itu dari belakang.


"Boom!"


Sebuah pukulan dahsyat menghantam salah satu pendekar yang yang berdiri di tengah formasi itu. Tidak sempat mengelak, kini wajahnya sudah hancur bersamaan dengan terbentuknya sebuah cekungan besar yang ada di tengah mereka.


Bai Fan menoleh sekeliling dengan mata merah. Terlihat amarah benar-benar sedang menguasainya. "Aku bersumpah, akan mengirim kalian ke neraka yang paling dalam"


Setelah mengatakan itu, seolah tiba-tiba tubuh Bai Fan menghilang. Semua yang melihat itu terkejut. Terlebih bagi pendekar yang belum pernah melihat orang yang menguasai jurus meringankan tubuh setinggi itu.


"Arrrgghhht"


Bai Fan sudah berdiri di belakang salah satu dari mereka. Saat suara teriakan itu terdengar, semua mata melihat kesana. Namun, hanya ada seorang pendekar berdiri dengan kepala yang sudah menghadap kebelakang.


Tidak ada yang sempat melihat bagaimana Bai Fan memelintir kepala pendekar tersebut.


"Buk!"


"Aaaaaaaaaa ..."


Sebuah pukulan mengenai perut salah satu pendekar yang berada jauh dari korban pertamanya. Bai Fan mengirim pendekar itu terbang ke udara.


Saat kembali kebawah, Bai Fan telah menunggunya dengan tendangan keras di selah kedua kakinya. Semua yang melihat itu, yakin, seluruh organ perut pendekar itu sudah berpindah ke tenggorokannya.


Setelah itu, Bai Fan kembali menghilang. Hanya satu detik kemudian, Bai fan kembali muncul di depan pendekar lainnya. Kali ini, dengan kedua tangannya, Bai Fan telah merobek perut pendekar itu. Tidak sampai di situ saja, robekan itu terus berlanjut hingga tubuh bagian atas dan bawahnya terpisah.


Darah dari pendekar itu memenuhi tubuh Bai Fan. Membuat dirinya terlihat semakin menakutkan.


"Mati!"


Satu kata itu ia ucapkan sebelum akhirnya menghilang kembali. Bai Fan mendatangi satu-satu pendekar-pendekar itu dan membunuh mereka dengan cara yang sangat kejam.


Dengan hanya beberapa detik saja, sudah sembilan pendekar asing itu meregang nyawa.


Kejadian itu membuat semua mata orang di sana terbuka lebar dengan mulut juga ikut ternganga yang tak kalah lebarnya.


Seumur hidup, belum ada satupun orang yang dari mereka yang pernah melihat kecepatan dan kekuatan seorang pendekar bisa sampai setinggi itu.


Ki Jabara dan pendekar-pendekar yang bersamanya kini sadar. Dunia memang sangat luas dan mereka sangat kecil. Hari ini terlalu banyak hal yang sudah mengejutkan mereka.


Arya melihat itu dengan seksama. Entah kenapa, Arya merasa tidak terkejut sama sekali. Dia hanya membiarkan Bai Fan yang sekali-sekali terasa melewatinya dengan kecepatan tinggi.


Arya sudah mengetahui bahwa pria tua itu adalah kakek Bai Hua. Arya hanya terkejut saat mengetahui bahwa Bai Fan ternyata sangat cepat dan kuat. Itu saja.


"Kalian! ... Cepat! ... Bentuk Formasi lingkaran!"


Salah seorang pendekar Asing tiba-tiba berteriak kuat untuk mengingatkan teman-temannya. Mereka langsung membentuk dua lapis lingkaran.


Lagi-lagi hal itu mengejutkan mereka yang tak mengerti trik untuk bertarung. Ki Jabara dan pendekar lainnya pasti sudah panik dan putus asa jika menghadapi musuh seperti Bai Fan.


Tetapi itu sama sekali tidak berlaku untuk para pendekar asing itu. Mereka tetap tenang dan berusaha melawan.


Saat itu, seluruh pendekar luar sudah mengalirkan api pada pedang mereka. Dengan sebuah gerakan seirama. Pedang-pedang yang ada di tangan mereka mulai membentuk perisai api.


Keahlian berpedang mereka sudah tidak perlu diragukan lagi. Di tambah pengendalian elemen api membuat Formasi itu sangat sulit ditembus oleh Bai Fan.


Hal itu tampak bekerja sengan baik. Terbukti saat Bai Fan muncul di depan mereka, maka yang di belakang mereka langsung menyerangnya.


Beberapa kali Bai Fan mencoba menyerang setelahnya, itu semua berhasil digagalkan oleh mereka. Hingga akhirnya Bai Fan berhenti dan menunjukkan keberadaannya.


