
Gurat dan kelompoknya, langsung terdiam. Begitu juga dengan kelompok lainnya. Kemunculan Arya benar-benar tidak terduga.
Meski mereka tidak mengenal siapa pemuda yang berada di tengah Aula itu, namun kata-katanya langsung menarik perhatian semua orang.
"Gunung Harta?"
Hampir semua orang menggumamkan pertanyaan yang sama. Itu mungkin saja sebuah kebohongan. Akan tetapi, dengan adanya sebuah mangkok yang terbuat dari emas yang kini berada di bawah kaki pemuda tersebut, tentu saja hati kecil mereka langsung mempercayainya.
Darsapati yang juga terkejut dengan kemunculan Arya yang entah dari mana secara tiba-tiba itu, langsung bertanya setengah berbisik.
"Arya. Benarkah kau telah menemukannya?"
Arya membalas dengan senyuman penuh makna. "Ya. Aku menemukan gunung emas di salah satu ruangan yang tersembunyi di bangunan ini!"
Arya tidak menahan suaranya. Bahkan, Arya menjawab dengan penuh kebanggaan. Keheningan yang ada di sana membuat semua orang mendengar pengakuannya.
Darsapati memejamkan matanya tidak percaya sebelum akhirnya kembali berkata dengan sedikit nada kesal yang tertahan.
"Arya. Kenapa kau mengatakan semuanya?! Itu milik leluhur, kita!"
Arya hanya membalasnya dengan tersenyum.
"Yah, mau bagaimana lagi. Semuanya sudah di sini. Tapi, jika semua orang di sini membawa masing-masing sesuai dengan kemampuannya, itu juga tidak akan membuat harta itu habis. Emas di sana benar-benar banyak!"
Darsapati langsung Frustasi atas sikap Arya yang dianggapnya tidak mengerti akan situasi itu.
"Meski begitu, seharusnya kita melindunginya bukan malah membuat semua orang di sini mendengarnya? Kenapa kau membesarkan suaramu?"
"Darsapati! Tepat seperti dugaan kami, kalian sebenarnya sudah mengetahui harta tersembunyi yang ada di sini. Tentu saja, para petualang yang masuk ke dalam bangunan kuno ini sebelumnya, mati juga karena ulah kalian, bukan?!"
Sejak reruntuhan bangunan kuno ini ditemukan, Darsapati langsung menyadari bahwa bangunan tersebut adalah salah satu bangunan yang di ceritakan Natungga beberapa tahun yang lalu.
Sekte Singa Emas, langsung memutuskan untuk melindunginya. Namun, karena ada masalah lain yang mereka hadapi, Darsapati tidak bisa secara terang-terangan melindungi reruntuhan tersebut. Itu akan semakin membuat pihak kerajaan mencurigai mereka.
Oleh karena itu, saat kerajaan memutuskan untuk melakukan pencarian dengan cara seperti saat sekarang ini, pemimpin Sekte Singa Emas itu langsung memutuskan untuk mengubur semua orang agar tak ada lagi yang mengusik apapun yang ada di dalam bangunan tersebut.
Akan tetapi, seseorang yang mereka anggap telah mati, muncul tepat saat sebelum rencana itu dilakukan. Hal tersebutlah yang mengantarkan mereka pada kondisi seperti saat sekarang ini.
"Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawabmu!"
Mendapat jawaban dingin dari Darsapati, Gurat semakin emosi. Akan tetapi otaknya langsung cepat berfikir. Dia tidak lagi tertarik dengan apa yang di rahasiakan oleh Darsapati. Sekarang, Gurat lebih memilih untuk menganggapi pengakuan Arya tersebut.
"Anak muda. Benarkah kau sudah menemukan harta tersembunyi di bangunan ini?"
Arya berbalik dan menoleh pada Gurat. "Ya! Aku menemukannya. Seperti kataku, harta itu sangat banyak. Jika kalian semua mengangkutnya, aku rasa paling cepat butuh waktu dua hari untuk mengeluarkan semuanya dari bangunan ini!"
Kata-kata Arya sontak mengejutkan semua orang. Jumlah mereka di sana lebih dari tiga ribu dan pemuda itu baru saja mengatakan bahwa jika mereka mengangkatnya bersama, maka butuh waktu setidaknya dua hari untuk mengeluarkan semuanya.
Jika pemuda tersebut tidak berbohong, maka bisa dipastikan bahwa harta karun tersebut memang luar biasa banyaknya.
