ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Perang Benteng V


Meski merasa sudah berada di atas angin dalam pertempuran ini, akan tetapi baik Rangkupala dan Karpatandanu, merasa ada sesuatu yang salah.


Karpatandanu memang sedang melihat tiga pendekar kuat dari pasukan Nippokure sedang berlari langsung menuju dia dan kelompoknya. Namun, tetap saja itu tidak membuat tanda tanya di hatinya terjawab.


"Ini terlalu mudah ... !"


Gumaman yang sama baru saja di ucapkan Rangkupala. Dia dan Daisuke, terpisah dengan jarak hanya Beberapa baris Senjata pelontar saja.


Namun, Komandan pasukan musuh itu, seperti tidak perduli apa yang sedang dia lakukan dengan Salendra.


akan tetapi, dia Tidak bisa terlalu banyak berfikir karena musuh yang dia hadapi di depan semakin banyak dan kuat.


Rangkupala berniat menyerang langsung Daisuke setelah menghancurkan setidaknya setengah senjata-senjata pelontar ini.


"Salendra, sebaiknya cepat lakukan. Aku rasa ada yang tidak wajar  di pertempuran ini ... !"


"Hiyyyaaaaaaa ... !"


"Bruuuuuukkk ... !"


Sudah empat dari seluruh senjata-senjata pelontar itu hancur. Saat itu, Rangkupala kembali melihat reaksi Daisuke.


"Sial ... Apa yang sedang di rencanakan orang itu?"


Saat ini, petang sudah menjelang. Bertempur saat gelap, mereka tidak memiliki rencana berperang selama itu.


Melihat musuh terlihat masih memiliki rencana lain, itu langsung membuat Rangkupala cemas.


Karpatandanu juga merasakan hal yang sama. Meski pasukan mereka cukup kuat untuk mengimbangi kekuatan musuh, namun bertempur pada saat gelap akan sangat merugikan mereka.


Hal itu di sebabkan, lawan sudah berlatih bersama untuk menghadapai musuh dalam keadaan apapun.


Sementara mereka, hanyalah gabungan pendekar-pendekar yang berkumpul dan bertempur tanpa pernah berlatih bersama sekalipun.


"Sultan Pasir Putih, karena kau telah sampai di sini, dan ikut campur masalah Jampa, maka kau akan mati di tangan kami ... Di sini."


Karpatandanu menatap satu di antara tiga pendekar yang baru datang itu dengan tersenyum miring.


"Ini bukan tentang negeriku atau Jampa lagi ... Ini adalah tentang daratan ini ... Sekarang, jangan banyak bicara dan majulah jika kalian memang ingin membunuhku ... "


Rangkupala melihat Daisuke sengaja mengirim orang untuk menyulitkan Karpatandanu. Hal itu membuat kecurigaannya semakin kuat.


Komandan Pasukan Nippokure itu, memang tidak membiarkan pasukan mereka untuk memikirkan rencana mereka.


"Salendra, apa kau bisa mengatasi ini sendiri?"


Salendra yang saat itu baru saja mendekatinya, langsung bertanya.


"Kau sudah mengetahui apa yang di rencanakan mereka?"


Sambil mengahadapi Prajurit-prajurit yang mencoba menyerang mereka, dua pendekar tua itu terus berbicara.


"Tidak, aku tidak tau apa yang sedang mereka rencanakan untuk memenangkan pertempuran."


"Jadi, apa yang kau rencanakan sekarang?"


"Cakar Elang ... !"


"Sret ... !" "Sret ... !" "Sret ... !"


"Sret ... !" "Sret ... !" "Sret ... !"


"Sret ... !" "Sret ... !" "Sret ... !"


"Sret ... !" "Sret ... !" "Sret ... !"


Mata Salendra melebar saat temannya baru saja mengeluarkan jurus yang Menurutnya lebih cocok di beri nama cakar Ayam itu.


"Apalagi, tentu saja bertanya langsung pada orang yang merencanakannya, bukan?"


Saat itu juga, Rangkupala memusatkan tenaga dalam di kedua kakinya.


"Tenang saja, aku tidak akan membuat sesuatu yang akan menyebabkan Umbara tidak bisa memenuhi Sumpahnya itu."


Salendra langsung tersenyum saat mendengarnya. "Aku tau, itu kenapa aku rela mati Untukmu, ... Teman."


Saat itu juga, Rangkupala langsung melesat dengan ilmu meringakan tubuhnya meninggalkan Salendra, menuju langsung pada Komandan pasukan Nippokure, Daisuke.


"Cakar Elang ... !"


"Sret ... !" "Sret ... !" "Sret ... !"


"Sret ... !" "Sret ... !" "Sret ... !"


"Sret ... !" "Sret ... !" "Sret ... !"


"Sret ... !" "Sret ... !" "Sret ... !"


"Ah, sial ... sudah aku katakan untuk mengganti nama jurusnya itu."


Salendra menarik nafas dalam-dalam dan melepasnya. Saat itu, dia melihat Prajurit-prajurit musuh datang untuk menghadapinya.


matanya menajam, dan sebuah seringai mengancam muncul di wajahnya, yang membuat prajurit-prajurit itu ragu untuk meneruskan langkah. akan tetapi, sudah terlambat.


Sang Pangeran Hilang negeri Jampa itu, telah melompat dan menghamburkan diri pada mereka.


