
" Sepertinya kami datang tepat waktu! "
Ki Jabara mengatakan itu setelah memastikan kemenangan mereka.
Para pemberontak mengumpulkan dan mengikat prajurit-parajurit kota yang sejak awal memang sudah memilih untuk tidak melawan.
Ciel hendak mengingatkan Ki Jabara agar tidak memperlakukan mereka seperti tawanan, karena sejak awal mereka memang tidak ikut bertarung. Namun, Luna menghentikannya.
" Kita tunggu Arya saja. "
Ciel mendengus " Aku tidak menyukai orangtua itu! "
Sebagian pendekar lainnya mengurus mayat-mayat yang menjadi korban kejadian itu.
Agar tidak menimbulkan wabah penyakit, para pemberontak di bawah perintah Ki Jabara membakar mayat-mayat itu.
" Nona Luna, di mana Tuan Arya? " Sekar sejak tadi tidak menemukan keberadaan Arya, melihat jumlah korban yang ada saat mereka datang, tentu saja Sekar tau itu bukan perbuatan dua gadis yang sekarang ada di depannya ini.
" Dia mengejar Barnes ke arah sana " tunjuk Luna ke pintu gerbang lain kota itu.
" Apa?! "
Pertanyaan yang lebih seperti sebuah keterkejutan itu tidak berasal dari Sekar, melainkan itu adalah suara dari Ki Jabara yang tiba-tiba saja datang menghampiri mereka.
Ki Jabara menatap Luna dan Ciel dalam-dalam " Kalian membiarkan Barnes itu mengejar Tuan Arya?! " Ki Jabara.
" Iya, kami membiarkannya menghadapi Barnes! " Jawab Ciel sedikit ketus.
" Ciel! "
" Luna, Aku mengatakan yang sebenarnya "
Mata Ki Jabara melebar. " Ini tidak bisa dibiarkan. Barnes dan pendekar-pendekarnya pasti ingin menawannya! "
Ki jabara langsung berbalik, " Kalian! Ikut aku. Kita harus menyelamatkan Tuan Arya " perintah Ki Jabara pada beberapa pendekar yang telah mereka sewa.
" Auch! "
Ciel meringis saat tiba-tiba Luna mencubit keras lengannya. " Kakak! Apa yang kau lalukan?! " protes Ciel sambil mengusap-usap bekas cubitan Luna itu.
" Kau pantas mendapatkannya! "
Sekar hanya tersenyum melihat kelakuan keduanya. Tentu saja dia tau Ciel sedang mengerjai Ki Jabara. Tapi mengingat sikap yang ditunjukkan oleh Ki Jabara pada kedua gadis ini sebelumnya, Sekar membiarkannya pergi membawa banyak pendekar bersamanya.
Lagipula, Sekar sama seperti kedua gadis itu. Tentu saja tidak ada satupun dari mereka yang mencemaskan keadaan Arya.
Mengingat bagaimana cara Arya bertarung sebelumnya, ketiganya hanya akan merasa iba pada orang yang sangat tidak beruntung, yang harus berurusan dengan pemuda yang mengerikan seperti itu.
Mengabaikan Ki Jabara yang sudah menjauh dari mereka, Luna melihat Sekar yang masih memegangi perutnya " Nona Sekar. Bagaimana Lukamu? "
" Ah, ini. Aku rasa ... Aku hanya perlu sedikit beristirahat! "
" Saat Arya kembali, mintalah dia menyembuhkanmu. Dia sangat hebat dalam menyembuhkan! " Ciel memberi saran.
Sekar kembali tersenyum " Aku tau itu. Tapi, sebaiknya aku tidak memintanya melakukan itu lagi untukku. Luka ini tidak terlalu parah "
Luna mendengarnya sedikit heran " Lagi? "
" Ya! Dia pernah menyembuhkan luka-lukaku sebelumnya " Sekar menatap kaki Luna dan tersenyum " Dan aku yakin, dia juga yang sudah menyembuhkan lukamu, bukan?. "
Luna mengangguk " Ya. Dan dia melakukannya dengan cepat "
" Tidak hanya itu saja, dia bahkan menyembuhkan seorang tabib tua yang tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Hahahaha! "
Ciel menambahkan itu sambil membayangkan bagaimana mana keadaan Tabib itu sesaat sebelum Arya menyembuhkannya.
Luna juga ikut tersenyum. Karena dia juga bisa membayangkan tabib itu saat hampir saja mati karena berlari.
Mata Sekar melebar " Tabib tua? Maksudmu Tabib Kenar? "
" Hahahaha! Ya, tabib itu! "
" Dia lebih hebat dari tabib Kenar? " Sekar tau bahwa Arya hebat. Tapi, Sekar juga tau Tabib Kenar juga hebat dalam menyembuhkan. Karena Tabib Kenar sudah terkenal puluhan tahun ditambah Tabib Kenar adalah teman Ayahnya.