"Kau?! ... Apa kau mencoba membohongi kami?"
kecurigaan Gurat tentu beralasan. Tidak mungkin pemuda tersebut mengatakan hal itu begitu saja. Pasti ada sesuatu yang di sembunyikannya. Atau, harta tersebut, sebenarnya memang tidak ada.
"Jika bukan benda seperti itu yang kalian cari, berarti aku tidak menemukan hal apapun yang kalian inginkan!"
Mangkok emas yang tadi berada di kaki Arya, kini sudah berada di tangannya. Tentu saja benda seperti ini yang menjadi tujuan utama mereka ada di tempat ini.
Keraguan Gurat semakin berkurang. Mangkok itu saja sudah berharga sangat mahal. Saat benda itu di tangannya, mata semua orang mengarah padanya.
"Kenapa senior memberikan mangkok itu pada bedebah itu?!"
Yang lainnya tentu saja terkejut dengan umpatan Bai Hua itu. Gadis yang biasanya soapan ini, lama-lama menjadi sangat emosional jika seseorang meremehkan apalagi menghina Arya. Tapi, saat ini mereka mengabaikan hal tersebut. karena mereka juga memiliki pertanyaan yang sama di kepala mereka.
"Anak muda. Jika begitu, bisa kau tunjukkan dimana letak ruangan rahasia yang menyimpan harta tersebut?" tanya Gurat, Ramah.
"Sebentar!" Kita harus membicarakan bagaimana pembagiannya terlebih dahulu!"
Salah satu pendekar kapak kembar yang tadi bertarung dengan Darsapati, berteriak. Dia merasa tidak senang saat mendengar semua itu. Hal itu karena, Seolah hanya Guratlah yang berhak bicara saat ini.
"Ah! Pihak yang sudah kalah tidak memiliki hak lagi untuk bicara!" Sahut Monka.
Mendengar kata-kata Monka, Pendekar suci itu terdiam sejenak, lalu kembali bicara.
"Huh! Bagiku,Kalian hanya pengecut yang hanya diam saat ditantang. Sekarang, kalian merasa paling berhak bicara."
"Ck! Ck! Ck! ... Ada perbedaan besar antara berfikir cerdas dengan kepengecutan. Kalian hanya sekelompok orang bodoh yang mudah tersulut emosi. Sekarang lihatlah bangkai itu. Kemarilah, aku akan membuat kalian menyusulnya!"
Tantangan itu langsung di terima oleh kubu pendekar kapak kembar. Mereka seolah bersiap saling menyerang.
Saat kedua kubu yang bertengkar itu sudah berniat saling menghancurkan, Arya kembali bicara.
"Jujur saja, aku tidak peduli jika kalian ingin saling menyerang. Tapi, aku tidak akan mengatakan apapun tentang ruangan tersebut, jika kalian tidak memenuhi permintaanku!"
Keduanya terdiam. Kini mereka. Mengerti kenapa Arya mengatakan hal tersebut. Tentu saja pasti ada yang di inginkan oleh pemuda itu.
"Anak muda, Katakan! Apa permintaanmu? Apakah kau meminta bagian lebih banyak?"
Arya menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku hanya menginginkan bagian sesuai dengan hakku, " Jawabnya, lalu memandang pada Keempat orang yang sejak tadi menatapnya penuh arti
"Aku akan mengatakan di mana letak harta itu, jika kalian membiarkan teman-temanku serta Sekte Singa Emas keluar dari sini, bagaimana?"
"Hahahahha!" Gurat tertawa lantang.
"Baiklah! Itu sangat mudah. Kami akan membiarkan kau dan mereka keluar dari sini. Tentu saja, karena kau yang menemukannya, maka kami akan membagi dan memberikan harta tersebut sesuai dengan hakmu!"
"Tunggu dulu! Aku tidak akan membiarkannya" Sergah Darsapati. Lalu menatap Arya. "Arya, ini tidak bisa di biarkan. Bagaimanapun, mereka tidak akan menepati janjinya, kau tidak akan mendapatkan apapun!" Ucapnya mengingatkan.
Darsapati tentu saja tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gurat itu. Sejak awal sekte petualang dan pihak kerajaan, memang ingin menguasai apapun yang ada di dalam ini, untuk mereka sendiri.
Itulah kenapa, orang-orang itu membuat kelompok besar. Mereka akan menghancurkan yang lainnya saat sesuatu telah ditemukan. Dengan kata lain, dari awal mereka hanya memanfaatkan kemungkinan seseorang menemukannya lebih dahulu. Persis seperti sekarang ini. Dimana Arya mengaku sudah menemukannya.
"Kakek! Tenang saja. Aku punya rencana!"