"Senior Bai! Kau memang sangat menakutkan. Tapi, tidak akan semudah itu untuk mengalahkan kami"


Ejek satu orang dengan beberapa orang yang lain berdiri di sebelahnya di tengah lingkaran.


Bai Fan tida menjawab, kakek Bai Hua itu sepertinya masih memikirkan cara untuk menembus pertahanan musuh-musuhnya.


"Bai Hua sudah selamat. Racun ditubuhnya sudah aku keluarkan. Hanya beberapa kali penyembuhan lagi, maka semua titik cakranya akan kembali pulih"


Arya sudah berdiri di sebelah Bai Fan. Memberi tahu Bai Fan tentang keadaan cucunya.


Bai Fan menoleh pada pemuda yang kini berada disebelahnya itu. Bai Fan dapat merasakan bahwa Arya sama sekali tidak memiliki tenaga dalam.


Akan tetapi, dia juga sudah melihat Arya mampu mengendalikan elemen Air. Dan Bai Fan juga sempat melihat mayat Wu Guo yang sudah berlubang di dada.


Meski tidak mengerti bagaimana cara Arya melakukannya, Bai Fan sadar dan yakin bahwa Arya sangat kuat.


"Kau?! ... Apakah kau yang menyelamatkannya?"


"Tidak hanya aku" Arya menoleh pada Ki Jabara dan pendekar-pendekar yang bersamanya. "Mereka yang pertama kali menemukan Bai Hua" Jelas Arya.


Bai Fan menoleh pada kemana arah Arya melihat. "Terimakasih" Ucapnya.


"Tidak perlu berterimakasih saat ini. Tapi, Kek! jangan membunuh mereka semua, sekarang" Pinta Arya pada Bai Fan.


Bai Fan langsung menoleh pada Arya "Kau memintaku mengampuni nyawa mereka? Kau bercanda?" Bai Fan bertanya dengan nada sedikit kesal.


Arya menggeleng. "Kita akan menangkap mereka semua dan membiarkan Bai Hua yang menghukum mereka dengan tangannya sendiri"


Belum sempat Bai Fan mengatakan bahwa apa yang baru saja di ucapkan Arya itu adalah hal yang mustahil, seorang pendekar dari formasi bertahan itu bersuara.


"Hahahaha! Kalian berdua mungkin kuat. Tapi, bagaimana cara cara kalian menembus ini? Hahahha!"


Arya langsung menjawab pendekar itu. "Aku tak mengatakan kami hanya berdua." Ucap Arya.


"Kau cukup bodoh jika merasa dengan menambahkan orang-orang lemah itu, untuk membantumu, itu akan memberi perbedaan."


Pendekar itu menunjuk ke arah Ki Jabara dan orang-orang di belakangnya. Pendekar asing itu masih meremehkannya.


"Dalam perang strategi yang paling di utamakan. Itu adalah hal yang orang-orang bodoh seperti kalian tidak akan pernah mengerti." Tambah pendekar di sebelahnya dengan nada tak kalah meremehkannya.


"Anak Muda. Jangan melibatkan orang-orang itu. Kita tak mungkin bisa menangkap mereka. Jika kita berdua, membunuh mereka semua masih memungkinkan"


Bai Fan juga tak ingin Arya melibatkan Ki Jabara dan orang-orangnya. Itu sama saja Arya menyuruh mereka mati.


"Tenang Kek. Kita akan menangkapnya. Jadi, Siapkan dirimu!" Ucap Arya.


"Anak Mu—"


Arya tak memberi kesempatan untuk Bai Fan meragukannya lagi. Belum sempat Bai Fan menyelesaikan protesnya, Arya langsung berteriak keras.


"Rewanda! ... Krama!"


****


Hello,


Terimakasih sudah mengikuti cerita ini sampai di Chapter ke 87 ini.


Dan terimakasih juga atas dukungan kalian yang sudah memberikan Rate, Like, Vote dan Komentar pada ceritaku ini. aku benar-benar menghargainya.


Jujur, aku merasa sangat senang bisa sampai di sini, jika ada yang merasa kurang puas, aku berjanji akan meningkatkan kualitas naskahnya kedepan. ini benar-benar baru permulaan. masih sangat jauh dari kata selesai.


Oh iya, Di sini, dan lewat ini. aku ingin meminta pendapat kalian nih.


Apakah Cover yang aku buat untuk cerita inu kurang menarik?


jika iya, aku akan menggantinya.


Jika ada yang memiliki saran bentuk Covernya, Silahkan, aku juga menerima masukan dan sarannya.


Aku berusaha menarik minat pembaca sebanyak yang aku bisa. jadi, apapun masukan dari kalian, akan aku terima


Sekali lagi Aku ucapkan terimakasih pada kalian yang berkenan memberi pendapat tentang Cover ini sebelumnya.


Ikuti terus update berikutnya, Ya!


M.M