" Ya, kau pasti tidak percaya jika aku katakan bahwa tabib itu hampir saja bersujud meminta Arya mengangkatnya sebagai muridnya! Hahahahaha "
Sekar tertawa canggung mendengar ucapan Ciel padanya. " Aku tau dia benar-benar hebat. Tapi aku masih sulit membayangkan bagaimana bisa ada orang hebat dalam banyak hal dalam waktu bersamaan "
Saat Sekar mengatakan itu, Luna mengingat sesuatu " Nona Sekar. Karena kau penduduk asli Daratan ini, apa Kau pernah mendengar nama Sekte Delapan Mata Angin, sebelumnya? "
" Delapan Mata Angin? " Sekar memastikan.
" Ya! Jika aku tidak salah menyebutnya, sebelumnya nama Sekte itu adalah Awan Senja. Arya mengatakan dia berasal dari Sekte itu " Tegas Luna.
Sekar mengangguk. " Ya. Tuan Arya juga mengatakan dia berasal dari Sekte itu pada kami sebelumnya. "
Ciel menepuk tangannya " Sekte itu pasti sangat kuat! Sekuat apa Sekte itu sebenarnya? " Tanya Ciel semangat.
" Kuat?! " Sekar mengernyit. Hal ini sudah dipikirannya beberapa waktu. Bagaimana mungkin Arya bisa berasal dari Sekte itu. Bahkan Sekar sempat meragukannya.
" Ya! Memiliki pendekar muda sehebat Arya, tentu saja di sana diisi oleh pendekar-pendekar hebat, bukan? Setidaknya, Arya pasti memiliki guru yang jauh lebih hebat dari dirinya! "
Ucapan Luna yang barusaja didengarnya tentu saja tidak salah " Percayakah kalian jika aku mengatakan Sekte itu sangat kecil dan lemah? "
Sekar bertanya dengan ragu dan lebih terdengar seperti berbisik pada keduanya. Takut jika dia salah mengatakan itu, dan orang kain mendengarnya.
" Tidak! "
" Tidak mungkin! "
Sekar terperanjat mendengar teriakan kedua kakak beradik itu. Keduanya jelas tidak terima jika sekte Arya dikatakan lemah. Siapa saja yang tidak pernah mendengar nama sekte itu sebelum bertemu Arya tentu saja tidak akan percaya.
" Yah, sudah aku duga. Kalian tidak akan percaya! " Sekar berdesah pasrah " Siapa yang akan percaya sekarang kalau Sekte itu lemah, apalagi jika sudah melihat sendiri betapa mengerikannya Tuan Arya. Aku rasa, jika ada yang membuatnya tersinggung, bisa saja sektenya datang dan menghancurkan sebuah Sekte atau kota kecil dengan mudah. " sambungnya.
" Hahaha! " Ciel kembali tertawa. " Nona Sekar! Itu pasti dan hampir saja terjadi! Bahkan Arya tidak memerlukan bantuan Sektenya sama sekali untuk melakukan itu! "
" Maksudmu?! "
" Seharusnya, semua ini bisa selesai dengan cepat. Tapi karena kami tidak mendengarkan Arya sebelumnya, hingga menjadi seperti ini. Sebenarnya, bisa dikatakan kami berdua menggangu pertarungan antara mereka bertiga dengan pasukan ini! "
Ciel terlalu bersemangat menceritakan itu pada Sekar sehingga dia mendapatkan tatapan tajam dari kakaknya. " Ciel! "
Ciel langsung menoleh pada Luna, melihat kakaknya yang sedang menatapnya tajam, membuat Ciel heran. " Kenapa lagi? Aku tidak mengarang. Kau juga tau mereka bertiga bisa melakukan itu, bukan?! "
Sekar seakan tidak yakin mendengar penjelasan Ciel, " Bertiga?! " Sekar menatap keduanya bergantian " Maksud kalian, Tuan Arya tidak Sendiri? "
" Oh Iya. Hahaha! " Luna berpikir cepat. Arya meminta mereka tidak keluar karena merahasiakan kehadiran dua mahkluk yang mengerikan yang sebenarnya selalu bersamanya itu, " Itu ... Kau tau bukan, kera dan anjing nya? Ya ... Kera dan Anjing yang selalu bersamanya! Mereka selalu bertiga, bukankah bagitu? "
Ciel langsung menangkap maksud kakaknya. Arya pasti berniat merahasiakan kedua makhluk itu dari orang lain " Ya! Seperti kata Luna. Anjing dan Kera itu! Mereka selalu bertiga. Kau pasti mengetahuinya, bukan? Hehe hehe "
Tawa Ciel menjadi sangat canggung. Dia menyesali kecerobohannya sendiri yang hampir saja secara tidak sengaja, mengatakan hal yang mungkin sangat dirahasiakan Arya dari orang lain itu.