"Matilah ... Kalian ... !!" Teriaknya keras-keras.


****


Sementara itu, di dalam benteng, tepatnya di bangunan di mana Arya dan yang lainnya berada. Semua proses masih berlangsung.


Pembersihan darah empat gadis itu memang berjalan cepat dan sesuai dengan apa yang di harapkan Arya.


Namun, membuang dan menggantikan sebuah kandungan di dalam setiap tetes darah mereka dengan apa yang terkandung di darah Kerang itu,  berjalan dengan kecepatan berbeda apa setiap tubuh mereka.


Yang paling cepat terjadi pada Luna, setelah itu Ciel, dan Citra Ayu. Namun, pada tubuh Bai Hua, proses itu terjadi cukup lama.


Arya mencurigai itu Karena setiap syaraf Bai Hua sudah mengandung elemen petir. Jadi, hal itu menjadikan kedua kandungan itu sulit untuk dibuang dan digantikan.


Akan tetapi, Arya tidak mencemaskannya karena itu. Lagipula, itu hanya berjalan dengan waktu yang lama bukan berarti tidak bekerja sesuai dengan apa yang dia perkirakan.


"Raja ... Sebentar lagi."


Menjadikan helaian daun itu menjadi serbuk, ternyata memang cukup lama. Sebelumnya, Arya memperkirakan proses itu sudah selesai pagi ini, namun ternyata belum. Setidaknya, perlu beberapa kali lagi sebelum seluruh bagian dari Bayam Tiga Jari itu, benar-benar menjadi serbuk.


Krama terus memanggil Arya setiap pemanasan Yang dilakukan Rewanda hampir mendekati sempurna. Karena selama itu, Arya berada di ruangan dimana keempat gadis sedang menjalani proses lainnya.


"Rewanda, apa kau kelelahan?"


Saat itu juga Iblis langit itu menggelengkan kepalanya.


"Ini tidak melelahkan sama sekali. Tapi, membuat kepalaku sakit. Aku lebih memilih bertempur dengan pasukan langit. Karena aku tidak perlu menggunakan otakku saat melakukannya."


Jawaban Rewanda itu, membuat Arya tersenyum. Lalu dia berkata, "Kalian berdua memang sangat bisa aku andalkan. Aku bersukur kalian memutuskan untuk ikut bersamaku, dalam perjalanan ini."


Tidak sempat menanggapi kata-kata Arya, Krama langsung berseru memberi tanda.


"Raja Sekarang ... !"


"Omi ... Obi."


Saat itu juga Arya langsung mengeluarkan berkah Air dan menyelimuti seluruh pecahan-pecahan Bayam tiga Jari yang sudah seperti pasir tersebut


"Bang ... !"


Satu lagi hantaman dari Krama yang membuat Bayam Tiga Jadi yang berbentuk pasir besi itu, semakin halus.


"Sepertinya, ini Tidak akan lama lagi."


Kedua Iblis langit mengangguk, Mengerti. Namun, saat itu Arya seperti mendengar suara di dalam ruangan di mana keempat gadis berada.


Arya langsung berlari ke sana untuk memastikan apa yang terjadi. Saat dia masuk, saat itu juga sebuah senyum terukir di wajahnya.


Dia melihat dari Tubuh Luna sudah keluar titik-titik hitam halus, itu menandakan proses pergantian kandungan darahnya sudah selesai.


Berkah Air sedang membersihkan sisa-sisa kotoran dari bekas pembakaran akibat pernafasan di pori-pori kakak Ciel itu.


"Luna ... Tubuhmu memang sangat luar Biasa ... "


Arya sangat yakin Hellion Smith sangat kuat. Karena, untuk menempa Bahuraksa butuh kekuatan yang sangat dahsyat hanya untuk memipihkan nya saja. Padahal, itu dalam keadaan berpijar dengan suhu yang sangat panas.


Tidak ada keraguan Arya bahwa Luna mewarisi kekuatan leluhurnya itu. Apalagi Luna memiliki elemen api. Itu menambah keyakinan Arya, bagaimana cara Hellion, saat membuat Bahuraksa.


Arya juga percaya. Jika ada seseorang yang mampu menghancurkan senjata yang lebih kuat dari sembilan senjata pusaka dunia itu di masa depan, tentu saja gadis tersebut.


Karena, saat di puncak kekuatannya di masa depan, Arya yakin Luna akan mampu memanaskan Bahuraksa sampai ke titik leburnya dan membentuk ulang pedang yang memiliki Jiwa Kosha itu, sesuai keinginannya.


Arya menunggu beberapa lama dan membiarkan semua proses itu sampai selesai. Karena, dia tau akan terjadi sesuatu jika dia tidak cepat bertindak setelah Luna terjaga.


Setelah sedikit lebih lama, Arya kembali tersenyum saat proses itu selesai. Kini matanya sedikit silau, karena tubuh gadis itu mulai berpijar.


"Kau benar-benar keturunannya ... !"


Itu bukan kekuatan dari energinya yang Arya kirim lewat Bahuraksa. Kekuatan itu adalah Kekuatan leluhur Luna dan Ciel.


Kekuatan yang membuat Smith leluhurnya itu, di kenal sebagai Hellion atau, Singa Neraka.


Dan Arya baru saja berhasil membantu Luna membangunkan kekuatan pada tubuhnya itu.