ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Beri Laluan


Di antara semua mata yang melihat kejadian itu, hanya ada dua pasang mata yang menyadari keanehan yang terasa amat janggal.


Rentangjala dan Jemba si Kebojalang ******. Ya, mereka melihat bagaimana seorang pemuda yang bahkan tidak memiliki tenaga dalam, bisa berjalan tanpa merasa tertekan di antara dua kubu yang sedang bertikai tersebut.


Saat Teratak dari kubu Durma dan Sendang dari kubu Surma terlihat ingin memberi Arya pukulan, seseorang langsung melepas Aura pembunuh yang sangat besar.


Aura itu sanggup membuat pendekar-pendekar suci di sana kesulitan bernafas. Bahkan Surma dan Durma langsung manarik Aura mereka saat itu juga.


Rantangjala sudah berada di depan Arya. Namun, matanya saat itu melirik Jemba. Patih negeri Ambang itu, yakin jika dia tidak cepat bergerak, maka si Kebojalang itu akan segera bertindak.


"Tuan Muda. Dua ini sedang bersenda janganlah tuan mengambil hati."


Arya merasakan kekuatan yang kuat pada pria yang ada didepannya ini. Lengah sedikit saja, bisa saja orang ini melukainya. Namun begitu, Arya hanya tersenyum.


"Aku hanya ingin melihat lelang. Tidak ingin melihat kucing bertengkar."


Meski belum mengerti dengan keanehan yang ada di depannya ini, Patih RentangJala mencoba berhati-hati.


"Jika Tuan Muda berkenan, silahkan terus berjalan. Balai lelang ada di seberang. kami semua, beri haluan."


Benar-benar mengejutkan semua orang. Tidak hanya mengganggu sebuah pertarungan, kemunculan Arya ini juga langsung membuat seorang Patih bergerak.


Saat ini, ada alasan kenapa mereka semua yang berniat menjadikan Arya danĀ  lainnya target mereka, belum melakukan apapun. Itu karena kehadiran Rentangjala.


Meski hukum di kota ini jelas, Namun kehadiran Rentangjala langsung membawa mereka pada beberapa kesimpulan.


Tidak mungkin seorang Patih hanya datang untuk mengikuti lelang. Sebagai pendekar, mereka mengetahui bahwa jika Rentangjala berada di sini, ada masalah yang sedang di embannya.


Tidak mau gegabah, mereka mencoba untuk memastikan sekali lagi keterkaitan antar Rentangjala dan lima orang itu.


Kejadian yang baru saja mereka lihat, memberi mereka kesimpulan yang menjurus pada, pemuda yang sedang berada di tengah penglihatan semua orang ini, bukan pemuda biasa.


Kota ini memiliki hukum sendiri, tapi tidak mungkin mereka selamanya di sini. Saat bermasalah dengan orang yang salah, mungkin saja saat keluar dari kota Palas, mereka akan menemukan diri mereka dalam bahaya.


Arya mengangguk dan kembali tersenyum. "Terimakasih, aku datang tak sendiri. Beberapa kawan menemani. Jika tuan tidak mengambil hati, bisakah kami pergi?"


"Tuan bisa berjalan, aku beri jaminan."


Setelah itu, Arya menoleh kebelakang, dan mengangguk sedikit. Kemudian dia kembali berjalan di ikuti keempat gadis yang bersamanya.


Citra Ayu benar-benar tidak bisa mencerna apa yang terjadi. Dia juga mengetahui siapa Rentangjala. Namun, entah mengapa, saat berjalan dengan ketiga gadis itu, Citra Ayu tidak merasa gugup sama sekali.


Bahkan, saat Surma dan Durma melihat mereka lewat, Citra Ayu tetap merasa bahwa tidak ada hal buruk yang akan terjadi.


"Itukah yang di sebut ilmu penunduk?!" Batinnya.


Cerita tentang Aura itu dikisahkan dengan cara berbeda di seluruh dunia. Jika apa yang di duga Citra Ayu benar, maka menurutnya, Arya memiliki ilmi penunduk atau bisa di sebut sebagai, Aura Penguasa.