Meski tidak merasa puas dengan jawaban keduanya, Sekar tetap mengangguk. " Ya. Bahkan aku memberi Anjing dan Kera itu kamar sendiri di Bulan Fajar dan meminta pekerjaku melayani keduanya layaknya tamu penting. "
Luna dan Ciel bernafas lega. Keduanya memutuskan untuk tidak membicarakan ini lebih jauh lagi.
" Sukurlah kau mengingat Anjing dan Kera itu. " Ciel mengungkapkan kelegaannya.
Sekar mengangguk mengerti " Ya. Aku rasa, kami telah salah menilai. Sekte Arya bisa saja sangat kuat, tapi mereka memilih untuk menyembunyikan kekuatannya. " Sekar menyimpulkan.
Setelah mengatakan itu, Sekar sedikit menyesal. Jika saja dia tau sejak awal bahwa Sekte Awan Senja yang sekarang bernama Delapan Mata Angin itu sangat kuat, tentu saja dia dan Ki Jabara meminta bantuan Sekte itu. Karena Ki Jabara terlihat mengenal ketua Sekte itu.
" Nona Sekar, sebaiknya kau meminta orang-orangmu melepaskan prajurit-prajurit itu! " Luna menunjuk para prajurit yang kini terikat, tidak jauh dari mereka bertiga.
Sekar tersentak dari lamunannya " Melepaskan? Kenapa? "
" Sebenarnya, mereka yang membocorkan serangan ini pada Arya, dan dua orang itu ... " Ciel menunjuk dua prajurit yang tadi mendatangi tokonya " mereka berdua yang mengatakan bahwa tidak semua prajurit memihak pada Nurmageda.
Mendengar penjelasan Luna, Sekar mengerti. lagipula, dia mengenal salah satu prajurit itu " Baiklah! " .
Sekar langsung meminta beberapa orang untuk melepaskan Prajurit-prajurit yang terikat. sekar juga meminta mereka untuk mengelilingi kota memeriksa dan berjaga-jaga.
Tak begitu lama, mereka melihat Ki Jabara dan beberapa pendekar yang bersamanya telah kembali. Dia antara mereka, ketiganya melihat Arya di sana.
" Hahahaha! Sepertinya tuan Arya cukup beruntung. " Ucap Ki Jabara saat barusaja tiba.
" Beruntung? " Sekar yang bertanya mewakili keheranan ketiganya.
" Ya, Aku menemukan Tuan Arya sepertinya sedang tersesat di hutan. "
" Tersesat?! " Ciel menatap Arya. " Kau ... Tersesat?! "
Ki Jabara tidak memberi Arya kesempatan menjawab " Tidak jauh dari sana, Kami menemukan Barnes dan pengikutnya sudah mati di cabik-cabik. Melihat kondisinya, aku yakin mereka diserang oleh kawanan Siluman Benggala. "
Mendengar kata-kata Ki Jabara, Luna merasa ada yang ganjil " Kawanan, Benggala? Sejak kapan Benggala hidup berkelompok? "
" Aku juga tidak tau. Tapi, sukurlah Siluman-siluman itu tidak menemukan Tuan Arya. Sangat beruntung bukan?! Hahahaha! "
Ketiganya mendelikan mata dan mengabaikan tawa Ki Jabara. Mereka menoleh dan menatap Arya. Tentu saja tidak ada yang namanya gerombolan Benggala.
" Ki Jabara! "
Beberapa orang pendekar yang tadi diperintahkan Sekar berkeliling, kini berjalan kearah mereka dengan sedikit tergesa-gesa.
" Ya! Ada apa? "
" Kami menemukan seorang gadis asing sedang ditawan dan dikurung di dalam gedung itu " Jawab pendekar itu, sambil menunjuk bangunan yang di ketahui mereka sebagai pusat penelitian.
" Tawanan?! " Tanya Ki Jabara memastikan.
" Ya, sebaiknya kalian melihatnya. Saat tadi kami mendekatinya, sepertinya dia sedang pingsan! "
" Baiklah! ... Kita kesana! "
****
Hello,
Maaf sebelumnya, hari ini aku cuma bisa Up satu chapter aja. tapi, besok akan mengupdate 5 Chapters sebagai gantinya.
Sekali lagi aku mengucapkan terimakasih sudah mengikuti cerita Arya Mahesa sampai disini dan semoga kalian masih berkenan untuk terus mengikutinya.
Dukungan kalian karena telah memberikan Rate, Like, Vote, Komen, dan hadiah, sangat aku hargai. itu semakin membuat aku bersemangat untuk melanjutkan cerita ini.
Sekali lagi aku ucapin terimakasih.
Tunggu Update selanjutnya ya!
M.M