Dugaan Citra Ayu Bukan tidak mungkin, karena Arya terlihat memang memiliki kepercayaan diri seorang raja. Jika tidak karena terlihat lemah dan tak memiliki tenaga dalam, maka semua orang yang melihatnya, sudah pasti langsung menyimpulkan seperti itu.


Berbeda dengan mereka semua, Rentangjala dan Jemba saling berpandangan dari kejauhan. Entah apa yang kini mereka simpulkan, Keduanya mengangguk serentak dan berbalik bersamaan.


Setelah itu, Surma dan Durma juga berlalu di ikuti pengikutnya masing-masing. Tidak ada yang melayangkan keberatan dengan sikap Rentangjala, guru mereka itu.


Keduanya memahami bahwa tidak mungkin seorang Patih, negeri di mana Ayah mereka memimpin sebagai Sultan itu, turun kejalan hanya untuk melerai keributan yang mereka sebabkan. Mereka terlalu kenal dengan Rentangjala. karena lebih dari separuh hidup keduanya di habiskan dibawah pengawas guru mereka itu.


Baik Durma ataupun Surma, berlalu dengan memikirkan siapa pemuda yang di bela Rentangjala tersebut. Karena tidak memiliki tenaga dalam, keduanya menyimpulkan bahwa Arya mungkin saja keturunan bangsawan.


Akan tetapi, tentu bukan bangsawan Daratan ini. Karena mereka adalah salah satu keluarga bangsawan tertinggi di Daratan ini dan sama sekali tidak mengenal Arya.


Bangsawan kerajaan Swarna, dari Kota Barus Daratan Utara. itulah yang kedua kembar itu fikirkan saat ini.


Para pendekar yang melihat kejadian itu juga sibuk dengan fikiran mereka masing-masing saat membubarkan diri.


Akan tetapi ada beberapa pasang mata dari atas bangunan tingkat dua melihat pada lima orang yang baru saja memasuki balai lelang itu.


"Tidak lari gunung di kejar."


Ucap salah satu dari mereka, dan yang lainnya langsung menanggapi dengan mengangguk dan tersenyum miring.


Sementara itu, saat kembali memasuki penginapan, Jemba memasang raut tak biasanya.


Mungkin ini yang luput dari penglihatan Rentangjala namun tidak bagi dirinya.


Jemba melihat bagaimana tiga orang gadis itu bersiap untuk bertarung. Mungkin dia akan menyangka mereka gila jika tak cepat menyadarinya.


Seseorang yang memiliki tenaga dalam yang sangat jauh di bawah lawannya, akan berdiri ketakutan saat mengetahui siapa lawan mereka. Tidak ada orang yang cukup bodoh akan bertarung dengan dua kubu kuat sementara mereka kalah kekuatan apalagi jumlah.


Namun, dengan sangat jelas Jemba melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa, alih-alih takut, ketiga gadis asing itu tampak tersenyum saat tuan mereka membuat ulah.


Tiga pendekar itu tampak benar-benar sedang meremehkan kekuatan lawan-lawannya. Sebagai pendekar yang sudah malang melintang di dunia yang kejam ini, hanya ada satu jawaban baginya saat itu.


Ada tiga orang dengan kekuatan yang luar biasa, baru saja datang di kota yang sudah dengan susah payah dibangunnya ini. Jemba si Kebojalang, sangat yakin bahwa tiga gadis itu sedang menyembunyikan kekuatan mereka yang sesungguhnya.


Pertarungan pendekar apapun di kota ini, tidak pernah di perdulikan sama sekali oleh Jemba. Tapi tidak untuk kali ini. dia yakin, jika benar-benar ketiganya tadi mulai bertarung, dua putra Sultan negeri ini bisa saja mati.


"Aku tak peduli Jika gempa, tiga itu membawa petaka. Kota palas di ujung binasa. Perang besar di depan mata."


Acara lelang bukan acara biasa. Terlebih di Daratan Barat ini. Pertarungan kecil sering terjadi. Akan tetapi, saat ini berbeda. Sebelum mengetahui siapa sebenarnya kelima orang itu, tidak boleh ada pertarungan sama sekali.